"Ada banyak hal di dunia ini yang tak bisa kita rubah tapi bisa diperbaiki"
_____________________________
'𝘓𝘢𝘯𝘨𝘪𝘵 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘪𝘣𝘢𝘳𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘭𝘢𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢. 𝘈𝘥𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘨𝘦𝘭𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘬𝘢𝘭𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱, 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘶𝘬𝘢. 𝘚𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘭𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘯𝘺𝘢. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘩𝘢𝘣𝘪𝘴 𝘴𝘪𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬𝘯𝘺𝘢'
Kata kata itu yang bermunculan dalam ingatan saat aku tengah terpaku menatap langit dan Bintang yang bertabur di dalamnya serta bulan yang menggantung indah di angkasa.
Dulu aku sering menikmati malam seperti ini. Bersama ayah dan ibu, tapi itu dulu saat bahagia masih indah bersemu. Semua kenangan itu telah terlewat di lorong waktu tapi setia hadiir sebagai masa lalu. Dan kini, tinggal aku dan ilusi berdebu.
'Gelap dan terang'
Mungkin ayah benar. Hidup tak pernah berjalan semulus yang kita kira. Masalah dapat datang tanpa di duga dan dengan mudah menorehkan luka.
Seperti saat ini, malam telah datang mengusir terang dalam kisahku. Semenjak ayah tiada, semua mulai berubah. Bukan hanya senyum ayah yang hilang dariku, tapi juga kehangatan ibu.
Aku tak mengerti, entah mengapa waktu dengan mudah merenggut segalanya. Luka dalam sekejap mata menjalar di mana mana, hitamkan segala bahagia yang dulu tersakiti sempurna.
Ibu..
Sosok penuh kehangatan, dengan peluk kan dan senyuman yang selalu aku rindukan. Tak kusangka semua menghilang begitu saja. Terasa menyakitkan saat melihat orang yang dulu begitu dekat, yang selalu ada saat suka dan suka, yang selalu jadi tempat berbagi cerita, yang selalu menjadi penerang dalam gelap gulita, yang selalu berjanji untuk tetap bersama, untuk terus menjaga untuk selalu ada.. Namun tiba tiba semua jadi tiada hanya dalam sekali kedipan mata.
Ibu berubah..
Tak lagi terdengar suaranya menyapa di pagi hari, tak terlihat lagi senyum nya di setiap sisi, tak tercium lagi aroma masakannya mengisi setiap sudut rumah ini. Dia berubah! Aku merasa dia telah mati! Dari pada mengurusi aku dan rumah, dia lebih sering berada di luar, lebih sibuk untuk mempercantik diri, marah marah tak tentu, bahkan tak jarang ia memukul dan menampar.
Kadang ada rasa benci. Benci, marah, serta.. Kecewa. Suaraku seakan lenyap di udara jika hendak berbicara atau sekedar menyapa nya.
Memang sulit, menyadari orang yang harusnya di sayang justru di benci dalam bayang bayang.
Walau bagaimanapun, setiap kali hatiku mulai membencinya seketika ada gejolak timbul di dada. Tetap saja, dia adalah ibuku. Wanita yang telah membuat aku hidup dan lahir kedunia ini. Aku berasal dari rahimnya. Aku tercipta dari dagingnya dlm tubuhku mengalir darahnya. Segala dari diriku berkualitas dari dirinya. Bagaimana mungkin aku membencinya? Seperti apapun ia berubah, dia tetap ibuku. Dan aku tetap anaknya. Itu sudah menjadi kodrat yang tak mampu di rubah seperti apapun keadaan nya.
Walau kini semua memang sudah jauh berbeda. Tuhan memang pintar memutar balikkan keadaan dalam waktu dan hal tak terduga. Seperti mengganti bahagia dengan luka, tawa dengan air mata, dan keindahan dengan kepedihan.
Aku menatap langit sekali lagi, lalu beranjak pergi, bersiap untuk hari esok. Berharap semua akan berubah saat aku kembali menutup mata.
Walau itu hanya harapan semata, setidaknya aku sudah berdoa.
𝘛𝘶𝘩𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢
🥀🥀🥀
Matahari bersinar cerah saat aku melangkah menyusuri koridor sekolah yang sudah mulai ramai. Melihat wajah ceria mereka seolah menjadi belati yang menancap dalm di hati.
Kenapa dunia terasa tak seadil ini? Mereka tertawa dan tak pernah khawatir tentang apun. Terus larut dalam kesedihan dan berbagai kenangan. Mungkin aku yang terlalu bodoh membiarkan luka kuasai jiwa. Tapi sekuat apapun menolaknya ia akan tetap datang.
Bosan. Itulah yang kurasakan di setiap detik dalam hari hari ku. Kadang terlihat selucu itu, mereka yang dulu dekat kini menjauh tanpa alasan yang tepat.
Waktu berlalu hingga bel istirahat berbunyi. Orang orang di kelas beranjak pergi. Aku tak peduli dan merebahkan kepala di atas meja. Sebenarnya sangat menyakitkan menjalani hidup seperti ini, tak ada yang peduli bahkan seakan di anggap tiada.
Walau bagaimana aku mencoba bertahan dengan segala perisai dan kekuatan, tetap saja aku ini manusia biasa. Butuh orang lain untuk berbagi derita,suka dan duka.
"Selgia Ananta"
Aku sontak menegakkan kepala saat mendengar namaku disebut. Objek yang ku tangkap adalah sosok tubuh jangkung Arkan, pria itu memutar bangku di depanku dan duduk berhadapan denganku.
Aku melongok kekiri dan ke kanan. Kelas kosong, hanya ada kami disertai sunyi dan sepi. Aku menatap pria itu, satu hal yang aku sadari dari sekian banyak manusia di sekolah ini hanya dia yang menatapku dengan cahaya berbeda. Tak ada cemoohan atau penghinaan terkandung di dalamnya. Mungkin itu karena itu belum tau tentang aku yang selalu di jauhkan dan di hapus dari ingatan.
Arkan memang baru beberapa hari bersekolah di sini.
"Nama lo bagus, cantik persis kayak lo" Ucapnya.
Aku hanya menatap tak peduli, berharap dia segera pergi dari sini. Aku tak berniat untuk bicara dengan siapapun saat ini.
Pria itu mengetuk ngetukkan jari telunjuknya di atas meja "Tapi, apa lo sadar kalau elo udah menodai itu semua? " Ucapnya lagi dan sukses membuat aku mengernyit bingung.
"Maksud lo apa? " Tanyaku heran.
Arkan mengedikan bahunya acuh "Ada hal di atas dunia ini yang gak bisa kita rubah tapi bisa kita perbaiki Gi "
Aku semakin bingung dibuatnya serta kesal " Maksud lo apa sih? Kalau lo di sini cuman buat ngomongin hal yang gak penting dan jelas mending pergi aja. Gue gak mau buang buang waktu untuk dengerin bacotan lo itu "
Arkan tersenyum, senyum yang sungguh sekuat apapun aku tak mampu memahami.
"Lo sadar gak, sebenarnya waktu lo udah terbuang sejak awal senyum lo menghilang? " Tuturnya dengan nada bicara yang lagi lagi tak bisa ku pahami. Lalu kulihat ia mengambil sebuah kotak di atas meja di belakangnya dan di letakkannya di depan ku. Kemudian ia berlalu tanpa bicara.
Penasaran, aku buka tutup kotak berukuran sedang itu. Bola mataku membulat sempurna melihat apa yang ada di dalamnya. Bertangkai tangkai dandelion.
Dandelion.
Waktu menarikku dengan paksa dan membanting ku pada masa lalu yang begitu berharga. Semuanya kembali berputar dalam ingatan. Berjuta keindahan yang kini akhirnya sampai pada kepahitan.
Segera aku menutup rapat kotak itu kembali. Mencegah kenangan bersarang dalam ingatan.
Tapi tetap saja, setengah mati menahan bukit bulir cairan bening itu menghangat dan jatuh tetes demi tetes. Mewakilkan ledakan perasaan yang di timbulkan oleh sebait ingatan tentang kenangan dan berjuta keindahan yang tertinggal dalam waktu dan abadi sebagai masa lalu.
(𝙴𝚗𝚍)
(𝙹𝚞𝚖'𝚊𝚝, 27 𝚂𝚎𝚙𝚝𝚎𝚖𝚋𝚎𝚛 2019)
🥀🥀🥀🥀