Ternyata, sebelum kehilangan kita diberikan keindahan terlebih dahulu. Sesuatu yang benar-benar menipu, yang malah membuatku semakin jatuh.
***
Kadang kala memang seperti itu, perubahan membuat kita merasa kehilangan. Meski yang berubah belum tentu milik kita, tapi jika terlanjur sayang dan terbiasa.
Setelah mencatat garis besar isi untuk bahan presentasiku esok, aku segera beranjak dari tempat dudukku, lalu menunggu bus kota jalur E datang.
Mas Arya mengajakku bertemu di stasiun kota petang ini. Katanya ingin memperkenalkanku pada seseorang yang baru akan tiba di kota ini senja nanti. Sebenarnya mas Arya menawarkan untuk menjemputku di kampus, tapi aku menolaknya karena kantor asuransi tempatnya bekerja cukup jauh dengan lokasi kampus tempatku mengajar.
Baru sepuluh menit menunggu, bus jalur E yang akan membawaku ke stasiun pun tiba. Dari jendela luar bus terlihat ramai. Itu terbukti ketika aku masuk ke dalam dan hampir tak memperoleh celah untuk lewat. Suasananya penuh sesak. Ditambah asap kendaraan yang melenguh, juga aroma peluh para penumpang yang berjejalan di ruangan minim udara itu, apalagi bus yang kutumpangi pendingin udaranya mati.
Dari arah belakang aku didorong untuk segera maju ke tengah bus, sebab di belakangku masih banyak antrean yang mengular.
Sementara kernet bus masih saja berteriak bahwa bus ini kosong. Sulap betulan, lalu orang-orang yang berdesakan saat ini dikiranya apa?
"Maju, Mbak," pekik remaja laki-laki yang berdiri di belakangku. Bagaimana mau maju, ibu-ibu paruh baya di depanku masih juga kesulitan bergerak. Beliau berjalan pelan-pelan menyibak penumpang lain yang enggan beringsut.
"Permisi, Pak," ujarku pada laki-laki berbadan tegap yang tak mau bergeser. Aku berharap pria itu mengerti keadaan sang ibu yang telah renta.
Namun, aku hanya dipandangnya sebal. Pria itu berdecak, lalu dengan ogah-ogahan bergeser ke samping.
"Silakan duduk sini, Bu," ujar seorang pemuda yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Dituntunnya Ibu itu untuk duduk di kursi yang semula ia tempati, sementara aku kembali di dorong oleh remaja di belakangku hingga nyaris terjungkal. Untungnya pemuda yang yang berbaik hati memberi si ibu tumpangan menahan bahuku.
Belum usai persoalan tata-menata penumpang yang kelewat penuh, si sopir langsung tancap gas tanpa aba-aba. Membuat kami yang ada di sana hampir terpental ke belakang.
Kini aku tengah berdiri seraya mencengkram lengan kursi Ibu tersebut. Sebelah kananku remaja laki-laki yang mendorongku tadi, sementara belakangku si pria berbadan tegap.
Pemuda yang memberikan kursinya tadi memanggilku, badannya sedikit dibungkukkan untuk menyetarakan tinggiku yang hanya sebahunya. "Mbak!"
Aku menoleh, mengangkat kedua alis. Pemuda itu membuat isyarat dengan jemari telunjuknya, membentuk semacam garis horizontal secara berulang-ulang. Aku pun menangkap maksud darinya.
Akhirnya kami bergeser tempat. Ia yang semula di kananku kini berpindah menjadi bersebalahan dengan remaja laki-laki tadi. Aku menghela napas, posisiku kali ini setidaknya agak nyaman. Aku tak lagi diapit berdesakan oleh kedua pria, belakangku pun seorang perempuan berseragam putih abu-abu.
"Terima kasih," ucapku sekilas pada pemuda itu.
Halte stasiun adalah pemberhentian akhir kedua sebelum akhirnya bus kembali ke terminal. Bus hanya menyisakan separuh dari penumpang. Aku dan pemuda itu salah satunya. Kami duduk bersebrangan, sama-sama menempelkan kepala ke jendela.
Mas Arya kembali menelponku ketika aku baru saja menuruni bus. Kukatakan bahwa aku hendak memasuki stasiun. Lalu ia menyuruhku untuk menunggu di pintu masuk.
Aku tak sadar kalau telah menghilangkan barangku. Sesuatu yang sangat berarti bagiku dan mungkin juga bagi seseorang yang kucintai. Aku tak menyadari bahwa jari manis kiriku tak lagi dilingkari cincin. Hingga mas Arya yang terlihat berjalan ke arahku, aku belum juga menyadari kalau barang itu raib entah ke mana.
Aku tak tahu kalau hilangnya cincin itu akan membawa perubahan besar dalam hidupku. Sejak saat itu, hubungan kami tak lagi sama. Ikatan kita berubah. Walaupun aku tak tahu, apakah perubahan itu hanya karena sebuah cincin yang hilang atau karena hal lain.
"Gimana hari ini?" tanya mas Satya seraya menepuk-nepuk kepalaku. Kami telah bertunangan satu bulan yang lalu. Sebelum itu kami sudah saling mengenal dan menjadi lebih dekat sejak masa kuliah.
"Baik. Mas Arya gimana?" tanyaku. Laki-laki itu tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi. "Luar biasa!"
Sampai sekarang aku masih tercengang jika mengingat bahwa kami telah bertunangan, dan dalam jangka dua bulan lagi keluargaku dan keluarga Mas Arya sepakat untuk melaksanakan pernikahan.
Mas Arya tampan, teramat malah. Wajahnya bersih, hidungnya mancung, dengan rahang yang tak terlalu keras, tapi tak lembek juga. Ia memiliki lesung pipi, mata yang indah, ditambah lagi proporsi tubuh yang bagus, tegap, dan gagah layaknya seorang ABRI. Itu tak bisa terelakkan, pasalnya mas Arya sempat mendaftar jadi angkatan udara dan gagal hanya karena gigi gingsul dan asmanya yang sangat jarang kambuh.
"Siapa, sih, Mas yang akan datang?" tanyaku ketika kami duduk di kursi tunggu.
"Teman SMA Mas dulu."
"Namanya siapa?"
"Karin."
Aku yang semula bersandar pada kursi kini menegapkan tubuhku, mengubah posisi dudukku agak menyerong menatap mas Arya. "Perempuan?" tanyaku lumayan kaget.
Mas Arya mengangguk. Lalu mengulum bibirnya memandangku, detik berikutnya ia menunduk.
Akhir-akhir ini aku selalu cemas tentang hal-hal yang berkaitan dengan aku dan mas Arya. Apalagi jika mas Arya tak memberiku kabar ataupun tengah bertemu dengan teman perempuannya. Itu memang tanpa sebab, aku hanya sekadar takut dengan sendirinya. Kata temanku itu semacam sindrom pra-wedding. Aku lantas bertanya padanya apakah hal semacam ini wajar. Katanya kebanyakan orang yang hendak menikah mengalami kecemasan yang berlebihan. Mungkin ini seperti yang kualami.
"Cincin kamu?" tanya Mas Arya dengan dahi berkerut. Aku yang melamun pun terlonjak kaget ketika tak mendapatkan benda berkilau itu tak lagi melingkari jari manisku.
"Loh, cincinnya ke mana, Mas!?" pekikku dengan suara agak meninggi. Dengan gelagapaan, aku berdiri, meneliti bangku yang kududuki. Lalu berjongkok, melongok ke bawah kursi.
"Tas?" kata Mas Arya. Ia menggenggam tanganku untuk kembali duduk. "Jangan panik, nanti pasti ketemu," lanjutnya.
Aku segera membongkar tasku, tapi nihil, aku hanya menemukan jurnal-jurnal dan buku binder.
Aku menggigit bibir resah dan terlihat hampir menangis, di pelupukku kini telah menggenang air mata, tapi aku menahannya supaya tak jatuh.
"Apa mungkin jatuh?" gumamku pelan. Antara sedih, menyesal, kecewa, dan takut. Cincin itu adalah hadiah pemberian mas Arya. Cincin tunangan kami! Mas Arya menghela napas, ia tak mengatakan apapun, hanya mengusap bahuku pelan. Kali ini air mataku tak mau mendekam, dalam sekejap pipiku basah.
Seharusnya aku mengingat kata Bunda untuk menyimpan cincin itu. Sebab, cincin tersebut agak kebesaran, tapi itu terlihat pas di jemariku.
"Maafkan aku, Mas."
"Nggak papa, Utari. Mungkin aja ketinggalan di rumah kamu, kan. Nanti coba cari dulu."
"Maaf ...."
Dari pintu peron terlihat barisan orang yang keluar seraya mengangkut barang bawaan mereka. Mas Arya segera berdiri, ia menggandengku untuk berdiri lebih dekat ke pintu keluar tempat penumpang yang baru saja turun dari kereta.
"Kamu marah sama aku, Mas?" tanyaku pelan, tak berani menatap mata Mas Arya.
Mas Arya menggeleng, lantas meremas jemariku lebih erat. Tiba-tiba saja ia melepaskan genggamannya ketika seorang perempuan berparas cantik melambai ke arah kami. Dia kah teman mas Arya? Perempuan yang bernama Karin?
Mas Arya pun balas melambai.
"Utari, kenalin ini Karin, dia ada urusan pekerjaan di kota ini. Dan Karin, ini Utari, yang udah sering kuceritakan ke kamu," ujar mas Arya, memperkenalkan masing-masing dari kami. Aku dan Karin pun saling berjabat. Aku agak tercengang ketika menatapnya. Benar-benar jelita parasnya.
"Kata Arya kamu dosen muda, ya? untuk mata kuliah apa?" tanya Karin sewaktu kami berjalan ke parkiran.
"Fisiologi," jawabku. "Kalau Karin sendiri?"
"Aku pelatih yoga, kadang juga dapat panggilan pemotretan."
Aku berseloroh seraya menatap Karin takjub. Tubuhnya benar-benar dambaan para perempuan. Karin tertawa menatapku yang terperangah.
"Tapi bulan depan aku dapat cuti dari Fittnes tempatku bekerja," ucap Karin agak merengut.
"Kenapa?"
Khem ....
Mas Arya tiba-tiba berdehem keras sebelum akhirnya terbatuk. Karin memejamkan matanya.
"Bagaimana harimu," tanyanya tiba-tiba.
"Baik. Kalau Karin sendiri?" ujarku balik bertanya.
"Luar biasa!"
***
Bunda memintaku untuk berkunjung ke rumah mas Arya sebelum berangkat ke kampus. Sebab, pohon mangga yang ada di pekarangan berbuah lebat. Maka, sebelum berangkat ke kampus aku pergi ke rumah mas Arya. Dan orang yang menyambutku pertama kali bukan Mama, ataupun mas Arya yang mungkin hari ini telah bekerja, tapi Karin yang malah berdiri di ambang pintu rumah mas Arya.
Kami berdua sama-sama kagetnya. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu, tapi beberapa detik itu Karin tak dapat berucap.
"Utari?"
"Kamu di sini?"
"Y ... ya. Aku numpang tiga hari di rumahnya Arya."
Aku memaksakan senyumku mengembang, meski sejujurnya hatiku merasa sesak mengetahui ini. Kuserahkan sekantong besar mangga pada Karin. Tak lama kemudian mas Arya keluar.
"Utari?"
"Kamu nggak kerja, Mas?" tanyaku seraya mencium tangan Mas Arya. Sementara Karin kembali memasuki rumah.
"Libur, soalnya minggu kemarin aku lembur."
"Mama mana, Mas?"
"Lagi masak."
Sebenarnya aku ingin sekali menanyakan tentang Karin pada mas Arya. Kenapa ia bisa tinggal di sini. Kenapa tidak mencari tempat tinggal untuk sementara saja, tapi aku mengurungkannya. Aku pun pamit pada nas Arya untuk segera pergi ke kampus.
"Utari," panggil mas Arya ketika aku kembali ke ojek yang mengantarku. Mas Arya mengikuti keluar rumah. Ia menarik tanganku lalu mendekap tubuh kecilku ke dalam pelukannya. Sementara tangannya mengelus kepalaku, bibirnya berulang-ulang mengecup puncak kepalaku.
"Mas?" ujarku tak menyangka.
"Aku mencintaimu. Apapun yang terjadi, aku selalu mencintaimu," ujarnya.
Aku tak menyangka ungkapan cinta kali itu memiliki makna lain. Banyak yang bilang kalau orang akan berusaha untuk menciptakan kenangan indah dan memberikan segalanya sebelum berpisah dengan orang terkasihnya. Itu seperti yang dilakukan almarhum Ayahku dulu, sebelum akhirnya Tuhan menjemputnya. Dan mas Arya yang benar-benar jarang menunjukkan rasa cintanya tiba-tiba memelukku seperti itu.
Ternyata, sebelum kehilangan kita diberikan keindahan terlebih dahulu. Sesuatu yang benar-benar menipu, yang malah membuatku semakin jatuh.
Aku berusaha untuk memikirkan Ketakutan-ketakutan yang tiba-tiba saja merasuki pikiranku. Sebab, kejadian tadi membuatku cemas, meski kuakui aku merasa senang atas perlakuan mas Arya.
Ketua jurusan meminta segenap dosen untuk mengadakan rapat terkait pelaksanaan ujian tengah semester yang akan segera tiba. Hingga menjelang sore aku baru bisa pulang. Aku menyempatkan untuk mengecek ponsel, ternyata ada pesan dari mas Arya.
Isinya membuatku terduduk lemas dan setengah tak mempercayai apa yang dituliskan mas Arya. Lututku gemetaran, dadaku berdentum-dentum sakit. Tanganku membekam mulut, suara tangis tertahan terdengar.
Setelah agak tersadar akan keadaan yang tengah terjadi, aku segera memesan ojek lalu pergi menuju stasiun. Di perjalanan aku mengecek jam keberangkatan kereta ke Semarang. Pukul 17.10. Masih tersisa tiga puluh menit sebelum kereta berangkat.
Kedatanganku bersamaan dengan kedatangan bus kota jalur E. Aku segera berlari menuju pintu masuk stasiun, tapi aku mendengar seseorang berteriak.
"Mbak! Mbak!" Aku pun terus berlari, sampai akhirnya suara itu meneriakkan namaku, "Utari!"
Aku berhenti, menoleh ke belakang. Pemuda tempo lalu yang memberikan tempat duduknya mengejarku. Sementara arlojiku menunjukkan pukul 17.00. Kurang sepuluh menit lagi. Tanpa memedulikan pemuda itu aku pun lanjut berlari.
Akhirnya aku pun tiba di pintu peron pemberangkatan. Tepat ketika mas Arya dan Karin berjalan ke arah kereta yang pintunya terbuka. Sayangnya aku tak bisa ikut masuk, petugas telah memagari pintu peron.
Aku hanya berdiri dari balik pagar. Menatap getir kepergian mereka. Air mataku mengalir sejadi-jadinya. Mas Arya menghentikan langkahnya, ia menoleh ke belakang, lalu mendapati sosokku.
Aku tak mampu lagi mengucapkan apapun. Yang kulakukan hanya menangis. Mas Arya mengusap wajahnya. Wajahnya terbenam di salah satu telapaknya, laki-laki itu menangis. Laki-laki yang telah menjadi tunanganku. Setelah itu ia kembali bebalik, menggandeng Karin untuk berjalan ke arah kereta.
Karin menatapku, ia membungkuk seraya menyatukan tangannya di depan dada. Ada gurat sedih di wajahnya.
Beberapa menit berikutnya kereta beranjak pergi. Derak rodanya mengiris hatiku. Jadi, inikah akhirnya? Mas Arya pergi? Kubenamkan wajahku di telapak tangan. Masih berusaha untuk mengontrol tangisanku.
Ketika aku berbalik dan mencoba untuk menyimpan kesedihan ini, kudapati pemuda itu berdiri di belakangku. Ia menatapku diam. Lamat-lamat tangannya terulur, sebuah benda berkilau berada di tangannya. Cincin itu. Di dalamnya terukir namaku dan nama mas Arya.
"Ini punya Mbak Utari?" tanyanya pelan.
***
Sebuah pesan dari Arya :
Utari, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku tak bisa menikahimu. Maafkan aku.
Karin hamil, dan aku adalah ayah dari bayi yang dikandungnya. Sebenarnya aku dan Karin menjadi lebih dekat dua bulan yang lalu, ketika aku masih tugas di Semarang.
Maafkan aku, Utari. Maafkan aku. Aku tak tahu harus bagaimana, yang pasti aku tak bisa melanjutkan pernikahan kita, dan aku harus bertanggung jawab atas apa yang kulakukan pada Karin.
Hari ini aku dan Karin harus pergi. Itu akan menjadi lebih baik dari pada kami berada di sini.
Percayalah, aku mencintaimu. Teramat mencintaimu.
***
Peristiwa yang terjadi antara aku dan Mas Arya telah lama berlalu, dan masalah itu kini telah rampung. Pihak keluarga kami telah membicarakannya, bahwa aku dan Mas Arya tidak jadi menikah. Namun, kesedihan dalam hatiku belum juga usai.
Kejutan di pagi ini. Meja kosong yang terletak di samping meja kerjaku tak lagi kosong. Sebuah laptop dan arsip tertata rapi di atasnya. Jadi, apa ini tempat dosen baru?
Pintu kantor terbuka. Seorang laki-laki melangkah masuk. "Selamat pagi," sapanya.
"Selamat pagi," balasku.
Kami berdua bergeming ketika bersitatap. Ia pemuda yang memberikan tempat duduknya, pemuda yang memintaku bertukar posisi, dan pemuda yang menemukan cincin tunaganku yang hilang.