Aku berdiri menatap brangkar rumah sakit yang entah sejak kapan menjadi favoritku. Bukan brangkarnya, melainkan orang yang berada disana yang menjadi alasan brangkar rumah sakit terlihat lebih menarik.
Sampai kapan kamu tidur? batinku.
Pria yang terbaring disana adalah Cakrawala Baswara. Pria itu harusnya menjadi suamiku minggu depan. Harusnya dia bersamaku saat ini untuk memilih baju pernikahan kita nanti, bukannya terbaring lemah di rumah sakit.
"Aeera, ayo nak pulang dulu." Bunda berkali-kali memintaku pulang untuk istirahat tapi aku tidak bisa. Aku ingin bersamanya, bersama pria itu.
Aku menatap wajah bundanya Cakra. Sama sepertiku, dia sudah kehilangan harapan untuk kesembuhan Cakra. Kulihat ayah Cakra juga sama. Mereka lelah menunggu 2 bulan tapi Cakra tak kunjung bangun.
Berapa lama lagi?
"Pulang ya, Mas anter." Mas Rama, kakaknya Cakra itu kini menuntunku untuk pulang.
Apa boleh buat, disini juga tidak ada yang bisa kulakukan.
Aku akhirnya memilih pulang, tidak diantar Mas Rama melainkan naik taksi sendirian. Butuh 35 menit bagiku untuk sampai di rumah. Disana kulihat kedua orang tuaku menatap gerak gerikku sejak turun dari taksi.
Mama kemudian memelukku. Dia tahu aku butuh pelukan ini sesaat. Dia bahkan mencium dan mengelus rambut panjangku.
"Sabar ya, sayang." ujar Papaku ikut menenangkan.
"Mandi dulu ya habis itu makan, mama siapin makanannya."
Aku mengangguk dan segera naik ke kamarku. Langkahku masih sangat tidak bersemangat, seolah tanpa Cakra hidupku tidak sempurna. Sesampainya di kamar, kulihat fotoku dan Cakra terpajang disana.
Senyumnya.
Senyum kami.
Aku merindukan senyuman itu.
Butuh beberapa menit bagiku untuk mandi, setelah berganti baju aku mencari cari keberadaan ponselku. Seharian ini aku tidak memeriksa ponselku.
Ada pesan dari Mas Rama.
Cakra sadar.
Dua kata itu membuatku membeku. Lidahku kelu, tanpa sadar kedua mataku mulai mengalirkan bulir bening.
Terima kasih Tuhan.
Buru-buru aku lari keluar rumah, sahutan kedua orang tuaku pun tak kuhiraukan. Aku harus cepat tiba di rumah sakit.
Mulutku tak berhenti merapalkan doa dan banyak terima kasih kepada Tuhan. Aku senang bukan main, sungguh aku telah menunggu momen ini untuk waktu yang lama.
Ketika aku sampai, orang-orang disana mulai menatapku. Aku berjalan ke arah pintu bercat putih itu. Aku membukanya perlahan dan kulihat seorang pria yang semula terbaring lemah telah menampilkan senyumnya untukku. Alat-alat ditubuhnya sudah tidak sebanyak sebelumnya.
"Ra..." ucapnya lemah.
Aku mengangguk sambil menangis. Tanganku tergerak menggapai tangannya lalu menggenggamnya. Aku merindukan genggaman ini.
"Kenapa sayang?"
"Aku...kangen...kamu." nadanya terdengar sangat lemah, suaranya parau, tapi priaku ini berhasil menyelesaikannya.
"Aku juga, aku kagen banget sama kamu."
"Peluk aku."
Aku terkejut. Satu detik berikutnya aku tersenyum kecil dan menuruti permintaannya.
Aku juga sangat merindukan pelukan ini.
Momen saat kita berdua adalah momen yang paling kurindukan. Seperti saat ini, aku menyuapi makanannya.
"Aku gak suka." tolaknya padaku.
Aku menghela nafas pelan. "Makan sedikit aja biar gak sakit."
"Gak ada rasanya."
Namanya juga orang baru sadar dari koma kok mau makan enak. Masa iya susternya langsung kasih makan nasi goreng.
"Tiga sendok aja oke? demi aku."
Dia pasrah kali ini. Aku menahan tawa melihat wajahnya yang berusaha tidak memuntahkan bubur itu. Dia sangat membencinya tapi berusaha menelannya.
"Udah sayang."
Aku mengangguk dan meletakkannya di nakas. Tanganku meraih handuk kecil basah dan kugunakan untuk mengelap wajahnya.
Sangat tampan.
"Sini, kamu duduk sini."
Dia memintaku naik ke atas tempat tidurnya. Aku mengangguk dan segera melakukan permintaannya. Bergabung dalam selimut tebal miliknya dan ikut berbaring bersamanya.
Malam ini kuhabiskan berdua bersama pria yang sangat kucintai.
"Lama ya kita gak begini?" ujarnya tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit kamar.
"Mulai sekarang kita bisa begini terus,"
Dia menoleh ke arahku. "Kali ini gak terlalu lama kan?"
Aku tidak mengerti maksudnya. Matanya menatap kedua mataku dalam. Aku terhipnotis oleh tatapannya beberapa saat.
"Kamu pernah nunggu aku selama 5 tahun kan?"
Otakku kembali mengingat kejadian 2 tahun lalu dimana Cakra membuka matanya setelah hampir 5 tahun terbaring lemah di rumah sakit. Kala itu aku tidak sekuat sekarang, aku masih sering menangis dan ikut menyiksa diriku.
"Aku gak mau ngerasain itu lagi."
Sakit rasanya, hari hari yang kulewati saat itu terasa menyakitkan. Hidupku bahkan kehilangan arah.
"Ra.."
"..."
Aku tidak menjawab panggilannya sampai akhirnya dia memutar tubuhku menghadapnya.
"Aku mau kamu siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi nanti." ujarnya.
Apalagi maksudnya kali ini.
"Kemungkinan apa?"
"Aku tidur dan gak akan bangun lagi."
Apa-apaan ini. Secara tiba-tiba dia mengatakan hal ini padaku. Aku terbangun tapi masih berada di atas tempat tidur.
"Maksud kamu apasih ngomong begitu?"
Aku beranjak dari tempat tidur dan meninggalkannya mematung di posisinya. Hal buruk jika kami masih tetap bersama dan melanjutkan pembicaraan ini. Aku berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang cukup sepi. Hanya ada beberapa perawat yang berlalu lalang.
Aku memghela nafas.
Memikirkan sekali lagi ucapan Cakra.
Apa dia memang berniat gak bangun lagi?
Dadaku terasa sesak sesaat sampai seseorang menegurku.
Dokter Arsya, salah satu dokter yang menangani Cakra.
"Kenapa disini?"
Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Pria bermata sipit itu juga ikut tersenyum.
"Cari angin, Dok."
Bohong. Aku kesini karena lagi menghindar dari Cakra.
"Boleh kita berbicara sebentar?" Dia bertanya dengan sopan, rasanya aku terlalu tidak enak untuk menolak permintaannya. Aku mengangguk dan kami berjalan bersama ke arah kantin rumah sakit.
"Saya kenal Cakra sudah hampir sepuluh tahun, selama waktu itu saya gak pernah menemukan pasien sekuat Cakra.." dia menggantungkan ucapannya. "Dia bangun hari ini gak menandakan dia akan sembuh total, penyakit ini akan selamanya ada di tubuhnya. Saya ngerti kamu sulit menerima hal ini..Tapi saya mau kamu tahu setiap kali Cakra bangun dari tidur panjangnya, tubuhnya selalu sakit."
Aku mendengarkan dengan seksama ucapannya, tidak memotong sedikitpun.
"Hidupnya bergantung sama alat-alat itu, tanpa alat itu dia akan kesulitan hidup. Sayangnya, alat itu menyakiti tubuhnya bahkan bernafas dengan alat itu saja sangat menyakitkan." jelasnya lagi. Sesakit itukah? "Dia bertahan sejauh ini menurut saya dan tim medis adalah suatu keajaiban, saya yakin dia punya alasan untuk bertahan sampai detik ini."
"..Saya kira itu kamu."
Aku yang semula menunduk mulai mendongak.
"Kamu adalah alasannya."
Dadaku semakin sesak menahan tangis. Apa aku egois? batinku menjerit.
"Ke depannya akan selalu ada kemungkinan buruk yang terjadi, apapun itu kehendak Tuhan. Tapi saya berharap yang terbaik untuk Cakra, saya kira kamu juga."
"...."
"Saya mau kamu mempersiapkan hati dan pikiran kamu saat kemungkinan terburuknya terjadi."
Aku masih bungkam.
"Ketika dia bertahan untuk kamu, saya harap kamu jangan nyerah sama dia. Kamu adalah alasan satu-satunya dia bisa bertahan selama ini."
"Boleh saya minta satu hal?"
Aku mendongak lagi, menatap wajah Dokter Arsya yang semula penuh senyuman kini berubah menjadi serius.
Aku mengangguk pelan.
"Seandainya kondisi Cakra kritis lagi, tolong kamu katakan kalau kamu ingin alat-alat itu dicabut dari tubuhnya ke saya."
Duarrr.
Perkataan Dokter Arsya menamparku dengan keras. Bagaimana mungkin? Apa aku bisa? Kenapa aku harus melakukannya?
"T-tapi Dok.."
"Saya gak sanggup melihat tubuhnya semakin terluka karena alat-alat yang membantunya hidup. Selamanya dia akan bergantung pada alat itu."
Tubuhku lemas, aku ingin pergi dari sini saat itu juga. Perkataan Dokter Arsya akan semakin membuatku bingung dan merasa bersalah.
Dokter Arsya berdiri. "Saya harap kamu memikirkan perkataan saya, ya."
Pikiranku kini telah terbagi dua, memikirkan tentang perkataan Dokter Arsya dan kondisi Cakra. Sepertinya aku tidak bisa melakukannya, aku tidak akan pernah sanggup. Aku memasuki kamar dan mendapati Cakra yang belum tidur, sepertinya dia menungguku.
Aku segera mengambil selimut dan tidur di sofa panjang yang tersedia disana. Akan sulit jika aku harus tidur dengannya sementara beberapa alat dan infus masih menancap di tubuhnya.
Aku pura-pura memejamkan mataku.
"Maaf." ucapnya lirih dan aku tidak membalasnya.
Keesokannya, aku hanya memikirkan satu hal. Cara membuat Cakra bahagia selagi dia masih bersamaku. Mungkin aku harus merelakannya suatu saat nanti.
Aku menyiapkan sarapannya yang baru saja diantarkan oleh salah satu perawat di rumah sakit ini. Dia berusaha memegan tanganku namun kutepis.
"Maaf udah buat kamu marah."
Bukan salah kamu.
"Bukan salah kamu, aku yang minta maaf."
Dia menatapku dalam diam, kami berdua sama-sama diam.
"Aku gak akan ngomong seperti itu lagi."
"Udah, aku cuma mau kita habisin waktu bareng hari ini. Kita jalan-jalan biar kamu gak bosen."
Aku berusaha berbesar hati untuk tidak marah ataupun mendiamkannya. Dia terkejut namun tersenyum pada saat yang bersamaan.
Hari ini, aku dan Cakra melakukan hal yang gak pernah kita lakuin bersama. Tepat pada 31 Desember, aku dan Cakra akan menghabiskan 24 jam bersama sampai tahun berganti. Hari terakhir tahun ini akan kami buat berkesan.
"Ada yang mau kamu lakuin?" tanyaku padanya.
Dia terdiam dan berpikir cukup lama. "Aku mau kamu main biola lagi, aku juga mau lihat kamu balet untuk yang terakhir kali."
Untuk yang terakhir kali.
Empat kata itu masih tercetak jelas di pikiranku. Mau gak mau aku menyanggupinya, hal yang gak pernah aku lakukan sejak 8 tahun harus aku lakukan lagi karena permintaan Cakra.
Aku melakukan semua yang dia inginkan. Dia tersenyum melihatku menari, caranya menikmati alunan musik dari biolaku juga sangat menawan. Wajahnya pucat pasi, tapi aku dengan jelas bisa melihat senyum yang tercetak dibibirnya.
Aku memejamkan mata, ikut menikmati alunan musik. Cukup lama, hingga lagu selesai aku tak mendengarkan suara tepuk tangan darinya. Perlahan aku membuka mataku.
Dia.
Cakrawala Baswara menutup matanya di atas kursi roda itu.
Tanganku gemetar, langkahku gontai saat menghampirinya. Air mataku mulai mengalir.
"Cakra..." kutepuk pipinya perlahan.
Dia gak merespon.
Segera kubawa Cakra ke ruangannya, kupanggil Dokter dan beberapa perawat tak lupa kuhubungi keluarganya.
"Gimana keadaannya?"
Aku cuma terisak dalam tangisanku, bibirku tidak mampu menjawab pertanyaan Bunda Cakra. Mas Rama dan Dion, sahabatnya Cakra ikut menenangkan kami.
Dokter Arsya keluar.
Dia gak mengatakan apapun, hanya menggeleng.
"Detak jantungnya sangat lemah, beberapa menit ke depan akan tetap kami pantau."
"Dia ingin berbicara dengan Dion."
Kami semua menoleh ke arah Dion yang sejak tadi menenangkanku. Dion mengangguk kemudian melangkah masuk ke dalam ruangan Cakra.
Lima menit berlalu, Dion belum juga keluar.
"Dokter detak jantungnya turun lagi." teriak salah satu perawat dari dalam sana.
Kami semakin khawatir dengan kondisi Cakra. Lagi-lagi aku kembali menangis ketakutan.
Ya Tuhan apa harus hari ini?
Bahkan tahun belum berganti.
Aku memejamkan mataku.
"Saya pikir peluangnya untuk sadar lagi kecil, bahkan kurang dari 10 persen."
Apa kita gak bisa berharap sama 10 persen itu?
Dokter Arsya menatapku gak begitu lama.
Haruskah hari ini?
"Lepas alatnya, Dok." suara gue parau sebab banyak menangis. Gue tahu semuanya kini menatap gue termasuk Dion.
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk.
Harusnya udah dari dulu aku lakuin ini buat kamu, Kra.
Maaf Kra, udah terlambat aku menyadari kalau kamu terlalu tersiksa karena aku.
"Baiklah, kalau begitu akan saya lakukan dan siapkan pemakamannya segera."
Aku gak berhenti menangis saat itu, kini Dion memelukku dan menepuk punggungku pelan-pelan.
"It's okay Ra." katanya.
Beberapa waktu lalu, Dion menjelaskan semua. Apa yang dikatakan Cakra kepadanya cukup membuatku bungkam. Aku gak tahu kenapa kamu lakuin ini semua ke aku.
"Tolong jaga Aeera saat gue pergi, peluk dia di pemakaman gue nanti." Dia tersenyum saat mengatakan hal itu.
"Peluk yang kenceng."
"Tuhan udah gak sabar mau ketemu gue." Dia tertawa di sela-sela bicaranya. Entah bagian mana yang lucu.
Bahkan di detik terakhir hidupnya yang ada di pikirannya cuma aku.
Dan yang bisa aku lakuin untuk kamu cuma satu, mengurangi rasa sakit kamu karena alat-alat itu. Aku mau melepas kamu.
Selamat tinggal kesayangan.
Akhir Desember ini sangat memilukan.
Kesayangku pergi menemui penciptanya.
Untuk kesayangan yang telah pergi.