Ketahuilah aku manusia dengan hati yang kelam, jalanku yang buruk menjadi langkahku. Hidupku di penuhi dengan luka, tangis, serta kecewa. Setiap waktu di hadapanku hanyalah cucuran darah menghiasi pemandangan di mataku. Nyawa setiap orang menjadi permainan hari-hariku, pertarungan menjadi rumahku, dan kematian menjadi jalan satu-satunya bagiku untuk melampiaskan kekecewaanku kepada dunia.
Dahulu aku hanyalah seorang anak kecil yang hidup bahagia bersama kedua orang tua yang ku sayangi, namun karena permasalahan bisnis yang terjadi, ayah bersama rekannya menjadi musuh, hingga rekan ayah bersama anak buahnya menghabisinya , orang tuaku. waktu itu aku tidak bisa berbuat apa-apa aku hanya bisa bersembunyi dan menangis melihat yang terjadi di balik tirai yang tak terlindungi.
Mereka membawaku pergi, membesarkanku di dunianya, namun. Cara menuju kedewasaanku tidak selembut tangan ibu membelaiku, tidak juga sehalus ayah mendidikku. Rintangan pedih membesarkan fisikku, pukulan keras mengeraskan hati dan pikiranku, inilah aku tumbuh menjadi petarung pedih sebagai aset kekayaan rekan ayah dalam bisnisnya.
“bagiku mereka semua hanyalah makhluk rendahan saja.” Sambil mengikat tali di tangan, Zidan menatap orang yang selama ini ingin dia habisi. “kau, yang duduk di atas sana?, Suatu saat nanti darahmu akan mengalir di tanganku.” Ucapnya menggenggam tangan.
Pertandingan mulai berlangsung, Zidan memasuki ring bebas, semua penonton bersorak namun bukanlah untuk dia, melainkan bagi petarung kuat dan menjadi juara tanpa henti, “Apakah dia lawanku?. Cih tidak masalah bagiku.” Ketika lonceng berbunyi Zidan langsung menyerang.
“Apa ini?. Sudah berulang kali aku menyerangnya dia masih tidak apa-apa.”
Ketika lawannya membalas serangan, Zidan terpojok berulang-ulang menerima serangan. Zidan hanya bisa bertahan dari serangan, namun tak berapa lama tubuh dari lawannya mulai terlihat sempoyongan, “berarti ini adalah giliranku.” Zidan menyerang habis-habisan hingga lawannya tak dapat bangun lagi.
“Bagus, bagus, aku suka cara kerjamu.” Klaw bersorak riang melihat kemenangan Zidan.
“tetapi aku belum puas jika hanya melihat dia kalah.” Ucap klaw dengan wajah licik.
“apa maksudnya.” Ucap Zidan pelan.
Klaw melemparkan pistol kepada Zidan untuk membunuh lawannya, “ambillah pistol itu, dan habisi dia.”
Zidan merasa ragu untuk melakukan cara kotor, tetapi keadaanlah yang memaksa dia untuk melakukannya.
Setelah usainya pertarungan Zidan, dia pergi ke sebuah taman, di taman itu dia duduk merasakan perbuatannya salah, “Bodoh, bodoh, bodooooh.” Zidan merasa dirinya benar-benar telah menjadi pembunuh. “mengapa aku selalu saja menuruti semua perintah orang itu, dan kini aku sama seperti dia.”
Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya, “maaf, bolehkah saya bertanya?.”
“Siyapa kamu dan apa mau kamu?.” Tanya Zidan.
Dia tersenyum kepada Zidan, “perkenalkan saya Ara, saya seorang mahasiswa psikologi yang di tugaskan di sini.”
“apa itu mahasiswa?, dan kamu sepertinya bukan berasal dari sini.” Tanya Zidan.
Jawab Ara, “jika ingin mengetahui lebih banyak datanglah ke alamat saya ini, nanti kamu juga akan bisa bertanya berbagai hal.”
Ara memberikan alamat dan pergi begitu saja.
“psikologi, mahasiswa, sebenarnya dia siyapa?.”
Hari berikutnya.
Saat dimulainya kembali pertarungan, Zidan tidak terlihat seperti biasanya, dia lebih memilih mengalah dan terlihat seperti memikirkan sesuatu. Klaw meneriaki Zidan, tetapi saat Zidan melihat kearah klaw dia terpukul dengan sangat keras, hingga membuatnya terjatuh.
“tidak berguna, membuang waktu ku saja. Kalian bawa dia.” Ucap klaw memerintahkan anak buahnya.
Saat Zidan tersadar di basah olehi air, dia langsung dalam siksaan karena kekalahannya. “Hay anak muda, apa yang kamu pikirkan, aku menjadi rugi karnamu, uangku hilang itu karena perbuatanmu.”
Zidan menerima hukuman atas kekalahan yang dia alami.
Zidan berjalan sempoyongan dengan bekas luka dan memar di tubuhnya. Zidan berpikir, apakah dia harus menemui gadis yang bernama Ara itu, dia berpikir mungkin gadis itu dapat memberikan bantuan kepada dirinya.
Setelah sampai di alamat si gadis, Zidan terjatuh tak sanggup untuk berdiri lagi,
“bukankah dia?. Iya benar, yang kemarin itu.” Ucap Ara terkejut melihat keadaan Zidan.
“Hay, apa kamu tidak apa-apa?.” Ara mengobati luka Zidan dan menyadarkannya.
“Mengapa kamu bisa seperti ini?.” Tanya Ara.
Jawab Zidan, “Sebenarnya........” Zidan menceritakan yang terjadi pada dirinya. “itulah yang terjadi kepadaku, karna orang itu klaw, kini aku sama seperti dia.”
“Apakah kamu tidak bisa pergi menjauh saja dari dia?.”
“menjauh, percuma aku lakukan, di semua tempat di kota ini hampir menjadi kawasan kekuasaannya.”
“apakah kamu tidak diberikan upah?.”
“Jika upah saja, sudah pasti aku dapatkan.”
“Lalu mengapa kamu tidak pergi keluar saja.”
“Tidak. Aku tidak ingin melakukannya, sebab ada hak dari kedua orang tua ku yang harus aku rampas kembali.”
“Apakah hak itu sangat berarti bagimu?.”
“Iya, itu sangat berarti bagiku, masalah harta dan uang tidak menjadi permasalahan untuk ku. Tetapi tempat dan properti itu semua adalah hasil dari kerja keras ayahku, sedangkan dia....” tegasnya dengan amarah.
“Maaf jika pertanyaanku membuat mu marah.”
Pertemuan antara Zidan dan Ara terus berlangsung, Zidan seseringkali berjumpa kepada Ara, dan Ara selalu memberikan nasehat serta selalu mencoba memahami kondisi Zidan.
Setelah tiga bulan berlalu kebersamaan Zidan dan Ara harus berakhir dengan perpisahan, sudah pasti walau Zidan telah jauh lebih baik dari yang dahulu, namun melepaskan kepergian Ara sangat berat baginya.
“Kakak mengapa.....”
“tolong jangan bertanya. Aku harus datang kemari untuk melepaskan hari-hari terakhir ini.”
Wajah Ara menjadi murung, “ aku akan kembali ke Seoul untuk menyelesaikan studiku kak.”
Zidan tersenyum kecil, “tidak apa-apa, semoga sukses meraih masa depan yang indah.”
“Iya kak, selama tiga bulan ini sudah banyak sekali arti kehidupan dan manfaat yang aku dapatkan, tapi harapan terbesar ku semoga Kaka akan pergi menjauh dari dunia gelap Kaka.”
“Pasti akan ku usahakan, aku juga berterima kisah karnamu aku mendapatkan pencerahan dan kedamaian hati atas semua nasehatmu.”
“Aku hanyalah pelajar, dan masih pelajar.” Ara memberikan surat kepada Zidan. “Kak tolong baca setelah aku pergi dan simpanlah untuk pengingat Kaka.”
Saat Ara melangkah, Zidan bertanya kepadanya surat apakah yang dia berikan, namun Ara mengulang kembali ucapannya agar Zidan membaca ketika dia pergi. Di balik kaca pesawat Ara melambaikan tangan, dengan senyuman Zidan membalas lambaian Ara.
Saat Zidan membalik badan dan pergi. Pesawat yang telah terbang cukup tinggi terbakar parah hingga terjatuh membara api di atas lapangan.
Zidan membalikkan badan, “tidak......tidak mungkin terjadi, Araaa.” Zidan berlari menuju kecelakaan itu, namun para petugas menghalangi. “Lepaskan aku, di dalam sana ada dia.”
Para petugas berusaha agar Zidan tidak membahayakan dirinya. Apalah daya yang terjadi walau menyakitkan tak dapat di hentikan. Zidan hanya bisa duduk termenung dan menangis dengan yang terjadi kepada Ara. Selembar kertas terbang yang terbakar sebagian tertiup angin menuju kearahnya, tertulis sebuah kalimat dari tangan Ara, “aku mengenal seorang pria, dia terlihat keji namun sebenarnya dia orang yang baik, karena masa lalu dan orang di sekitarnya, jalannya menyimpang. Tetapi aku yakin dia orang yang baik dan mengerti arti kemanusiaan....” setelah membaca catatan Ara, Zidan membuka surat yang di berikan oleh Ara kepada dirinya. “tetaplah baik dan tetap menjadi baik, aku percaya kepadamu. Selamat tinggal.”
Kesedihan Zidan semakin bertambah, dia hanya bisa meratap dengan yang telah terjadi, “mengapa, mengapa, tidak bisa aku percayai ini akan terjadi. Araaa.”