Namaku adalah Nino. Aku seorang siswi di SMAN 1 Kota Semarang. Aku memiliki seorang ibu yang bekerja sebagai pedagang sayur keliling. Ayahku telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Jika dipandang dari segi ekonomi, kami mungkin berada dibawah taraf miskin. Itulah kenyataannya. Bahkan untuk makan sehari-hari saja aku harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar, meskipun aku seorang perempuan.
Meskipun dalam posisi tersebut, aku tetap tegar. Aku selalu berusaha untuk membanggakan ibu melalui jalur prestasi. Alhasil, aku pernah menjuarai Lomba Sains tingkat Nasional dan mendapatkan beasiswa sampai tamat kuliah.
Pagi ini, aku bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Seperti biasa, aku juga membawa beberapa kue untuk dijual disekolah. Beban berat di tas tak mematahkan semangatku. Aku melangkah menuju sekolah. Jarak antara rumahku memang jauh, yaitu sekitar 5 Km. Aku tak ingin menyia-nyiakan uang saku, sehingga aku berjalan kaki dari rumah sampai sekolah. Meskipun kelelahan, aku tak apa. Menurutku, apapun itu, yang terpenting dapat membahagiakan ibuku, sang mentari yang menyinari hidupku.
Beberapa jam berlalu, sampailah aku disekolah. Tampak berkelompok kelompok siswa memenuhi lapangan upacara. Untungnya, aku tidak terlambat sehingga masih memiliki kesempatan untuk hormat pada Sang Saka Merah Putih.
Aku pun berjalan ke kelas dan meletakkan tas di kursiku. Aku segera berlari kearah lapangan untuk mengikuti upacara.
"Yooo... si miskin udah datang."Sambutan yang sangat 'meriah' diucapkan oleh seorang siswa laki-laki dengan rambut yang dicat merah, dia adalah Fugo, anak berandalan terkenal dari kelas yang sama dengan Nino, kelas Xll A.
Nino hanya diam mematung. Anak perempuan itu hanya berharap ketenangan sesaat. Sedangkan Fugo terus menerus mengganggunya. Berharap 'anak miskin' didepannya akan menangis. Tapi harapannya tak kunjung tiba hingga ia kesal dan berlalu begitu saja.
Itulah keadaannya. Tiada teman, selalu diejek, dibully oleh teman sekelasnya. Hanya ada satu temannya yang satu nasib dengannya, Rini.
Upacara pun telah selesai. Semua murid masuk kedalam jelas masing-masing termasuk Nino.
Pelajaran pada jam itu adalah Matematika dengan guru yang kejam, Bu Vina. Sudah wajar guru pelajaran paling sulit tersebut kejam, karena memang hampir rata anak kelas Xll A adalah anak bodoh yang malas, kecuali Nino. Malah sebaliknya, Nino adalah anak paling disayang oleh guru kejam tersebut.
Tapi, sebelum pelajaran dimulai, tiba-tiba Nino dipanggil kedalam kantor kepala sekolah. Firasat Nino mengatakan, itu bukanlah sesuatu yang baik. Dan benar saja Nino melihat tetangganya sedang berbicara dengan kepsek dengan ekspresi cemas.
"Nino, Nino. Kau harus cepat kerumah. Ibumu sedang kritis. Ia tadi ditabrak lari mobil."Ketika tetangganya melihat Nino, dia lalu langsung memberitahu keadaan ibunya saat ini.
Tubuh Nino bergetar hebat. Ia berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. Ia ingin melihat kondisi ibunya secepat mungkin.
Beberapa menit berlalu. Sampailah Nino dirumahnya. Bendera kuning berkibar didepan rumahnya, hiruk-pikuk warga berpakaian muslim menambah kecemasannya.
Dengan langkah cepatnya ia masuk dan menemui tubuh ibunya sudah berbalut oleh kain kafan. Suatu pemandangan yang membuatnya sangat terpuruk.
Ia menangis sejadi-jadinya sambil memeluk ibunya. Ia sungguh sangat takut kehilangan ibunya, ibunya adalah panutannya. Tak pantang menyerah menjadi penyemangat.
"Ibuuuu....!!!"
Begitulah. Ibunya meninggalkan dirinya. Hingga malam hari. Ia masih di TPU. Ia sangat berharap ibunya bangkit dari kubur, meskipun itu sangat tidak mungkin.
***
Esok paginya, Nino terbangun dari tidurnya. Ia semalaman tertidur di TPU yang biasa dianggap sangat menyeramkan. Segera saja Nino kembali kerumahnya dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Lapar diperut tak menjadi halangan. Ia berlari karena takut terlambat.
Sepulang sekolahnya, ia mendorong gerobak untuk jualan. Hati pertama begitu berat. Sayurannya pun tak ada yang terbeli karena memang hari sudah sore. Hari itu tak sesuai nasi pun masuk kedalam perutnya.
Ia kemudian masuk kedalam kamar ibunya. Ia melihat berbagai kenangan yang sengaja tak ia ubah sedikitpun. Ia ingin ibunya tetap berada disisinya meskipun hanya tinggal kenangan.
Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia kemudian berpikir untuk mengolah berbagai sayuran tersebut besok dan menjualnya. Ia kemudian berpikir untuk mengambil jam siang untuk sekolah agar bisa berjualan.
***
Seperti rencananya, ia lalu mengolah berbagai masakan dari bahan sisa sayur dan daging kemarin. Berbagai masakan terhidang. Ia kemudian meletakkannya pada gerobak dan mulai berjualan.
Ia juga bersekolah pada siang hari. Semua itu berulang tiap harinya dan hingga ia lulus dari SMA.
Ia tak berniat untuk kuliah. Tapi ia sangat menyayangkan nilai sangat sempurnanya. Sehingga ia pun mendaftarkan diri untuk kuliah.
***
Hari pertama kuliah memang terasa menyenangkan. Tapi selanjutnya ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya.
Hari berganti Minggu. Minggu berlalu dan diganti bulan dan tahun. Kuliah pun selesai diganti dengan wisuda. Memang, Universitas unggul tersebut berhasil mengundang seorang direktur dari sebuah bank internasional yang tertarik akan Nino. Setelah wisuda selesai, ia melihat Nino yang sungguh berbakat segera merekrutnya menjadi pegawainya.
Hidup Nino berubah 180°. Ia hidup serba berkecukupan. Meskipun begitu ia masih sangat sederhana dan ramah. Tak jarang banyak orang yang terbantu karenanya. Ia hidup tenang karena semangat kerjanya. Ia juga berterimakasih pada ibunya yang telah memberikan semangat padanya.
"Meskipun kita tak bersama ibu, tapi aku rasa, kau selalu ada di sisiku, menyemangati ku, bayang bayangmu seperti selalu hadir dalam mimpiku. Aku berjanji untuk selalu baik hati dan tidak sombong. Karena memang kita awalnya bukanlah orang kaya."
★★★
“Kasih ibu sepanjang masa. Meskipun telah terpisah oleh dua alam yang berbeda, tapi kasih ibu takkan hilang ditelan jaman. Karena memang kasih ibu bukanlah tersimpan Dimata, melainkan dihati. Tak pernah pudar, hingga hati akhir.”
Pesan :
Hargailah ibumu. Jangan sia-siakan dia. Karena kesempatan memiliki ibu hanya datang satu kali.
★★★
Pengarang / Penulis : Teguh Apriansyah
Karya ini saya ciptakan khusus untuk ibu saya yang selalu menjadi pertama dihati saya.
Ini hanyalah pandangan penulis semata, bukan plagiat, melainkan karangan asli. Nama tokoh hanyalah ilustrasi semata. Jadi, jika ada kesamaan nama dan latar harap dimaklumi.