Si Putih
Salah satu kisah tentang penampakan si putih yang suka sekali eksis. Kali ini dialami oleh Sinta di kantornya.
***
Hujan deras terus mengguyur sore ini, langit yang seharusnya merah jingga berubah menjadi gelap dan kelabu.
Dalam hati Sinta merutuki dirinya sendiri kenapa tidak pulang sedari tadi, jam kerjanya mengharuskannya pulang jam tiga sore, namun karena keasyikan menyelesaikan laporan yang sebenarnya bisa diselesaikan besok, ia jadi lupa waktu.
Gedung tempat Sinta bekerja terdiri dari empat lantai. Sinta berada di lantai paling atas, lantai empat.
Ia melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah enam sore.
Hampir semua karyawan sudah pulang. Tinggal beberapa orang bagian penjualan di lantai satu dan tentu saja petugas keamanan di gardu depan.
Setelah selesai beres-beres mematikan AC dan komputer, Sinta hendak mematikan lampu sebelum ia sadar bahwa suasana di balik pintu sangat gelap.
"Ah sial,” ujarnya pelan sambil menyalakan lampu senter dari telpon genggamnya.
Begitu lampu dimatikan, benar saja semua menjadi gelap. Dan singup.
Sinta berjalan ke arah elevator, suara hujan di luar makin deras dan langit semakin gelap.
Ada perasaan tidak nyaman saat Sinta berdiri di depan elevator sendirian membelakangi tangga menuju lantai tiga.
"Lama sekali sih naiknya lift ini,” gerutunya dalam hati. Ujung sepatu pantofelnya mengetuk-ngetuk lantai tanda gelisah.
Ding ... Dong ...
Pintu elevator terbuka.
Sinta masuk dan merasa lega, rasanya sangat tidak nyaman sekali berada di lantai empat saat sedang sendirian seperti ini.
Segera ia memencet tombol turun ke lantai satu.
Elevator bergerak turun. Layar kecil di depannya menunjukan angka lantai saat ini ia sedang berada.
3 ...
2 ...
Ding ... Dong ...
Pintu elevator terbuka.
Degh!!!!
"Tidakkk!!! Jangan ....!!!!,” pekik Sinta tanpa suara. Namun pintu elevator terlanjur terbuka lebar tepat di depan lantai dua.
Lantai berisi lorong-lorong panjang dengan ujung ruangan kaca besar, yang biasanya digunakan untuk meeting. Dan kini ruangan itu terlihat sunyi dan gelap.
Sinta panik.
Ia segera menekan-nekan tombol angka satu agar pintu elevator segera tertutup dan membawanya turun ke lantai satu.
Bukan apa-apa ia sudah terlalu sering mendengar cerita-cerita tentang makhluk tak kasat mata yang sering ditemui satpam dan karyawan lainnya di lantai dua saat mereka sedang lembur.
Seakan tengah menunggu seseorang, pintu lift tak jua menutup, dari ujung lorong yang gelap Sinta merasakan angin bertiup lembut menyibakkan beberapa helai rambutnya yang tiba-tiba membuat tengkuk lehernya merinding.
Pintu elevator tertutup.
Sinta menundukan kepalanya dalam-dalam, seluruh tubuhnya menegang saat ini. Ia tak melihat siapapun tapi ia yakin disebelahnya ada ...
Setelah sampai di lantai satu dan pintu elevator terbuka, Sinta segera menyembur berlari keluar ke tempat parkir mobilnya, tak peduli basah kuyup karena menerobos hujan deras.
***
Keesokan harinya.
Hari ini malam jum'at. Seperti malam-malam jum'at sebelumnya tidak akan ada yang berani lembur ketika malam jum'at tiba, kecuali ketika permintaan penjualan yang tiba-tiba membludak serta antisipasi rencana penjualan menjelang hari raya yang kurang dua bulan lagi harus dibahas sekarang ini juga.
Seperti saat ini.
"Cha, temenin gue lembur ya?"
"Gue ada a--"
Kriiiiingg ... Kriiingg ...
Belum sempat Icha menyelesaikan kalimatnya untuk menjawab pertanyaan Sinta, telpon di meja mereka berbunyi.
"Halo, iya Pak. Baik Pak Sinta akan segera turun.” Telpon ditutup. Sinta menyiapkan berkas-berkasnya.
"Kayaknya meeting kali ini bakalan lama deh, soalnya Bos Besar juga ikut dalam meeting kali ini, hufftt..., “ keluh Shinta.
"Eh ... Cha, lo tungguin gue ya. Jangan pulang dulu.” Sinta melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga sore.
"Paling cepet satu jam. Paling lama tiga jam. Please ... tungguin gue.”
"Sin gue--." Sinta menaruh telunjuknya didepan wajah Icha, tidak memberi Icha kesempatan untuk berbicara.
"Nanti gue traktir,” katanya percaya diri sambil berbalik dan meninggalkan Icha yang menatapnya dengan rasa jengkel.
Jam enam sore tepat meeting telah selesai. Semua kembali ke ruangan masing-masing dan pulang.
"Kamu mau saya temenin?,” tawar Nino Manager Accounting yang sejak dulu berusaha mendekati Sinta.
Satu-satunya yang tersisa di lantai empat hanya mereka berdua.
Sinta berfikir sejenak, barangkali Icha telah pulang, maka dengan terpaksa ia harus menerima tawaran Nino untuk menemaninya menyelesaikan laporan perkiraan biaya, yang harus diselesaikan hari ini juga dan sedang ditunggu Bos Besar di ruangannya.
Memikirkan harus berdua saja dengan Nino dalam satu ruangan membuat Sinta tersenyum kecut.
Elevator terbuka di lantai empat yang kini sedikit remang-remang karena hanya beberapa lampu yang menyala.
Di ruang Accounting lampu yang menyala hanya tinggal di ruangan Nino.
Sinta berhenti di depan pintu ruangannya, ia melirik sebentar, dan merasa lega ketika mendapati Icha sedang duduk di kursi sebelah kursinya sambil menghadap komputer.
"Nggak usah. Terimakasih, kamu pulang duluan saja,” tolaknya sopan pada Nino.
Setelah Nino berpamitan dan lampu ruang Accounting dimatikan ruangan menjadi lebih gelap.
Hanya ruangan Sinta yang menyala.
Sinta mematikan AC di ruangannya karena mendadak udara menjadi sangat dingin.
"Makasih ya cha, tunggu sedikit lagi setelah ini selesai kita pulang, cuma tinggal dibenahi sedikit habis itu diprint selesai deh"
"Iya"
"Eh Cha, ngerasa ada yang aneh nggak sih?,” tanya Sinta tiba-tiba namun wajahnya tetap tidak berpaling dari komputer di depannya.
"Hah, apaan?"
Sinta mengendus-ngendus melalui hidungnya.
"Baunya Cha!! wangi banget, kayak bau bunga melati yang biasanya dipake orang-orang meninggal.” Sinta tiba-tiba merinding.
"Apaan sih Sin? Orang nggak ada bau apa-apa kok. Udah cepetan deh selesein tuh laporannya,” ujar Icha dengan nada tinggi lebih kearah marah.
Sinta menggigit bibirnya menyesal karena langsung nyepclos saja mengatakan apa yang ada dipikirannya tadi pada Icha.
Seperti Sinta tau Icha adalah seorang yang penakut sejak dulu, melihat Icha berkorban melewatkan acara bersama Dito (pacar Icha) untuk menemaninya hari ini saja sudah membuat Sinta sedikit merasa bersalah padanya.
Sinta masih merinding, bulu kuduknya berdiri semua meskipun ia tak tau pasti apa penyebabnya.
Ia merasa sangat tak nyaman, tapi kalau dia menceritakannya pada Icha, pasti Icha akan marah lagi.
"Ahhh ... , akhirnya selesai juga,” seru Sinta sambil meregangkan otot-ototnya.
"Gue ke kamar mandi dulu ya, Sin”
"Eh iya, setelah gue beres-beres kita langsung turun ya?." Icha mengangguk.
Tak lama setelah Icha ke kamar mandi dan Sinta telah selesai beres-beres, handphone di tas coklat milik Icha berbunyi.
Risih dengan bunyi yang begitu keras, diambilah handphone tadi dari tas Icha. Sinta melihat nama yang tertulis di layar handphone.
Dito.
Sinta mendengus, "Iya bentar lagi gue balikin bini lo, nggak sabaran amat.” Ia berbicara sendiri sebelum menjawab panggilan dari Dito.
"Halo..." Suara wanita di ujung sana mengawali menyapa.
Mendengar suara wanita itu dahi Sinta langsung berkerut.
"Halo Sin.” Sinta membeku tak menjawab.
Ini suara Icha!!!.
"Cha, lo jangan bercanda cepet balik kesini. Ngapain sih telpon dari kamar mandi?.” Sinta berusaha menegaskan suaranya yang sedikit bergetar. Tengkuknya kembali terasa dingin.
"Ngomong apaan sih? Gue dari tadi sama Dito di warung bakso depan kantor, kita nungguin lo. Pas mau bayar gue lupa kalau ternyata handphone sama tas gue ketinggalan di kantor. Nanti kalau lo keluar sekalian bawain ya!!”.
Degh!!!!
Kalau Icha di luar sama Dito. Lalu yang di kamar mandi siapa???.
“Halo, Sin ...? Sin lo dengerin gue kan? Halo ...??!!!"
Klik.
Sinta langsung mematikan telpon sepihak, bergegas ia mengambil tasnya dan berlari menuju pintu, namun belum sampai ia menuju pintu ...
Jeglekkkkk!!!
Suara pintu terbuka.
Degh!!!!
Sinta langsung membalik badannya, dengan gemetar ia kembali duduk di kursinya tanpa berani menoleh siapa yang datang.
Dia jelas bukan Icha.
Hening.
Jantung Sinta berdegup dengan kencang.
Ruangan kecil dan singup itu menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Bau busuk yang entah datang dari mana mendadak merebak ke dalam ruangan.
Sinta semakin berkeringat dingin.
Icha palsu melangkah mendekati Sinta yang masih gemetaran. Ia berhenti dua langkah di belakang punggung Sinta.
Keringat dingin menetes dari dahi Sinta yang ketakutan.
Apa yang harus dia lakukan sekarang???.
Siapa sebenarnya yang ada di belakang Sinta saat ini?, haruskah ia menoleh kebelakang dan melihatnya?. Tapi bagaimana kalau ...
Sinta mengepalkan jari-jari tangannya, menarik nafas panjang dalam-dalam, mengumpulkan segala kekuatan yang masih tersisa untuk melihat siapa sebenarnya yang ada di belakangnya saat ini.
Dengan perasaan yang tak menentu serta pikiran campur aduk tak karuan, Sinta memberanikan diri menoleh pelan-pelan.
Dan di sana lah dia, sosok berbaju putih melayang-layang dengan rambut yang sangat panjang menyentuh lantai tersenyum mengerikan sambil berkata,
"Jadi kamu sudah tau siapa aku???," tanyanya dengan diiringi lengkingan tawa khasnya yang mengerikan.
Tiba-tiba gelap. Sinta pingsan.
--Tamat--