Arimbi seorang anak remaja yang menjelang dewasa, mendapatkan mimpi yang tak biasa. Remaja laki-laki berusia 17 tahun itu mimpi bertemu sang nenek tercinta.
Dalam mimpi, Arimbi mendapatkan petunjuk ilmu yang neneknya miliki semasa hidup.
Dia pun tersadar saat pagi sudah menjelang. Mimpi yang aneh, sungguh aneh. Karena nenek yang dia temui waktu tertidur semalam itu, sudah meninggal.
Akhirnya Arimbi tidak menghiraukan, karena baginya mimpi itu hanya bunga tidur.
*****
" Mak, semalam Rimbi mimpi ketemu nenek." Kata Arimbi dengan nada suara yang polos memberitahu pada sang ibunda.
" Terus?" Tanya Titin yang merupakan ibu dari Arimbi.
" Nenek bisikin sesuatu, tapi Rimbi gak terlalu jelas dia ngomong apa." Tutur Arimbi yang sangat serius bercerita tentang mimpi nya kepada sang bunda.
" Seh, itu mah cuma bunga tidur aja. Udah lu gak usah pikirin." Kata Titin dengan logat Betawinya yang begitu kental.
Akhirnya Arimbi menuruti perkataan ibunya. Dia tidak menghiraukan arti mimpi yang merupakan warisan berharga dari sang nenek.
Sudah beberapa hari Arimbi terus bermimpi bertemu sang nenek. Namun kali ini dia sangat penasaran, hingga dia bertanya pada salah seorang ustadz dekat rumahnya.
Kebetulan ada kajian Islam selepas shalat subuh, di mushola dekat rumah Arimbi.
Dengan langkah pelan, dia menghampiri sang ustadz.
" Assalamualaikum, ustadz." Sapa Arimbi sambil mencium punggung tangan nya.
" Wa'alaikum salam. Iya Rimbi, ada apa?" Tanya ustadz Syamsudin dan panggilan terkenal nya adalah ustadz Syam.
" Tad, ane mau tanya boleh?" Tanya Arimbi sedikit ragu.
" Boleh, ente mau nanya apa Mbi?" Tanya sang ustadz yang sudah duduk bersila di latar mushola.
" Gini Tad, tiap malam ane mimpi selalu di datangi sama nenek. Dia bisikin sesuatu, tapi ane gak jelas. Kayak ada yang mau di sampein ke ane gitu tad. Kira-kira ada gak cara kita bisa tahu, maksud dari orang yang udah meninggal itu datang ke mimpi kita?" Tanya Arimbi yang juga duduk berhadapan dengan Ustadz Syam.
" Langsung aja ya Mbi, ane kasih tahu intinya. Lu baca dah sholawat tiap hari sebanyak 1000x. Insya Allah maksud dari nenek lu bakal lu dapat dari mimpi juga." Kata ustadz Syam.
" Oh iya Tad, Insyaallah ane praktek in." Kata Arimbi.
Dan keduanya kini pun pulang ke rumah masing-masing.
****
Arimbi begitu rajin membaca sholawat, hingga suatu malam dia kembali mendapatkan mimpi.
Kali ini mimpinya langsung bertemu sang nenek. Dan membisik kan sesuatu ke telinga Arimbi.
Kali ini Arimbi mencoba berkomunikasi dengan sang nenek. Dan ternyata benar amalan yang di berikan oleh ustadz Syam. Dia bisa berkomunikasi dengan sang nenek.
Nenek meminta Arimbi menuruni ilmu pijat, yang dimiliki keluarga nya sejak turun temurun.
Arimbi kembali bertanya kepada sang nenek. Bagaimana dia bisa mendapatkan pelajaran memijat, padahal itu bukan keahliannya.
Sang nenek pun memberi isyarat, kalau Arimbi harus mengikuti petunjuk pertama. Dia diminta menghafal bacaan yg udah pernah neneknya kasih. Kemudian dia berusaha menghafal, selama 2 bulan hingga hafal di luar kepala.
Arimbi mau tidak mau harus menyanggupi. Karena sang nenek selalu datang dalam mimpi, menyuruh nya menerima ilmu yang dia miliki.
****
Setiap malam Arimbi selalu melaksanakan sholat tahajud. Dan setiap malamnya juga dia selalu mendapatkan amalan yang harus dia hafal. Arimbi begitu giat menghafal, dia yang masih berjiwa muda masih penasaran.
Petunjuk ke dua, Arimbi disuruh sholat tahajjud sebanyak 7 kali. Waktunya setiap malam jum'at, sehabis sholat tahajjud dia tidak boleh tidur, selanjutnya membaca sholawat, dzikir, dan bacaan yang neneknya berikan. Dibaca berulang-ulang sampai adzan subuh berjamaah.
Arimbi mencoba menjalankan anjuran nenek dan sudah mendapatkan 5 malam jum'at. Begitu malam jum'at yg ke 6, Arimbi tidak sholat tahajjud, karena saat bangun sudah adzan subuh.
Arimbi berpikir masih bisa diganti malam jum'at berikutnya, ternyata disuruh mengulang lagi dari awal.
Akhirnya Arimbi mencoba memahami, dan baru mengerti jika 7 malam jum'at tidak boleh putus untuk melaksanakan sholat tahajud.
Malam jum'at pertama sampai malam jum'at ke 5, Arimbi berhasil menjalankan nya. Dan dia berusaha jangan sampai gagal lagi.
Tibalah malam jum'at ke 6, Arimbi hampir saja kesiangan bangun tengah malam. Saat itu Arimbi terbangun pada jam 3:45 pagi, sedangkan subuh jam 4:15.
Arimbi langsung secepatnya mengambil air wudhu, lalu melaksanakan sholat 2 rakaat. Selanjutnya dia membaca sholawat, dzikir, di tambah baca bacaan yang berasal dari neneknya.
Selang waktu 15 menit, adzan subuh berkumandang. Langsung Arimbi berangkat ke musholla dekat rumahnya.
Setelah menjalankan malam jum'at yg ke 6, banyak keanehan-keanehan yang Arimbi alami.
Di alam nyata atau pun di alam mimpi. Di alam nyata, Arimbi bisa membaca masa lalu orang lain, keinginan yg dipendam, baca hati dan pikiran orang lain, memberikan solusi buat orang lain. Layaknya seorang psikiater.
" Mak, Rimbi bingung sama semua mimpi aneh yang Rimbi alamin." Ucap Arimbi pada Titin yang sedang memasak.
" Lagian sih lu make belajar ilmu gituan, emak aja kagak mau." Kata Titin yang serius mengaduk nasi goreng di wajan.
" Abisnya nyai Imah datengin Rimbi mulu, nyuruh terusin ilmunya." Keluh Arimbi sambil menunggu Titin membuat nasi goreng untuk sarapan.
" Iya udah lu makan nih, abis ini sekolah." Kata Titin yang sudah menyiapkan sepiring nasi goreng ke hadapan Arimbi.
Pagi ini Arimbi berjalan ke sekolah seperti biasanya.
Dirinya sudah sampai di depan pintu kelas. Seketika pandangan nya tertuju pada salah seorang gadis, yang merupakan teman sekelasnya.
Segera Arimbi menghampiri gadis yang bernama Alya.
" Al, muka lu kok kayak lagi banyak masalah?" Tanya Arimbi yang memperhatikan raut wajah Alya.
" Ah sok tahu lu, kayak bisa nerawang aja." Cibir Alya sambil mengerucutkan bibirnya.
" Lu abis di putusin pacar lu ya?" Tebak Arimbi yang melihat ada aura negatif di sekitar Alya.
" Ih lu kok tahu?" Tanya Alya, sambil menopang dagunya di telapak tangan yang di taruh di atas meja.
" Keliatan aja dari raut muka lu." Tegas Arimbi.
" Eh tapi, gue gak pernah cerita ke siapapun kalo gue punya pacar." Kata Alya yang bingung.
" Iya gue tahu aja, tapi benerkan tebakan gue?" Tanya Arimbi memastikan.
" Iya juga sih, eh tapi pacar gue kenapa putusin gue?" Tanya Alya yang semakin penasaran.
" Karena dia uda jadian sama cewek lain." Jawab Arimbi.
" Ah gak mungkin, dia kan orang nya pendiam." Kata Alya tidak menyetujui pendapat Arimbi.
" Iya lu liat aja nanti pulang sekolah." Kata Arimbi yang menjanjikan tebakannya pada Alya.
" Tet, tet, tet..."
Bel sekolah terdengar, semua siswa berbaris rapi di depan kelas.
****
Usai pulang sekolah, Alya melihat sang pacar sedang berboncengan naik motor. Dan dia pun mencegat pacarnya yang sedang berboncengan.
" Stop, Ivan jadi lu mutusin gue karena cewek ini?" Emosi Alya sambil menghadang motor Ivan.
Ivan terlihat gugup, pasal nya dia baru hari ini jadian. Dan belum ada orang yang mengetahuinya.
" Ica, kamu bilang sama Alya kalau kita jadian?" Tanya Ivan sambil menoleh ke belakang.
" Enggak, " jawab Ica.
" Dasar buaya darat" umpat Alya pada Ivan, "Eh lu perebut pacar orang. Gue sumpahin lu bakal cepet di putusin, karena Ivan tuh diam-diam mata keranjang." Emosi Alya yang langsung pergi meninggalkan mereka.
" Kok Arimbi bisa tahu ya kalo Ivan udah punya cewek lagi?" Batin Alya bertanya-tanya.
" Sebaiknya besok aja nanya sama Arimbi." Kata Alya yang langsung bergegas pulang.
****
Arimbi sudah sampai di rumah, tak lupa dia menghafal lagi bacaan dari sang nenek.
Malam pun tiba usai mengerjakan tugas dari sekolah, Arimbi pun terlelap dalam tidur nya.
Selang beberapa jam, disaat semua penduduk bumi bagian Indonesia tertidur lelap, mimpi buruk mendatangi Arimbi.
Arimbi seolah-olah berada di suatu makam umum, dan semua yg ada didalam kuburan keluar. Tiba-tiba dia di kerumuni dengan sekumpulan pocong.
" Gua dimana nih?" Tanya Arimbi yang sedikit merinding bulu kuduk nya. Walaupun dia masih terjaga dalam tidur nya.
Arimbi mencoba membacakan beberapa ayat-ayat al qur'an yang dia hafal.
Arimbi melafalkan surat pendek, yaitu An nas, Alfalaq dan Al-Ikhlas.
" Bismillahirrahmanirrahim, qul..." Ucap Arimbi dengan mengakhiri dengan surat Al-Ikhlas.
Tetapi malah semakin banyak mahluk yang keluar dari dalam kuburan. Kemudian dia mendengar suara dari sang nenek.
" Rimbi...." Suara nenek memggema mengisi alam mimpi nya.
Nenek berkata untuk membaca sholawat sebanyak 3 kali.
Lalu Arimbi mencoba membacanya, sampai akhirnya terpentallah semua pocong-pocong.
Dan seketika suasana dimimpinya berubah, Arimbi seolah-olah berada di gurun pasir yg luas.
" Kok gua bisa ada di gurun ini?" Bingung Arimbi sambil membolak-balik kan kedua telapak tangan nya.
Dari kejauhan Arimbi melihat seorang kakek-kakek, berpakaian serba putih dan pakai imamah.
" Hey, kamu ke sini..." Teriak sang Kakek tua memanggil.
Arimbi disuruh menghampiri kakek tua itu, namun tidak bisa dia jangkau.
" Kek, aku gak bisa ke sana." Sahut Arimbi.
Akhirnya dia teringat dengan perkataan sang nenek, ketika melawan pocong-pocong tadi.
Arimbi mencoba membaca sholawat lagi, dan akhirnya bukan Arimbi yang menghampiri kakek tua itu, justru kakek itu yang tiba-tiba berada di hadapannya.
" Buka telapak tangan mu." Perintah sang kakek.
Arimbi di suruh membuka kedua telapak tangannya. Sesudah mengenggam tangannya, sang kakek tua pun hilang, " Shet...."
Setelah mendapatkan mimpi itu, Arimbi justru menjadi tidak bingung lagi.
Arimbi menerima semua ilmu pemberian sang nenek. Dari ilmu itu, Arimbi mulai bisa membantu orang lain. Dia bisa memberi solusi pada orang yang sedang kesulitan. Dan membaca pikiran orang lain.
" Mak, kenapa Rimbi jadi bisa baca pikiran orang yak?" Tanya Arimbi yang sedang duduk sambil menjaga warung ibunya.
" Persis kayak nyai Imah dulu, dia juga kayak elu. Pan gua di suruh nurunin ilmunya ama dia. Lah gua kagak mau, takut." Kata Titin yang bergidik ngeri dan bercerita tentang masa lalu ibunya.
" Terus kenapa nyai Imah milih Rimbi?" Tanya Arimbi.
" Mungkin darah lu sama kali sama nyai, gua gak tahu dah. Kalau emang lu uda bisa, emak harap lu jaga tuh ilmu buat nolongin orang." Pesan Titin, " Biar berkah." Sambungnya.
" Iya, Mak." Lalu Titin melanjutkan pekerjaannya, yaitu mencuci baju.
Dari mimpi itu banyak teman maupun tetangganya yang merasa terbantu.
Sampailah di tahap malam jumat yang ke 7. Arimbi berpikir sudah tidak ada mimpi yang aneh lagi saat sudah tidur.
Waktu menjalankan malam ke 7, Arimbi bangun lebih awal, jam 3:00 pagi dia sudah bangun. Lalu melaksanakan sholat tahajjud sebanyak 8 rakaat.
Selesai menyelesaikan sholat tahajud, dia mau mengawali dengan membaca sholawat, dzikir, dan juga bacaan dari sang nenek.
Baru akan memulai tiba-tiba badan Arimbi serasa ditiup angin, hawanya menjadi sangat dingin.
Dan badan Arimbi serasa melayang, kemudian dia berasa seperti dililit ular besar. Arimbi terus melawan dengan cara membaca sholawat, dan dzikir.
Akhirnya dia terlepas dr lilitan ular itu, dan badannya juga tidak merasa dingin seperti tadi. Dan badannya juga sudah tidak merasa melayang lagi.
Saat mendengar adzan subuh, Arimbi menyelesaikan membaca sholawat, dan dzikirnya dengan mata terpejam.
Saat Arimbi membuka kedua matanya, dia melihat ada sepasang kaki dihadapan nya memakai sepatu seperti sepatu kerajaan.
Namun hanya kaki saja yang terlihat, dan badannya sama kepalanya besar melebihi atap rumah.
Setelah dia mengucapkan istighfar, bayangan kaki dengan tubuh besar itu menghilang.
Mungkin itu adalah pertanda bahwa dirinya telah lulus menerima ilmu dari sang nenek.
Setelah Arimbi menjalani solat tahajud selama 7 malam jum'at, dia berpikir ujiannya telah selesai.
Ternyata sang nenek memberi tahu kalau dia harus membayar maharnya.
Dan mahar yang diajukan sang nenek adalah, membaca Al Qur'an sampai hatam 30 juz selama 1 bulan.
Kemudian Arimbi membacanya pada saat bulan Ramadhan. Setiap malam dia membaca sampai akhirnya menghatamkan Al-Qur'an.
Note: Guys, imamah itu semacam peci namun dia di lilit dengan kain. Biasa ada pada saat jaman wali dahulu.
Selesai Arimbi menjalankan semua perintah dari sang nenek, ada pesan terakhir darinya. Neneknya berkata, ilmu itu semua buat menolong orang, bukan buat cari uang. Kalau mau mencari uang harus bekerja yang giat. Setelah mimpi terakhir, sang nenek pun sudah tidak lagi kembali dalam mimpi Arimbi.
****
Sebulan sudah berlalu, di siang bolong ada seorang anak kecil yang jatuh dari pohon mangga.
" Aduh, mamak...." Tangisnya menggelegar, membuat orang sekampung pun ikut mendengarnya.
Kebetulan Arimbi baru saja pulang dari sekolah nya. Dan melihat anak laki-laki sedang meringis kesakitan.
" Eh Jaki kenapa lu?" Tanya Arimbi mendekati Jaki yang sedang menangis dan di temani dua orang temannya.
" Jatoh bang... Hiks, hiks..." Ucap Jaki meringis seraya memegang kakinya.
" Eh kita gendong Jaki ke rumah." Perintah Arimbi yang langsung menggendong Jaki.
Sesampainya, Arimbi meletakkan Jaki di kursi.
" Eh Tong, kenapa lu nangis?" Tanya mak Romlah yang merupakan ibunda Jaki.
" Jatoh mak... hiks, hiks..!!" Tangis Jaki semakin meraung.
" Eh anak laki gak boleh cengeng." Ledek Arimbi yang langsung memegang kaki Jaki.
" Eh bang, sakit..." Teriaknya.
Arimbi dengan lihai mengurut pergelangan kaki Jaki. Seraya membaca wasiat dari sang nenek.
" Mak....sakit....." Teriak Jaki sambil memegang Romlah.
" Eh lu cengeng amat, lagi di obatin juga." Bentak Romlah.
" Eh ngomong-ngomong, lu bisa ngurut Mbi?" Tanya Romlah meyakinkan.
" Insyaallah, Mpok. Aye lagi usahain, moga aja baek." Kata Arimbi.
Mereka memperhatikan cara Arimbi mengurut.
" Gimana? Uda enakan belom?" Tanya Arimbi.
" Eh udah Mak, kaki Jaki uda gak sakit lagi." Kata Jaki yang sudah menggerakkan kakinya.
" Et benar lu bisa ngurut?" Tanya Romlah meyakinkan.
" Tanya tuh anaknya, udah enakan belom?" Tegas Arimbi.
" Udah bang, kaki Jaki uda gak sakit lagi." Tegas Jaki.
" Oh sukur deh, Alhamdulillah kalo lu udah enakan." Kata Romlah.
" Eh tapi ngomong-ngomong, gua gak ada duiy Mbi buat ongkosin elu." Kata Romlah yang merupakan buruh cuci di kampung nya.
" Ya elah Mpok, ama tetangga. Lagian kan tadi aye kebetulan lewat." Kata Arimbi.
" Ya udah Mbi, makasih ya. Lain waktu gua ganti ongkos elu ya." Kata Romlah sambil tersenyum.
" Gak usah di pikirin Mpok, yang penting si Jaki uda baek." Kata Arimbi.
" Aye pamit ya Mpok!" Pamit Arimbi.
" Iya Mbi, makasih ya." Jawab Romlah.
Dan Arimbi pun pulang dengan perasaan bahagia, karena telah menolong orang.
Sejak kejadian itu Arimbi mulai mengobati orang yang keseleo tangannya. Lalu berita Arimbi bisa mengurut mulai menyebar dari mulut ke mulut.
Arimbi mulai mengurut badan, mengurut orang turun bero', dan ada juga yang konsultasi masalah jodoh, rumah tangga.
****
Kemudian ada tetangga Arimbi, yang mempunyai anak gadis yang umurnya beda 3 tahun dengan Arimbi. Saat ini usia Arimbi 23 tahun, dan anak gadis itu berumur 20 tahun.
Ibunya meminta tolong pada Arimbi, untuk mencari tahu tentang kebohongan yang dilakukan oleh anaknya.
Anaknya bilang hari ini akan berangkat kuliah. Namun saat ibunya bertanya pada teman satu kuliahnya, katanya hari ini sedang libur kuliah.
Ketika pulang kuliah, sang gadis membuat alasan yang membuat ibunya memercayai nya.
" Rimbi, " panggil Yanti yang sedang berdiri di depan pintu.
" Iya Mpok!" Jawab Arimbi, lalu dia menghampiri Yanti.
Arimbi baru saja pulang dari kantor tempat dia bekerja.
Arimbi pun diajak berbicara oleh Yanti, " Mbi, gua bisa minta tolong gak?" Tanya Yanti.
" Tolong apa Mpok?" Tanya Arimbi.
" Sini duduk." Kata Yanti yang mempersilakan Arimbi duduk di kursi bambu.
" Iya Mpok." Kata Arimbi yang langsung duduk.
" Gini Mbi, si Indri tuh bohong mulu ama gua. Gua minta tolong dah sama elu, liatin Indri kok sikapnya makin berubah." Kata Yanti yang melihat keanehan pada sikap Indri yang selalu berbohong.
" Oh tar Aye liatin, tapi gak sekarang. Nunggu tujuh hari ya, nanti aye kabarin." Kata Arimbi.
" Mpok, bisa minta nama anak sekalian tanggal lahirnya, sekalian hari lahirnya?" Tanya Arimbi.
" Bentar, gue ambil kertas dulu." Kata Yanti yang langsung mengambil kertas dan pulpen.
" Nih Mbi.." kata Yanti seraya menyerahkan secarik kertas.
" Iya udah Mpok, aye pamit pulang ya." Kata Arimbi.
" Iya udah Mbi, tolong gua ya.." ucap Yanti penuh permohonan.
" Insya Allah." Jawab Arimbi. Dan Arimbi pulang kerumahnya.
Proses berjalan baru berjalan 3 hari, Arimbi langsung mendapatkan petunjuk.
Arimbi mendapatkan gambaran Indri sedang dekat dengan seorang pemuda. Arimbi langsung memberikan informasi ke Yanti.
Pada sore hari, sesudah pulang kerja Arimbi mampir ke rumah Yanti.
" Assalamualaikum." sapa Arimbi memberikan salam.
" Wa'alaikum salam." sahut Yanti dari dalam rumah, lalu dia keluar menghampiri Arimbi.
" Mpok, semalam aye dapat mimpi. Si Indri lagi dekat sama cowok. Terus tuh cowok sering ngajak dia bolos kuliah." lapor Arimbi.
" Ya ampun, Indri kebangetan banget dah udah bohongin gua." geram Yanti.
" Ya udah Mpok, tar di tanya baek-baek." saran Arimbi.
" Iya dah Mbi, makasih ya." kata Yanti, " Mbi nih ada dikit buat lu." kata Yanti yang menyodorkan amplop putih kepada Arimbi.
" Eh apaan nih Mpok, aye jadi gak enak." kata Arimbi yang ingin menolak.
" Ya elah Mbi, ini buat syarat aja karena lu udah bantu gua." kata Yanti yang kembali menyodorkan amplop.
" Aye terima ya, " kata Arimbi yang menerima amplop dari Yanti.
" Makasih ya Mbi." kata Yanti.
Lalu Arimbi pamit pulang ke rumah.
Akhirnya begitu anaknya pulang langsung di interogasi oleh Yanti.
" Indri, sini ibu mau ngomong sama kamu." kata Yanti.
" Kenapa bu?" tanya Indri dengan nada ketus.
" Kamu sering bolos kuliah gara-gara cowok ya?" tanya Yanti langsung pada intinya.
" E-enggak.." gugup Indri.
" Alah jangan bohong kamu, Ibu uda tahu semuanya. Kamu tahu gak Dri, kalau ibu tuh capek nyari duit buat kamu sekolah. Eh, kamu malah bolos kuliah. Mending kamu minta kawinin aja ama tuh laki." gertak Yanti.
" Maafin Indri bu, " Kata Indri sambil menangis.
Akhirnya dia mengakui semua kebohongannya.
" Besok kamu bawa cowok itu ke rumah, ibu mau kenal." desak Yanti.
" Baik bu." kata Indri dengan raut wajah takut.
Keesokan paginya Yanti langsung mengabarkan kalau, pemuda yang dekat dengan anaknya akan datang. Arimbi di minta tolong untuk menemani sekaligus mencari tahu tentang latar belakang nya.
Keesokan malam, pemuda yang merupakan pacarnya Indri benar-benar datang.Yanti langsung menghampiri Arimbi di rumahnya.
" Rimbi, tolong gua bentar." kata Yanti dengan tergesa-gesa.
Kemudian Arimbi ikut dengan Yanti menuju rumah nya.
" Bang Rimbi?" Indri begitu terkejut melihat keberadaan Arimbi.
Indri begitu sinis melihat Arimbi yang sudah duduk di hadapan mereka.
Setelah 15 menit bertanya-tanya, akhirnya Arimbi pamit pulang karena ada panggilan mengurut.
***
Keesokan harinya Indri ketemu dengan Arimbi, saat mau berangkat kuliah. Indri langsung bertanya pada Arimbi.
" Bang, ibu udah ngomong apa aja ama lu soal gua?" tanya Indri dengan wajah sinis.
" Ibu lu cuma nanya soal lu yang uda berubah akhir-akhir ini. Kata dia lu sering bohong soal kuliah, dan kalau pulang malam banget." kata Arimbi menjawab dengan singkat.
" Maaf ya bang, gua harap lu jangan ikut campur urusan keluarga gua apalagi urusan pribadi gua." ketus Indri.
" Eh gua mah gak kepo ama urusan lu, semua itu karena ibu lu yang minta tolong ke gua. Masa iya orang minta tolong gak gua tolongin." jawab Arimbi.
" Iya kalau lu gak suka, gua gak akan ikut campur lagi." kata Arimbi yang langsung meninggalkan Indri.
Sejak saat itu Arimbi jadi enggan untuk ikut campur masalah orang lain. Dia hanya fokus pada pengobatan nya yaitu mengurut.
****
Suatu hari, Indri sedang duduk di rumahnya. di ruang tamu sambil menonton televisi.
. Pintu rumahnya terbuka, sehingga jika ada orang melintas sangat jelas terlihat.
Kebetulan Arimbi lewat di depan ruamh Indri karena dia mau mengurut orang keseleo.
Saat Arimbi lewat, Indri melihatnya kemudian menegurnya.
" Mau kemana bang?" Sapa Indri.
" Biasa mau ngurut." Jawab Arimbi singkat.
" Bang, Indri minta maaf atas sikap indri yang waktu itu, Indri lagi emosi dan juga ngomongnya gak ke kontrol." Pengakuan Indri.
" Iya gua udah maafin.Justru gua yang mau minta maaf, karena udah lancang cari tau tentang urusan pribaadi lu. " Ucap Arimbi.
" Abang gak salah, kan ibu Indri yang minta tolong ke abang. "
" Gua udah ditungguin orang mau ngurut, ntar lanjut lg ngobrolnya. " Potong Arimbi yang memang sedang terburu-buru.
" Yah bang, sebenernya Indri mau cerita banyak ke abang. " Jawab Indri dengan wajah lesu.
" Iya udah nanti aja gue pulang ngurut. " Kata Arimbi.
" Bener yaa.. bang, Indri tungguin. " Pinta Indri penuh pengharapan.
" Iya, tar gue abis ngurut langsung balik lagi kesini." Kata Arimbi yang langsung meninggalkan Indri.