Sinar mentari pagi menembus kaca jendela kamar milik seorang gadis yang tengah asyik tertidur pulas di ranjang miliknya. Ia mulai terusik oleh cahaya sang Surya yang mengenai matanya. Perlahan-lahan mata itu pun mulai terbuka menampilkan mata cokelat kehitaman yang tajam.
Mata itu menyipit menyesuaikan dengan cahaya matahari yang mengenai matanya. Mulutnya menguap setengah sadar. Gadis itu meregangkan otot-ototnya dengan posisi duduk di kasur.
Dengan kondisi baru bangun tidur yang masih lemas ia enggan untuk bangun ia pun diam sambil mengumpulkan tenaga untuk bersiap mandi.
Matanya menatap ke arah jam dinding yang tertempel di sebelah selatan dinding kamarnya jarum jam menunjukkan pukul setengah enam. Ia pun duduk di ranjang guna mengumpulkan tenaga. Setelah tenaganya sudah terkumpul ia pun bangun dari tempat tidurnya untuk membereskan terlebih dahulu kasur miliknya yang acak-acakan.
Setelah ia sudah membereskan kasur miliknya ia pun segera pergi ke kamar mandi untuk bersiap berangkat ke sekolahan. Terdengar suara gemercik air di kamar mandi gadis itu tengah mandi membersihkan tubuhnya yang lengket.
“huft!”
gadis itu menghela nafas berat mencoba menghilangkan ingatan kelam yang di alami olehnya.
Ingatan kejadian masa-masa yang menyakitkan pun akhirnya teringat kembali olehnya. Perlahan-lahan cairan panas bening lolos dari matanya.
Tes!
Ia menangis sesegukan hatinya sesak dan sakit secara bersamaan. Tenggorokannya kering dan terasa sakit. Mulutnya ingin sekali mengeluarkan suara yang keras supaya beban yang selama ini ia alami menghilang.
Tapi apa daya mengucapkan satu kata pun saat menangis ia tidak bisa seolah ia bisu tidak dapat bicara. Ia ingin sekali mencoba menceritakan kejadian masa lalu kelam yang ia pernah alami kepada teman-temanya tapi pasti ia tahu bahwa mereka tidak akan pernah mendengarkannya.
Seolah curhatan darinya hanyalah angin lalu. Mengapa ia menyatakan hal tersebut jika kalian berfikir gadis itu hanya membual maka kalian salah besar karena gadis itu sudah pernah mencoba menceritakan
kejadian masa lalu kelam miliknya tapi apa yang ia dapatkan setelah bercerita panjang lebar? Ia hanya di anggap sebagai angin lalu saja oleh para teman-temannya.
Padahal yang ia harapkan nasihat oleh teman-temannya supaya ia tetap bisa bertahan menghadapi cobaan yang tuhan berikan padanya selama ini.
Sudahlah mungkin mereka malas mendengarkan cerita membosankan yang menurutku ini sangat menyakitkan batin gadis itu berucap pasrah.
Tak ingin berlama-lama di kamar mandi ia pun segera mengambil handuknya dan keluar dari kamar mandi untuk berpakaian seragam sekolah.
Seorang wanita parubaya yang tengah menyiapkan sarapan bingung apa anaknya itu apakah ia akan berangkat ke sekolah karena jarum jam sudah menunjukkan waktu biasanya putrinya itu berangkat. Ketika ia akan mendatangi kamar putrinya tepat sekali pas di depan pintu kamar putrinya.
Ternya ia sudah berseragam lengkap dan bersiap untuk berangkat ke sekolah tak lupa ia menyangkleng tas ranselnya yang berwarna ungu.
“Ibu aku berangkat dulu”ucap gadis itu.
“Kamu tidak sarapan dulu?” tanya ibu Sandra
“tidak Bu aku sudah telat”
“Ya sudah hati-hati di jalan Sandra.”
“Iya ibu aku pergi dulu assalamualaikum.”
“Waakaikummussalam”
Skip
Sesampainya di sekolah bel pun berbunyi menandakan waktu jam pelajaran akan segera di mulai.
Pasti hari ini tidak upacara kalau begitu Alhamdulillah jadi aku bisa pulang sedikit lebih awal dari pada biasanya batin Sandra berucap.
Teng!...Teng!.... Teng!......
Bel berbunyi lagi menandakan waktu pulang para pelajar SMA itu. Sandra pun bergegas pergi ke kelas yang di tempati oleh sang kakak tercinta. Ternyata kakaknya sudah keluar dari tadi ia pun berlari ke tempat kakaknya menunggu dirinya.
“adek itu loh ada lomba menulis cerpen Adek enggak mau ikut??” tanya sang kakak.
“hah?!. Mmmm emangnya lomba itu di mulai kapan kak?”
“kayaknya sih mulai hari sellasa besok deh” jawab sang kakak.
“Yuk ikutan kak siapa tahu kita berdua dapet juara ngikutin lomba itu” ucap Sandra girang.
“iya. Tapi syarat pendaftarannya harus membayar “
“ tidak apa-apa kan kita bisa menyisihkan uang saku kita tiap harinya untuk membayar pendaftaran lomba itu”
“iya kalo ngomong sih enak nyisihin uang saku lah kita kan banyak iuran dek uang saku kita aja sedikit gimana mau nyisihin kan kamu tahu kalo kakak banyak LKS yang belum di bayar” ucap kakak Sandra.
Ya Sandra baru ingat jika keluarganya itu di terbilang cukup sederhana karena ayahnya hanya mendapatkan gaji ya kecil. Ia dan kakaknya pun hanya di beri uang saku sedikit padahal ia menunggak beberapa LKS yang harus segera di bayar.
Bagaimana ia bisa menyisihkan uang sakunya LKS saja masih banyak yang belum di bayar dia sungguh pusing.
Padahal jika ia memenangkan lomba itu pasti ayah dan ibunya bangga karena ia tak pernah sekalipun menjunjung nama baik keluarganya.
Tapi firasatnya mengatakan bahwa ia dan kakaknya harus mengikuti lomba menulis cerpen ini ia sangat bingung mungkin ia akan mengikuti kata hatinya ia akan mengikuti lomba menulis cerpen siapa tahu Tuhan memenangkannya dan kakaknya di perlombaan itu.
Skip
Hari di tunggu pun tiba ya ia dan kakaknya Selasa lalu sudah mendaftar lomba menulis cerpen dan hari ini adalah hari pengumuman untuk dipilih siapa yang akan menjadi juara satu, dua, dan tiga.
Akhir-akhir ini Sandra tidak pernah lupa berdoa kepada Tuhan yang maha esa memohon agar ia dan kakaknya memenangkan lomba menulis cerpen ini. Jantungnya berdegup kencang nafasnya tak beraturan hawa dingin pun tiba-tiba menyerang dirinya Sandra terus saja berdoa kepada Tuhan.
“Yaallah semoga aku dan kakakku memenangkan lomba cerpen ini amin”batin Sandra berdoa.
“ya anak-anak hari di tunggu pun tiba. Hari ini saya akan memberitahukan siapa saja yang terpilih untuk mewakilkan pada perlombaan menulis cerpen tingkat kabupaten yaitu....... Juara tiga di raih oleh satika dari kelas XII MIPA 4 juara dua di raih oleh Sandra Hasanah dari kelas X IPS 2 dan juara pertama di raih oleh........” oleh siapa ayooo”
“enggak tahu” balas semua para siswa siswi yang ada di lapangan upacara.
“Juara pertama di raih oleh Chelsea dari kelas XI IBB harap yang tadi saya sebutkan namanya maju ke arah saya”
Deg!
Tunggu apa tadi ia tidak salah dengar namanya ia dan kakaknya di sebutkan oleh ibu kepala sekolah tapi kalau iya berarti........ Ucap Sandra dalam hati.
“Sandra Lo enggak denger nama Lo tadi di panggil tuh sama ibu kepala sekolah selamat ya atas juara yang Lo raih”ucap salah satu temannya.
“Hah!? Beneran aku menang?? Beneran aku menang pin??” tanya Sandra tidak percaya.
“Iya lo menang cepetgih sana pergi ke depan tuh kakaknya Lo aja udah ke pergi ke depan”
Sandra pun segera pergi ke depan untuk mengambil piala dan piagam yang akan ibu kepala sekolah berikan.
“Selamat kalian terpilih untuk mewakili SMA kita mengikuti lomba menulis cerpen”
Reaksi Sandra dan kakaknya hanya bisa menangis dan mengucapkan terima kasih kepada Tuhan yang telah mengabulkan doa yang selama ini ia panjatkan.
Akhirnya ia dapat menjunjung tinggi nama baik keluarganya. Penderitaan yang selama ini ia alami ternyata ada balasannya ya sekarang ia tahu bahwa ia tak boleh menyerah begitu saja tuhan selama ini memang memberikan cobaan yang sangat berat untuknya dan keluarganya tapi ia tahu Tuhan melakukan hal seperti itu karena Tuhan sayang padanya serta keluarganya karena Tuhan ingin ia selalu berdoa dan menumpahkan keluh kesal yang ia alami jadi intinya kita tidak boleh menyerah begitu saja atau menyalahkan takdir kita yang buruk. Karena tuhan adalah maha paling adil di dunia tuhan tahu batasan-batasan tingkat kesabaran kita.
terimakasih karena telah mampir ke cerpen aku.....