Memedi Jaran (Hantu Kuda Berkepala Manusia)
Pak Amir menghisap rokok dengan tangan bergetar hebat. Ia menelan ludah setelah menghembuskan asap rokok di depan mukanya sendiri. Keringat dingin mengucur dari dahinya.
Dia tidak sedang berpura-pura, kali ini pria paruh baya itu benar-benar sedang ketakutan.
"Ayo kita lihat lebih dekat arah suaranya.” Pak Yayan berdiri di depannya dengan senter seadanya yang tidak begitu terang, bersemangat hendak melangkahkan kakinya namun lengannya langsung ditarik oleh Pak Amir.
"Jangan aku takut.”
Dua pria paruh baya itu malam ini sedang mendapat giliran ronda jaga. Sudah dua bulan ini kampung mereka yang biasanya tenang dan damai kini terusik oleh kabar adanya Memedi Jaran (Hantu kuda berkepala manusia) yang belakangan sering menampakkan wujud di kampung mereka.
Tidak ada yang tahu pasti seperti apa bentuk Memedi Jaran ini.
Beberapa orang hanya pernah mendengar suara langkah kaki kuda saja saat tengah malam.
Hanya segelintir orang yang pernah langsung bertatapan muka dengan Memedi Jaran tersebut.
Sayangnya segelintir orang tersebut tidak dapat diminta keterangan lantaran setelah melihat wujud Memedi Jaran mereka langsung mengalami stroke parah dan beberapa penyakit serius lainnya yang menyebabkan mereka tidak bisa berbicara banyak.
Beberapa waktu yang lalu Kepala desa dari desa sebelah dan beberapa penduduknya datang ke desa ini, mereka marah serta mengeluh banyak dari warga mereka yang kehilangan uang akibat ulah Memedi Jaran.
Lantas apa maksudnya mereka marah ke desa ini? Apa hubungannya dengan desa ini?. Tentu saja, karena beberapa dari mereka mengikuti kemana arah Memedi Jaran itu pergi dan mereka kehilangan jejak saat Memedi Jaran tersebut masuk ke dalam desa ini.
Jadi, kesimpulan mereka Memedi Jaran itu ada di desa ini.
Pak Yayan mengurungkan niatnya memeriksa, lebih baik menunggu di sini terlalu berisiko untuk mendekat. Lagi pula yang membuat suasana makin mencekam malam ini adalah malam Jumat kliwon, pantas saja sedari tadi seluruh tubuhnya merinding. Ia pun sangat memaklumi jika tubuh Pak Amir dari tadi gemetaran semua.
Klotak ... Klotak ... Klotak ...
Suara derap langkah kaki kuda dan gemerincing hiasan kuda kepang pun semakin jelas terdengar. Bau wangi-wangian khas lelembut semerbak membaur di udara.
Entah dari mana datangnya, kabut tipis berwarna putih tiba-tiba turun menyelubung diantara gelapnya jalanan Desa Randu Ijo.
Seharusnya Pak Amir dan Pak Yayan membunyikan lonceng tanda tengah malam, namun keduanya disibukkan dengan rasa takut akan suasana malam ini yang begitu dingin dan mencekam sehingga lupa akan salah satu tugas mereka.
Untuk masuk ke Desa Randu Ijo hanya bisa masuk lewat gapura depan begitu pun ketika keluar. Bisa dibilang, jalur masuk dan keluar Desa Randu Ijo hanya bisa lewat satu pintu.
Dan, memedi Jaran malam ini akan kembali masuk ke Desa Randu Ijo.
Kabut yang tadinya tipis menjadi semakin tebal menutupi jarak pandang Pak Amir dan Pak Yayan yang mencoba memicingkan mata untuk menembus bayangan kabut di ujung jalan dimana terdengar suara derap langkah kaki kuda.
Bau wangi-wangian yang kian menusuk hidung semakin menciutkan nyali mereka. Seluruh tubuh mereka merinding dan membeku. Suara langkah dan gemerincing kuda semakin lama semakin mendekat. Pak Amir dan Pak Yayan saling berpegangan erat.
Senter yang dipegang Pak Yayan tiba-tiba saja mati dan semuanya menjadi gelap.
Tidak ada lampu di desa ini, hanya orang-orang tertentu yang bisa memasang lampu listrik di desa ini, biasanya mereka yang lebih sering disebut 'juragan'.
Ringkikan tawa kuda seperti berada di sebelah telinga persis. Pak Amir dan Pak Yayan menutup kedua mata mereka rapat-rapat sambil saling berpegangan kuat.
Tidak salah lagi, Memedi Jaran itu memang benar adanya. Mana ada kuda lewat tengah malam begini? Salah satu yang menguatkan keyakinan mereka adalah bau khas wangi-wangian yang menusuk hidung saat Memedi Jaran itu memasuki desa, memang ada kuda yang baunya sewangi ini??.
Hening. Dingin. Gelap dan mencekam.
Beberapa menit berlalu, tiba-tiba suara gemerincing kuda kepang itu lenyap-hilang begitu saja.
Pak Amir dan Pak Yayan mencoba membuka kedua mata mereka setelah beberapa detik tidak mendengar apa pun.
"Bukannya tadi suaranya seperti di sebelah kita persis?" Tanya Pak Yayan yang langsung disetujui oleh Pak Amir.
Bagaimana mungkin kuda itu bisa langsung hilang begitu saja?.
Kabut yang tadinya tebal pun kian menipis. Memperjelas pandangan mata mereka.
Jika kuda tersebut ingin masuk desa sudah pasti ia harus melewati Pak Amir dan Pak Yayan yang persis berjaga di sebelah gapura.
"Ayo kita periksa,” ajak Pak Yayan yang kini diburu rasa penasaran, Pak Amir pun mengikutinya.
Dari jauh terdengar samar-samar bunyi yang tidak asing bagi mereka.
Bunyi derap dan gemerincing langkah kaki kuda.
Pak Amir dan Pak Yayan menelan ludah.
Kabut putih terus menipis memperjelas pandangan mereka tentang sosok kuda berkepala manusia yang kini tengah berjalan pelan di depan, meninggalkan mereka jauh di belakang, masuk ke dalam desa.
"Ayo kita kejar,” teriak Pak Yayan yang langsung berlari cepat meninggalkan Pak Amir di belakang.
Kentongan mereka bunyikan berkali-kali sambil berlari.
Entah bagaimana caranya menangkap, yang jelas mereka harus mengejar kuda itu dahulu sembari membangunkan warga. Semakin banyak warga yang bangun akan semakin mudah.
Sia-sia saja kuda ghaib tadi raib entah kemana. Sama sekali tak ada jejak.
Mendengar suara kentongan yang dipukul berkali-kali di depan rumahnya membuat Pak Landu yang saat itu masih terjaga langsung keluar rumah.
"Ada apa?,” tanya Pak Landu.
"A ... Ada ... Ada Memedi Jaran Pak Lurah" Jawab Pak Yayan sambil mengatur nafasnya yang tak beraturan. Pak Landu terkejut.
"Jadi memang benar dari desa kita?"
"Sepertinya begitu Pak Lurah, hanya saja kami kehilangan jejaknya."
Tidak beberapa lama, semua warga yang terbangun berkumpul mendengarkan cerita Pak Yayan dan Pak Amir.
Khawatir, takut dan ngeri terpancar dari para warga yang dengan khusyuk mendengarkan cerita Pak Amir.
"Memedinya perempuan atau laki-laki?,” tanya Pak Kasan, salah satu warga.
"Tidak begitu jelas, sepertinya perempuan karena rambutnya panjang,” jawab Pak Amir tidak begitu yakin.
"Bukan, laki-laki. Kuda kan memang rambutnya panjang Mir!!!,” timpal Pak Yayan.
Dan begitulah mereka berdebat tentang jenis kelamin kuda jadi-jadian tersebut hingga dilerai Pak Lurah yang memberi keputusan bahwa keamanan kampung harus lebih diperketat.
Untuk yang laki-laki dilarang tidur menjelang tengah malam sampai sekitar jam dua dini hari, ini berlaku hingga keadaan dipastikan aman kembali.
Dan Memedi Jaran itu harus ditangkap mati ataupun hidup.
Besok paginya hebohlah ibu-ibu yang mencuci di sungai membahas masalah Memedi Jaran tadi malam, kecuali Minah. Janda muda berusia sekitar tiga puluh tahunan beranak satu, sedari tadi ia diam saja tak menimpali obrolan ibu-ibu.
"Kenapa kau diam terus dari tadi Minah?,” tanya Bu Denok istri dari Pak Landu.
"Tidak apa-apa Bu Lurah"
"Apa Bu Sidin dan Pak Sidin belum membayarmu juga sampai saat ini?,” tanya Bu Denok sambil mengingat kejadian dua hari lalu saat Minah ditendang keluar Pak Sidin dari halaman rumahnya karena menagih upah yang dua minggu belum dibayar.
Minah adalah tukang masak dan buruh cuci Keluarga Sidin, juragan sawah di Desa Randu Ijo.
"Sabar Minah, orang-orang bilang Pak Sidin juga kehilangan uang cukup banyak akibat ulah Memedi Jaran belakangan ini,” hibur Bu Denok.
"Mereka memang pantas mendapatkanya Bu!!. Mereka itu orang pelit, sudah tau anak saya yatim nggak ada yang ngurus malah disuruh ikut memikul tumpukan padi di sawah tanpa diberi upah, sampai anak saya sakit dan demam.” Minah hanya mampu menceritakan keluh dan kesahnya pada Bu Denok. Hanya Bu Denoklah teman satu-satunya di dusun ini, lainnya tidak ada yang mau berteman dengan Minah karena miskin dan sering sekali berhutang.
Begitupun dengan Wahab anak semata wayangnya yang kini menginjak usia enam tahun, tak ada yang mau berteman dengan Wahab kecuali Galang, anak Bu Denok.
"Apa sekarang Wahab masih sakit? berasmu masih adakah di rumah Minah?,” tanya Bu Denok prihatin, biasanya memang Bu Denok membagi berasnya dengan Minah, apabila Minah sedang kehabisan beras.
"Masih Bu. Sekarang semuanya sudah cukup,” kata Minah sambil tersenyum mengangkat baknya dan berpamitan meninggalkan Bu Denok.
***
Pak Landu sedang pusing di rumahnya, setelah baru saja Pak Sidin melabraknya.
Pak Sidin menuntut agar Memedi Jaran itu segera di temukan karena sejak berita Memedi jaran itu muncul uangnya sering hilang.
"Mungkin itu azab orang pelit Pak.” Bu Denok muncul dari belakang sembari meletakkan kopi pahit dan singkong bakar di meja, kemudian ikut duduk bersama Pak Landu.
"Ngomong apa kamu ini, yang jelas ini ulah Memedi Jaran!!. Harus segera kuselesaikan dan kutangkap secepatnya!!. Aku yakin dia warga sini, tapi siapa?"
"Bapak tidak curiga dengan Pak Mamat yang kelihatan aneh setelah pulang merantau dari Kalimantan?"
"Maksudmu?"
"Pak Mamat kan dulu orangnya miskin Pak ... ,tapi tiba-tiba saja pulang dari Kalimantan mampu membeli sawah sebegitu luasnya, apalagi kalau bukan dengan cara tidak wajar?, memangnya sebegitu mudahnya mencari uang di pulau seberang?. Aku curiga Pak Mamatlah pelakunya, apalagi melihat orangnya yang sangat tertutup itu, benar-benar mencurigakan!!"
"Kau punya bukti?,” tanya Pak Landu yang langsung membuat Bu Denok gelagapan.
"Ya, tidak bukti secara langsung, tapi kan dari gelagatnya kita bisa--"
"Sudahlah jangan omong kosong dengan menuduh orang tanpa bukti!!," kata pak Landu sembari meneguk kopinya.
Kerompyaaaaangggg ...
Suara gelas aluminium kecil di belakang rak kayu itu terjatuh dan tumpah ke baju Wahab.
"Galang. Wahab,” pekik Pak Landu dan Bu Denok bersamaan
"Bajuku terkena kopi hehehe" ujar Wahab polos sambil tertawa.
"Waduh, dilepas yuk, Bu Denok bersihkan sebentar. Nanti ibumu marah!,” kata Bu Denok sambil dengan sigap melepas baju bocah berusia enam tahun itu, kemudian menuntunnya ke kamar mandi belakang yang diikuti Pak Landu sambil menggendong Galang.
"Ibuku tak pernah marah," kata Wahab sambil menggoyang-goyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Minah memang orang yang sabar, begitulah pikir Bu Denok.
"Tapi ini baju baru, ibumu pasti marah,” ujar Bu Denok yang hanya dijawab dengan gelengan Wahab.
"Aku sekarang punya banyak baju baru”
"Benarkah?, apa Pak Sidin memberi ibumu uang?, ibumu bilang tadi pagi Pak Sidin belum memberi kalian uang?”
"Bukan dari Pak Sidin. Pak Sidin pelit. Kami benci Pak Sidin"
"Lalu dari siapa uangnya?,” tanya Bu Denok penasaran sambil sekalian memandikan Wahab karena kulitnya lengket terkena siraman kopi.
"Ibuku bekerja"
"Ibumu bekerja di dua tempat? Ibumu pekerja keras sekali!.” Wahab mengangguk.
"Dimana?, apa di Juragan Sanip pemilik tambak lele itu?.”
Wahab menggeleng
"Bukan.” Bu Denok menghentikan tangannya yang sedari tadi membersihkan badan Wahab dengan sabun, lalu menatap mata bulat itu dengan gemas sambil menunggu kalimat selanjutnya dari anak cerdas ini.
"Ibuku menjadi kuda. Saat malam jum'at ia akan ke kamar rahasia yang penuh bunga warna-warni dengan bau-bauan aneh lalu berubah menjadi kuda"
Pyaarrrrrrrr.....
Bu Denok menoleh ke arah suara, dan mendapati suaminya menjatuhkan piring kaca berisi nasi putih serta lauk yang akan menjadi santapan makan siangnya.
Pak Landu tercengang kaget, begitu pula dengan Bu Denok sangat terkejut. Wahab anak kecil berumur enam tahun ini tidak mungkin berbohong. Dia tidak pernah berbohong.
"Jadi selama ini Minah adalah---“
----TAMAT----