Akan Aku tunjukkan kepadamu bagaimana aku menjadi lebih indah. Aku tak akan menangis akan ketidaktulusanmu. Lihat aku akan bertemu dengan pria yang lebih baik darimu. Aku akan jauh lebih bahagia darimu.
Tepat tanggal 14 Febuari 2020 Mona menerima perasaan Yabes yang sudah mendekatinya sejak sebulan ia ditempatkan.
Teresa Monayanti ditempatkan sebagai admin proyek disalah satu bascamp proyek perusahaan yang sedang berjalan. Tahun pertama Mona ditempatkan didaerah tersebut mempertemukannya dengan Yabes dan Moan. Ketiganya bernaung diperusahaan yang berbeda namun memiliki keterkaitan kerja yang sama dalam satu proyek yang sama.
"Mona mau gak jadi pacarku?" Tanya Yabes sebulan setelah iya mendekati Mona yang belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun sebelumnya.
"Gimana ya Aku i---"
"---Aku benaran serius sama kamu Mon." Potong Yabes meraih tangan Mona dengan berbagai rayuan yang membuat Mona akhirnya luluh. Meskipun sebenarnya sejak awal mata Mona selalu tertuju pada Moan. Namun Moan yang selalu terlihat berganti-ganti cewek membuat Mona ragu dan memilih menerima Yabes.
Tak berapa lama setelah itu Mona tahu ternyata Yabes dan Moan berasal dari kampus yang sama. Dan keduanya juga sering terlihat tertawa sambil melirik cewek-cewek yang lewat didepan kontrakan mereka.
"Sayang, kamu gak kayak temanmu itu kan?" Tanya Mona setelah hubungan mereka berjalan enam bulan.
"Siapa?" Tanya Yabes.
"Moan." Jawabnya yang membuat Yabes menjatuhkan sendok ditangannya.
"Enggaklah." Balas Yabes tersenyum pada Mona.
Pertengahan September Mona mempersiapkan kado ulang tahun untuk Yabes. Ia berencana mendatangi kekasihnya itu dikontrakannya yang jaraknya tempuhnya sekitar 20 menitan dengan motor. Namun ditengah jalan ia mendapat telpon dari atasan untuk mengirimkan data yang ia butuh segera. Mona pun berbalik kearah bascamp yang jadi kantor cabang mereka.
Singkat cerita Mona akhirnya memberi kado setelah hari ulang tahun Yabes lewat sehari. Sebelum hari itu tiba Yabes tidak mencarinya dan menanyakan apapun.
"Aneh." Ucap Mona yang berangkat menuju kontrakan Yabes. Pintu kontrakannya terbuka dan Mona mendapati Yabes sedang ada tamu.
"Masuk Mon." Ucapnya pada Mona yang berdiri dan segera masuk. Namun saat Mona akan duduk ia dikejutkan oleh box kosong dengan bingkisan kado yang sudah terobek-robek dimeja.
Kado dari siapa. Batin Mona melihat Moan memakai helm dan mengeluarkan motornya.
🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿
Bingkis kado hari itu menjadi awal mula Mona mencari tahu apa yang dilakukan Yabes. Sejak pacaran Mona yang sibuk dengan kerjaan tidak terlalu mengurusi kesibukan Yabes. Ia yakin bahwa Yabes prian yang baik.
Perlahan ia menemukan beberapa kejanggalan yang selama ini ia abaikan. Yabes yang dulunya sering mendatanginya dan vc setiap malam sudah tidak lagi.
"Sayang lagi dimana?" Tanya Yabes lewat chat.
"Lagi dibasecamp." Balas Mona. "Kenapa?" Tanya Mona curiga seolah Yabes sedang berjaga-jaga kepergok oleh Mona sedang dengan yang lain.
"Nanya aja sayang." Balasnya. "Semangat ya." Balasnya lagi membuat Mona meraih kunci motor dan memakai jaketnya.
Mona memarkirkan motornya jarak dua rumah dari kontrakan Yabes dan Moan. Mona memakaikan kupluk jaket yang belum pernah ia kenakan asal berpergian dengan Yabes.
Beberapa menit kemudian Mona melihat wanita keluar dari kontrakan diikuti olah Yabes yang mendorong motor keluar. Yabes naik keatas motor diikuti oleh wanita disebelahnya.
"Bangsat." Umpat Mona ketika Yabes menarik kedua tangan wanita itu untuk memeluk pinggangnya. Motor itu kemudian melaju dengan wanita yang semakin menempelkan dadanya pada Yabes.
Mona marasakan ada yang jatuh dari ruang hatinya yang sesak. Rasa sesak itu semakin meluap dan tak tertahankan membuat Mona menerobos masuk ke kontrakan Yabes.
"Mona." Ucap Moan terkejut mendapati kekasih temannya itu datang. "Yabes gak ada." Ucapnya lagi.
"Kemana?" Tanya Mona.
"Aku kurang tahu." Jawab Moan cuek seperti biasa.
"Oh ya?!" Sahut Mona menutup pintu dan menguncinya. "Menurutmu apa dia akan lama?" Tanya Mona berbalik badan melihat ke Moan yang sebenarnya jauh lebih menggoda dari Yabes. Bicara keunggulan Moan jauh diatas Yabes. Namun Moan memiliki banyak wanita disekitarnya.
"Kamu tanya dialah." Ucap Moan sinis mendekat pada Mona.
"Dadaku sesak Moan." Ucap Mona yang tak pernah berbicara pada Moan sebelumnya. Ia hanya melihatnya dari jauh. Segala sesuatu tentang Moan ia dengar dari cewek disekitaran tempat kerjanya.
"Apakah terlalu besar?" Tanya Moan melepas kupluk dikepala Mona.
"Punya wanita-wanitamu jauh lebih besar." Jawab Mona.
"Kamu udah ngapain aja sama Yabes?" Tanya Moan melingkarkan kedua tangannya dipinggan Mona dan menundukkan sedikit wajahnya pada wajah Mona.
"Ciuman." Jawab Mona.
"Hanya itu." Desis Moan yang semakin mendekatkan bibirnya pada Mona.
"Apakah karna hanya itu dia mencari yang lain." Ucap Mona membuat Moan menarik diri.
"Bukan."
"Lalu?" Tanya Mona menarik baju Moan.
"Mona,kamu terlalu polos untuk Yabes yang kadal." Jawab Moan berbalik badan membelakangi Mona. "Yabes itu udah sering ngadalin cewek." Tambahnya melangkah.
"Kenapa kamu gak kasih tahu?" Tanya Mona melewati Moan dan menghalangi jalan Moan.
"Buat apa?" Tanya Moan. "Dahlah!Kamu tinggal putusin dia kan beres." Ucap Moan.
"Kamu pikir gampang." Ucap Mona. "Dadaku sesak banget." ucap Mona memegang dadanya
"Kamu mau obatnya?" Tawar Moan.
"Emang ad---"
"---Uhm." Moan maraup bibir Mona membuat wanita polos itu tak bisa menolak. Ia melu*m*tnya sekaligus mendorong perlahan masuk kekamar dengan tangannya yang melepas jaket dari tubuh Mona.
Moan menjatuhkan Mona diranjang membuat bibir yang menyatu terlepas dan disambut oleh suara yang terengah-engah dari Mona yang terkulai melihat Moan.
"Masih sesak?" Tanya Moan mendekat sambil mengusap bibir Mona yang menganga.
🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿
Setelah hari itu Mona tidak pernah mempedulikan Yabes. Ia juga tidak mencari tahu bukti-bukti bahwa pacarnya itu telah mengkhianatinya. Sebaliknya Mona selalu menghampiri Moan yang membuatnya ketagihan.
"Mona." Desis Moan mendapati wanita itu bersembunyi dibalik pintu kamarnya. Sepulang kerjs Mona menemui Yabes dikontrakannya. Bukannya ke kamar Yabes,ia malah menyelinap masuk ke kamar Moan.
"Yabes lagi keluar." Ucap Mona melingkarkan tangannya dileher Moan membuat pria itu menutup pintu dengan kakinya. Lalu mendorong tubuh Mona ke pintu dan menekannya dengan ciuman di bibirnya lagi dan lagi yang membuat Mona terbuai dalam kenikmatan.
"Moan." Panggil Yabes suatu malam ketika ketiganya ada dikontrakan.
"Kenapa?" Tanya Moan yang sibuk menyelesaikan laporannya sambil sesekali melirik Mona yang sejak sore berada di kamarnya. Keduanya hampir saja kepergok oleh Yabes yang pulang entah dari mana sambil menggandeng wanita lain.
"Gue pinjam motor ya." Pinta Yabes bersisir didepan cermin.
"Mau jalan sama Mona kah?" Tanyanya sambil berdesis supaya tidak terdengar oleh wanita yg menunggunya diluar.
"Enggaklah." Jawab Yabes santai.
"Pulang gak?" Tanya Moan.
"Enggak." Jawabnya. "Kau gak ada mau kemana-mana kan?" Tanya Yabes sementara itu Mona duduk dibalik pintu sambil mendengar percakapan buaya dan kadal.
"Tadinya mau pergi sih." Jawab Moan.
"Kemana?" Tanya Yabes. "Bukannya kerjaan masih banyak." Melirik tumpukan gambar dan laporan dimeja Moan.
"Yaudalah bawa aja." Ucap Moan tersenyum melihat laptopnya.
Beberapa menit kemudian Moan menutup pintu dan menguncinya. Ia berjalan sambil bersiul menutup laptopnya dan masuk kekamar.
"Kamu nguping ya?" Tanya mendapati Mona duduk dilantai sambil memeluk lututnya.
"Enggak." Jawab Mona memalingkan wajahnya dari Moan.
"Mau pulang,Hm?" Tanya Moan.
"Iya." Melihat Moan. "Wanitamu mau datangkan?!" Tanya Mona yang sering melihat kedatangan wanita saat ia dan Moan berduaan di kamarnya. "Aku pulang ya." Bangkit berdiri.
"Kamu yakin mau pulang?" Tanya Moan melihat punggung Mona yang berjalan membelakanginya. "Dia gak pulang malam ini." Ucap Moan.
"Kamu mau aku menontonmu lagi begituan dengan wanitamu!" Ucap Mona berbalik badan melihat Moan yang malah menertawakannya. "Ketawa lagi nih anak." Cibir Mona semakin kesal.
"Nih Anak?" Tanya Moan mendekat. "Aku lebih tua tiga tahun ya dari kamu." Ucap Moan menyentil kening Mona.
"Bodoh!" Balas Mona kesal. Ia kesal mengetahui Yabes malah semakin mengabaikannya dan Moan juga akan menghabiskan malam dengan wanitanya.
"Kamu marah ya lihat Yabes pergi sama cewek lain?" Tanya Moan.
"Marahlah!" Jawab Mona. "Dia kan pacarku." Ucapnya lagi. "Tapi Aku baginya cuma ban serep." Sambungnya lagi membuat Moan sadar. Bagiamana pun Mona berusaha membalaskan sakit hatinya melalui dia tetap saja Yabes pemilik hatinya.
"Aku kan dah bilang putusin dia." Ucap Moan.
"Lalu?" Tanya Mona mendongak pada Moan.
"Aku buaya lebih parah dari Yabes." Ucap Moan mengingatkan Mona berkali-kali.
"Harus begituan kah?!" Tanya Mona.
"Iya." Jawab Moan. "Dan juga Aku sukanya yang gede-gede." Tambah Moan membuat Mona memayunkan bibirnya.
"Ih!emang kamu tahu punyaku gede atau kecil." Cibir Mona kesal. "Kayak pernah lihat aja." Tambahnya lagi dengan nada kesal tapi justru malah membuat Moan tertarik.
"Tidur disini ya?!" Pinta Moan.
"Buat nontonin kamu sama cewekmu yang itunya gede." Ledek Mona.
"Temanin Aku begadang ngecek laporan." Menarik tangan Mona duduk disebelahnya mengecek satu persatu laporan dan gambar.
Tak ada yang terjadi diantara mereka selain Moan yang memeluk Mona ketika keduannya berakhir tidur diranjang yang sama.
🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿
Bulan ke bulan Yabes mulai mencurigai Mona yang memiliki pria lain selain dirinya. Ia merasa Mona terlalu santai dan tak pernah menuntut apapun. Tak pernah curiga atau marah seperti cewek-cewek lain yang berhasil ia kibuli seperti Mona.
"Sayang." Panggil Yabes ketika ia datang mengantar dokumen ke staff lain yang ada di basecamp Mona.
"Iya." Sahut Mona yang tersenyum membaca balasan chatt dari Moan.
"Kamu chattan sama siapa?"tanya Yabes.
"Sama Moan." Jawabnya santai. "Kenapa?" Tanyanya.
"Sejak kapan kamu punya nomor dia?" Tanya Yabes.
Sejak tahu kamu selingkuhan aku. Batin Mona. "Kapan ya?Hmm!Aku lupa kapan." Jawabnya.
"Oh." Jawab Yabes kesal dan pergi begitu saja.
Hari berikutnya Yabes mengajak Mona keacara makan-makan yang diadakan timnya . Moan yang berkaitan dengan tim Mona dan Yabes turut hadir diacara yang diadakan atasan Yabes.
Yabes menujukkan kemesraannya dengan Mona didepan Moan yang membuat Mona risih.
"Dia kayaknya udah tahu tentang kita." Bisik Moan ditengah-tengah keramaian orang-orang yang bernyanyi melepas penat.
"Baguslah." Balas Mona menyuap sepotong daging kemulut Moan didepan Yabes. Mona sengaja memasukan jari telunjuknya kemulut Moan kemudian menarik jari itu dan memasukkannya kemulutnya sambil melirik ke Yabes.
"Enak." Ucapnya melempar senyum pada Yabes sambil menjilat jarinya. Sementara mata Yabes menatap tajam mata Moan yang duduk disebelah Mona.
"Bukk!" Pukulan Yabes mendarat di bibir Moan setiba keduanya dikontrakkan.
"Brengsek!" Umpat Yabes menarik kerah baju Moan. "Bukannya wanitamu banyak!" Teriaknya. "Kenapa kau nyentuh yang bukan milikmu!" Melepas kerah dan mendorong Moan.
"Kamu Nganggurin." Celetuk Moan. "Ya udah dicoba dong man." Cibir Moan pada Yabes yang selama ini meninggalkan Mona begitu saja setiap kali wanita itu datang menemuinya.
"Diam!" Bentak Yabes membanting pintu.
"Santai man!" Ucap Moan mennyentuh sudut bibirnya yang berdarah. "Kalau kamu gak mau tinggalin aja." Cibirnya. "Itu aja repot." Ucapnya membuat Yabes keluar dan mendapiti Mona yang sejak tadi berdiri mendengar semuanya.
"Dasar Sampah!" Maki Yabes. "Minggir lu!" Mendorong Mona dan pergi meninggalkan keduanya.
"Sakit ya?!" Tanya Mona mengobati bekas pukulan Yabes yang mendarat dibibir Moan.
"Gak papa." Jawab Moan. "Yang tadi jangan masukan kehati ya." Ucap Moan.
🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿
Beberapa hari kemudian Yabes memutuskan Mona didepan orang banyak. Ia bahkan mempermalukan Mona dengan menyebutnya.
"Dasar Bispak!" Umpat Yabes saat ia mengantar berkas ke bascamp Mona. Bukan hanya mengatai Mona bispak. Ia juga menawarkan cowok-cowok disana untuk mengorder Mona.
Dalam sehari berita mengenai Mona yang seperti dikabarkan Yabes tersebar di semua orang proyek hingga ibu-ibu pemasak tempat pemesanan makanan seluruh tukang hingga staff.
"Kelihatannya aja polos." Bisik-bisik orang yang ada disekitar Moan.
"Eh boleh tuh dicoba!" Celetuk yang lain.
"Tarifnya kecil pasti." Ucap yang lain membuat Moan menendang kursi membuat semua terkejut.
Seminggu berlalu gosip tentang Mona masih saja terdengar namun sosok Mona tidak ada lagi dibasecamp. Ia mengundurkan diri tiga hari setelah isu tentangnya beredar.
"Mona kemana?" Tanya Moan ketika ada urusan dibasecamp tempat Mona.
"Udah gak kerja lagi pak." Jawab ibu-ibu pembersih.
"Oh gitu." Ucap Moan membuka chatt terakhir. Ketika berita belum tersebar Mona mengakhiri hubungannya dengan Moan begitu saja.
"Si Mona cari lahan baru kali ya." Bisik orang-orang dibasecamp yang masih menganggap Mona buruk.
Nyatanya sampai saat ini Moan tidak pernah menyentuh Mona seperti apa yang disebarkan Yabes menjatuhkan mantan kekasihnya itu.
Moan menghubungi kantor pusat dan meminta mengirimkan alamat Mona padanya.
"Mona!" Panggil Moan sambil menggedor-gedor pintu kontrakannya dikota.
"Temannya Mona ya Pak." Sapa seorang ibu keluar dari kontrakan sebelah.
"Iya." Jawab Moan. "Ini benaran kontrakannya kan?" Tanya Moan.
"Iya pak. Tapi Monanya sudah gak tinggal disini lagi." Ucap ibu itu. "Katanya sih dia mau balik ke kampungnya." Tambahnya lagi.
"Ibu tahu gak kampungnya dimana?" Tanya Moan.
"Oh saya Ndak tahu pak." Jawab ibu itu pergi.
Moan kembali ke kantor pusat dan meminta mereka mencari alamat kampung Mona. Namun ia tidak menemukan apapun. Moan memutuskan kembali ke kontrakan Mona dikota menemui pemilik kontrakan.
"Ini alamat kampung Mona pak." Pemilik kontrak menyerahkan pada Moan.
Moan mengambil cuti tiga hari dari kantor untuk menyusul Mona. Ia berhenti disebuah rumah kecil yang dikelilingi pekarangan yang berdinding kawat melindungi bunga-bunga kirsan dalam pot. Sebelumnya Moan mendengar dari pemilik kontrakan bahwa Mona anak yatim piatu yang dibesarkan neneknya dikampung. Mona kuliah dari hasil penjualan bunga-bunga hidupnya. Setelah neneknya meninggal Mona baru memberanikan diri pergi mengadu nasib kekota.
"Mona." Panggil Moan berjalan mendekat wanita yang berdiri diantara bunga Krisan yang bermekaran.
"Moan." Sahutnya berdiri sambil menimang bunga Krisan ditangannya. "Kamu nga--"
"---Uhm." Moan menangkup wajahnya dan meraup bibir Mona di lautan bunga Krisan.
🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿🍁🍿
Moan duduk menatap Mona yang baru turun dari mobil baknya. Ia baru saja kembali dari mengantar bunga-bunganya kepasar.
"Kamu belum pulang?" Tanya Mona masuk kedalam rumah tak mempedulikan Moan. Ia sudah sangat baik tidak memukul pria itu yang sembarangan menciumnya.
"Aku pulang kalau kamu ikut." Jawab Moan ikut masuk dan menutup pintunya. Persis saat pertama kali Mona melemparkan dirinya padanya.
"Buka pintunya." Pinta Mona. "Aku gak mau digebrek warga." Ucapnya.
"Biarin." Balas Moan menghalanginya.
"Aku gak punya tempat tujuan lagi." Ucap Mona. "Kalau na--"
"--Uhmm." Moan memotong omongan Mona dengan meraup bibirnya lagi. Ia perlahan mendorong Moan ke kamar dan menjatuhkannya diranjang. Jika dulu ia melepas bibirnya kali ini tidak. Moan tak memberik kesempatan pada Mona untuk melawan.
"Pelankan suaramu." Bisik Moan pada Mona yang mengeluarkan desahan dan juga erangan.
Hari telah gelap bersama Mona yang terkulai lemas tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Hanya ada bercak merah menodai kain sutra alas ranjangnya dan rasa perih dipusat tubuhnya. Sementara Moan bangkit berdiri dari ranjang begitu saja. Ia memakai boxernya dan duduk dikursi.
"Ctak!" Suara pematik membakar batang rokok yang terselip dibibir Moan. Ia menghisap dan menghembuskan asap keluar jedela kamar yang sedikit terbuka.
"Ahh." Desis Mona terbangun dipagi hari. Rasa sakit dipusat tubuhnya semakin terasa. Ia bangkit dari ranjang dan tak menemukan Moan disana.
"Bangsat!" Umpat Mona menurunkan kakinya pelan kelantai dengan tubuh telanjang meraih pakaiannya yang robek oleh Moan.
Tak terasa senja telah datang. Satu hari Mona hanya duduk di ranjangnya menatap keluar jendela sambil menangis.
"Brakk!" Suara pintu didobrak membuat Mona terkejut dan melihat langkah kaki pria masuk berjalan menuju kearahnya.
"Siapa lagi?" Gumamnya dengan air mata yang mengalir.
"Aku." Ucap Moan berdiri dengan setangkai mawar. "Memang siapa lagi?" Tanya berlutut didepan Mona.
"Kamu ngapain lagi?" Tanyanya. "Belum cukup kah buatmu."
"Tidak cukup semalam." Ucapnya. "Aku ingin selamanya bersamamu." Ucapnya lagi.
"Kamu mau aku jadi penghangat ranjangmu seperti wanita-wanita itu?!" Tanya Mona.
"Ya!Aku ingin kamu satu-satunya penghangat ranjangku." Jawabnya. "Mona menikahlah denganku."
"Moan,kamu jangan bercanda."
"Aku gak bercanda." Ucapnya. "Bisakah kamu menerimanya. Lututku sudah sakit." Pinta Moan.
"Benarkah?!" Ucap Mona buru-buru turun dari ranjangnya. "Tak ada yang menyuruhmu berlutut." Membantu Moan berdiri.
"Sayang,kamu mau pernikahan seperti apa?" Tanya Moan tertawa.
"Aku belum menerimanya."
"Aku tak peduli." Menggendong Mona dan membawanya keluar.
"Moan turunkan aku!" Ucap Mona. "Kamu mau bawa aku kemana?" Tanya Mona.
"Ke gereja sayang minta berkat."
🍁🍁🍁Tamat😘