Kierkgaard seorang pintar pernah menulis, " Kesucian hati berfokus pada satu obyek saja. "
Rasanya masih sulit menghapus jejakmu dalam hatiku.
Kisah 10 tahun lalu masih meninggalkan bekas yang sulit dihapus. Sekalipun tidak menempati ruang utama dalam hatiku, tetapi ada satu ruangan yang masih menjadi pemilik sah perempuan berparas cantik itu. Tessalonika Benyamin.
Wanita yang menjadi sahabat satu - satunya semasa kuliah. Wanita yang selalu kudoakan supaya menjadi pendamping hidup kelak.
Wanita yang selalu ada bersamaku, bercerita tentang banyak hal, berdiskusi tentang mata kuluah, teman jjs, sahabat terbaik. Dan cinta tumbuh dalam kebersamaan kami.
Tessalonika Benyamin dan Joel Jonathan menjadi pasangan paling kompak kala itu.
Tapi semua tidak seperti yang diharapkan.
Ternyata Tuhan membuat kami terpisah. Bukan jodohnya, kata orang tua.
Setelah kudoakan sepanjang hari disepanjang perkuliahan. Rasanya masih tidak percaya dan tidak terima. Kebersamaan kami terlalu manis. Terlalu indah untuk dilupakan.
Tapi rasa yang tertinggal.masih sama sampai hari ini. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan yang masih utuh tersimpan hanya untuknya.
Ini salah.
" Kau masih menyintainya, mas ? " tanya Jelita pagi itu.
Aku hanya diam, tidak bisa mengatakan karena pasti ada hati yang terluka. Tidak juga membantah karena aku masih sangat mencintainya.
" Tidak adil bagiku, mas. Kita menikah sudah sembilan tahun. Kita juga sudah mempunyai seorang anak yang cantik. Tapi Mas masih mencintai wanita lain di sepanjang pernikahan kita. " suara Jelita lirih dalam tangisannya.
Kuraih perempuan cantik itu dalam pelukanku.
" Maafkan aku, Lita ! "
Kuraih pinggang wanita yang sudah menemaniku selama sembilan tahun pernikahanku. Wanita yang sudah banyak berkorban untukku.
" Cari dan selesaikan perasaanmu kepada Tessa, Mas. Aku menghargai perasaanmu tetapi Aku tidak mau hidup dengan perasaanmu yang masih terbagi kepada wanita lain. Maaf jika Aku egois. " Jelita melepaskan pelukannya dan menangis tertunduk.
Ku raih tubuh Jelita lagi dalam pelukanku. Nampak wanita itu meronta sedih.
Rasa bersalah semakin menusuk hatiku.
" Maafkan, Mas, Lita ! "
" Pergilah, Mas ! Datanglah setelah Kau selesaikan perasaanmu. Aku percaya dengan hatimu. " ucapnya lirih.
Rasa sesak semakin menusuk - nusuk hatiku.
" Jangan seperti ini, Lita ! Abaikan perasaanku ! Itu hanya masa lalu. Sekarang kita sudah menikah. Mengapa masih mempermasalahkan masa lalu ? " ucapku marah. Seharusnya aku marah dengan hatiku bukan kepada wanita yang dengan sukarela berbakti dan memberikan semua cintanya untukku.
Aku meremas rambut dengan frustasi.
" Pergilah, Mas ! Aku mencintaimu. Tapi maaf Aku tidak bisa toleran dengan perasaanmu yang masih terbagi kepada wanita yang lain. "
Jelita menutup pintu rapat.
Kulangkahkan kakiku pergi dari rumah yang sudah menjadi tempatku pulang setelah seharian penat dikantor
Pulang dengan kelelahan. Pulang dengan kemarahan. Pulang dengan masalah. Tapi Jelita tetap menerimaku pulang dengan tangan teebuka, dengan wajah yang selalu tersenyum, dengan masakan yang selalu menggugah selera, dengan pelayanan seorang isteri yang tidak pernah mengeluh.
" Akh.... " Aku menjerit frustasi.
" Perasaan apa ini. Dasar Tessa, kenapa masih bercokol di hati. Pergi. Hhhhhh... . "
Kuhempaskan tubuhku di jok kemudi. Tanganku dengan keras mencengkeram kemudi.
Perasaan ini harus ku buang. Mungkin dengan menemui Tessa dan menyelesaikannya bisa memperbaiki hubunganku dengan Jelita.
" Sekalipun terlambat, Aku akan tetap memperjuangkan masa depanku bersamamu Lita. " tekadku lirih.