Aku tinggal disebuah desa kecil. Semua orang berkebun dan bertani sebagai mata pencaharian. Tak terkecuali diriku, melakukan kegiatan bertani dan berkebun setiap hari. Aku memiliki 2 orang sahabat dari kecil. Mereka bernama Claudia dan Yelena. Mereka berdua sangat cantik dan dikenal seluruh desa sebagai anak yang cantik.
Aku sudah mengenal mereka dari kecil hingga saat ini kita bertiga berusia 20 tahun. Claudia adalah teman yang memiliki sosok ceria, pintar dan dewasa. Sedangkan Yelena memiliki sifat pendiam, kalem dan juga pintar.
Desa adalah tempat berpetualang kami dari kecil dan tak pernah bosan hingga sekarang. Desa kami berada di pegunungan tetapi memiliki tempat- tempat yang indah. Kami bertiga sering menghabiskan waktu di danau bercerita dan bermain waktu kami masih kecil. Danau tempat yang asik untuk berkumpul bagi kami karena memiliki suasana yang sejuk juga hamparan rumput yang luas. Kami sering beristirahat disana jika sudah capek bermain.
Claudia berulang tahun hari ini dan aku berniat memberikan hadiah juga menyatakan perasaanku padanya. Aku menahan rasa sukaku sudah lama karena Claudia anak dari salah satu orang kaya didesa. Sama seperti ayah Yelena juga yang bekerja di pemerintah desa.
Aku menghampiri rumah Claudia dan mengajaknya untuk pergi ke Danau. Hari itu sangat cerah waktu yang tepat aku memberikan hadiah dan mengatakan perasaanku. Sesampainya disana kuberikan hadiah yang sudah kusembunyikan. Saat membuka hadiah, tangan kanannya kupegang dan aku berkata "hmmmm...... Claudia aku ingin jujur kepadamu". Saat ini aku merasakan rasa yang aneh. Jantungku berdebar sangat kuat hingga aku bisa merasakan detaknya. Aku juga mulai gugup untuk mengutarakan perasaanku. Caludia adalah pertama yang ku beritahu perasaanku bahwa aku menyukainya.
"Sejak dulu aku menyimpan rasa padamu, tetapi aku merasa saat ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk mengungkapkannya" jawabku sambil dadaku terus berdebar dan pikiranku makin tidak karuan menunggu jawabannya.
"Aku juga suka padamu Don" Claudia juga langsung menjawab dengan wajah malu malunya. Aku sendiri baru pertamakali melihat Claudia menunjukkan ekspresi malunya. Karena dia selalu ceria dan orangnya terlalu pede.
Aku sangat gemberi mendengar itu, tanpa kusadari aku menggenggam erat kedua tangannya. Hingga tak sadar akibat kelakuanku itu kadoku jatuh.
"Maafkan aku, biarkan aku yang mengambilnya" jawabku
"Dasar kau don, enak aja main pegang-pegang ihhhh" jawab Claudia dengan menunjukkan wajah cemberutnya
"maaf ya..... karena saking senangnya aku" jawabku dengan wajahku sedikit malu
"sana agak menjauh ....." jawab claudia sambil tersenyum
"enggak mau, sini aku pinjam tanganmu" jawabku sambil malu dan menoleh kearah lain
"apaan sih kamu ini" Claudia sambil menyodorkan tangannya kepadaku
kemudian tangan kanan Claudia kupegang dengan kedua tanganku, kemudia ku tatap matanya dengan serius.
" aku pasti akan menikahimu, pasti" jawabku dengan lantang kepadanya
" Iyaa.. buktikan saja, awas cuma omong doang" Jawab Claudia
Setelah itu kami sering bertemu berdua, mengobrol dan menciptakan kenangan bersama. Waktu terus berjalan, hingga tak terasa aku sudah berpacaran dengan Claudia sudah setahun lebih.
Uangku dari hasil berkebun yang kulakukan dengan kerja keras juga sudah terkumpul untuk menikahinya. Segera aku menemuinya dan mengatakan hal ini kepadanya.
" Lu aku ingin menikahimu, aku sudah memiliki tabungan uang yang banyak" Jawabku dengan senang
Tidak sama dengan raut muka Claudia yang justru hanya menunjukkan ekspresi yang biasa-biasa
"Maaf Don, aku tidak bisa menyetujui kemauanmu" Jawab Claudia dengan wajah sedih
"Ada apa Lu?, coba katakan kepadaku aku akan mencoba memahami" Jawab Doni dengan wajah penasaran
"Aku ingin menikah dengan seorang lelaki yang minimal memiliki jabatan seperti ayahku" sambung Claudia
mendengar hal itu aku kaget dan seketika hatiku terluka. Rasa kecewa dan sedih berputar putar dihatiku serta kepalaku. Aku berpikir harus berjuang demi mendapatkan wanita yang kucintai dan kuputuskan akan menggapai keinginannya.
"Baiklah, aku akan menjadi seperti yang kau inginkan, aku hanya minta satu kepadamu" jawabku dengan serius
"Apa itu don?" tanya Claudia pelan kepadaku
"Tunggu aku dan jangan tinggalkan aku" sahutku dengan tegar
"Iya Don, pasti akan kutunggu" jawab Claudia
Setelah pertemuanku dengan Claudia. Aku utarakan kepada orang tuaku niatku untuk menuntut ilmu di kota dan menjadi pegawai pemerintahan. Orang tuaku sangat mendukung hal itu, dan mendoakanku agar terwujud apa yang kucita citakan.
"Nak, ibu hanya bisa mendukung apa yang anaknya inginkan"Kata Ibuku
"Jaga dirimu disana, jangan kau terjerumus kepergaulan yang salah. Kau sudah kudidik dengan benar disini." sahut ayaku
"Kami akan selalu menunggumu disini, jangan khawatir nak, ada adikmu yang menjaga kami disini" kata Ibuku
"Terimakasih Ayah dan Ibu untuk doanya dan nasehatnya"
aku langsung memeluk erat mereka dan menangis karena aku tidak akan bertemu mereka dalam waktu yang lama.
Sesampainya di kota aku tidak langsung mendapatkan universitas yang kuinginkan. Aku harus menghadapi ujian masuk terlebih dahulu. Setelah aku masuk dan menjalani hari-hariku dikampus, namaku terkenal karena aku salah satu junior yang memiliki wajah tampan dan kulit putih bersih.
Aku tidak menghiraukan sekelilingku dan hanya berfokus pada tujuan utama aku kemari. Bahkan aku tidak mengambil kerja paruh waktu untuk membantu biaya kuliahku. Aku menggunakan uang beasiswa untuk makan dan uang tabunganku untuk membayar biaya kuliah. Aku melakukan ini agar aku benar-benar serius dan mendapatkan nilai terbaik.
Saat liburan kuliah berlangsung aku tidak bisa pulang dan hanya bisa mengirim surat untuk orangtuaku dan Claudia saja. Uangku akan habis jika kugunakan hanya untuk sekedar pulang melihat kabar orangtuaku dan Claudia.
Tiap bulan selalu kutulis surat untuk orangtuaku juga tak lupa Claudia. Ku ceritakan semu keluh kesahku disini. Ku ceritakan juga pengalaman apa saja yang kurasakan disini. Ku lakukan hal ini untuk melepas rindu kepada orang2 yang kucintai di desa.
Waktu terus berjalan dan aku bisa menyelesaikan kuliahku dengan cepat. Aku juga menjadi lulusan terbaik dan mendapat tawaran kerja dimana2 bahkan dari perusahaan besar juga ada. Tapi tujuanku hanya menjadi pegawai pemerintah sesuai yang diinginkan Claudia.
Segera aku mendaftar dan fokus agar berhasil sekali coba tanpa kegagalan. Saat mendaftar menjadi pegawai pemerintahan, aku juga sudah kehabisan uang. Dalam diriku aku terus menyemangati diriku agar tidak boleh gagal.
2 tahun lamanya setelah aku mendaftar dan menjadi pegawai pemerintahan. Aku tak kunjung mendapatkan posisi yang kuinginkan. Aku memiliki keinginan agar ditempatkan didesaku. Kuputuskan untuk menyogok atasanku dengan uang tabungan kerjaku selama 1 tahun. Supaya aku dapat bekerja di kampung halamanku. Usahaku berhasil meski dengan cara yang tidak benar. Aku terpaksa karena ingin segera menikahi Claudia.
Sesampainya didesa aku disambut oleh orangtuaku dan Yelena saja. Aku tidak melihat Claudia menungguku dan memberikan selamat atas usahaku selama ini.
Aku pulang kerumahku dan segera bertanya kepada Yelena tentang hal ini.
"El dimana Lulu, kenapa aku tidak bisa melihatnya" jawabku
"Dia sudah menikah, dengan lelaki lain Don"jawab Yelena dengan wajah sedih
"Tidak mungkin sebelum aku kesini dia masih menjawab suratku" Jawab ku
"Aku yang menjawab semua suratmu Don selama ini" jawab Yelena
aku kaget mendengar hal itu dan tertunduk lemas mendengar semua itu. Seolah-olah semua yang kulakukan semua ini tak ada harganya. Aku teridam dan segera mengikhlaskan semuanya. Karena tidak ada hal yang perlu kulakukan lagi selain meneruskan hidup.
Aku ingin sekali bertanya kepada Claudia kenapa dia meninggalkanku. Tetapi dia sudah pergi meninggalkan desa dengan suaminya. Aku sering bertemu Yelena karena dia juga bekerja dikantor pemerintahan sebagai pengurus berkas di kantor desa.
Aku masih sering mengunjungi Danau dan memandanginya. Berharap semua ini tidak terjadi tetapi tidak ada hal yang berubah. Waktu terus berlalu hingga aku tahu Yelena memendam rasa kepadaku. Tapi hatiku masih terluka dan tidak berani menerima cinta lagi.
Aku tahu Yelena mengerti perasaanku lebih dalam daripada orang lain. Hatiku tidak bisa berbohong dan membuka hati lagi saat ini. Jika hatiku sudah siap aku akan menemui Yelena dan segera menikahinya.