Seruan Azan terdengar ke seluruh penjuru. Panggilan umat Islam untuk beribadah dan mengingat siapa pemberi hidup pada mereka terdengar sangat jelas.
Ada sebagian yang lupa atau sengaja melupakan. Ada pula yang sibuk menyingsingkan lengan baju dan celana bersegera menyucikan diri.
Lalu Rena, termasuk ke manakah ia sekarang?
Ia yang sengaja melupakan, atau ia benar-benar lupa siapa dia dan pencipta-Nya?
Rena menjalani kerasnya hidup tertatih sendiri. Demi menghidupi dua adiknya, ia merelakan terjun ke dunia hitam, melakukan dosa yang mungkin tak terhitung.
Hingga bertahun-tahun ia berjalan di jalan kelam.
Melupakan akan hakikat hidup sesungguhnya.
Langkah-langkah kaki yang memasuki gerbang membuat hatinya bagai tertusuk sembilu. Tubuhnya bergetar hebat. Dadanya begitu sesak. Pipinya terasa hangat akan peluh air mata yang mulai mengalir deras. Ada rasa malu dan bahagia bersama langkah-langkah yang memburu ke arah pintu masjid.
Sangat malu karena tak pernah menginjakkan kakinya di sana. Bahagia melihat ketentraman dan kekuasaan Tuhan yang membawa umatnya bersatu dalam kedamaian.
Tuhan menggiring langkahnya menghampiri rumah suci. Ia terhenti di sudut pagar. Menyadari dirinya begitu kotor. Tubuhnya terumbar dinikmati khalayak ramai.
Pantaskah ia bertandang?
Pantaskah ia memohon maaf?
Air matanya terus saja berderai. Menangisi dirinya yang begitu menjijikkan hidup dalam kubangan hitam.
Rena bergeming. Menyelami ke dalam alam bawah sadarnya.
Bertanya-tanya dalam hati.
Apakah Tuhan menerimanya kembali?
Siapa yang sedia menuntunnya tanpa pamrih?
Adakah malaikat tanpa sayap untuknya nanti?
Diletakkannya tas hitam kecil di atas tanah. Terduduk tiada daya. Ia lelah namun enggan berputus asa. Ditariknya jaket hingga menutupi seluruh tubuh bagian atas. Dari kejauhan berjalan seorang wanita mendekatinya.
"Nak, ada yang bisa Saya bantu?" sapa wanita berhijab dengan sajadah dan mukenah di tangannya.
Rena tersentak kaget. Ditengadahkan kepalanya ke atas. Berdiri seorang wanita paruh baya. Wajahnya begitu teduh. Ada sebuah kehangatan sebagai sosok ibu di dalamnya.
"Ah, Saya ..." ucapan Rena terputus. Ragu mengutarakan tujuannya dengan keadaan yang seperti itu.
Sejenak Rena diam. Lalu berkata "Saya rindu pada rumah suci ini, Bu," jawabnya.
Senyuman lembut melengkung di sudut bibir wanita itu. Dilihatnya Rena dari atas ke bawah. Dari pakaiannya memang miris. Dress sebatas lutut lalu atasnya yang pasti terbuka bila jaket itu dilepaskan.
Auratnya terumbar sangat jelas.
"Maaf ya, Nak, apa kamu benar-benar Islam?" tanyanya dengan hati-hati.
Rena hanya mengangguk. Tanpa berani menatap wanita yang sedang menatapnya lekat-lekat.
Ada rasa bangga di wajah wanita itu mendapati anggukan Rena.
"Niatmu sangat baik, Nak, jangan kamu putuskan niat itu," katanya menasihati.
Rena lagi-lagi diam. Ada rasa kebimbangan di sana. Tersirat sangat jelas.
"Tapi, Ibu lihat sendiri keadaan saya seperti ini," ucapannya mengalir seperti air. Tiada sungkan ia bertutur apa dirinya.
Ditepuknya pundak Rena. "Jangan takut, Allah Maha Pengampun. Dia tahu siapa umatnya beserta isi hatinya. Pulanglah, lalu ceritakan keluh kesahmu pada-Nya, mohon ampun," Wanita itu pergi begitu saja tanpa mengindahkan terima kasih Rena.
Rena bergegas mengambil tas mengejar langkah wanita itu. Hingga diujung pagar tak ia dapati keberadaannya.
"Kemanakah wanita tadi menghilang?" batinnya.
Segera ia beranjak pergi menghalau pertanyaan siapa sosok peneduh hatinya barusan.
Nyatanya ia lebih lega kali ini. Wanita itu membuka pikirannya. Memberi kekuatan tersendiri. Tak sabar ia ingin cepat sampai di rumah. Melupakan gemerlapnya dunia malam yang berhasil menjarah hidupnya.
#####
Rena kini di atas sajadah. Bersama mukenah yang menutupi seluruh tubuh. Ada kedamaian tersendiri baginya. Sesuatu yang ia lupakan puluhan tahun lalu. Terselip doa yang ia panjatkan bagi keistiqomahan hatinya kini. Ia benar-benar ingin meninggalkan dunianya dulu. Berpasrah pada-Nya bahwa rejeki, hidup dan mati adalah milik-Nya.
Dilihat kedua adiknya tertidur di bilik kamar yang begitu sempit. Rumah kontrakan kecil yang sanggup mereka sewa. Tidak muluk-muluk, hanya berteduh dari panas dan hujan. Itu saja mereka sudah bersyukur.
Satu dari mereka sudah bekerja di tempat yang layak. Sedang satunya lagi masih remaja. Keduanya laki-laki.
Rena berhasil menyekolahkan adik pertamanya. sekadar ijazah SMA, ia sudah bisa mendapat pekerjaan. Walau hanya buruh pabrik biasa.
Bebannya berkurang satu. tersisa si Bungsu yang masih duduk di bangku SMP. Setahun lagi ia lulus sekolah.
Ia mendidik mereka dengan tempaan yang keras. Agar mereka kuat dalam menghadapi kerasnya hidup. Tidak dengan kekerasan namun dengan kasih sayang. Menjadikan mereka pribadi yang baik, meski hidup di tengah keadaan yang tidak baik. Ia tak ingin mereka meneruskan langkahnya.
Rena berlalu setelah memastikan pintu-pintu terkunci rapat. Mengambil posisi tidur mengistirahatkan tubuh yang lelah. Berharap esok ada celah baru dalam rejeki yang penuh berkah.
#####
Rena benar-benar menguatkan hatinya. Pagi ini ia memulai dengan doa kembali. Begitu menyesalnya ia tidak mengindahkan ucapan ibunya dulu. Ibu yang selalu mengingatkan nilai-nilai agama. Tetapi ia berharap, Tuhan meniadakan kata terlambat memberi ampunan padanya.
Ia bersiap-siap mencari pekerjaan baru hari ini. Setelah urusan rumah selesai, ia membersihkan diri lalu bergegas mencari ladang usaha baru.
"Mbak, mau ke mana?" tanya Bagus adiknya yang pertama.
"Cari kerja baru, Dek," jawab Rena singkat.
Bagus mengernyitkan dahi. Menatap mbaknya dari atas sampai bawah. Parasnya makin ayu dibalut pakaian panjang menutup seluruh tubuh.
"Mbak ... ini Mbak Rena ya,?" tanya Bagus keheranan. Memastikan bahwa penglihatannya benar.
Senyum mengembang di sudut bibirnya.
"Ya benar, Gus.. kalo bukan Mbak siapa lagi, udah ya, Mbak mau cari kerja dulu," ucap Rena lalu bergegas pergi meninggalkan Bagus yang masih terbengong.
"Andai tempatku bekerja ada perempuannya, Mbak Rena tak perlu sibuk mencari kerja," batin Bagus.
#####
Rena berjalan ke sana kemari. Mencari pekerjaan setidaknya bantu-bantu toko di pasar. Panas matahari menyengat kulitnya. Dari pagi hingga menjelang siang belum mendapatkan hasil. Ditepisnya rasa lelah dan putus asa.
Ini toko kesekian yang ia datangi. Didapati sebuah toko kain yang lumayan besar di sudut pasar tradisional.
Ia menanyakan perihal kekurangan karyawan. Beruntungnya ia bertemu langsung pada ibu pemilik usaha tersebut.
Setelah berbincang-bincang, Rena diterima di toko kain itu. Tak lupa ia mengucap syukur dan terima kasih lewat beliau ia dapat mengais rejeki kembali. Ia diajarkan jenis-jenis kain dan sistem penjualannya.
Tiba waktu makan siang Rena izin untuk membeli makanan. Menuju lapak-lapak yang menjual makanan siap saji namun murah meriah. Di tengah perjalanan, ia bertemu anak buah bos yang dulu mempekerjakannya. Meski dengan menutupi sebagian wajahnya, mereka tetap mengenali. Rena bergegas lari mencari tempat perlindungan.
Tepat di persimpangan jalan, terdapat masjid besar. Langsung ia memburu ke sana. Masuk ke dalam kamar mandi wanita.
Di tunggunya bodyguard bosnya itu pergi. Setelah memastikan mereka pergi, ia mengambil air wudu untuk salat.
Rena salat bersama jamaah lain. Masjid besar nan megah dengan jamaahnya yang banyak pula.
Di akhir sujudnya, Rena bergeming. Masih tetap sujud yang seharusnya telah duduk mengakhiri salam. Jamaah di sebelahnya menyadari, memanggil Rena yang tidak ada jawaban. Dibangunkan Rena dari sujud, tiada nadi yang berdenyut lagi, napasnya pun tiada berembus. Jamaah berbondong mendekati posisi Rena berada. Sang imam kembali memeriksa. Masih dengan tanda yang sama. Rena telah tiada.
Di penghujung hidupnya ia masih sempat untuk bersujud. Merasakan nikmat yang selama ini ia dustakan. Nikmat damainya hidup kala berjalan di jalan yang benar. Sungguh Tuhan memberi anugerah yang tiada tara. Kepada siapapun tidak akan mengetahui, kapan waktunya akan kembali.