Suasana RS Imanuel semakin riuh tatkala mobil ambulan datang membawa korban kecelakaan maut di jalan lintas sumatra pagi ini, 7 orang luka parah dan 1 orang meninggal di tempat.
" Ambulan datang ayo cepat bawa pasien kritis ke ruang UGD!!."
Para perawat bergegas membawa 7 pasien yang menderita luka parah. Sementara mobil ambulan terakhir datang membawa 1 korban tewas.
jenazahpun di bawa ke kamar mayat sambil menunggu keluarganya datang, kain jenazah di buka, terlihat raut wajah para perawat menegang, lalu berubah sendu ketika mereka melihat jenazah itu masih menggenggam sesuatu di tangannya.
" Ini Cincin!!."
Salah satu perawat terkejut, pasalnya wajah mayat itu hancur penuh darah, tapi masih menggenggam kotak beludru yang berisi cincin.
" Dia pengantin Mo, dia tewas pas mau ijab kabul!!."
Ucap salah satu perawat yang lainnya, Bimo yang membuka kepalan tangan si jenazahpun terhenyak, tangannya gemetar. Di masukannya lagi cincin itu di kotak beludru merah lalu di letakkannya di meja kecil di sudut ruangan.
" Sudahlah Yas, kita bersihkan saja mayatnya dulu, nanti baru kita kembalikan cincin itu ke pihak keluarganya."
Adiyas sang perawatpun menganggukan kepalanya lalu fokus membersihkan darah di wajah dan tubuh mayat itu.
.
.
Mobil hitam tiba di halaman RS Imanuel, pintu mobil terbuka kasar, membuat heboh lobi Rumah Sakit, pasalnya ada gadis yang berpakaian pengantin keluar dengan tergesa, tak lupa raut wajah yang tak enak di pandangpun menjadi perhatian para pasien dan kerabat di sana.
"Aisyah Aisyah sudah tenang."
Sang Ibupun langsung memeluk putrinya yang terguncang itu. Bibi Angga berlari tergesa menghampiri keluarga Aisyah di lobi.
" Bu Murni, Ayo kita duduk dulu."
Ucap Bibinya Angga, ada juga paman dan kerabat yang lain ikut menghampiri mereka.
" Bagaimana keadaan Angga Bi? Angga selamat kan? gak ada korban jiwa kan?."
Ucap Aisyah panik. Bibipun tak bisa menjawab pasalnya korban tewas hanya satu yaitu Angga sendiri. Lalu dalam diam Bibi memeluk Aisyah dengan erat
" Maafkan Bibi Aisyah, Korban tewas hanya satu."
Aisyah melepas paksa pelukan Bibi.
" Siapa Bi... !! siapa..?? Angga di ruang mana? itu pasti bukan Angga kan?."
Ucap Aisyah panik.
" Itu Angga Aisyah....."
Bibi tak kuasa menahan tangisnya, keluarga yang lainpun menitikan airmata, Aisyah syok, jantungnya serasa berhenti, Air mata lolos begitu saja di wajah cantiknya.
"Angga sekarang berada di kamar mayat Aisyah.."
Ucap Bibi sambil menangis pilu.
"Di sebelah mana kamar mayat Bi."
Ucap Aisyah datar.
"Di ujung koeidor ini. Aisyaaahhhh ."
"Aisyahhh..!!!"
Sebelum bibi selesai bicara, Aisyah sudah berlari sambil mengangkat rok batiknya, ia terus berlari dan mengabaikan pandangan para pasien dan perawat Rumah Sakit. Ibu, Bibi dan yang lainnyapun menyusul Aisyah dengan panik.
"Angga."
Ucap Aisyah pelan ketika ia sudah di depan pintu kamar mayat. Air mata tak berhenti menetes.
"Kreeeek."
Dengan perlahan tangan putihnya membuka pintu ruangan tersebut. keluarga Aisyahpun berhenti di blakang gadis itu.
"Angga."
Ucap Aisyah lagi seakan memanggil Angga seperti biasa, terlihat para perawat baru selesai membersihkan tubuh Angga, kain putih menutupi sekujur tubuh kaku itu.
"Angga bangun."
Tangan Aisyah pun mengguncang guncangkan tubuh dingin itu, Bimo dan Adiyaspun menatap pengantin cantik itu sendu. Di guncangnya lagi tubuh itu agak kuat.
"Angga bangun, jangan tidur lagi, nanti aku gigit hidungmu."
Aisyah berucap jenaka, seakan Angga hanya tertidur seperti biasa, dengan gemetar tanga putih itu membuka kain penutup di wajah Angga.
"ANGGAAAAAA."
Tangisnya pecah ketika melihat wajah manis Angga sudah hancur, mata terpejam dan hidung sudah tak berbentuk, benar benar hancur.
Para keluarga yang melihatnyapun mundur dan syok, bahkan ada yang berlari keluar, itu sungguh menyedihkan,
"ANGGAAAA ANGGA BANGUN!! KAMU SUDAH JANJI AKAN MENIKAH DENGAKU HARI INI!!! ANGGAAAAAA."
Aisyah menjerit putus asa, Lalu di peluknya erat tubuh dingin itu. hatinya hancur, pengantinnya, imamnya yang harusnya sedang tersenyum di sampingnya pergi begitu saja.
.
meninggalkannya
.
.
Pemakaman berjalan lancar hari itu, tepat tanggal 03 Februari 2020 tanggal itu terpajang di nisan Alm. Angga di TPU Campang Raya Bandar Lampung. Para peziarah pun sudah mulai meninggalkan pemakaman.
"Aisyah ayo kita pulang, Angga pasti gak suka lihat kamu sedih begini."
Ucap Ibu Marni sambil membelai pundak putrinya.
" Bu tapi Aisyah gak mau ninggalan Angga sendirian di sini."
Air mata masih setia menetes dari mata hitamnya. sambil memeluk erat nisan Angga, Aisyahpun menatap ibunya dengan lirih.
"Aisyah sudah mau hujan, kita pulang ya, nanti kita kirim do'a dari rumah buat Angga."
Ucap sang ibu sambil menarik pelan tangan anaknya.
'Jangan bersedih lagi anakku.'
Batin Bu marni sambil memeluk erat tubuh gemetar anaknya.
.
.
02 Februari 2021
Bunga mawar merah tumbuh subur di atas pusara Angga, Air mengucur dari botol bening yang di genggam erat oleh gadis cantik yang sedang tersenyum ini.
" Sudah satu tahun semenjak kamu pergi Angga.."
Senyum manis yang lirih masih terpatri di bibir pink Aisyah.
" Angga kamu tau besok hari keberangkatanku ke Korea, aku akan membawa hatiku ke sana."
Belaian lembut terus tersapu di batu nisan kusam itu.
" Angga di sana temani aku ya, do'akan aku, agar aku bisa trus membawamu bersamaku. Aku mencintaimu Angga."
Dan setelah mengucapkan itu, Aisyah pergi dengan tetesan airmatanya, tanpa Aisyah sadari mawar merahnya..
.
Layu
.
.
03 Februari 2021
Aisyah memandang birunya langit dan awan yang terbang bagaikan gula kapas yang empuk, tangannya masih setia menggenggam liontin berbentuk hati yang menggantung di dadanya.
Perlahan mata sendu itu terpejam, sebentar lagi ia akan menjejakan kakinya di Korea Selatan
' Angga tau gak sebelum kita serius tadinya aku mau ke korea tau.'
' Heleh mau ngapain kamu di sana.?'
' Mau ketemu artis K Pop lah V Btsss '
' Yasudah pergi aja sekarang.!'
' Hii marah ya.. cemburu yaa... gak mau pergi ni kalo sekarang'
' Kenapa?'
' Kan artis K Popnya dah di sini, ni ni orang nya nii.'
' Ih apaan si kamu, nakal ya.. Awas kamu Aisyah.'
.
Mata itu terbuka dengan setitik airmata yang jatuh.
" Sekarang aku gak ada tujuan lagi Angga, kalau bukan karna keluargaku yang memaksa, aku akan pergi bersamamu saja."
Ucap Aisyah sendu sambil menggenggam kalungnya..
"Aku rindu kamu Angga."
.
.
.
TBC