Bagaimana kalau kamu bisa membentuk jodohmu sesuai dengan apa yang kamu mau?
Kamu hidup bersama dengan orang yang sesuai dengan pikiranmu. Mencapai segalanya bersama dengannya. Menikmati masa indah dengan menjadi pendampingnya. Wow, menarik bukan?
Tapi apakah bisa? Apakah ini mungkin? Pertanyaan ini selalu hadir dalam benak kita.
Percaya, tidak percaya. Inilah yang terjadi padaku.
***
"Valerie.. cepetan bangun!! Kamu mau terlambat ke sekolah?" teriak ibuku dari lantai 1 rumahku.
"Aishhh.. sabar toh bu. Masih juga jam 6.." balasku dengan berteriak dari dalam ruang kamarku.
"Kamu ini. Turun sekarang nggak?? Nanti jodohmu lari.." ancaman tak masuk akal yang selalu keluar dari ibuku. Tapi anehnya, ini selalu bekerja membangunkanku setiap harinya.
Aku pun turun dari kasur empukku. Beranjak pergi, menuruni anak tangga yang tak begitu banyak dengan mata yang malas untuk membuka.
"Hadehh. Ibu.. Ibu.. Yang ada itu rejeki yang lari, bukan jodoh. Cari ancaman yang masuk akal sedikit toh bu.." kesalku pada ibuku yang saat ini berada tepat di depan ku.
"Ya, sama aja toh Val, jodoh kan juga termasuk rejeki.. Lagian kamu sih, anak gadis jangan terbiasa bangun siang. Nanti kalau kamu sudah menikah, mertuamu pasti marah denganmu dan suamimu tak kan membelamu.. Ingat itu!.." Ungkap ibu, yang tidak mungkin bisa ku bantah lagi.
Namun dalam benakku, aku selalu memikirkan kalau suamiku nanti adalah orang yang selalu membelaku dalam setiap kondisi. Karena dia sangat mencintaiku.
Setelah mendengar nasihat pagi buta dari ibu. Aku pun segera bergegas mandi dan bersiap pergi ke sekolah.
***
"Hei Val, sekarang kita kan sudah kelas 3. Kira-kira apa rencana masa depanmu?" tanya Kaile sahabat baikku.
"Entahlah Kai, aku tak tahu. Aku malas memikirkannya.." ucapku sekenanya.
"Yaelah, nih anak. Emang kamu nggak ada cita-cita apa? Gini ya Val, kalau kamu nggak rencanain dari sekarang nanti kamu ketinggalan dengan orang-orang lain yang sudah berencana tentang masa depannya sejak jauh-jauh hari.." Ungkap Kaile sembari memandangku dengan lekat.
"Aku bingung Kai. Sebenarnya, aku ingin menjadi ustadzah tapi kamu tahu kan, aku sendiri saja berasal dari sekolah umum, tidak ada basic agama sama sekali. Tapi kalau aku melihat orang-orang yang bisa mempengaruhi orang lain itu, rasanya luar biasa banget. Seakan seluruh dunia terpusat dengan mereka.." Ungkapku jujur.
"Ya ampun. Kamu yakin nih mau jadi ustadzah? Temanku yang nggak ada akhlak ini mau jadi ustadzah?" Ledeknya kepadaku.
"Tuh kan. Gini nih, makanya malas aku cerita. Tapi serius loh Kai. Aku itu salut banget jika melihat orang yang hidupnya tuh adem ayem, selalu ingat Tuhan, hapal Al-Qur'an dan Hadits. Kayaknya surga sudah sama mereka deh.." kataku dengan serius.
"Ya sudah. Kalau gitu, setelah tamat sekolah kamu masuk universitas agama deh. Kan masih bisa belajar tuh.." terang Kaile memberi saran kepadaku.
"Nah itu dia. Masalahnya, kalau masuk ke universitas agama, bacaan Al-Qur'annya harus bagus. Bahasa Arabnya juga ya tidak kosong-kosong amat. Sementara aku, tidak ada basic sama sekali. Apa aku cari suami ustadz aja ya Kai?" ucapku penuh tanya.
"Terserah kamu deh. Yang penting, kamu jangan sampai nggak kuliah loh Val. Sayang banget kan, kamu itu pintar. Kamu harus cari cara supaya ilmu kamu tuh nggak berhenti disini.." ucap Kaile tulus.
"Hemm.." jawabku.
Ya aku selalu memikirkan keinginanku untuk mendapatkan suami yang mendalami ilmu agamanya dengan baik, berpendidikan, sayang keluarga, kaya harta dan hati, dan tentunya sangat mencintaiku.
Aku menginginkan ini sejak aku tahu kakakku tidak bisa mendapatkan suami yang seperti ibuku inginkan. Memang tidak mengecewakan tapi setidaknya, ada hal yang bisa kita pegang dalam berumah tangga. Selain itu, aku yang penuh dosa ini berharap suamiku kelak dapat menerima kekuranganku dan menuntunku ke jalan yang benar, jalan yang diridhoi Tuhan kami.
***
Hari demi hari berlalu. Tak terasa Ujian Nasional semakin dekat. Aku pun memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu menjadi seorang guru Matematika.
Aku dan teman-temanku sibuk memperbaiki nilai-nilai sekolah kami agar terus meningkat, sehingga mendapatkan jalur undangan di universitas yang kami pilih.
Hingga menjelang hari Ujian Nasional. Sekolah kami mengadakan doa bersama dengan mengundang seorang ustadz kondang di kota kami.
Tiba saatnya...
Aku melihat seorang lelaki tampan berpakaian rapi, lengkap dengan peci dan sorbannya. Wajahnya terlihat seperti orang baik yang bersinar.
Uniknya, dia menggunakan sepeda motor yang sangat jarang sekali dipakai oleh seorang pemuka agama. Gayanya kekinian dan sangat modernis.
Seketika mataku tak bisa berpaling dengannya, aku menatapnya dengan penuh takjub. Seperti melihat seseorang yang selama ini ku pikirkan.
Dia terheran melihatku, namun dia tetap tersenyum kepadaku.
Pada saat dia menyampaikan ceramahnya, mataku selalu terpusat kepadanya. Aku mendengar setiap kata-kata yang keluar dari mulut indahnya.
Dia seperti orang yang sangat berilmu, pintar dan juga humoris. Ku pikir aku menyukainya.
***
Sejak saat itu, aku terus mencari tahu tentangnya melalui panitia pelaksana pengajian yang ada di sekolah kami.
Menurut informasi yang aku tahu, dia adalah salah satu ustadz yang sering memberikan ceramah di tempat kami dulunya. Namun, ada beberapa saat dia tidak bisa mengisi di sekolah kami. Tidak tahu alasannya dan ya itu adalah hari pertama dia kembali mengisi ceramah di tempat kami. Selain itu, dia adalah seorang sarjana strata 2, dan salah satu ustadz terfavorit di sekolahku karena wajahnya yang tampan dan juga ilmunya yang banyak tentang agama.
'Wah, ini sesuai dengan anganku. Tapi apakah dia akan menotice keberadaanku selama ini?Siswi yang jarang datang ke pengajian, wajahnya juga tidak cantik-cantik amat, bukan orang yang terkenal.. huft.. putus sudah harapanku..' pikirku.
***
Karena Ujian Nasional sudah tiba. Kami pun para pelajar SMA sudah sangat serius dalam belajar. Bahkan diriku sendiri, harus rela mengorbankan jam tidurku demi mempelajari bahan-bahan pelajaran yang mungkin saja keluar pada saat ujian nanti.
Sampai-sampai ibuku makan hati karenaku. Ya, aku seperti anak yang tidak tahu waktu. Sepulang sekolah langsung makan, tidur, begitu bangun langsung belajar. Baik untuk Ujian Nasional maupun untuk SBMPTN. Aku tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, menyapu, mencuci baju, dll. Ibuku pun jengkel kepadaku.
"Kamu ya Valerie, sekolah itu nggak perlu terlalu serius amat. Toh juga nanti, ujung-ujungnya kamu itu bakal mengurus rumah, anak, dan keluarga. Bukan ibu melarang kamu untuk belajar, tapi atur dong waktu kamu. Gimana nanti kalau kamu punya mertua yang galak.." Ucap ibuku yang terkadang membuatku bingung.
Di satu sisi, beliau ingin anak-anaknya berhasil dan berpendidikan, bisa menjadi wanita karir sesuai dengan impian kami masing-masing. Tapi di sisi lain, seakan tak mau mendukung apa yang ingin kami capai. Entahlah, mungkin ini bentuk kekecewaannya terhadap kakakku yang tak bisa ibuku ungkapkan.
"Bu, tenang saja aku pasti akan mendapat suami yang mengerti aku. Dia pasti akan selalu membelaku, memenuhi kebutuhanku, mencintaiku. Aku juga tak perlu repot-repot masak untuknya ataupun mencuci baju kami. Semuanya akan tersedia dengan lengkap, dan aku pun bisa berkarir sesuai keinginanku.." ucapku mengutarakan harapanku.
"Jangan mimpi kamu. Model kayak kamu begini, apa ada yang mau seperti itu.. Syukur deh kalau dapat.." ucap ibuku dan berlalu pergi.
***
Tidak disangka-sangka seseorang menegurku lewat pesan singkat.
Awalnya aku ingin mengabaikannya, tetapi setelah ku baca berulang kali. Aku seakan tak percaya.
Orang yang mengirimiku pesan singkat adalah dia. Dia yang sangat ku kagumi akhir-akhir ini. Dia yang menjadi sosok dalam pikiranku.
Siapa lagi, kalau bukan ustadz Evanders. Ya. Dia mendapatkan kontakku. Jujur, aku masih tak menyangka.
Dia mengaku mendapat kontakku dari salah satu siswa di sekolahku melalui salah satu sosial media yang sangat ngetrend saat ini.
Kami pun saling bertukar pesan dan membagi kisah kami satu sama lain.
Hari-haripun berlalu. Hubungan kami semakin dekat, dan kami memutuskan untuk berpacaran.
Ya, mungkin sebagian orang akan berpikir "ustadz kok pacaran". Tapi itulah uniknya dia, banyak literasi yang dia baca yang membuat kami tidak takut dicela orang karena kami berpacaran. Kami memegang dasar yang kuat untuk hal itu. Ya, dia berbeda dengan pemuka agama kebanyakan.
Pikirannya lebih terbuka, modern, sangat bertoleransi dengan agama-agama lainnya, tidak radikal, namun sangat menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan.
Dia mengajarkanku bahwa "Tuhan adalah Maha Penyayang" maka berbuat dan berpikirlah yang baik-baik, selalu menanggapi setiap hal dengan positif, pikirkan tentang kebaikan Tuhan, jangan hanya berpikir tentang azabnya, neraka, ataupun hal-hal yang membuat kita menjadi takut namun suka mengkritik orang lain yang tidak sesuai dengan kita. Jangan memandang orang dengan standard kita, coba selalu pahami sudut pandang orang lain. Maka kamu akan menemukan kebenarannya.
Hal itulah yang membuatku yakin untuk memilihnya sebagai pendampingku, dan menjadi suamiku nantinya.
***
Waktu berlalu begitu cepat.
Aku pun lulus dengan nilai yang bagus, dan bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku inginkan.
Aku dan kekasihku memutuskan untuk menikah di usiaku yang terbilang masih muda. Namun, jangan salah. Usia kami terpaut 12 tahun. Kalau dipikir-pikir, hal ini sangat lucu. Bayangkan saja, ketika aku masih di taman kanak-kanak, dia sudah remaja dan mungkin saja dia sudah bisa menyukai gadis yang disukainya.
Yah. Tapi seperti itulah takdir. Kehadirannya seperti diciptakan untuk menungguku yang masih bocah ini, tumbuh menjadi gadis yang siap mendampinginya.
Dan hal yang sangat membuatku bahagia adalah, dia benar-benar seperti apa yang aku pikirkan.
Dalam pernikahan kami, aku tak pernah mencuci baju, dan memasak. Semua dikerjakan oleh orang lain. Dia sangat mencintaiku. Menerima kekuranganku. Tanpa aku berucap, dia selalu tahu apa yang sedang aku butuhkan.
Aku bisa kuliah dan juga meneruskan karirku tanpa perlu pusing memikirkan keadaan rumah tanggaku, karena suamiku selalu mendukungku untuk kebaikan.
Kami bisa keluar negeri tanpa mengganggu jadwal kami masing-masing, berbagi dengan sesama, dan menuju kesuksesan bersama-sama tanpa harus meninggalkan satu sama lain.
Pola pikir kami sama, impian kami sama, aku bahagia bersamanya. Cepat atau lambat mimpi kami berdua terwujud dan kami menikmatinya.
Mungkin inilah yang dinamakan kekuatan pikiran. Mungkin inilah yang dinamakan "Kuciptakan jodohku sesuai dengan pikiranku".