Sahabat akan rela berkorban
.
.
.
.
.
Aku menatapnya dari kejauhan. Senyum manisnya, rambutnya terurai dimainkan angin, menggoda pipinya hingga bersemu merona.
Lagi-lagi ia tertawa mendengar seseorang sedang bercerita, mungkin mengisahkan sang Cinderella yang diselamatkan oleh pangeran. Hingga ia kembali tersenyum dan tersipu. Ingin sekali aku mendekatinya dan berbagi cerita. Tapi itu tidak mungkin. Sahabat sekaligus orang yang kucintai sedang bercengkerama di sana. Layakkah aku berdiri diantara mereka? Aku berbalik dan menjauh meninggalkan mereka. Bagiku mengetahui mereka bahagia sudah cukup.
Kisah ini akan kumulai...
Dia adalah Randra, sahabatku sejak sekolah dasar. Anaknya baik, humoris, meski ia bukanlah laki-laki idaman banyak wanita. Tapi sifatnya yang peduli membuat beberapa murid lain menyukainya. Bukan sekali dua kali aku dititipi salam dan berbagai kado untuknya.
Randra bersikap biasa saja dan menerima semua kado pemberian itu terkadang ia juga memberikan beberapa coklat untukku. Bukankah dia baik?
Hari-hari menjalani kegiatan bersama membuatku menyukainya. Hingga saat memasuki sekolah menengah, aku dan Randra berpisah sekolah. Aku menemukan sahabat baru bernama Anin. Anaknya lemah lembut, berambut panjang, kulit putih bersih. Idaman sekolah.
Persahabatanku dengan Anin sangat dekat. Tak jarang ia menginap di rumahku begitu juga sebaliknya. Dan rupanya, ada hati yang tertawan. Ya, Randra menyukainya. Anin tentu tahu bagaimana perasaanku pada Randra. Ia mencoba membuat Randra menyukaiku, tapi semua terasa sia-sia.
Sampai suatu ketika, Anin membuat janji agar aku bisa berkencan dengan Randra. Tapi sayang, semua kacau. Randra sangat marah dan membentakku. Saat itu, aku sungguh terluka. Sahabat yang ku kenal lembut membentakku dan meninggalkanku untuk mengejar Anin.
Anin yang menyadari ada yang salah malah berlari, saat menyeberang jalan ia diserempet oleh sepeda motor lalu menimpa kakinya. Aku segera berlari, mengankat sepeda motor. Tapi naas, sebuah mobil melaju karena rem blong. Tiga orang remaja menjadi pemberitaan hangat di jalan.
***
Anin membawakan sebuket bunga berwarna kuning dan putih untukku. Ia manis bukan? Ia meletakkan buket bunga di sampingku. Sedang Randra hanya berdiam diri, tapi aku melihat setetes air mata mengalir di pipinya.
Anin mendorong kursi rodanya, bercerita banyak hal yang terjadi hari ini di sekolahnya. Berkali-kali ia meminta maaf. Tapi tak ku gubris. Aku tidak menyalahkannya, jadi buat apa aku memaafkannya?
"Maafkan aku, Sa" Suara lembut Randra berbisik di sampingku. Apakah ia punya salah denganku? Aku tak mengerti, yang aku rasakan saat ini adalah tenang dan damai. Melihat mereka bersama juga membuatku lega. Setidaknya aku tahu, pilihan Randra adalah gadis yang lembut. Aku akan merelakanmu, Randra untuk sahabatku Anin.
"Sudah sore, ayo pulang!" Anin berbicara pelan. Randra menatapku, lalu tersenyum. Ia segera bangkit dan berjalan memutar. Menarik mundur kursi roda Anin, memutarnya dan perlahan mereka meninggalkanku yang sendiri di sini. Aku ingin berteriak tapi suara ini tak keluar. Aku menatap punggung mereka dengan sedih dan berpaling melihat tempat tidurku dengan tulisan
RIP
Erica Ressa Darmawan
Lahir 31 Agustus 2004
Meninggal 04 September 2021
Ya, akulah yang mendorong tubuh Randra ke trotoar saat melihat mobil melaju ke arah kami, dan menahan dengan sepeda motor yang menimpa Anin hingga membuatnya patah tulang dan harus menggunakan kursi roda untuk beberapa waktu. Sayangnya, ternyata besi pada stang sepeda motor malah menusuk dadaku tepat di jantung. Kini, aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan. Andai waktu bisa berputar, aku tak ingin memaksakan untuk membuat janji dengan Randra di sore itu. Bukankah sebaiknya aku membiarkan rasa itu hilang dengan sendiri?
~Tamat~