~Bukan aku, jangan panggil namaku! Kau yang memulai kisah ini, maka aku yang akan menulis akhir yang menyenangkan~
*SEKUEL DARI CERPEN SEBELUMNYA: "LARILAH!"
*BLOOD WARNING!! BAGI YANG TIDAK KUAT DENGAN CERITA BERUNSUR DARAH DAN KEKERASAN HARAP UNTUK TIDAK MEMBACANYA!!
*ADEGAN PADA CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, DIHARAPKAN UNTUK PARA PEMBACA AGAR TIDAK MENIRUKAN ADEGANNYA!
Aku mengangkat tinggi tanganku yang menggenggam pecahan kaca, bagian runcingnya ku arahkan ke bawah. Membidik ke arah seorang gadis yang berada tepat di bawah tubuhku, aku menindihnya. Di atas dinginnya lantai koridor sekolah, ia menutup matanya dengan kedua lengannya. Ketakutan? Ya, aku rasa begitu.
Aku melempar kaca itu ke sembarang tempat, menarik paksa lengannya. Memaksa menunjukkan wajah ketakutannya.
Tatapan ketakutan di kedua bola matanya yang indah membuatku semakin ingin melakukannya. Air matanya tak bisa ia tahan, membendung namun akhirnya membanjiri wajahnya yang rupawan.
"Jangan... kumohon.. jangan.." Rintihnya sembari memohon padaku. Kenapa begitu takut?
Rambut panjang lebat yang tergerai, sebuah kaca mata bulat yang besar. Kau lihat? aku begitu culun. Kau lihat? gadis ini menjadi brutal layaknya binatang. Jangan tanyakan padaku kenapa aku melakukannya! Aku hanya ingin mengakhirinya. Kisah yang bermasalah dengan logika.
"Kenapa menangis?" Aku tak tahu kenapa aku menanyakan hal itu padanya, gadis itu terdiam. Ia menatapku penuh ketakutan, bibirnya bergetar hebat. Lihatlah! tangannya yang memuat jari jemari indah itu tremor!
Napasnya tak karuan, apa mungkin dia akan mati karena serangan panik? Tidak! itu tidak menyenangkan!
"Jangan takut.. Bukankah kita teman?" Ucapku, aku tak tahu kenapa aku tersenyum. Tak ada perasaan apapun yang aku rasakan, hanya ada amarah dalam hati ini, tapi kenapa wajahku menampakkan senyuman? Pers*t*n dengan wajahku. Aku melihat pada nametagnya, 'Angel' nama yang indah, tapi tak seindah sifatnya.
Segera dia menolak pernyataanku, ia sama sekali tak menganggap hal yang sama. Senyuman di wajahku memudar. Tapi kenapa?
Tanganku menyusup di antara celah rambutnya, jari jemariku menangkap lehernya yang panjang dan menawan. Perlahan tanganku menekannya.
"AHHKK!!" Gadis itu mencoba berteriak, tapi tidak bisa. Tapi kenapa? Aku hanya menekannya saja.
"Ma...af... " Dia mengatakan sesuatu, tapi telingaku menolak untuk menerimanya.
"Uhukk!!!" Apa ini? Dia batuk? Ah.. tidak, dia hanya sulit bernapas.
Aku ingin menekannya lagi, lagi, dan lagi. Tapi apa ini? ada cairan yang mengalir di kedua belah pipiku. Air ini terus menetes, dari mana datangnya? Mataku juga terasa penuh dengan air, sial. Ini menggangguku.
"Menyenangkan bukan?"
Suara itu muncul tiba-tiba, seseorang menghampiriku. Memakai topeng merah pekat, topeng ruwana?
Kehadirannya berhasil membuatku lengah, aku melonggarkan tekanan tanganku pada gadis itu. Ia kembali menghirup udara bebas. Tapi, matanya tertutup dan ia tidak bergerak sedikitpun. Dia tidur?
"Sedang apa kau disini?" Tanyaku dengan tatapan tak suka padanya.
Ia mendekatiku, melepaskan topengnya. Memasangkannya pada wajahku sembari memamerkan sebuah senyuman.
"Alibimu terbongkar!" Ucapnya, aku bergeming. Aku panik? tidak, Aku hanya bingung. Bagaimana cara untuk lolos 'lagi' kali ini.
"Ayo pulang!" Tubuhku bergerak sesuai perintahnya, aku dikontrol olehnya? tidak! Aku yang mengendalikan diriku sendiri.
*****
Pagi yang indah dan menyenangkan, udara segar seakan menyambutku, ini hari pertamaku di sekolah baruku.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan siswa pindahan. " Ucap seorang wanita yang mereka sebut dengan Dila.
"Baik nak, kamu bisa memperkenalkan diri."
"Hai, semua! Aku Yani! Bermainlah denganku!" Sebuah perkenalan menakjubkan untukku, mereka semua menatapku dengan tatapan aneh. Aku tahu, mereka bingung dengan apa yang aku katakan.
Aku menunjukkan sebuah senyuman terbaikku, gadis berkacamata bulat nan besar, rambut yang terjalin satu. Gadis yang begitu culun itu adalah aku. Halo, salam kenal!
Dila memberi arah bangku kosong untukku, di dekat jendela, bangku nomor empat dari depan. Di sebelah seorang gadis yang bahkan tidak peduli dengan kedatanganku.
"Hai! Aku Yan! salam kenal!" Ucapku pada gadis itu.
Dia menatapku aneh, lalu memutar bola matanya malas. Tak merespon ramahku. Aku melihat nametagnya, 'Angel' ya.. malaikat? Nama yang indah.
Aku menjalani hari seperti biasanya ku lakukan di sekolah lamaku. Namun, kali ini 'sedikit' berbeda.
*****
"Yan, lagi-lagi seperti ini."
"Tidak bisa kah kamu belajar dengan baik? Nilai mu semakin hari semakin hancur! mau jadi apa kamu di masa depan?"
Aku menunduk, tatapan menyedihkan terlukis di wajahku. Pfft.. benarkah itu? Mereka terdiam, melihat hal yang sudah sering terjadi. Tentu saja aku dicap sebagai pusat masalahnya.
"Sudahlah, sepertinya kami harus memanggil orang tuamu." Ucap Dila.
Moodnya sudah rusak, tapi aku tidak peduli. Dia memanipulasi nilaiku, menggunakan aku sebagai umpan agar para anak-anak sialan itu tidak mengincarnya lagi. Kau tahu? Dia adalah satu-satunya guru menjengkelkan yang menjadi bahan rundungan siswa emas di kelas ini. Dia menjeratku, Pintar sekali.
Aku menggenggam lembaran itu, ternoda coretan merah seperti darah di atasnya. Nol, Angka yang benar-benar mengerikan.
PLAKK!!
Sebuah bola kertas mengenai kepalaku,
tidak. Bukan hanya satu, tapi belasan bola kertas dan bahkan sampah dilemparkan padaku.
"Kacamata aneh! Apa gunanya kacamata itu? sedangkan otaknya lebih kecil dari tikus."
"Apa dia koala? Mungkin isi dari kepalanya itu hanya cairan."
"Enyahlah sialan! Perusak suasana!"
Aku bergeming, tak berkutik dan memberi sedikitpun perlawanan. Aku membiarkan diriku dijadikan tempat sampah oleh orang-orang berlogika namun tak punya hati nurani.
Semua orang termasuk kalangan mereka, logika lebih penting dari hati nurani. Tak terkecuali dia, dia duduk di tempat duduknya. Tak ikut campur, hanya mengamati. Ini yang biasa dia lakukan ketika ada perundungan. Aku sudah mengamatinya sejak awal.
*****
Bel pulang berbunyi, membuatku bersiap.
"Hei! Kacamata bodoh! kemari!" Seorang pemuda memanggilku. Aku tahu namanya dengan jelas, Rio? Ya, itu dia.
"Bisa belikan aku dan teman-temanku minuman? kami haus!" Ucapnya dengan tatapan merendahkan. Ia melemparkan uang receh padaku sehingga aku harus memungutnya. Aku beranjak dan melakukan apa yang dipinta. Aku kembali, namun mereka tidak ada, kelas menjadi hening. Aku meletakkan minuman di atas meja. Sepertinya mereka sudah pulang, aku mengambil ranselku lalu menggendongnya. Punggungku terasa aneh ketika menggendongnya. Aku mengeluarkan isi ranselku, ah.. Ada banyak hadiah yang mereka berikan. Beling, paku, silet, kaca? Benar-benar menakjubkan.
*****
Jam makan siang, aku membuka kotak makan yang sudah kusiapkan.
Makanan hari ini adalah, kain pel? Haha.. lucu sekali. Aku mendengar beberapa orang cekikikan. Ini ulah mereka. Aku tahu, mereka yang melakukannya. Tapi, tahukah kamu? Siapa penulis naskah untuk para pelakon ini? biar kalian tebak.
*****
Pagi ini, aku menyiapkan hadiah untuk mereka yang berhasil mendapatkan peringkat sepuluh besar di kelas. Aku sangat bangga.
Bus sekolah datang, aku bersama mereka masuk ke dalam bus. Biar aku hitung, ah.. pas sekali. Siswa peringkat satu hingga empat belas berada dalam bus. Benar-benar kebetulan, tunggu! Apa menurutmu hadiahku kurang? Tidak, aku sudah menyiapkan lebih dari itu. Namun ada sedikit masalah, bensinnya habis, haha. Kami berhenti di tempat pengisian bensin. Aku menunggu dengan tenang.
Aku menerawang ke sekitar, ada sebuah sepeda yang terparkir rapi di ujung.
"Hei! Tadi Aku menemukan sesuatu di halte bus." Bisik seorang siswa yang duduk tepat di depanku.
"Apa?" tanya teman disebelahnya.
Siswa itu menunjukkan sebatang rokok. Dengan santainya ia memamerkannya.
"Wah.. kau beruntung menemukannya!"
"Iya, aku benar-benar ingin mencobanya. Tapi aku tidak punya korek api." ucapnya.
Aku merogoh ranselku, mengambil hadiah kecilku untuk mereka.
"kamu butuh ini?" Tanyaku sembari menyerahkan sebuah korek api.
Mereka menatapku terkejut, namun segera mereka kembali bersikap tenang. Mengambil korekku tanpa terimakasih.
"Heh.. ternyata babu ini bisa diandalkan." ucapnya.
Aku beranjak dari tempat dudukku, dengan segera melangkah keluar dari bus. Sepeda itu, aku memerlukannya.
dan.. BLARR!!
Haha.. kau tahu apa yang terjadi? Tempat itu meledak! Sangat kencang! Aku menatap dari kejauhan, napasku tidak teratur. Aku terlalu lelah mengayuh sepeda.
"Hebat!" Seseorang mengejutkanku. Dia si pria bertopeng merah.
"Menjebak orang dengan sebatang rokok lalu menghindari kamera pengawas. Benar-benar menakjubkan!" Pujinya. Namun aku tak menanggapinya, aku hanya lewat.
*****
Tiba-tiba bel berbunyi, ini belum waktunya istirahat namun suara bising itu telah berbunyi.
"Anak-anak?!"
Dila datang dengan tergesa-gesa, tampak raut terkejut dan sedih bercampur di wajahnya.
"Bus, 14 siswa. Kecelakaan!"
Ada sebelas orang siswa dalam kelas, mereka terlihat begitu terkejut mendengar hal ini. Ada yang menangis tersedu-sedu, pingsan? dan ada juga yang tak memberi respon apapun. Hari ini dunia seakan berwarna untukku.
*****
Hari ini ujian lisan? Aku sudah memprediksi, sekeras apapun aku berjuang mendapatkan poin. Dila akan tetap menjadikanku tameng perlindungan dari para perundung itu. Aku ingin segera menulis akhir cerita ini.
Ada empat orang dengan otak yang bermasalah, Aihh.. bukan, maksudku jiwa yang bermasalah. Mereka tak peduli dengan kematian teman-teman mereka. Peringkat kelas? Itu tujuan utama mereka.
Bel pulang berbunyi, tentu saja aku akan segera kembali ke rumah sialan itu. Tapi, sebelum itu aku ingin bermain dengan mereka.
Dari kejauhan, terlihat tiga orang itu sedang duduk di taman sekolah. Kelompok belajar yang menyenangkan, mereka bahkan tidak mengajakku untuk bergabung. Aku mendekati mereka.
"Hai!" Ucapku menyapa.
Mereka terlihat terkejut melihat kehadiranku yang tiba-tiba. Kemudian mereka mencoba mengabaikanku.
"Haihh, aljabar begitu sulit dipahami."
"Aku sedikit bingung dengan persamaan trigonometri ini."
"AAKHh, aku ingin mengistirahatkan otakku!" keluh mereka.
Aku yang sedari tadi berdiri memerhatikan mereka pun menaruh ranselku di di bawah, aku mengeluarkan sesuatu. Sstt..!! jangan bertanya ini apa!
"Untuk merilekskan otot di kepalamu, mari kita bermain sejenak!" Ajakku, mereka menatapku heran. Mereka pun terpancing.
Sebuah tali dan beberapa bolpoin baru, aku juga membutuhkan beberapa ujung pagar. Ini cukup untukku bersenang-senang.
*****
Di perpustakaan sekolah, aku melihat pria itu tengah mencari sesuatu.
"Hai, Rio!" Dia nampak terkejut! Wah.. apakah aku semengerikan itu?
"Gadis sialan! Kau ingin aku mati terkejut?" Ketusnya.
Pfft... aku tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Aku melihat ke sekeliling, begitu banyak tumpukan buku baru tersusun rapi.
"Terlihat bagus jika kau berada di atasnya." Tanpa sadar aku berucap. Membuat Rio menatapku aneh.
Aku ingin mengatakan sesuatu, sepanjang jalan menuju ke sini. Aku menyembunyikan tanganku di belakang, jangan lagi! jangan tanya padaku apa yang aku sembunyikan! Aku benci pertanyaan!
Sayangnya, sepertinya dia mencurigaiku. Dia menatapku penuh ketakutan, lihatlah! Dia berkeringat dingin. Aku lihat kedua lututnya tak bisa berfungsi dengan baik, dia bergetar ketakutan.
"Rio.." Ucapku, aku berhasil menguncinya di antara rak buku. Ia terpojok.
"Tangan kananmu bagus, boleh ku lihat?" Ucapku, tanpa sadar aku tersenyum. Aku gila? Tidak, aku hanya sedikit senang.
Pria itu semakin ketakutan, ada apa dengan kedua bola matanya? ada sesuatu yang membendung.
"Terimakasih hadiahnya, ranselku penuh dengan benda-benda menakjubkan." Ucapku. Kakinya terlihat lemas, ia jatuh terduduk. Tidak, itu terlihat seperti berlutut padaku.
"Bukan.. bu-bukan aku yang merencanakannya..." Bibirnya yang bergetar berucap dengan gagap.
Aku memiringkan kepalaku, lalu menatapnya dengan tatapan tajam, Aihh.. tidak.. ini adalah tatapan lembutku.
"Aku tidak bertanya." Dia terlihat semakin terpojok, ia menitikkan air mata. Benar-benar cengeng!
"A...angel!"
SRAKKK!!
"AHKKK!!!" Teriakan yang terakhir. Menyedihkan, percayalah. Aku tidak melakukan apapun padanya. Pfftt... hanya orang bodoh yang akan percaya.
Aihh.. aku terlalu terburu-buru. Aku bahkan belum sempat bermain dengan benar. Sudahlah, sarung tanganku kotor. Benar-benar menjijikkan.
Aku mendengar suara, ada yang melihatku. Dua orang siswa lainnya. Saksi mata yang harus aku singkirkan.
*****
Suasana sekolah yang ricuh. Mereka terlihat sangat heboh dengan orang-orang di pagar itu. Dan Rio yang tertidur bersimbah noda merah yang keluar dari tubuhnya itu sangat lama berada di atas tumpukan buku baru itu. Aku hanya memandangi mereka dari jendela kelas. Malas.
Tapi aku tahu, dua orang itu adalah hambatan. Jangan tanyakan padaku apa yang akan aku lakukan! Mereka adalah orang yang sangat suka melempari ku dengan sampah, aku hanya perlu membawa mereka ke tempat yang seharusnya.
*****
Aku berdiri di atas gedung yang dibangun di tengah kota, gedung apartemenku.
"Bagaimana?" Pria itu masih berada di sebelahku, topengnya benar-benar memuakkan.
"Aku akan mengunjungi ibuku." Sahutku.
"Apa karena alibimu terbongkar?" Ucapnya lagi yang membuatku jengkel.
Aku melihat ke arah bawah, terlihat puluhan mobil polisi mengepung gedung ini. Begitu pula dengan apartemenku.
"Aku sudah membantu sebisaku. Membuat pembunuhan ini seolah-olah adalah ulah orang dewasa. "
"Dan Dila, dia mati dibunuh orang tua dari salah satu siswa, mereka beranggapan bahwa ialah pelakunya. " Sambungnya.
Aku tersenyum, tapi aku tidak puas. Hari ini adalah hari ulang tahunku, hari sebelum aku menginjak usia 17 tahun. Usia di bawah umur yang tak bisa terjerat hukum itu akan segera berakhir, bersama dengan hidupku dan akhir cerita ini.
"Aku pergi!" Ucapku.
".... Ehm, Pergilah!"
Aku melemahkan kakiku yang terpaku dan masih tegak berdiri, tubuhku terasa ringan. Aku tertarik gravitasi sangat cepat, dalam perjalanan menuju kerasnya permukaan bumi. Aku memejamkan mataku, kini aku puas. Terimakasih kehidupan, aku akan mengunjungi ibuku.
Ini adalah akhir cerita yang bahagia untukku. Bagaimana menurutmu? Akhir ceritaku menyenangkan bukan?
......
......
......
Benar begitu, bukan?
BRAKKK!!!!
"AHHKKK!!!!"
"Apa yang terjadi?!!"
"Lihat! Gadis itu melompat dari atas sana!!"
"Ibu!! aku takut!!"
*****
Dadaku terasa sesak, gadis kacamata itu mengakhiri hidupnya setelah merenggut puluhan nyawa. Aku mengalami serangan panik. Leherku masih menunjukkan bekas tangan mengerikan, jantungku berdegup kencang. Suara gadis itu mendengung di kepalaku.
Aku memukul kepalaku berkali-kali, namun suaranya tak kunjung pergi.
"AKHHH!!! PERGI!! KAMU SUDAH MATI!!"
Seseorang masuk dalam ruangan rumah sakit, dengan segera ia memelukku dan menenangkan ku.
"Tenanglah nak! mama ada di sini!" ucapnya.
Orang berjas putih pernah bilang pada ibuku, ia mengatakan bahwa aku mengalami gangguan jiwa. Perasaan bersalah dalam hati yang menyiksa jiwaku. Tapi itu tidak mungkin!! bukan salahku! ini ulah gadis itu!
*END*
THANKS FOR READING
*PERINGATAN!!!
- TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!
- LIKE
- KOMENTAR
*PLEASE! AUTHOR MAKSA!
*canda ngab🗿✌️🐱