💣Anak Dukun
Malam Jumat Kliwon, bukan malam menyeramkan berbau mistis seperti yang orang pikirkan. Buatku malam seperti ini adalah malam biasa seperti malam lainnya, selepas magrib aku hanya harus menyiapkan sesajen untuk kepentingan Bapak.
"Nduk, sudah siap semua?" Bapak mendatangiku dan memastikan isi nampan yang aku bawa ke kamar khususnya.
"Sudah, Pak. Dua gelas kopi manis pahit, dua gelas teh melati manis pahit, jajan pasar, ketan putih, kinang, dan bunga tujuh rupa," jawabku merincikan apa yang sudah tersedia.
"Oh ya sudah, taruh di meja biasanya!, Bapak masih ada tamu."
Aku mengangguk dan masuk ke dalam kamar yang minim pencahayaan itu, tempat dimana Bapak biasa menjalankan ritualnya. Menyimpan segala hal yang berbau dengan pekerjaannya sebagai paranormal atau dukun istilah desanya.
Keris beraneka ragam bentuk, batu mustika, tombak dan benda-benda kuno mistis lainnya tersimpan rapi dalam lemari yang terbuat dari kayu jati di dalam kamar ini. Sesekali aku membantu bapak membersihkan atau memberikan minyak misik pada benda-benda pusaka tersebut.
Tamu Bapak selalu ada saja, entah itu sekedar minta bantuan atau mau membeli benda mistik koleksi Bapak. Mulai dari kalangan orang yang tidak mampu membayar apa-apa sampai yang bisa memberikan nilai puluhan juta. Dari yang datangnya naik ojek pangkalan sampai yang bermobil mewahpun ada.
Namaku Sekar, usiaku 17 tahun dan sedang bersekolah di SMA yang lumayan jauh dari rumah. Kenapa? Karena dalam dua tahun aku sudah pindah sekolah sebanyak 4 kali, aku mengalami perudungan di sekolah. Tidak ada yang mau berteman denganku, semua melecehkan dan merendahkanku seolah-olah aku anak koruptor yang sudah merugikan negara bermiliar-miliar.
Sebenarnya sih bukan itu juga, mereka takut dengan bapakku yang terkenal dengan sebutan dukun santet. Aku sendiri tidak tau sejak kapan rumor ini terus beredar dan makin panas di kampung, melebar kemana-mana dengan berita yang makin buruk saja.
Aku jelas terkena imbasnya, bukan hanya diputuskan pacar begitu saja. Semua temanku menjauh dan menghindariku, bahkan banyak yang sekarang lebih suka membully dengan kata-kata kasar menyakitkan hati.
"Sekar… Sekar… semua orang juga tau kalau kamu main pelet sama Adi, makanya dia tergila-gila sama kamu!"
"Anak dukun sih…"
"Iyalah siapa yang berani nolak? Kamu mau tiba-tiba ada paku dalam kepalamu?"
"Perutnya tetanggaku makin besar setelah dibawa ke bapaknya Sekar!"
"Kayaknya Bu Isti dijadikan tumbal, masak abis berobat kesana besoknya meninggal?"
"Ehh jalang… Bapak lo dukun santet ya?"
"Tukang guna-guna cowok orang ya kamu!"
Itu adalah kalimat yang sehari-hari aku dengar di sekolah, di kampung, di pasar, dimanapun mereka mengenaliku sebagai anak bapak.
Aku mulai kehilangan kehidupan yang selayaknya, aku menjadi pendiam. Melakukan aktivitas apapun akan salah, bahkan hanya membeli sebotol air mineral di kantin saja aku harus dicela dan dihina.
Hatiku sakit ketika ada yang sengaja menumpahkan kuah bekas makan baksonya dengan berpura-pura menabrakku. Baju seragamku basah dan kotor di bagian dada, dan itu jadi bahan bullying lainnya oleh para siswa pria.
"Pak, bisakah saya ijin pulang? Baju saya basah, kotor dan kulit dada saya panas kena kuah cabai." Aku menemui guru bimbingan dan konseling sebelum meminta ijin pada wali kelas. Dan itu selalu terulang dari hari ke hari, membuatku muak dengan sekolah ini.
Malam Jumat Kliwon makin kelam setelah tamu bapak pulang, orang-orang kampung berdatangan dan memaki bapak dari luar rumah. Mengancam akan membakar rumah kami jika minggu depan kami tidak angkat kaki dari desa ini.
Bapak memanggilku untuk ikut bergabung ke kamar khususnya. Aku memang sudah tidak punya ibu, jadi Bapak akan meminta pertolonganku untuk membantunya menyiapkan kebutuhan sehari-hari meskipun ada orang yang bekerja paruh waktu di rumah ini pada siang hari.
"Kopi Bapak yang agak pahit ya, Nduk!" Perintahnya padaku. "Sama pisang goreng buatanmu tadi bawa ke sini sekalian!"
Aku mengangguk patuh, aku sangat sayang pada bapak. Aku melihat kesedihan yang tidak bisa ditutupinya, kiprahnya sebagai paranormal yang banyak membantu orang mendapatkan tudingan miring sebagai dukun ilmu hitam yang menebar santet di desa.
Padahal setauku Bapak tidak pernah jahat pada orang, Beliau dengan tegas menolak permintaan yang berhubungan dengan mencelakai orang. Adapun kekayaan dan kelayakan hidup kami karena bapak lebih banyak menarik pusaka dari alam gaib untuk dijual kepada para kolektor atau dukun lainnya yang membutuhkan.
"Minggu depan kayaknya kita pindah rumah, Nduk!" Bapak berkata dengan senyum yang dipaksakan.
"Kemana, Pak? Sekolah Sekar gimana?"
"Besok bapak cari rumah dulu, kalau sudah dapat baru kita cari sekolah baru untuk kamu. Nggak apa-apa kan?"
Aku mengangguk pasrah dengan keputusan bapak, ya setidaknya di tempat baru aku bisa punya teman. Dan bapak akan dikenal lagi sebagai paranormal baik, atau jika dikenal dengan penjual barang kuno dan antik itu lebih bagus.
Setelah perbincangan singkat aku memaksakan diri untuk pergi tidur, di dalam kamar aku mengingat betapa bapak sudah mengajariku banyak hal, mulai dari mantra, pusaka sampai ritual membakar dupa. Aku tidak tau apa akan ada gunanya, aku menerima ilmunya karena tidak ingin bapak kecewa.
Esoknya pada Jumat Kliwon pagi saat kerja bakti di sekolah kembali teman-teman menjahiliku. Mereka bermain jailangkung dengan menyebut namaku dan nama bapak. Bergaya ala dukun santet yang sedang merapal mantra dan membuat beberapa orang kerasukan dan meregang nyawa.
Aku tersinggung dengan ucapan dan tawa mereka hingga tanpa sengaja aku merapal mantra pemanggil danyang, roh halus penunggu sekolah yang banyak jumlahnya.
Bunga taman sekolah yang aku petik aku sembahkan pada mereka yang baru datang, "Habiskan dan beri pelajaran pada mereka yang tidak tau sopan!"
Angin dingin berhembus meninggalkanku bersama bunga-bunga yang menghitam karena telah hilang sarinya dihisap oleh roh halus yang kupanggil.
Aku pergi meninggalkan mereka yang mulai menggelepar kerasukan, sebagian masih tertawa karena mengira temannya sedang main sandiwara. Sebagian lain menjerit histeris karena ketakutan melihat temannya mendadak tidak sadar, menangis, banyak yang mulai melukai diri. Mulai dari membenturkan kepala sampai mencekik lehernya sendiri.
Suasana sekolah mulai tidak terkendali, bahkan selama satu jam tidak ada satupun yang bisa lepas dari belenggu makhluk halus yang sudah menguasai tubuh mereka. Aku hanya melihat dari jauh sambil memetik lebih banyak bunga, tidak terpengaruh dengan kehebohan seluruh sekolah yang berkumpul dalam satu arena.
Kesibukanku terganggu oleh kehadiran sosok dari kelas sebelah. Seseorang yang aku tau banyak diidolakan wanita di sekolah ini. Siswa tampan dengan nilai cemerlang, pemenang olimpiade matematika tahun ini dan tahun kemarin.
"Sekar?" Sapanya ramah, tidak menyangka kalau dia tau namaku.
Aku meliriknya sekilas dan menjawab ketus panggilannya, "Jangan ada di sini, mereka akan menghakimiku nanti."
Nyi pelet dan miss guna-guna adalah julukanku. Bagaimana tidak, hampir seluruh siswa pria sebenarnya tertarik dengan kecantikanku. Hanya saja predikat bapak sebagai dukun santet menghalangi mereka untuk mendekatiku.
"Sekar bisa bantu menyembuhkan teman-teman yang sedang kesurupan kan?" tanyanya penuh harap. Sepertinya dia yakin kalau aku punya kemampuan.
"Untuk apa?" Aku menatap skeptis matanya, bukankah itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka yang terus aku terima dari bully mereka.
"Aku tau Sekar seorang pemaaf, dan aku berjanji akan membantu mengembalikan situasi agar Sekar layak diterima, aku akan membuat mereka berterima kasih padamu atas insiden ini." Suaranya yang lirih dan dalam itu menggerakkan hatiku untuk melihat pasukan makhluk halus yang belum selesai dengan aksinya mendiami tubuh manusia yang sudah kurang ajar padaku.
Dan ketika pandanganku tertuju padanya, dia mengangguk mengajakku. Aku mengikutinya dan berdiri menghadap teman-teman yang sedang kerasukan. Kembali aku membaca mantra yang diajarkan bapak dan menyebar bunga pada mereka.
Seperti ikan mendapatkan makanan mereka berebut bunga, menghisap aromanya dan menemukan kesadaran setelahnya. Aku pergi begitu saja meninggalkan mereka yang tertegun karena Diaz sang idola berjalan bersamaku, mendukungku dan menggandeng tanganku.
End
***