“Ini Elsa, khan?”
Elsa hanya mengangguk lalu duduk di bangku yang masih kosong. Tepat di hadapannya, duduk seseorang yang selama ini selalu membayanginya. Dia tampak sangat dewasa sekarang. Sangat cantik sekali, ah... Tamara memang sudah cantik dari sananya!
“Apa kabar, Sa? Akhirnya kita ketemu juga!” Tamara tersenyum, sangat lebar, sangat gembira. Dan Elsa tahu apa alasannya!
“Baik, Alhamdulillah, Tam.” Elsa tersenyum kecut.
“Baru kali ini kamu datang di reuni SD kita, Sa!” ujar Evi, dia tahu betul apa yang terjadi antara Elsa dan Tamara.
“Maaf teman-teman, aku dulu sering miss info soal reuni SD kita. Dan kebetulan pas dapat info pasti ada aja halangannya.”
“Iya deh, kamu kan super sibuk!” Rosita menimpali, entah menyindir atau apa, Elsa tak peduli.
Ia langsung mengaduk jus di hadapannya, sangat tak tenang, dan sangat tidak nyaman! Elsa sama sekali tak menyukai suasana ini. Apalagi, rival sejatinya sejak ia duduk di bangku sekolah dasar dulu sekarang duduk di hadapannya. Lebih anggun, lebih cantik dan lebih fashionable!
Elsa melayangkan ingatannya pada masa-masa itu. Masa di mana ia masih mengenakan merah putih, masa di mana ia bertemu dengan Tamara, dan masa di mana persaingan itu tumbuh subur di antara mereka.
Namanya Tamara. Dan Elsa mengenalnya pertama kali ketika mereka berdua kebetulan mendaftar masuk SD bersamaan. Mereka duduk berdua, mengerjakan tes masuk bersama-sama. Tamara cantik, matanya bulat, hidung dan bibirnya mungil, kulitnya kuning langsat dan rambutnya hitam lurus.
Bagaimana dengan Elsa? Siapa yang tak kenal Elsa? Dia sama cantiknya, bahkan dulu ia lebih populer dibanding Tamara. Mata sipitnya, kulit putih bersihnya, pipi tembamnya, dan kecerdasan otaknya mampu membius semua orang. Namun, yang lebih membuatnya di kenal hampir seluruh kakak kelasnya adalah perbedaan fisiknya yang sangat mencolok.
Ya... dibanding dengan hampir dua puluh enam murid perempuan di kelas Elsa, hanya Elsa dan Tamara lah yang mencuri perhatian. Sama-sama cantik! Dan Elsa sendiri tak tahu, kapan tepatnya persaingan antara dia dan Tamara tumbuh dan semakin subur dari waktu ke waktu.
Yang pertama kali Elsa sadari adalah ketika ia menang lomba berkebaya di hari peringatan Hari Kartini. Ia menyabet juara dua. Sedangkan Tamara yang dulu mengenakan busana pengantin Solo Putri sama sekali tak masuk kategori juara. Saat tahu Elsa menang, Mamanya lari ke toko buku, membeli beberapa buku dan membungkusnya, setelah itu memohon kepada Ibu Sri untuk menyerahkan bungkusan itu pada anaknya. Apa yang tertulis di sana? Juara Keluwesan? Apa-apaan itu?
Sejak saat itulah Elsa sadar, ia dibayang-bayangin sosok Tamara. Sosok yang tak pernah mau kalah, sosok yang selalu ingin lebih populer, dalam hal apapun!
“Wah, beruntungnya punya anak seperti Elsa, sudah cantik, pintar lagi!”
Elsa tersipu mendengar pujian dari Tante Irma, Mamanya Fino. Ya... Elsa menuduki peringkat satu! Nilai rata-ratanya hampir sempurna. Sejak kecil, Elsa memang sudah mencintai buku, meski ia belum bisa membaca, namun ketika pergi ke mall, yang dituju pertama adalah toko buku! Dan kebiasaan itu membuatnya menjadi bintang kelas, di semester pertama ia duduk di SD dan seterusnya.
Elsa masih dapat mengingat, betapa merah padam wajah Mamanya Tamara saat itu. Ia tampak sangat gusar. Meski Tamara tak menunjukkan hal yang sama, Elsa tahu, akan ada babak baru yang menantinya.
Sejak saat itu, Elsa semakin sadar, bahwa ada pihak yang secara terang-terangan mengajaknya bersaing. Apa lagi, makin lama, Elsa semakin menarik perhatian. Banyak teman-teman satu kelas yang sangat senang berteman dengannya. Entah laki-laki atau pun perempuan. Dimana-mana, Elsa topik pembicaraannya.
Puncaknya adalah ketika guru grup marching band SD-nya lebih memilih Elsa sebagai penatarama dari pada Tamara. Saat itu lah, muncul ketengangan. Baik antara Elsa dan Tamara, atau pun antar Mama-mama mereka!
Dan babak penutup yang paling indah adalah, ketika nilai ujian mereka keluar. Sekali lagi, Elsa berada di puncak. Dan Tamara, harus puas dengan nilai rata-rata lima koma! Sejak saat itu mereka berpisah, dan sekarang untuk pertama kalinya mereka bertemu, bertatap muka setelah berpisah dua belas tahun yang lalu!
“Eh... kamu tambah cantik, Tam! Apa rahasianya?”
Elsa tersentak. Sedetik kemudian wajahnya memerah. Dulu ia yang tercantik, namun sekarang, ia harus puas. Faktanya Tamara memang sekarang lebih cantik! Wajahnya halus terawat, putih, mulus, rambutnya tertata rapi, seperti hasil hairstylist kelas dunia, bajunya pun modern, modis, dan sangat menawan! Rasanya Elsa ingin lari dari resto itu sekarang juga, membenamkan wajahnya di bantal dan menangis sepuasnya. Ia belum pernah dikalahkan oleh Tamara! Sejak ia menyadari bahwa anak itu mengajaknya bersaing puluhan tahun yang lalu!
“Ke skincare aja, aku langganan kok. Dua minggu sekali facial, tapi ya memang biayanya agak mahal!” ujarnya sombong, dengan senyum penuh kemenangan.
“Ahh... nggak ada duit!” Rosita mendengus, ya... dia hanya lulusan SMA, dan langsung menikah setelah itu. Suaminya pun hanya pegawai biasa.
Elsa bukannya tidak ada uang, tapi tidak ada waktu. Masih ada waktu untuk tidur saja dia sudah sangat bersyukur! Mana sempat dia ke salon? Skincare? Atau apalah namanya.
“Ya memang agak mahal. Gajiku satu bulan habis, tapi nggak masalah sih, biar cantik!” ujarnya bangga.
Elsa merasakan wajahnya makin memanas, terlebih ketika Tamara meliriknya setengah mengejek. Rasanya ia ingin menangis. Ia belum pernah dikalahkan oleh gadis tengil itu. Tapi kenapa ketika ia kalahakan, rasanya sesakit ini?
“Udah ahh... aku kayak gini aja, nggak ada duit!” ujar Evi menimpali.
Elsa terus mengaduk jusnya dengan sedotan. Ia melirik jam di tangannya, kenapa waktu seolah berjalan sangat lamban sekali?
“Oh ya, dulu kamu lanjut ke SMA mana, Tam?” tanya Rosita sambil mengunyah potato wedges pesanannya.
“Aku dulu malas sekolah, jadi lulus SMP langsung kerja!”
Elsa hampir tersedak jusnya. Di tatapnya sosok cantik a la sosialita yang duduk di hadapannya itu. Jadi dia hanya lulus SMP? Sedetik kemudian, Elsa merasakan ada sesuatu yang mengangkatnya tinggi, rasa rendah dirinya mendadak lenyap. Sekarang ia bisa tegak menatap saingannya itu.
“Kamu kerja apa dengan ijazah SMP?” tanya Evi, yang sepemikiran dengan Elsa.
“SPG dulu, sekarang pun masih SPG.”
Elsa menatap rivalnya itu. Namun ia masih diam, tak banyak bicara.
“SPG di mana?” tanya Rosita mulai penasaran. Mungkin ia ingin bergabung, supaya bisa berpenampilan seperti Tamara.
“The Park, datang aja kesana.”
Elsa menyunggingkan senyum tipis. Ia menyesal, mengapa harus terluka oleh kekalahan yang sementara? Ia kembali menyedot jusnya, berharap jus dingin itu mampu membantunya merilekskan saraf-sarafnya yang tegang sejak ia datang beberapa saat yang lalu.
“Itu toko baju, Tam?”
“Iya, butik lah. Bahannya halus-halus, jahitannya juga.”
Elsa menyendok lasagna pesanannya. Sepuluh menit lagi, ia harus segera pulang, pekerjaan sudah menunggunya.
“Kok dari tadi diam, Sa?” tanya Tamara, senyumnya masih penuh kemenangan.
“Iya nih, dulu kamu cerewet banget lho, lagi sariawan apa?” Evi protes, ia tahu betul bagaimana sosok Elsa ini.
Elsa tersenyum, ia meletakkan sendoknya, lalu menatap ketiga temannya itu satu persatu.
“Lha dari tadi nggak ada yang nanya,” Elsa tersenyum, senyumnya merekah.
“Oke deh, aku tanya!” Rosita ikut meletakkan sendoknya, lalu menatap jahil kearah Elsa. “Kabur kemana kamu setelah lulus SD, sampai-sampai tidak ada kabar sama sekali?”
Elsa tertawa, ia tidak kabur, hanya terlalu sibuk. Belajar tentunya, bukan dandan!
“Aku lulus ke SMP tiga, trus lulus lagi ke SMA tiga.”
“Kok nggak pernah ketemu?” Evi ikut nimbrung. “Aku kira kamu ke luar kota gitu.”
“Elsa mana pernah sih main keluar gitu?” Tamara menimpali, dan Elsa tahu, dia tengah menyindirnya.
“Nah... kenapa sekarang jadi pada tanya aku kemana? Kan pada tahu aku agak kuper, kudet lah.” Elsa tersenyum lebar, tidak merasa tersakiti atau merasa terhina.
‘Piingg’
Elsa segera meraih smartphone-nya. Di bacanya pesan WhatsApp yang masuk itu, sedetik kemudian ia tersenyum, kali ini sangat penuh kemenangan!
“Maaf teman-teman, aku balik duluan, ya!”
“Lho, mau kemana?” Tamara tampak tak suka. Mungkin karena ia belum puas memamerkan kemenangannya, ia lebih cantik dari Elsa sekarang. Elsa tidak ada apa-apanya!
“Sudah ganti jadwal jaga, jadi aku harus segera ke rumah sakit. Kebetulan aku dapat jadwal jaga IGD.” Elsa bangkit, lalu meraih sesuatu dari dalam tasnya.
“Kamu kerja di rumah sakit?” tanya Evi tampak kaget. “Perawat?”
Elsa tersenyum, lalu tangannya membuka bungkusan plastik yang ia ambil dari tasnya.
“Bukan, aku dokter!” ujarnya mantap lalu dengan bangga mengenakan jas putihnya.
Sedetik kemudian, Elsa masih bisa melihat dengan jelas, wajah cantik a la sosialita itu memucat. Dan Elsa baru menyadari bahwa, inilah kemenangan yang sesungguhnya!