"Tari.........."seseorang memanggil nama
Aku menghentikan langkahku, kualihkan pandanganku, tapi tak kutemukan asaL suara itu. Yah sudahlah, mungkin sekedar sama nama aja, fikirku.
Baru saja hendak kulangkahkan kakiku kembali.
"Tari......."seseorang sudah berdiri di hadapanku. Dia menyebut nama kecilku, nama yg tidak semua orang tahu. Hanya keluarga dan orang-orang terdekatku saja yg memanggilku dengan nama itu.
Aku mengeryitkan alis, berfikir, atau tepatnya mengingat, siapa wanita di hadapanku ini.
"Masih ingatkah kau padaku Tari?"
Kutatap wanita di hadapanku ini. Seorang wanita Jawa sederhana. Wajahnya, gaya juga penampilannya sangat sederhana, aku berujar daLam hati. Aku seperti pernah melihatnya, tapi entah dimana, di waktu dan masa yang mana, aku sendiri tidak mengingatnya.
"Tari.........."ujarnya memecah kesunyian sekaligus menggugah alam sadarku yang sedari tadi berkelana berusaha mencari tahu. Akupun tersenyum ramah sembari menggelenggkan kepala. Sumpah, aku benar-benar tidak mengingatnya.
"Aku Ana, istri Awan," ujarnya mengulurkan tangan.
Degg.......Dadaku seperti dihantam benda keras, perkataan perempuan ini barusan membuatku bingung mesti mengatakan apa.
"Mari kita cari tempat nyaman tuk sekedar mengobrol, sudah sangat lama sekali aku ingin berbicara denganmu."
Wanita ini kembali menghalangi niatku yang sudah ingin pergi saja sedari tadi. Akupun terpaksa menganggukkan kepala.
"Ternyata sedekat ini aku bisa melihatmu, kau sungguh anggun dan manis Tari, pantas saja mas Awan sangat mencintaimu." wanita ini kembali berbicara.
Kembali aku tersenyum, rasanya aku tahu kalau senyumku kali ini pastilah terasa sangat kecut. Aku ingin berbicara tapi mulutku seperti terkunci. Aku sendiri tidak tahu apa yang mesti kukatakan. Lagi-lagi cuma senyumlah jawaban yang bisa kuberikan. Dan kuikuti saja langkah wanita ini membawaku.
Setelah menemukan tempat yg santai untuk mengobrol, kamipun sedikit berbasa-basi, sekedar menanyakan keadaan masing-masing. Sebelum akhirnya menceritakan kedua putranya yang ternyata seumuran dengan kedua anakku.
"Aku kosong hampir dua tahun, itulah kenapa putra kita jadi seumuran Tari. Dan putra keduakupun seumuran dengan gadis kecilmu itu."
Akupun tersenyum saja, menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataannya barusan.
Awan memang menikah dua tahun lebih dulu sebelum aku menikah, sayanganya dia tidak seberuntung diriku yang cepat diberi momongan. Kadang terlintas juga dalam fikiranku, apakah dia menungguku menikah terlebih dahulu baru siap mempunyai anak. Entahlah, bisa jadi itu hanya fikiranku saja. Akhirnya semua akan kembali pada keputusan Yang di Atas.
AlhasiL obrolan berlanjut ke selera asal. Apalagi yang bisa di bicarakan dua orang ibu selain sibuk dengan membanggakan anaknya masing-masing. Kehebatan demi kehebatan yang di uraikannya tentang kedua putranya mau tak mau membuatku mengikuti alur ceeita, dengan tidak kalahnya ikut membanggakan kedua anakku.
Tapi setidaknya obrolan bisa kudominasi saat kuceritahkan pola tingkah gadis kecilku. Dia mendengarkan saja betapa aku sangat memuji putriku. Ketidakberadaan seorang putri membuatnya mendengar saja tanpa perlawanan.
"Putrimu sangat cantik, sama seperti mamanya," ujar Ana begitu ku tunjukkan foto putri kecilku.
Tentu saja, andai kau tau suamimupun pernah berharap agar suatu hari nanti salah satu putramu bisa berjodoh dengan putriku, aku berujar dalam hati dengan rasa bangga. Cuma dalam hati, karena yang tampak kemudian hanyalah segurat senyuman saja.
"Tari......boleh aku bertanya satu hal padamu?"
Aku menganggukkan kepala menyetujuinya.
"Boleh aku tahu bagaimana perasaanmu pada mas Awan?"
"Maksudmu Ana?" Aku bingung dengan arah pertanyaannya barusan
"Aku tahu kalau kau adalah cinta pertama mas Awan, akupun tahu bahkan sampai detik ini dia masih sangat mencintaimu.Tapi bagaimana perasaanmu sendiri?"
Aku tersenyum, sangat tulus kuberikan padanya.
"Aku mengerti bagaimana perasaanmu Ana. Tapi bisa kupastikan padamu, aku tidak mempunyai perasaan lagi terhadap suamimu itu. Bagiku, Awan cuma bagian dari masa lalu, aku hanya menganggapnya sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu.
Kulihat dia meragukan perkataanku barusan, aku melihat keraguan itu di matanya. Tapi aku ingin sekali menyakinkannya dengan semua perkataanku.
"Aku ingin kau percaya padaku Ana. Awan cuma kekasih masa remajaku dulu. Rasanya sudah sangat lama berlalu, aku bahkan sudah melupakan semua itu. Tidak tersisa lagi perasaan itu untuknya, semua cuma masa lalu."
Aku kembali menegaskan, kali ini tentu saja dengan senyum tulus dari dalam hati.
"Terimakasih Tari, mendengar perkataanmu barusan membuatku bisa bernafas lega. Setidaknya bisa kubuang semua rasa ragu dan takut itu dari hatiku."
Ya Tuhan, bertahun-tahun dia hidup bersama dengan keraguan dan ketakutannya.
Bertahun-tahun hatinya dipenuhi pertanyaan tentang kepastian cinta suaminya.
Seketika dadaku sesak, rasanya begitu tercekat.
Wanita yang hebat, ujarku dalam hati. Aku kembali tersenyum, semoga bisa menyakinkan hatinya.
Untuk beberapa saat kemudian, kami cuma saling pandang, entah hati kami bicara apa. Saling menyakinkan atau malah saling meragukan.
"Aku perempuan Jawa Tari, prinsipku nrimo. Aku sangat mencintai mas Awan. Aku menerima saja semuanya, termasuk perasaannya untukmu yang masih tersimpan rapi di hatinya hingga detik ini.
Aku sendiri bingung apa yang membuatnya tidak bisa melupakanmu. Tapi aku tidak perduli, yang terpenting aku sangat mencintainya. Karena bagiku cinta bukan saja sebuah pengabdian, tapi juga pengorbanan."
Aku mengeryitkan dahiku sesaat, aku berusaha keras mencerna, memahami juga mengerti prisip yang dikatakan wanita ini barusan.
Belum lagi aku mambuka suara mengomentari prinsipnya, wanita ini kembali berbicara.
"Aku sangat yakin Tari, cintaku akan membantunya melupakanmu. Aku sangat yakin, cintaku akan membunuh perasaannya padamu suatu hari nanti, aku sangat yakin itu. Karena mas Awan tidak akan menemukan cinta sebesar cintaku padanya dari wanita manapun, termasuk dirimu." ujar wanita ini dengan begitu optimisnya.
Sombong sekali cinta wanita ini, dia kira cuma dia yang mencintai suaminya, dia kira tidak ada cinta yang melebihi cintanya itu. Perasaanku tergelitik, egokupun membuatku menjadi egois.
"Ana, aku mengerti bahwa cinta pertama itu sangat sulit untuk dilupakan. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan kalau cinta pertama itu tidak pernah mati,"
Kulirik wajahnya sebentar sebelum melanjutkan bicara kembali.
"Aku sendiri tidak mengerti, apa yang membuat Awan mencintaiku sedemikian dalam. Kufikir aku hanyalah masa lalu dari kisah cinta masa remajanya dulu.
Kalau hingga detik ini aku masih tetap utuh ada di dalam hatinya, aku sendiri juga tidak mengerti. Kalau baginya aku adalah cinta pertama yang tidak akan pernah bisa dilupakannya, aku juga tidak tahu mesti bagaimana." ujarku kembali semakin menjadi.
Kulihat wanita itu menundukkan wajahnya, wajah itu terlihat muram. Aku yakin, hatinya pasti terasa amat sakit mendengar perkataanku barusan.
Itu balasan untuk kesombongan yang telah di tunjukkannya padaku barusan.
Itu jawaban untuk semua cinta yang telah dibeberkannya padaku tadi.
Untuk semua perasaan optimisnya yang akan membunuh cinta untukku di hati suaminya itu. DaLam hati aku tersenyum menang, andai bisa tertawa lepas, sudah sedari tadi aku tertawakan wanita ini.
Tapi mengapa sebagian hatiku menolaknya, ada rasa bersalah yang menyelinap di ujung kalbu. Rasanya tidak pantas aku berkata sedemikian kejam padanya.
Mengetahui cinta suaminya telah terbagi saja rasanya pasti sangat menyakitkan, dan aku barusan menambah rasa sakit itu.
Tidak adil semua ini baginya, fikirku kembali.
Atau aku malah iri padanya, pada rasa cintanya yang sangat besar itu.
Ana, wanita sederhana itu seolah mengajarkan padaku apa makna dari cinta itu sebenarnya.
Walaupun harus terluka menerima kenyataan bahwa ada nama wanita lain di hati suaminya, tapi cintanya tidak pernah berkurang sedikitpun.
Dia menerima cinta itu bukan kelebihannya saja, tapi juga segala kekurangan dari cinta itu sendiri. Dia benar-benar mencintai tanpa syarat.
Sementara aku yg berkoar-koar bahwa aku sangat mencintai suamiku.
Tapi saat dimintanya untuk meninggalkan pekerjaanku demi buah hati kami malah menuduhnya kalau dia tidak ingin melihatku maju, kalau dia tidak ingin tersaingi kariernya.
Ah, cintaku ternyata seegois itu.
" Tapi seperti katamu tadi Ana, aku yakin cintamu yang begitu besar akan membantunya melupakanku. Berharap Tuhan sang pemilik hati akan membolakkan hatinya suatu hari nanti, hingga tidak ada nama lain yang tertulis di hatinya selain namamu. harapkupun begitu Ana,"
Aku berusaha memperbaiki kata-kataku yang kuucapkan padanya tadi.
"Karena kisah dan ceritaku bersama Awan sudah lama berlalu, cerita itu bahkan sudah lama tamat.
Tidak sedikitpun lagi ada rasaku untuknya. Jadi kau tidak perlu khawatir.
Aku jamin kalau aku tidak pantas lagi untuk dicemburui. "
Kembali lagi aku menyakinkannya. Semoga kali ini dia yakin kalau aku mengatakan yang sejujurnya.
Ana sedikit terisak, berusaha dihapusnya air mata yang menitik di ujung matanya.
Aku tahu dia berusaha tegar, entah tuk menguatkan hatinya sendiri, atau tuk menyakinkan kembali cintanya yang begitu besar itu kepadaku.
"Terimakasih Tari, terima kasih tuk pengertianmu, terimakasih juga tuk semua perkataanmu yang menguatkanku.
Ucapan yang bisa sedikit melegakan hatiku. Setidaknya sedikit fikiran burukku tentang dirimu tidak benar adanya."
Aku menghela nafas dalam, aku memahaminya, aku memahami seburuk apapun yang kau fikirkan tentang aku. Bahkan aku memakluminya Ana.
"Tari, aku tidak ingin membohongi perasaanku dengan mengatakan ingin bersahabat denganmu. Rasanya tidak mungkin. Melihatmu saja selalu mengingatkanku akan cinta mas Awan padamu. Melihatmu mengingatkanku akan rasa sakit mencintai," Ana berucap padaku.
"Tapi kalau boleh jujur dari hatiku yang paling dalam, andai kau dan aku bukan bagian dalam permainan drama cinta ini, aku sangat bahagia bisa menjadi teman wanita sebaik dan semanis dirimu." tambahnya lagi
Ana mendekatiku, memegang kedua tanganku, tangan itu terasa sangat dingin.
"Sekali lagi terimakasih Tari, terimakasih telah menemaniku, terimakasih juga bersedia ngobrol bersamaku. Dan maaf menyita waktumu cukup lama." ujarnya mengakhiri obrolan kami.
Kubalas genggaman tangannya, aku tersenyum manis, malah bagiku teramat manis. Kulihat diapun membalas senyumamku. Kulihat sekali lagi wajah perempuan ini, kali ini dengan lebih dekat. Wajahnya cukup manis, lebih manis malah dari perempuan jawa pada umumnya.
Awan cuma tidak berusaha membuka hatinya, dia tidak melihat betapa manis istrinya ini. Ah, andai dia tahu hatinya juga sangat manis.
Cinta tanpa syarat yang diberikannya bahkan bisa melebihi perasaan cinta Awan sendiri. Cinta tanpa syarat itu tidak semua wanita mampu melakukannya.
Bahkan mungkin diriku juga tidak akan mampu.
The End