Hai..
Aku Rangga Aditya, seorang manajer di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang perbankan sekaligus single parent untuk putra semata wayangku yang baru berusia satu tahun, Rain Septian Ar-Rahman.
Ini kisahku...
Hujan di bulan september tepat tiga tahun lalu, pertama kali aku melihatnya.
Dalam balutan hijab berwarna kalem, dia berjalan anggun menuju supermarket di depan kantorku tepat disaat aku akan kembali ke rumah setelah lelah seharian bekerja.
Dia cantik, dan mataku seolah tersihir melihatnya. Tanpa sadar aku berjalan dibawah hujan, mengikuti setiap gerak langkahnya. Entahlah, aku merasa sesuatu dalam dirinya menarik jiwaku bersamanya.
Dia berhenti sejenak di depan pintu, kemudian menitipkan payung yang dia gunakan kepada satpam supermarket. Aku masih mengikuti langkahnya, bahkan aku tak lagi peduli tatapan cemooh orang-orang yang merasa risih dengan kondisiku yang sudah kuyup diguyur hujan.
"Total belanjanya dua ratus dua puluh lima ribu rupiah mbak."
Kasir minimarket berbicara padanya setelah menghitung total barang yang akan dia beli.
"Sebentar ya mbak."
Gadis itu merogoh sling bag yang terselempang di pundaknya.
Untuk beberapa saat dia tampak panik, seolah kehilangan sesuatu. Wajahnya tampak ketakutan.
"Maaf mbak, apa boleh aku transfer melalui m-banking? Sepertinya dompetku tertinggal."
Gadis itu tampak malu-malu mengatakannya.
Aku berani bertaruh, dia pasti sangat gugup sekarang. Aku yang sejak tadi berdiri di belakang gadis itu memberanikan diri maju beberapa langkah.
"Pakai ini saja mbak."
Aku menyodorkan kartu debet milikku kepada kasir wanita yang sedang bertugas.
Gadis itu berbalik, menatapku dengan bingung. Tapi kemudian dia tersenyum, senyuman yang membuat jantungku semakin berdetak tak menentu.
"Mas, makasih banget untuk bantuannya ya. Maaf, boleh aku minta nomor rekening mas? Aku akan mengganti uang mas yang sudah terpakai."
Aku berpikir sejenak. Jika aku memberikan nomor rekeningku, tentu setelah pertemuan ini urusanku dengannya selesai sudah. Aku tak rela!
"Maaf, aku gak mengingatnya. Boleh aku meminta nomor ponselmu? Nanti aku akan kirimkan nomor rekeningku melalui pesan singkat."
Jawabku.
Aku berharap-harap cemas, berharap dia tidak keberatan namun juga cemas jika dia menolak.
Baiklah, aku punya rencana cadangan. Setidaknya kalau dia menolak, aku akan menjadi penguntitnya. Akan kuikuti kemanapun dia pergi, akan kucari tahu siapa dia dan dimana rumahnya.
Begitu pikirku.
Meaki cukup lama terdiam sambil berpikir, diluar dugaan ternyata dia bersedia memberikan nomor ponselnya.
Usahaku maju selangkah, aku merasa sedikit jumawa diri.
"Maaf, namanya mbak.."
Kataku.
"Ariana."
Jawabnya.
Aku mengulurkan tangan untuk berjabat, namun dia justru mengatupkan kedua tangannya.
Astaga! Aku lupa, gadis sepertinya pastilah sangat menjaga batasan antara pria dan wanita.
"Aku Rangga."
Ucapku memperkenalkan diri.
"Sekali lagi terimakasih untuk bantuannya mas Rangga, tolong segera kirimkan nomor rekeningnya ya."
"Sama-sama. Oke nona Ariana, nanti aku akan mengirimkannya. Oh iya ngomong-ngomong, kamu mau kemana?"
Tanyaku basa basi.
"Pulang."
Jawabnya.
Aku terdiam sejenak. Gadis ini, sepertinya sangat irit bicara. Atau mungkin dia merasa sungkan karena aku menolongnya?
"Pulang kemana? Barangkali kita searah, aku bisa mengantar kamu pulang. Kebetulan aku membawa mobil."
Sumpah demi masa depanku yang masih buram, aku bahkan rela meninggalkan Dian Sastro jika dia bersedia untuk ku antar pulang. Tak masalah meskipun dia ke barat dan aku ke timur, aku akan memutari barat ke timur demi dirinya.
Begitu pikirku.
"Gak usah mas, aku bisa naik angkutan umum kok."
Dia menolak. Aku bahkan belum siap menerima penolakannya.
Aku kembali berpikir, bagaimanapun aku harus tahu dimana rumahnya dan ini satu-satunya kesempatan yang aku punya.
"Gak apa-apa kok, ya hitung-hitung hemat biaya ongkos juga kan. Lagipula cuaca hujan lebat begini biasanya agak sulit mendapatkan angkutan umum, kecuali kalau kamu berjalan sekitar dua kilometer ke halte terdekat. Tapi saranku, lebih baik jangan. Jalanan banjir, nanti pakaian kamu basah."
Aku mulai melancarkan jurus-jurus jitu untuk meluluhkan hatinya.
"Gak, beneran gak usah mas. Lagipula aku juga udah terbiasa kok naik kendaraan umum. Atau aku bisa pesan taksi online."
Lagi-lagi dia menolak dengan tegas. Tapi jangan sebut namaku Rangga si Pemburu Cinta, jika aku tidak bisa memikat bidadari yang satu ini.
"Kamu yakin gak mau aku anterin aja?"
Tanyaku dengan wajah memelas bak kucing jalanan meminta dipungut.
"Insyaa Allah yakin mas, lagipula rumahku juga gak terlalu jauh dari sini. Kalau begitu aku duluan ya mas, assalamualaikum."
Dia mengembangkan payung, kemudian pergi begitu saja tanpa merasa berdosa setelah menolakku dengan tegasnya.
Aku tak kehabisan akal. Segera aku berlari menuju parkiran dan mengambil mobilku. Perlahan-lahan aku mengikutinya yang sedang berjalan sambil membawa payung dan sekantung plastik barang belanjaan.
Halte bus tampak sedikit lenggang, dia duduk di salah satu bangku menunggu angkutan umum sambil membenahi kantungan belanjaan yang dia bawa.
Tak butuh waktu lama, angkutan yang dia tunggu akhirnya tiba. Aku masih sempat melihat saat dia memasuki angkutan dan duduk di salah satu sisi bangku yang kosong di dalam bus itu.
Aku mulai mengikuti, kemana arah dan tujuan bus yang saat ini ada di depanku. Aku memasang mata dengan jeli setiap kali bus berhenti, barangkali gadisku yang turun dari sana.
Setengah jam aku menjadi penguntit bahkan nyaris kehilangan jejak saat aku terhalang lampu merah, akhirnya bus berhenti di sebuah persimpangan.
Dia turun! Gadis itu, Ariana. Dia turun di persimpangan jalan ini. Mungkin, rumahnya tak jauh dari sini. Aku semakin bersemangat, aku harus tahu dimana dia tinggal.
Dari jarak yang tak terlalu dekat, mataku tajam menatap gadis yang sedang berjalan didepanku. Dan akhirnya! Dia memasuki pekarangan sebuah rumah, aku harap itu adalah rumahnya. Untuk memastikan, aku menunggu sampai beberapa jam bahkan hingga pukul sepuluh malam, aku tak lagi melihatnya keluar. Kali ini aku yakin, dia tinggal di rumah itu.
Setelah merasa benar-benar yakin, aku menyalakan mesin mobil dan bergegas pulang.
Dua hari berlalu Ariana juga sudah mengembalikan uang yang saat itu ku gunakan untuk membayar barang belanjaan miliknya. Masih di musim hujan, aku sengaja menyedot habis bensin mobilku dan memindahkannya ke mobil temanku. berharap cemas mobil ini akan mogok dan berhenti tepat didepan rumah gadis pujaanku sehingga aku masih punya alasan untuk bertemu dengannya.
Seolah keberuntungan sedang berpihak kepadaku, mobilku mogok dan hanya berjarak beberapa meter saja dari rumah Ariana. Namun bonus yang lebih mengejutkan, pria paruh baya yang sedang mengurus tanaman di halaman rumah Arin melihatku dan saat ini berjalan ke arahku sambil membawa payung.
"Mobilnya kenapa?"
Tanya pria yang menurut dugaanku adalah pria yang dimasa depan akan menjadi ayah mertuaku.
"Mogok Pak, sepertinya kehabisan bensin."
Jawabku dengan sok polosnya.
"Oh, tunggu sebentar."
Pria itu membenahi kopiah dan sarungnya, kemudian kembali ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, seorang pria yang tampak sebaya denganku keluar dari dalam rumah dan langsung pergi dengan sepeda motornya. Dia sempat melihat ke arahku, kemudian tersenyum. Saat kuperhatikan lebih jeli, wajahnya nyaris persis dengan Ariana. Entahlah, mungkin mereka saudara kembar.
Setelah menunggu beberapa saat, pria muda itu kembali sambil membawa bensin. Dia menghampiriku, kemudian menyodorkan jerigen berisi bensin kepadaku.
"Ini bang, mudah-mudahan cukup ya sampai ke pom bensin."
Ucapnya ramah.
"Terimakasih."
Balasku sambil menerima jerigen berisi bensin itu dan menuangnya ke tangki mobilku.
"Siapa nama kamu?"
Aku iseng bertanya.
"Panggil aja Arya. Mas namanya siapa?"
Dia bertanya balik.
"Aku Rangga."
Jawabku.
"Sepertinya aku gak pernah melihat mas Rangga di daerah sini. Apa mas Rangga orang baru?"
Aku tertegun sejenak. Otakku memaksa untuk mencari alasan yang paling masuk akal.
"Ehm, iya. Aku sedang mencari kontrakan."
Jawabku asal.
"Untuk mas sendiri, atau dengan keluarga?"
Tanya Arya. Dia terkesan seperti sedang menyelidikiku.
"Sendiri, kebetulan aku masih single."
Jawabku sambil tersenyum.
"Kalau begitu ayo masuk dulu mas, kita bicara didalam. Lagipula hujannya masih lebat dan mas basah kuyup, aku akan pinjamkan pakaian milikku."
Hatiku melonjak kegirangan, selangkah demi selangkah aku maju. Aku optimis, kelak aku akan menjadikan Ariana milikku.
"Abi, ini mas Rangga yang tadi mobilnya mogok. Tadi Arya sempat mengobrol dengan mas Arya, dan dia bilang sedang mencari kontrakan untuk satu orang."
Arya menjelaskan maksud dan tujuanku kepada abinya setelah aku berganti baju.
"Wah, kebetulan. Di ujung gang ini ada satu rumah kosong yang memang di kontrakkan, kalau untuk satu atau dua orang Insyaa Allah cukup."
Aku tertegun. Tentu saja aku tidak benar-benar sedang mencari kontrakan, setidaknya aku sudah memiliki rumah sendiri. Sudahlah, sudah kepalang tanggung.
Pikirku.
"Boleh saya lihat dulu rumahnya pak?"
Rangga mencoba berbasa basi.
"Tentu boleh, mari saya antar."
-----
Rumah ini ternyata cukup nyaman untuk ditinggali. Meskipun tidak sebesar rumahku, tapi suasananya tenang. Jauh dari keramaian. Akhirnya aku memutuskan untuk mengontrak rumah ini.
"Saya suka rumahnya, lingkungannya juga tenang. Kalau begitu saya ambil rumah ini pak."
Ucapku dengan yakin.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau nak Rangga cocok dengan rumahnya. Jadi, kapan nak Rangga akan menempati rumah ini? Biar kami bersihkan dulu sebelum ditinggali."
"Insyaa Allah segera pak, lagipula rumah ini sudah cukup bersih. Sisanya nanti aku bereskan sendiri."
Jawabku.
"Baiklah kalau begitu. Nanti kalau nak Rangga butuh bantuan untuk membereskan barang-barang beritahu Arya saja, biar Arya yang bantu."
"Baik pak."
Setelah melihat-lihat rumah yang rencananya akan aku kontrak, aku kembali kerumah Pak Wardi si pemilik rumah dan melanjutkan perbincangan soal rumah yang akan aku kontrak.
"Rumah itu dulunya saya berikan untuk anak saya dan mantan suaminya. Tapi sejak anak saya bercerai dari mantan suaminya, rasanya saya tidak tega membiarkan anak saya tinggal sendiri. Apalagi mantan suaminya sampai sekarang masih saja mengganggu anak saya, bahkan tega memfitnahnya. Demi keamanannya, saya meminta dia untuk tinggal disini."
Saat kami sedang berbincang, sayup-sayup aku mendengar suara seseorang yang tengah mengaji. Seorang wanita, dan suaranya sangat merdu. Namun bukan suaranya yang membuatku terkesima. Entahlah, sulit kujelaskan. Tapi jiwaku rasanya bergetar mendengar lantunan ayat suci.
Aku mencoba untuk fokus mendengarkan, bahkan aku memberi isyarat pada pak Wardi untuk tak bicara apapun. Pak Wardi mengangguk sambil tersenyum.
Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya suara itu terhenti.
"Itu Ariana, anak saya."
Ucap Pak Wardi yang seolah mengerti.
Ariana.. Itu dia gadis yang aku cari. Ternyata aku tak salah, dia memang tinggal disini. Aku merasa saat itu Allah memang telah menakdirkan pertemuanku dengannya.
"Ehm, maaf Pak. Rasanya saya kurang sopan."
"Tidak, tak apa. Mendengarkan lantunan Al-Qur'an itu kan hal yang baik."
Jawab Pak Wardi sambil tersenyum.
Setelah selesai membicarakan soal rumah kontrakan, aku memutuskan untuk pamit.
"Kalau begitu, saya pamit dulu pak. Insyaa Allah saya akan secepatnya menempati rumah itu. Lagipula, lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor saya."
Ucapku.
"Baiklah nak Rangga, hati-hati dijalan."
Balas Pak Wardi sambil tersenyum.
"Terimakasih Pak, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
--------
Dua hari berlalu, saat itu hari minggu dan aku sedang libur. Akhirnya aku benar-benar memutuskan untuk pindah dan menempati rumah milik Pak Wardi yang sudah aku kontrak untuk satu tahun kedepan.
Tentu saja awalnya mama dan papa tidak setuju dengan rencanaku. Dulu aku sendiri yang mendesain rumah yang kutinggali sebelumnya. Rumah yang memang sudah lama aku idamkan, cukup luas untuk ditinggali tiga orang. Dulu, aku berpikir suatu saat rumah ini akan sangat ramai dengan keberadaan istri dan anak-anakku di masa depan.
Setelah berbagai argumen dan alibi ku jabarkan, akhirnya mama dan papa mengizinkanku untuk pindah. Tentu saja dengan syarat, setiap akhir pekan aku harus pulang dan aku menyanggupinya.
Aku membawa beberapa koper berisi pakaian. Sedangkan untuk perabot, aku sengaja membeli yang baru karena aku tidak ingin repot-repot. Untuk diriku sendiri, aku hanya butuh kasur untuk tidur dan sofa yang akan ditempatkan di ruang tamu juga meja makan. Sedangkan perabot yang lain, hanya ada beberapa. Seperti kulkas, dan mesin cuci.
Tak terlalu susah untuk membereskan barang-barang, karena memang aku tak membeli banyak barang. Aku hanya membeli apa yang kuperlukan saja.
Arya dan Pak Wardi juga ikut membantuku membereskan rumah yang akan aku tempati.
Hanya dua jam, akhirnya kami selesai berberes tepat saat adzan dzuhur berkumandang. Pak Wardi dan Arya berpamitan, karena hendak membersihkan diri dan segera melaksanakan sholat dzuhur.
Usai membersihkan diri, aku menghempaskan tubuhku di atas kasur.
Lumayan melelahkan, pikirku.
Aku meraih ponselku dan memeriksa beberapa pesan juga panggilan tak terjawab dari beberapa temanku. Biasanya setiap akhir pekan, aku selalu menghabiskan waktu untuk camping bersama mereka, namun hari ini aku lupa memberi kabar.
Setelah membalas beberapa pesan mereka, aku memejamkan mata sejenak.
Baru saja aku akan terlelap, seseorang memanggil dari luar.
"Assalamualaikum.. Mas Rangga, Mas.."
Itu suara Arya.
Aku segera bangkit dan membuka pintu.
"Waalaikumsalam.. Ada apa Arya?"
Tanyaku.
"Ini. Ayah memintaku mengantarkan ini untuk mas Rangga. Kami lihat di dapur mas Rangga gak ada perlengkapan untuk memasak dan kami yakin mas Rangga belum makan. Makanya ayah memintaku untuk mengantar ini."
Arya menyodorkan rantang yang aku yakin berisi makanan.
Aku menerimanya sambil tersenyum.
"Makasih banyak Arya, maaf jadi merepotkan. Padahal aku bisa kok pesan makanan delivery."
Ucapku.
"Untuk apa pesan delivery mas, mending mas Rangga pesan cateringan aja. Kebetulan Ariana usaha catering kecil-kecilan. Kalau mas Rangga berminat, nanti aku sampein ke Ariana."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tentu saja aku menerima tawaran Arya dengan senang hati.
"Oh iya mas Rangga, nanti malam setelah isya kerumah ya. Ayah mengundang mas Rangga untuk makan malam."
"Baiklah, nanti aku akan datang. Sekali lagi terimakasih ya Arya."
Jawabku.
"Iya sama-sama mas. Kalau begitu aku pamit ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Malam hari selepas isya, aku menyambangi kediaman Pak Wardi.
Arya mempersilahkanku masuk dan langsung ke ruang makan. Pak Wardi sudah menunggu.
"Nak Rangga, jangan sungkan-sungkan. Makan yang banyak."
Ucap Pak Wardi sambil memberi isyarat mempersilahkan aku untuk duduk.
Hidangan sudah tersedia di atas meja. Meski sederhana, namun tampak menyelerakan.
Dan satu hal lagi yang membuatku heran, setiap hidangan yang tersedia di meja porsinya tidak terlalu banyak. Sangat jauh berbeda dengan hidangan di rumahku, mama selalu memasak macam-macam makanan meski kami hanya tinggal bertiga dengan papa. Dan akhirnya, makanan yang tersisa terbuang sia-sia.
Aku benar-benar menikmati makan malam bersama keluarga Pak Wardi. Setelah makan, kami masih sempat berbincang hangat sambil bercanda, seperti keluarga.
Namun satu hal yang membuatku bingung, aku tak melihat Ariana. Bahkan sejak aku tiba pagi tadi aku belum melihatnya.
"Oh iya Pak, bukannya Bapak punya anak perempuan?"
Aku memberanikan diri untuk bertanya.
"Ariana maksudnya? Dia ada di kamar. Dia memang sangat pemalu."
Jawab Pak Wardi.
"Ehm, maaf kalau saya tidak sopan pak. Tapi, apa boleh saya mengenal Ariana?"
Pak Wardi tersenyum sambil mengangguk.
"Arya, tolong panggilkan Ariana."
Arya beranjak dari kursi, kemudian bergegas menuju kamar Ariana.
Tak lama kemudian, dia kembali bersama seorang wanita yang mengikuti di belakangnya.
Itu dia! Itu gadis yang aku cari selama ini. Akhirnya aku bisa bertemu dengannya lagi, dia yang sudah membuatku penasaran sampai sejauh ini.
Ariana menatapku dengan tatapan heran.
"Kamu?"
Aku tersenyum kikuk.
"Ariana, ini Rangga yang mengontrak rumah kamu."
Pak Wardi memperkenalkan kami.
"Aku kenal dia ayah."
Jawab Ariana.
Tunggu, 'rumah kamu'? Maksud Pak Wardi, apakah rumah yang saat ini aku tinggali adalah milik Ariana? Hah, jadi diakah anak yang tempo hari diceritakan oleh Pak Wardi?
Aku sedikit terkejut.
"Ayah, dia orang yang Arin ceritakan waktu itu. Dia yang menolong Arin waktu di supermarket."
Ariana menjelaskan pada ayahnya.
"Oh.. Ternyata begitu, ebetulan sekali. Saya memang berniat untuk berterimakasih. Ternyata nak Rangga yang sudah menolong putri saya."
"Bukan apa-apa Pak, saya hanya sedikit membantu."
Jawabku sambil tersenyum kikuk.
Pukul sepuluh malam, aku berpamitan pada Pak Wardi dan keluarganya setelah berbincang banyak. Aku juga mendengae banyak hal tentang Ariana, termasuk tentang permasalahan rumah tangganya hingga perceraiannya.
Awalnya memang aku sedikit terkejut. Namun setelah mengetahui cerita yang sebenarnya, entah kenapa aku justru merasa iba. Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata lelaki yang tidak bertanggung jawab bukan hanya ada dalam cerita sinetron saja.
Mabuk, berjudi, bahkan bersikap kasar pada wanita sebaik Ariana? Benar-benar lelaki bodoh menurutku.
Tapi setidaknya aku cukup bersyukur. Tidak, aku tidak mensyukuri apa yang terjadi pada Ariana. Tapi aku bersyukur karena aku dipertemukan dengannya di saat yang tepat.
Dalam hati aku sudah bertekat, aku akan menikahinya dan membahagiakannya. Akan ku balut lukanya, hingga dia lupa, dia pernah terluka dan patah.
Satu bulan berlalu, dan aku benar-benar sudah mempertimbangkan semuanya. Sekaranglah waktunya, untuk menyampaikan niatku pada Pak Wardi dan keluarganya.
"Sebelumnya saya minta maaf Pak, mungkin ini mendadak. Tapi saya sudah memikirkannya sejak lama."
Ucapku malam itu di hadapan Pak Wardi dan kedua anaknya saat menyambangi kediaman Pak Wardi.
"Ada apa nak Rangga? Katakan saja, jangan sungkan."
Balas Pak Wardi.
"Pak Wardi, saya berniat untuk melamar Ariana. Saya tahu ini memang sangat mendadak, tapi saya benar-benar berniat serius. Saya benar-benar ingin menikahi putri Bapak."
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.
Pak Wardi dan kedua anaknya tampak terkejut, terutama Ariana yang langsung menunduk dalam.
"Nak Rangga, Bapak minta maaf. Tapi apakah kamu benar-benar serius dengan niat kamu? Ariana adalah putri Bapak, dan Bapak tidak ingin dia terluka lagi."
"Saya benar-benar serius Pak. Saya memang tak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk putri Bapak, tapi saya akan berusaha untuk itu. Saya benar-benar minta maaf Pak, tapi saya sudah jatuh cinta pada putri Bapak sejak pertama kali melihatnya."
Akhirnya aku mengatakan dengan jujur, sejak awal memang aku sengaja mengikuti Ariana dan memang aku juga sengaja mendekati keluarganya.
Pak Wardi tampak berpikir keras. Tentu saja berat baginya untuk melepas putri kesayangannya, apalagi setelah semua yang terjadi pada Ariana.
"Arin, bagaimana menurutmu?"
Tanya Pak Wardi.
Ariana hanya tertunduk, tak menjawab apapun.
"Nak Rangga, Bapak rasa ini terlalu mendadak. Tolong berikan Ariana waktu untuk mempertimbangkan."
Pinta Pak Wardi, dan aku menyetujuinya.
Setidaknya, aku sudah menyampaikan niatku. Setelahnya, aku hanya bisa memasrahkan pada Allah. Jika memang dia jodoh yang telah Allah tetapkan untukku, pasti akan ada jalan. Namun jika bukan dia orangnya, aku akan berusaha menerima dengan hati yang lapang.
Beberapa hari kemudian, Arya menemuiku dan memintaku untuk datang kerumahnya. Pak Wardi ingin berbicara empat mata, denganku.
"Nak Rangga, apakah kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu ambil? Bapak tidak ingin kamu mengambil keputusan hanya karena rasa suka sesaat saja."
"Insyaa Allah saya yakin pak."
Jawabku mantap.
"Kamu tahu kan, Ariana adalah seorang janda. Apakah kamu siap menerima segala konsekuensi jika kamu menikahinya? Bagaimana dengan keluargamu, apakah mereka juga merestui kamu menikahi wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya?"
"Alhamdulillah, keluarga saya tidak ada masalah dengan itu. Sekarang saya kembalikan semua pada Bapak dan Ariana. Kalau memang Bapak dan Ariana setuju, Insyaa Allah saya akan segera membawa orangtua saya untuk melamar Ariana."
Pak Wardi menghela napas lega.
"Baiklah, kalau begitu segera bawa kedua orangtuamu."
Ucapnya sambil tersenyum.
Aku tertegun, seolah tak percaya. Pak Wardi memintaku membawa papa dan mama, itu artinya beliau setuju? Apakah Ariana juga sudah menyetujuinya? Aku harap, iya.
Dua hari kemudian, aku membawa keluargaku untuk menemui Pak Wardi. Sebenarnya, aku ingin menyelesaikan beberapa pekerjaanku di luar kota terlebih dulu, tapi mama tampaknya sangat bersemangat ingin segera memiliki menantu.
Setelah melakukan pertemuan keluarga, akhirnya sesuai permintaan mama kami menyegerakan pernikahan. Bila mengingat kejadian beberapa hari terakhir, rasanya menggelikan.
Sehari setelah pertemuan keluarga, mama yang merasa sangat bersemangat langsung membuat persiapan untuk pernikahan.
Sebenarnya, Ariana tidak menginginkannya. Namun mama berusaha membujuk Ariana.
Karena aku adalah anak tunggal, tentu keluargaku ingin membuat resepsi yang sangat berkesan.
Ngomong-ngomong, meski sudah berstatus calon suami tapi aku dan Ariana masih sangat jarang bertemu. Bahkan jika bertemu pun, hanya sekedar bertanya kabar dan itu dilakukan dihadapan ayahnya, atau Arya. Tak pernah sekalipun kami bicara hanya berdua. Padahal sejujurnya dalam hati, sangat banyak hal yang ingin aku tanyakan padanya.
Tapi tak apa, toh beberapa hari lagi kami akan sah menjadi pasangan suami-istri. Membayangkan hal itu rasanya jantungku akan meledak.
Satu hari sebelum pernikahan, aku sudah mengambil cuti dari kantor. Aku sengaja mengambil cuti tepat sehari sebelum pernikahan, agar setelah menikah aku bisa meluangkan sedikit waktu untuk berduaan dengan istriku nanti.
"Saya terima nikahnya Ariana Dahlia Binti Mawardi dengan mas kawin surah Ar-Rahman dan sepuluh gram emas dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah?"
Tanya tuan kadi.
"SAH..!"
Jawab para saksi dan tamu yang hadir serempak.
Alhamdulillah, tak perlu melewati banyak proses dan nyaris tanpa halangan akhirnya Ariana resmi menjadi istriku secara agama dan hukum.
Untuk pertama kalinya, Ariana mengecup punggung tanganku dan aku mengecup keningnya. Ada perasaan yang sukar untuk ku jabarkan, tapi saat itu aku benar-benar merasa bahagia.
Untuk pertama kalinya juga, aku melihat Ariana yang tersenyum sangat manis. Ingin rasanya aku segera memeluknya, dan mengatakan aku mencintainya. Tapi aku harus bersabar, setidaknya sampai resepsi selesai.
Setelah menjadi raja dan ratu sehari, akhirnya kami punya waktu untuk berdua. Benar-benar hanya ada aku dan dia, didalam kamar yang sudah dihias sedemikian rupa.
Ariana duduk didepan cermin, sambil membuka riasan di kepalanya satu persatu. Aku yang duduk di tepi ranjang tepat dibelakang Ariana. Melihat pantulan bayangannya dari cermin itu, sangat cantik. Dan aku masih tak percaya jika wanita cantik ini sekarang adalah istriku.
Tanpa diduga, Ariana juga menatapku dari balik cermin. Tatapan kami bertemu, walau hanya dari bayangan cermin. Ariana langsung menunduk malu. Aku bahkan sedikit salah tingkah.
Untuk mengatasi kegugupanku, aku meraih ponsel dan berpura-pura fokus dengan layar. Padahal, aku masih menatapnya dengan kamera ponselku yang sengaja kunyalakan.
Ariana tampak kesulitan untuk membuka riasan di kepalanya. Aku berdiri menghampirinya, kemudian mencoba membantunya.
"Kalau kamu butuh bantuan, kamu bilang aja."
Itulah kalimat pertama yang aku katakan padanya.
Benar-benar sangat tidak romantis kan?
Padahal, banyak hal yang ingin kukatakan, perasaan yang ingin kuluahkan, tapi aku tidak ingin gegabah. Ariana belum begitu mengenalku, dan dia juga masih trauma dengan pernikahannya yang dulu. Aku takut jika aku justru melakukan sesuatu yang membuatnya kecewa.
"Terimakasih mas."
Ucapnya sambil menunduk setelah semua riasan di kepalanya terlepas, menyisakan hijab panjang yang masih menutup kepala.
Aku meraih kedua tangannya, mengecupnya dengan lembut.
"Ariana, mulai sekarang aku adalah suami kamu. Akulah yang bertanggung jawab atas dirimu di dunia dan akhirat. Aku tahu, kamu belum sepenuhnya menerimaku. Tapi untuk kedepannya, bergantunglah padaku."
Ariana menatapku sekilas, kemudian kembali menunduk.
"Mas, kenapa kamu menikahiku? Kamu tahu kan, aku wanita yang sudah pernah menikah sebelumnya. Apakah kamu tidak malu, menikahi wanita yang sudah pernah menikah?"
Aku tersenyum, kemudian menangkupkan kedua tanganku di pipi Ariana.
"Aku sudah mengatakan semuanya pada ayahmu. Kamu ingat pertama kali kita bertemu? Sebenarnya, sejak saat itu aku mulai jatuh cinta padamu. Bahkan tanpa kamu sadari, aku sengaja mengikutimu. Aku sengaja membantumu saat di kasir. Sebenarnya, aku ingat nomor rekeningku. Tapi aku sengaja berbohong agar aku bisa mendapatkan kontakmu. Maaf, aku sudah melakukan kecurangan-kecurangan kecil. Tapi demi Allah, aku benar-benar mencintai kamu."
Ariana tersenyum kepadaku. Benar, dia tersenyum. Masyaa Allah cantiknya istriku. Rasanya aku ingin memeluknya saat ini juga, dan tidak akan pernah kulepaskan.
"Ariana, boleh aku tahu kenapa kamu menerima pinanganku dan bersedia menjadi istriku?"
Lagi-lagi Ariana menunduk, tapi kali ini wajahnya memerah.
"Sebenarnya.. Arin juga sudah mencintai mas saat pertama kali kita bertemu. Tapi, Arin takut. Dan Arin merasa tidak layak untuk mas Rangga."
Ya Tuhan.. Ternyata dia juga memendam perasaan yang sama, itu artinya aku tak bertepuk sebelah tangan kan? Kukira hanya aku saja, ternyata dia juga mencintaiku. Rasanya jantungku benar-benar akan meledak.
"Boleh mas peluk Arin?"
Tanyaku dengan wajah penuh harap.
Ariana mengangguk setuju, dengan masih menunduk.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memeluk wanita selain mama. Aku mendekap tubuh Ariana, dan dia membalasnya meski sedikit malu-malu. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik dadaku yang bidang. Sikapnya yang malu-malu manja seperti ini, rasanya membuat hatiku semakin berdebar.
"Mas, sekarang mas adalah suami Arin dan mas berhak sepenuhnya atas diri Arin."
Seolah mendapatkan restu, aku mulai memberanikan diri untuk menyentuhnya. Aku mulai mengecup keningnya, kemudian perlahan mengecup kedua mata dan pipinya, berakhir dengan satu kecupan manis di bibirnya.
Malam itu untuk pertama kalinya, aku merasa berada di surga dunia.
Malam semakin beranjak, Ariana sudah terpulas dalam pelukanku.
Aku menatap wajahnya yang tampak lelah namun damai dalam tidurnya, dan perlahan aku mengusap wajahnya.
"Ariana Dahlia, mas tidak bisa menjanjikan kamu akan selalu bahagia. Tapi, mas akan berusaha untuk itu. Mungkin mas bukanlah lelaki sempurna, tapi mas akan tetap mencintai kamu selamanya. Menjadikan kamu satu-satunya bahkan meski maut memisahkan."
Aku mengecup keningnya dengan lembut, kemudian memeluk erat tubuhnya dan menyusul ke alam mimpi.
Awal november yang indah untukku, dan untuknya juga. tak genap dua bulan sejak bertemu, akhirnya kami sudah berstatus suami istri.
Januari tahun lalu, selama beberapa hari Ariana tampak tak sehat. Dia sering mual dan muntah di pagi hari, atau saat mencium aroma-aroma yang menyengat. Atas saran dari mama yang merasa ada kabar baik, akhirnya aku membawa Ariana ke dokter kandungan. Dan benar saja, Ariana tengah mengandung buah cinta kami.
Tak terbayangkan betapa bahagianya kami saat itu, ini adalah kehamilan pertamanya dan tentu kami sudah sangat menantikannya.
Rasanya semakin hari, semakin besar cintaku untuknya begitu juga sebaliknya.
Hari-hari kami jalani dengan bahagia, sambil menunggu lahirnya anak pertama kami.
Sejak awal kehamilan, berbagai macam drama ngidam dan lain-lain terjadi. Tapi sikapnya yang semakin manja itu, membuatku tak bisa jauh darinya meski hanya sehari.
Waktu semakin beranjak, tak terasa tubuh Ariana semakin menggembul. Merasa tak tega melihatnya yang sudah mulai kesulitan bergerak, aku memutuskan untuk menggunakan jasa ART. Awalnya dia menolak, namun aku bersikeras. Aku hanya tak ingin dia terlalu lelah.
September tahun lalu, sembilan bulan masa kehamilannya.
Hari itu sejak pukul tiga pagi, Ariana sudah mulai merasakan kontraksi. Sebagai suami yang telah siaga dan telah mendapatkan banyak ilmu tentang kehamilan dari dokter kandungan sebelumnya, aku langsung membawa Ariana ke rumah sakit.
Pukul lima pagi, semua keluarga tiba di rumah sakit sambil menunggu. Semua tampak cemas, dan berharap.
Tentu aku juga. Hanya Allah yang tahu bagaimana berkecamuknya dadaku saat itu.
Apalagi saat mendengar heritan Ariana, rasanya aku ingin masuk ke dalam dan menenangkannya.
Namun perawat tak mengizinkan.
Kami hanya bisa menunggu dan berdoa untuk keselamatan istri dan anakku.
"Selamat ya pak, bayinya laki-laki."
Seorang perawat akhirnya memberikan kabar bahagia itu.
"Boleh saya masuk sus?"
Tanyaku.
Perawat itu mengangguk.
Tanpa membuang waktu, aku bergegas masuk kedalam ruang bersalin.
Wajah itu, wanitaku yang tengah terbaring dalam keadaan lelah tak berdaya. Namun dia tetap menyunggingkan senyumnya saat melihatku.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintai kamu. Kita akan hidup bahagia selamanya, bersama anak-anak kita nanti."
Ucapku sambil mengecup lembut keningnya.
Tak terasa airmataku menetes, kebahagiaan yang terasa seperti mimpi. Akhirnya aku menjadi seorang ayah, rasanya aku adalah lelaki paling beruntung di dunia.
"Mas, anak kita laki-laki."
Ucap Ariana dengan nada lirih.
Aku mengangguk sambil tersenyum.
"Kamu mau kasih dia nama apa?"
Tanyaku.
"Ar-Rahman.. Aku ingin memberinya nama Ar-Rahman."
Jawab Ariana.
Aku mengangguk setuju.
"Rain Septian Ar-Rahman. Rain artinya hujan, dan Septian karena dia lahir di bulan september. Pertama kali kita bertemu di bulan september, saat itu sedang hujan. Dan hari ini tepat di bulan september, dia terlahir juga saat turun hujan. Sepertinya Allah benar-benar menurunkan rahmat untuk kita."
Ucapku sambil tersenyum.
"Mas, Arin yakin mas akan menjaga anak kita dengan baik. Arin titip anak kita ya mas, Insyaa Allah kita akan bertemu lagi."
Belum sempat aku mencerna ucapannya, secara tiba-tiba Ariana tak sadarkan diri setelah sebelumnya mengucapkan kalimat 'La ilaha Ilallah'
Aku sangat panik, dan langsung memanggil dokter.
"Kami minta maaf Pak, istri anda telah berpulang."
Seketika jeritan histeris keluar dari bibirku.
Tidak, ini tak mungkin. Ini pasti mimpi kan?
Sia tak mungkin meninggalkanku dan Rain. Tidak, ini hanya mimpi. Aku yakin ini mimpi dan saat aku terbangun, aku akan melihatnya tengah menggendong putra kami.
Siapapun, tolong bangunkan aku. Cepat, tolong bangunkan aku. Aku tidak sanggup melihat mimpi ini. Ini terasa begitu nyata.
Satu minggu sejak kepergiannya, aku masih merasa seperti orang bodoh. Serasa separuh jiwaku juga mati. Hanya Rain, yang membuatku bertahan. Jika bukan karenanya, mungkin aku benar-benar akan gila.
Semua anggota keluarga silih berganti memberiku dorongan. Tentu, aku harus tetap hidup demi anakku. Aku harus tetap waras untuk bisa merawat dan membesarkannya.
Hanya karena Rain, akhirnya aku mulai bangkit dari keterpurukanku setelah kehilangan wanita yang paling aku cintai, ibunya.
Kini setahun sudah kepergiannya, tepat setahun juga usia Rain. Mungkin sekarang dia belum mengerti. Tapi kelak setelah dia dewasa aku akan menceritakan padanya tentang kisah hujan di bulan september, tentang cinta sejati yang akan kekal sampai surga.