~Angkatlah tanganmu! Maka jangan lagi berharap bisa melihat langit biru di esok hari. Dia akan mengunjungi kediamanmu!~
*BLOOD WARNING! YANG TIDAK KUAT DENGAN CERITA BERBAU DARAH JANGAN DIBACA!
Suara detikan jarum jam yang bergerak memutari porosnya membuat detak jantungku berdegup semakin kencang. Dilanda panik yang ku tutupi dengan meremas rambutku, bukan hanya aku. Mereka juga mengalaminya.
"Baik anak-anak, waktu habis! Kumpulkan semua lembar jawaban kalian!"
Semua kertas terkumpul di hadapan Bu Dila, dengan serius ia memeriksa satu persatu lembaran itu. Fokusnya terbidik, membuat seisi ruangan hening tak berkutik.
"Semua sudah ibu periksa," Ucapnya. Rasanya jantungku ingin melompat keluar. Ia menyelesaikan nya lebih cepat dari waktu ku mengerjakan ujian itu. Gemar sekali membuat tubuhku mati rasa karena gugup.
"Saya ucapkan selamat untuk kalian semua karena hampir semua dari kalian sudah berhasil melewati ujian hari ini dengan nilai yang bagus. "
Aku menghela napas lega, aku tak ragu untuk mengakui satu hal. Aku mungkin salah satu siswa beruntung itu.
Bu Dila memanggil nama kami satu persatu untuk mengambil hasil penilaian. Hingga tiba giliran ku, 85 poin, tidak buruk.
Aku melihat ke lembar terakhir yang dijadikan fokus Bu Dila. Ia nampak tak senang.
Seorang gadis berkacamata bulat dan besar melangkah maju, menunduk. Bu Dila menatapnya dengan serius, sedangkan ia tak membalasnya.
"Yan, lagi-lagi seperti ini."
Dua orang itu menjadi pusat perhatian satu kelas. Senyap, kali ini aura gelap seakan menyelimuti punggung gadis itu. Ia mendapat kesialan, lagi.
"Tidak bisa kah kamu belajar dengan baik? Nilai mu semakin hari semakin hancur! mau jadi apa kamu di masa depan?"
Ia menunduk, tatapan menyedihkan terlukis di wajahnya. Kami terdiam, melihat hal yang sudah sering terjadi. Tentu saja Gadis itu pusat masalahnya. Aku mengabaikannya, kejadian yang sudah kami anggap lazim ini seolah menjadi sarapan pagi untuk kami. Merusak suasana hati kami.
"Sudahlah, sepertinya kami harus memanggil orang tuamu." Ucap Bu Dila.
Moodnya sudah rusak, nilai kami yang bagus sudah tak berarti karena gadis itu. Tak ada pujian, tak ada harapan, Bu Dila melangkah keluar dengan raut tak sedap.
Ia menggenggam lembaran itu, ternoda coretan merah di atasnya. Nol, Angka yang benar-benar mengerikan.
Plak!!
Sebuah bola kertas mengenai kepalanya yang kecil,
tidak. Bukan hanya satu, tapi belasan bola kertas dan bahkan sampah dilemparkan padanya.
"Kacamata aneh! Apa gunanya kacamata itu? sedangkan otaknya lebih kecil dari tikus."
"Apa dia koala? Mungkin isi dari kepalanya itu hanya cairan."
"Enyahlah sialan! Perusak suasana!"
Ia bergeming, tak berkutik dan memberi sedikitpun perlawanan. Ia membiarkan dirinya dijadikan tempat sampah oleh orang-orang berlogika namun tak punya hati nurani. Tapi aku termasuk kalangan mereka, logika lebih penting dari hati nurani. Aku duduk di tempat duduk ku. Tak ikut campur, hanya mengamati. Ini yang biasa ku lakukan.
*****
Aku tak tau ada apa dengan hari ini, aku sungguh sial padahal hari ini adalah hari ujian lisan. Alarm ku mati, tak jelas penyebabnya. Aku ketinggalan bus sekolah dan akhirnya berangkat dengan diantar sopir ayahku. Aku sampai, namun masih belum terlambat. Tepat saat itu juga gerbang sekolah yang sudah tertutup rapat itu terbuka lagi memberi jalan untuk sebuah mobil polisi. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, aku ikut masuk melewati celah gerbang itu. Aku terselamatkan.
30 menit sudah aku menunggu di dalam kelas sembari membaca beberapa materi, namun kenapa kedatangan siswa hanya setengah? ini sudah lewat waktu, pintu gerbang telah ditutup 15 menit yang lalu. Di antara 25 orang siswa, hanya 11 orang yang hadir. Kemana mereka? Dimana bus sekolah? Kenapa masih belum sampai?
Tiba-tiba bel berbunyi, ini belum waktunya istirahat namun suara bising itu telah berbunyi.
"Anak-anak?!"
Bu Dila datang dengan tergesa-gesa, tampak raut terkejut dan sedih bercampur di wajahnya.
"Bus, 14 siswa. Kecelakaan!"
Firasat buruk ku benar adanya. Terjadi kemalangan tanpa kabar dahulu. Kami semua terjatuh dalam kesedihan, siswa-siswi unggul itu kehilangan nyawanya dengan mengenaskan. Sebuah kehilangan besar bagi kami. Seketika sekolah diselimuti kabut berkabung, kami berduka.
*****
Bu Dila memberikan ujian lisan, pertanyaan pertama yang begitu mudah. Dengan segera aku berinisiatif mendapatkan poin pertama, tangan kanan ku terangkat dengan sebuah senyuman.
Tiba-tiba benda dingin menempel pada pelipis kanan ku, aku melirik. Sebuah senapan laras panjang membidik kepalaku, tidak benda ini mengincar otakku. Tak ada waktu untuk menghindar, bibirku bergetar hebat. Mulutku tak bisa mengeluarkan kata-kata, siapa saja tolong bantu aku!
DOR!!!!
Udara dingin berhasil masuk ke paru-paru ku, mendinginkan suhu tubuh ku yang tinggi. Aku masih hidup? Aku menyentuh pelipis ku, tak ada darah ataupun luka. Ini hanya mimpi, namun terasa begitu nyata. Seseorang ingin membunuhku! Tapi siapa? Dalam mimpi ku hanya terlihat wajah Bu Dila, apakah ini sebuah pertanda? Tragedi bus itu, apa ada hubungannya dengan Bu Dila?
Aku mengingat kejadian sebelum tragedi itu terjadi, Bu Dila terlihat tidak senang dengan beberapa korban karena sikap mereka yang tak patuh dan begitu sombong. Tapi ini tidak mungkin, seorang guru tidak akan melakukan hal itu pada anak emas.
Aku melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajahku dan bersiap ke sekolah. Semua berjalan namun tak seperti biasanya.
*****
"Pertanyaan pertama, sebutkan penerapan elastisitas dalam kehidupan sehari-hari!"
Hening, semuanya bergeming. Ini ujian lisan, namun tak ada yang berani mengangkat tangannya untuk menjawab dan mencetak poin. Begitu pula dengan ku, mimpi itu terbayang bayang.
Ruangan yang luas, dengan penghuni yang telah lenyap sebagian. Kesebelas orang siswa hanya termenung, kami masih terlarut dalam duka. Namun ditindih oleh kewajiban.
Suara derikan kaki kursi yang bergeser membidikkan perhatian ku, Rio mengangkat tangannya.
"Baik, silahkan kamu jawab." Senyuman Bu Dila begitu aneh, apa maksudnya ini? Kenapa dia tersenyum ketika kami merasakan tekanan pedih hati yang dalam.
Dengan santai pria itu menjawab pertanyaan, tak ada ekspresi. Apa dia patung hidup? begitu kaku dan dingin, tak berperasaan. Ia menunjukkan seolah tak peduli dengan apa yang telah terjadi. Pertanyaan berikutnya pun dikumandangkan, tiga siswa lain mengikuti sikap Rio. Aku tak mengerti, kenapa dengan mudahnya mereka melupakan semua ini.
Haish, jangan usik aku dengan pikiran berat seperti ini lagi. Aku hanya ingin tidur sebentar saja, pers*t*n dengan ujian lisan. Dan nilai pun diumumkan, aku yang tak mengikuti ujian dengan baik mendapatkan peringkat ke sepuluh peringkat kedua dari terakhir, entahlah. Sepertinya tidurku lebih penting dari ujian.
*****
Lima belas hari, ini waktu yang cukup untuk kami keluar dari asap berkabung. Namun apa? Kakiku terasa lemas ketika melihat tiga tubuh dengan tangan tergantung pada pagar sekolah yang berlumuran darah. Aku merasa mual, bau darah yang menjijikkan mencabik-cabik penciuman ku. Air mataku menggenang karena aromanya, siswa lain yang melihat hal ini mengalami kejut jantung hingga terkapar. Benar-benar mengerikan!
"AAKHH!!!" Seorang siswi berteriak histeris, segera aku menghampiri sumber suara mengikuti jejak siswa lain.
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak terjatuh, lutut ku bergetar hebat, tanpa sadar air mataku menetes. Aku takut? tidak. Aku jijik! Apa ini semua? kenapa harus menunjukkan semua ini di hadapan ku?
Seorang pria yang ku kenal telah terbujur kaku di atas tumpukan buku baru. Dengan kondisi tangan kanan yang patah dan hampir putus, ia meninggal dengan tak lazim. Pria itu, adalah Rio. Teman sekelas ku.
Seketika semuanya terlihat gelap, dan tubuhku terasa lemas. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi.
*****
Lima belas hari lagi, ini yang ke dua. Isi kelasku hanya tersisa tujuh orang. Setelah ini, siapa yang akan menjadi korbannya? Apakah itu aku? atau mereka?
Tujuh orang ya? cih! Tiga diantaranya sudah tak pernah muncul di hadapan ku dan ruang kelas yang hampa ini. Ku dengar kabar, dua dari mereka memilih pindah sekolah karena takut dan sisanya mengalami gangguan jiwa. Aku bahkan belum mengenal mereka dengan baik, nama mereka saja aku tak ingat.
Bu Dila masuk ke dalam ruangan, senyuman manis nya tak berhasil dipudarkan oleh suramnya suasana kelas. Aku menelan saliva ku, wanita ini terlihat mengerikan. Aku harus waspada terhadapnya.
"Baik anak-anak, kali ini kita tanya jawab. Untuk mendapatkan poin tambahan, silahkan angkat tangan dan 'jawab dengan benar!' " Dia berucap dengan menekankan kata terakhir itu. Apa maksudnya? Apa jika jawabannya salah, akan berakhir seperti mereka? Tidak! Aku tidak akan menjawab satu pun pertanyaan itu. Apa kau pikir aku bodoh? Kau ingin membalas dendam kepada kami karena telah menjadi anak berlogika tak berakhlak mulia? Dulu kami memang tak pernah bersikap mulia untuk kalangan di bawah kami, termasuk wanita yang menjabat sebagai guru itu.
Dari tingkahnya, sudah pasti dia pelakunya! Dia mantan Bullyan para siswa sekolah ini karena ia nampak menjengkelkan sebagai seorang guru. Aku pun tak ingin melihat wajahnya yang sok suci itu.
Jantung ku berdegup kencang, panik? iya. Aku tak tahu apa yang direncanakan wanita itu kali ini. Aku mencoba mengalihkan pikiranku. Tidurku lebih utama, aku tak butuh poin itu. Aku lebih memilih hidup tenang tanpa poin yang mempertaruhkan nyawa. Tapi apa? Aku tak bisa tidur karena dua orang di sebelahku sedang sibuk mencetak poin. Mereka mengambil kesempatan dalam kesengsaraan. Bersiaplah ajal akan menjemput kalian!
Aku menghadap ke arah cahaya. Ku lihat si gadis kacamata terdiam, tangannya bergetar hebat. Sepertinya dia juga menyadari apa yang aku rasakan. Apa kali ini hanya akan tersisa kami berdua? Kemungkinan besar aku dan dia akan selamat. Karena jangan angkat tanganmu jika tidak ingin mati!
*****
Kali ini tak butuh lima belas hari, hanya dalam waktu hitungan jam setelah pengumuman hasil poin dibagikan mereka telah kehilangan nyawa mereka. Ya, dua orang itu telah ditemukan tak bernyawa di atas tumpukan sampah belakang sekolah.
Keyakinan ku telah bulat, Bu Dila adalah dalang dari semua ini. Ia membenci kami sebagai siswa unggulan sekaligus perundung terbangs*t di sekolah ini. Apa sekarang aku menyesal telah merundung orang itu? Kami telah merundung orang yang salah.
Dia bersikap seolah olah menyukai anak dengan prestasi tinggi dan menjatuhkan anak dengan minim prestasi. Benar-benar pelakon yang hebat!
Sekarang apa? dia mengincar ku? Baiklah, aku sudah tahu. Jadi hari ini aku memutuskan untuk tidak hadir. Aku diam di rumah dengan aman. Namun, sebuah kabar mengejutkan ku. Bu Dila dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan lalu meninggal dalam perjalanan. Aku terheran, bukankah ini kesempatan bagus untuknya
mengincar ku? Apa ini bantuan dari Tuhan untuk ku? Apa kau ingin aku berubah? Sepertinya ini sebuah kesempatan kedua untukku. Ya, aku akan berusaha.
*****
Aku datang ke sekolah dengan membawa berkas untuk keperluan pindah sekolah, ini keputusan yang tepat untukku. Pindah sekolah dan menjalani hidup yang baik tanpa perundungan lagi. Aku menyesali perbuatan ku terdahulu.
Aku melihat ke arah majalah dinding, terlihat nama-nama mereka yang telah tiada tercantum dalam daftar ranking nilai tertinggi. Kenangan, kini semuanya hampa.
Aku melihat nama mereka dari urutan teratas, seketika tanganku berhenti. Aku memikirkan sesuatu yang janggal. Dilihat dari ranking satu hingga empat belas mereka adalah korban dari kecelakaan bus itu. Lalu aku beralih dari ranking lima belas hingga peringkat kedua puluh mereka yang tewas dengan mengenaskan di pagar sekolah termasuk Rio. Lima orang lainnya, pindah dan depresi. Disini hanya aku yang masih normal dan baik-baik saja. Keringat dingin mengucur deras membasahi dahiku, pembunuhan ini didasarkan pada peringkat kelas?
Seorang guru penanggung jawab majalah dinding datang lalu menempelkan sebuah lembaran peringkat kelas baru untuk semester ini. aku melihatnya, tiga nama di atas namaku telah meninggal dan namaku muncul pada peringkat ke empat di atas peringkat si gadis kacamata.
Dadaku terasa sesak, aku mengalami serangan panik. Aku berjalan beberapa langkah menunju ruang kelas ku. Dari jendela yang gelap, aku melihat seorang gadis dengan rambut panjang tergerai, ia menoleh ke arahku. Itu si gadis kacamata!
Dia memberi senyum mengerikan, tatapan matanya tak bersahabat. Ia menatapku seperti menatap seekor hewan rendahan.
"La- ri- lah!" ucapnya.
Seketika lutut ku bergetar hebat, dia adalah monster! Aku terjatuh, telingaku berdengung. Kepalaku sakit, aku memukul kepala ku berulang kali.
" Dia ingin membunuh ku! Siapa saja selamat kan aku!"
Dan kini aku teringat, dia adalah gadis yang kami jadikan anjing peliharaan, tempat sampah dan tempat jutaan cemoohan kami karena otaknya yang tidak pintar. Tanpa ku sadari, anjing yang selama ini patuh pada kami adalah serigala liar yang tertidur.
"AAAKKHHHH!!!!"
*END*
THANKS FOR READING
*PERINGATAN!!!
- TINGGALKAN JEJAK SETELAH MEMBACA!
- LIKE
- KOMENTAR
*PLEASE! AUTHOR MAKSA!
*canda ngab🗿✌️🐱