Aku harus melewati banyak cinta, sebelum akhirnya ku menemukan "CINTA YANG SEBENARNYA"
🍁🍁🍁
Ramai dan penuh dengan kebahagian. Ku tatap banyak wajah yang menanti kehadiranku.
Namaku Anye, seorang penulis. Dengan sebuah dress putih dipadukan dengan blazer hitam yang sedang ku kenakan saat ini. Duduk dengan tersenyum di sebuah sofa merah yang berdiri kokoh menemaniku.
Hari ini adalah hari dimana aku meluncurkan sebuah novel kembali, sebuah promosi yang dilakukan di salah satu toko buku ternama di pusat kota.
Aku tak sendiri, Ya.. aku bersama dengan pria yang benar-benar mencintaiku. Dia yang menemaniku hingga saat ini, kamu SUAMIKU.. aku mendapatkan CINTA YANG SEBENARNYA darimu.
.
.
.
.
Siang ini, aku ditemani dengan kak Ayu. Seorang MC yang akan memandu jalannya acara. Ia mulai menyapa ke semua. Percakapan ringan mulai terjadi dengan sendirinya. Hingga akhirnya ada sebuah pertanyaan yang membuat hatiku tersipu.
"Kisah di novel ini, terinspirasi dari mana ya kak." Tanya salah satu penggemarku.
Aku pun menjawab. Sebuah ide cerita yang muncul dari pengalaman cintaku sendiri. Aku mengingat dengan jelas kisah itu, berawal dari sebuah rasa sakit setelah diputuskan dari sang kekasih, hingga akhirnya ku menemukan dirinya.
Yah.. saat itu aku terisak. Aku menangis tak kunjung reda. Berlembar-lembar tisu bertumpuk menjadi satu di sampingku.
"Alan kenapa tega banget sih..." Keluhku terus akan sosoknya.
"Sudahlah An, buat apa ditangisin." Bujuk Ara sahabatku.
"Baru juga setahun, udah selingkuh."
"Lah.. emangnya harus nunggu lima tahun baru ketahuan selingkuh. Ya nyesek dong An, justru lebih awal kita tahu, itu lebih baik."
"Tapi aku cinta sama dia."
"Udah buang ke laut cari yang baru." Pinta Ara kemudian .
Berhari-hari ku jalani tanpa Alan. Rasanya masih tak terbiasa. Sulit untuk melupakan, apa lagi memulai untuk yang baru.
Hingga siang itu, seorang pria datang menghampiriku. Ia menyatakan cintanya, aku terdiam tak mampu menjawab dengan segera.
Bagas namanya, teman sekelas ku. Aku tak menyangka bahwa selama ini ia menyukaiku. Lalu.. bagaimana dengan perasaanku? Ya... Aku belum menyukainya. Ku pikir memang belum, mungkin suatu saat nanti aku bisa menyukainya. Namun ternyata setelah dua bulan bersama, aku masih tak juga menyukainya. Ternyata sosoknya yang baik belum tentu bisa membuatku jatuh cinta.
Aku egois saat itu, saat aku menerima cintanya. Aku hanya ingin segera melupakan Alan, mencoba membuka hati untuk yang lain. Tapi ternyata aku malah menyakiti hati yang lain.
Siang itu, saat matahari terlihat begitu terik, aku duduk tepat di samping Bagas. Menyelonjorkan kedua kaki dengan rumput menjadi alas kami. Dedaunan membuat teduh segalanya, hembusan angin membuat diriku makin merasa tenang.
Aku menarik nafas panjang, sebelum memulai pembicaraan. Ku hanya menunduk tak berani menatapnya. Tapi ku memanggil namanya saat itu, membuat dirinya menatap diriku.
"Kenapa?"
"Maafkan aku, Gas."
Bagas diam, dia seperti menunggu ucapanku selanjutnya.
"Sebenarnya aku masih belum bisa menyukaimu." Ucapku jujur akhirnya.
"Aku bisa menunggu."
"Tidak, kita harus mengakhirinya. Ini lebih baik." Pintaku dengan tegas.
Bagas tak banyak bicara, ku harap ia paham maksudku saat itu. Aku ingin dicintai dan mencintai. Memaksakan hubungan itu pasti menyakitkan keduanya.
Yah.. sendiri lagi, sampai akhirnya ku menemukan sosok lain. Pria yang tak pernah menjadi perhatianku selama ini. Namun ia selalu memperhatikanku.
"Tidak bawa payung?" Tanyamu saat itu.
Akupun menoleh dengan cepat, menatap seseorang yang tengah memulai percakapan denganku. Seorang pria dengan wajah yang tampak tenang.
"Tidak." Jawabku sembari menatapnya.
Sore itu hujan turun, membuat beberapa siswa maupun siswi seperti diriku tak dapat pulang dengan segera.
"Pakailah." Pintamu tiba-tiba dan begitu cepat kamu pergi setelah menyerahkan payung saat itu.
Aku terkejut, dan aku tak menyangka akan tindakanmu yang pergi begitu saja. Bahkan kamu tak memberi kesempatan padaku untuk berucap terima kasih saat itu. Aku pulang dengan payung pemberianmu. Sedangkan kamu berlari dengan hujan yang membasahi dirimu.
Esok hari dengan payung berwarna hijau di tanganku, aku pun menghampiri setiap kelas yang ada di sekolah ini. Bodohnya diriku tak mengenalmu. Nama pun aku tak tahu.
Putus asa menghampiriku, hingga kelas terakhir yang ku kunjungi, masih tak dapat menemukanmu. Sampainya akhirnya sosokmu tiba-tiba muncul kembali. Melangkah menuju diriku.
"Hai.." Sapa ku dan kamu hanya menatap diam.
"Ehm.. mau balikin payung yang kemarin." Lanjutku sambil menyerahkan payung milikmu.
"Oh.." Ucap mu singkat.
"Makasih ya." Ucapku dan kamu tersenyum mendengarnya.
"Sama-sama An." Ucapmu dan membuatku terkejut mendengarnya. Ya aku terkejut karena kamu tahu namaku.
"Kamu tau namaku?"
"Ya."
"Curang." Ucapku memasang muka seolah-olah kesal.
"Kenapa curang?" Tanyamu bingung.
"Aku enggak tau nama kamu." Jawabku dan kamu tersenyum mendengarnya.
"Aku Arya, mulai sekarang kamu sudah mengenalku."
Benar saja, semenjak saat itu, aku mulai mengenal dirinya. Aku menemukan sosok mu yang mau mencintaiku dan akupun mencintaimu.
Hingga akhirnya, kamu memintaku menjadi pendamping hidupmu, hingga maut yang memisahkan. Itu adalah janjimu, menua bersama dan hidup bersama.
Sekarang ku lihat wajahmu yang tersenyum menatap diriku. Duduk tepat di hadapanku mengikuti acara berlangsung.
Yang pertama belum tentu menjadi yang terakhir. Dicintai seharusnya juga mencintai. Aku menemukan sosok mu akhirnya. Kamu telah membuatku yakin. Saat aku mencintaimu, saat itu juga aku tau kamu adalah CINTA YANG SEBENARNYA hadir buatku.
TAMAT
🍁🍁🍁
Semangat membaca, dan SEMOGA SUKA😘
MOHON DUKUNGANnya Kakak semua
Terima kasih🙏