Pernah kah kalian mengira bahwa ada anak yang mampu menahan semua amarahnya? Apakah ada yang akan percaya dari anak kecil ketika dia berpendapat? Adakah yang mau mendengar dengan benar semua curhatannya?
Jarang sekali yang ingin dengar, jarang sekali ada anak yang mau sabar, banyak sekali yang menyepelekan nya. Apa karna dia seorang anak kecil? Yang sering orang bilang 'Anak bau kencur tahu apa? ' Ini adalah sebuah kata-kata yang selalu menyakiti hati seorang anak, pada orang dewasa kepadanya. Anak ini. Nah, bukan. Panggil saja namanya dengan panggilan Puin. Tak akan aku sebut nama aslinya.
Puin, gadis kecil yang sudah terlanjur cepat dewasa. Bukan boros rupanya sampai-sampai dikira anak yang dewasa. Bukan. Tapi anak yang memiliki pemikiran yang lebih dewasa dibanding anak seumurannya. Karena itulah. Karena ke dewasa annya dia harus menahan rasa sakit. Ketika Ayah nya meniduri wanita lain selain ibunya dihadapannya. Ketika ayahnya. dengan sengaja membiarkan minuman ibunya terkena semprotan nyamuk. Ketika ayahnya menampar ibunya. Dan ketika, Dia disiram Teh Panas tepat diwajahnya, sampai Dia tidak bisa berangkat sekolah.
Umurnya saat itu baru berumur Lima tahun. Mungkin? Iya, sekitar segitu lah umurnya. Dia takut cerita seram. Tapi tidak takut jika melihat secara langsung bentuk dan rupa mahluk yang katanya 'Dari dunia lain' itu.
Puin. Di ikut pindah dengan ibunya ke desa dimana Neneknya tinggal. Menghindari pandangan langsung dari ayahnya. Ibunya tidak tahan jika, akan melihatnya secara langsung. Tapi sayang nya, Ia pindah bukannya membaik justru memburuk. Dengan segala keterbatasannya. Mulai dari harta, harga diri, dan ketidak pastian. Membuatnya menjadi Seorang Gadis kuat. Dengan segala rasa sakit, Bully, Olokan tetangga, hingga diremehkan orang tua dan saudara sendiri.
"Kamu mending gak usah ikut campur, deh. Anak kecil tahu apa? "
Apa benar Anak kecil Tidak tahu apa-apa?
Justru Puin lah yang tahu segalanya.
Dimana selama ini ayah nya berada..?
Bagaimana perasaan ibunya. Pandangan Nenek padanya. Pandangan orang pada keluarganya. Dan Rahasia terbesar dari Orang tuanya. Karena..
"mereka terlalu meremehkanku yang hanya, sekedar anak kecil ini. Sampai-sampai mereka tidak menutup kupingku ketika sedang membicarakan hal penting sekalipun" ucapnya saat sedang meluapkan semuuuaaa yang ada didalam, isi hatinya. Hanya pada teman yang bisa dia percaya semenjak SMA.
Bisa saja ia mempercayakan masalah pada teman masa kecilnya. Hanya saja
"ibunya Puin! Puin itu.. BLA BLA BLA BLA"
Ember. DASAR.
Makanya, kenapa Puin tidak pernah cerita pada siapa pun. Bahkan Masalah kecil sekalipun.
"Kamu mau gak nikah sama aku? "
Dari sekian banyak laki-laki yang mau melamar Puin. Hanya ada satu laki-laki yang berani datang dan bilang langsung padanya.
"APA?! "
Apa yang akan kalian jawab dalam kondisi Puin ini? Ada Laki-laki TIDAK DIKENAL datang dan bilang seperti itu. Apa yang akan kalian lakukan? belagak tidak dengar? mengalihkan pembicaraan? Secara tegas bilang 'Tidak'? Atau justru langsung diterima?
Dan Puin memilih menerimanya.
Orang tuanya yang secara terang-terangan bilang akan lebih baik jika Puin menikah, agar tanggung jawab mereka sebagai Orang TUA berpindah tangan. Dan terus-terusan ditanya
"Udah punya pacar belum? "
"Kapan nikah? "
"sembunyi-sembunyi ya? "
Membuat telinga Puin panas. Sejak kapan kira-kira dia mendengar pertanyaan itu?
Sejak SMP.. Menurut kalian Bagaimana? kalau aku sih ' kelewatan' Anak segitu sudah di kasih pertanyaan yang terlewat.
"KAPAN NIKAHNYA? "
"KAPAN, KAPAN? "
Hadeeehhh~
Dari situ lah secara tidak langsung Puin harus menerima lamaran Laki-laki itu. Padahal tidak masuk daftar Cogan Puin. Katanya. Sampai menagis darah pun orang tuanya tidak mau mendengar. Dada Puin sakit seperti ditusuk ribuan Jarum kecil Yang sampai membuat dadanya Selenuttan. Perih, Sakit, berat gimana gitu...?
"iyaaaa ok. aku bakal Terima" begitu katanya
'Biar aku buat bahagia kalian. Dan untuk ibuku. Biar aku buat kalian bangga. Dari seorang gadis menikah dengan Ta'aruf. Kalian akan bangga karena itu'
Apa Puin bicara begitu? Jelas Tidak. Dia hanya bisa menulisnya di secarik kertas putih bergaris biru. Dengan pena hitam. Saat hujan Ia lempar itu kertas. Oh bukan, Surat pada air. Pada hujan yang menghanyutkan kertas dan menghancurkannya. Yah~ begitu cukup. Begitu katanya..?
Esok. Nah kan, saya salah lagi. Hari ini Puin menikah. Dengan Laki-laki yang tidak ia cintai. Dan ia berharap bisa mencintai laki-laki itu kelak. Agar bahagia hidupnya. Tidak menyusahkan orang.
Tersenyum manis nan lebar. Kecantikan Puin membuatnya mudah saja menutup Topeng Putih ber bibir merah manis, Bak ceri. Menutup Rapat-rapat Air matanya dalam Topeng dan menenggelamkan Rasa Cintanya pada Pria idamannya selama ini.
Selama tiga tahun bertepuk sebelah tangan. Akhirnya ia menikahi pria lain.
Yang membuatnya sangat-sangat sakit adalah saat dia tahu. Pria yang membuatnya, dan mengira bertepuk sebelah tangan itu. Bilang
"Aku mencintai mu dalam diam. Kau bagaikan Langit Bahkan mentari. Yang sangat sulit aku jangkau. Seperti ada tembok tebal sekaligus tebing memisahkan. Dan sekarang..? KAU menikah secara diam-diam Pula"
Tidak diucapkan. Tapi hebatnya Pria itu memberikan surat secara langsung ke tangan Puin saat bersalaman di pelaminan. Puin membacanya setelah Lima hari, setelah pernikahan. Menangis? jelas tidak. Nyatanya mereka memang tidak berjodoh.
Sekarang Keinginan Puin apa??
Dia ingin punya lima anak! Dengan Anak kembar tak Seiras di anatara lima anaknya. Menjadi ibu dan Dia masih Ingin jadi guru. Cita-cita nya sejak kecil. Yah... begitulah..
Corona ini yang membuat pernikahannya sederhana. jadi dia tak perlu melihat banyak orang yang pernah menyakitinya. Begitu.
Adakah yang sama?
Ini kisah nyata. NYATANYA ADALAH penulis nya sendiri. Bukan, bukan~
Mengetik ini saat mendengar curhatan langsung dari Puin.
"Semoga bahagia untuk kalian yang sama. Coba mencintai seseorang itu tidak lah sulit. nyatanya. Saat ini aku sudah punya anak kembar dua. Hehehe~" Kata Puin.