Bagaimana jika orang yang selama ini kau anggap sahabat, ternyata adalah orang yang mengincar nyawamu?
🙌🙌🙌
Siang hari pukul 14:50, di Cafe Garden...
"Lylia, kau tahu? Sekarang aku sudah tidak jomblo lagi!"
"A-APA?!"
Lylia hampir tersedak kopi yang sedang ia minum. Sambil menyimpan gelas di depan mejanya, ia menatap Angela dengan tatapan tak percaya.
"K-kau serius? Kau berpacaran dengan siapa sekarang?" tanya Lylia sambil menoleh ke arah kanan-kirinya. Ia merasa orang-orang di Cafe tersebut memperhatikannya karena suaranya yang cukup menggelegar tadi.
"Kecilkan suaramu, Ly. Hihihi," ucap Angela sambil tertawa kecil.
"Kau ini kan sudah jomblo sejak 4 tahun yang lalu, jadi saat mendengarmu sudah tidak jomblo lagi, aku jadi sangat kaget. Hahaha..."
Angela ikut tertawa melihat sahabatnya tertawa begitu puas.
"Kau penasaran kan pacarku siapa?"
"Tentu saja aku penasaran!"
"Dia akan datang kesini. Kau bisa melihat secara langsung ketampanannya! Hahaha..."
Lylia berdecak sambil melihat jam di ponselnya, "Aduh, aku harus menunggu berapa lama? Kau kan tahu jam 3 sore ini aku mau pergi一"
"Nah! Itu dia!" ujar Angela memotong ucapan Lylia sambil menunjuk ke arah belakang sahabatnya itu.
Refleks, Lylia pun menoleh ke belakang. Bisa ia lihat, seorang lelaki dengan jaket abu-abu dan celana pendek casual一sedang berjalan menghampiri meja yang ia tempati bersama Angela.
Meskipun penampilannya terlihat sangat biasa, namun wajah lelaki tersebut benar-benar tampan. Selain berkulit putih, berbadan tinggi, lelaki itu juga memiliki mata biru yang indah. Sebiru warna air laut.
Lylia terdiam memperhatikan lelaki itu yang kini duduk di tengah-tengah antara dia dan Angela.
"Hei, Lylia! Kenapa kau melamun? Perkenalkan, ini pacarku. Namanya Claude," kata Angela lalu diikuti senyuman manis dari Claude.
"Salam kenal, Lylia," ujar Claude sambil menjulurkan tangan一berniat untuk bersalaman dengan Lylia.
Bukannya menjawab, Lylia malah diam tak bersuara. Namun, bisa Angela lihat tatapan mata Lylia tak lepas dari wajah tampan Claude.
"Lylia? Hei, Lylia?" Angela mulai mengguncang-guncangkan pundak sahabatnya itu.
Lylia pun tersadar dari lamunannya, "Eh? I-iya?"
"Claude mengucapkan salam padamu," kata Angela sambil melirik pacarnya sekilas.
"Oh, iya. S-salam kenal juga, Claude."
Claude hanya membalas dengan senyuman manis. Membuat Lylia terlihat semakin salah tingkah di depan Angela.
"Kalau begitu, aku pergi dulu ya. Aku harus segera menjenguk adikku ke Rumah Sakit, dadah!" seru Lylia seraya bangkit dari duduknya, lalu berlari meninggalkan Angela dan Claude yang terheran-heran.
"Sahabatmu terlihat seperti orang aneh, sayang," ucap Claude sambil tertawa kecil.
Angela mengernyitkan dahinya, "Tak biasanya dia seperti itu. Aku juga jadi heran padanya."
"Ya sudah, tak usah dipikirkan, ya. Mungkin saja Lylia tidak enak kalau mengganggu kita yang ingin berduaan disini," kata Claude sambil membelai rambut coklat Angela.
Angela tersenyum simpul. Namun dalam hatinya, ia tetap merasa heran dan aneh terhadap Lylia.
🙌🙌🙌
Sore ini, Lylia dan Angela sedang berjalan menuju gerbang utama Kampus. Mereka saling berbincang tentang hal-hal seputar mata kuliah mereka hari ini. Namun, tiba-tiba langkah Angela terhenti tepat di dekat gerbang utama Kampus.
"Aduh, Ly! Ponselku sepertinya tertinggal di dalam kelas!"
"Hah? Kok bisa?"
"Aku ambil ponselku sebentar, ya! Tunggu aku disini, jangan kemana-mana!" seru Angela sambil berlari, berputar arah kembali ke dalam kelas yang jaraknya cukup jauh dari gerbang.
Lylia pun berdiri mematung sambil memperhatikan mahasiswa dan mahasiswi lain yang sedang berjalan一berlalu-lalang melewati dirinya.
Tiba-tiba, Lylia merasakan ada tangan yang menutupi kedua matanya dari belakang. Tentu saja, Lylia kaget setengah mati.
DEG!
"Aaaa!" teriak Lylia sambil menghadap ke belakang. Refleks, tangannya menampar pipi orang yang berdiri di belakangnya.
Betapa kagetnya Lylia saat mengetahui ternyata yang dibelakangnya adalah Claude.
"Eh? Lylia? Kukira, kau Angela. M-maaf ya," ujar Claude sembari mengusap-usap pipinya yang merah akibat tamparan Lylia.
"Tidak apa-apa, kok. Harusnya aku yang minta maaf karena malah menamparmu. Kukira, kau orang jahat," kata Lylia merasa bersalah.
"Tidak, tidak apa-apa kok. Oh iya, by the way, Angela kemana?"
"Dia kembali ke kelas karena ponselnya tertinggal, Claude."
Hening. Claude dan Lylia sama-sama diam seribu bahasa. Merasa suasana begitu canggung, Lylia pun membuka suara.
"Apa sangat sakit?" tanya Lylia menatap Claude khawatir.
Claude tersenyum manis, "Tidak, kok. Tidak apa-apa."
"Mana mungkin tidak apa-apa? Pipimu merah lebam begini," ujar Lylia sambil menyentuh pipi Claude tanpa sadar.
Claude hanya diam sambil menatap Lylia yang kini mengusap-usap pipinya dengan lembut. Dua manusia berbeda gender itu pun saling berkontak mata satu sama lain. Tak sadar bahwa dari kejauhan, ada seorang gadis sedang berdiri memperhatikan mereka berdua dengan tatapan marah dan kecewa.
"Lylia, jadi kau begini di belakangku. Aku tak akan membiarkanmu merebut Claude dariku!" batin Angela dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
🙌🙌🙌
Beberapa minggu kemudian...
"Setelah mendengar ceritamu barusan. Bisa kusimpulkan bahwa, kau merasa cemburu pada Lylia, ya?"
Angela mengangguk mendengar pertanyaan laki-laki一Harley一yang kini sedang duduk bersebelahan dengannya. Biasanya, yang menemani Angela di kantin Kampus itu adalah Lylia. Namun karena Lylia izin tidak masuk karena mau menjenguk adiknya yang sakit, Angela pun ditemani oleh Harley一sahabat dekat Angela selain Lylia.
Siang ini, suasana kantin di kampus itu cukup ramai. Membuat Angela mau tak mau harus menahan air matanya agar tidak keluar.
"Minggu kemarin, aku melihat isi chatting antara Claude dengan Lylia. Isi chatting mereka benar-benar tidak wajar. Bukan seperti teman biasa," ujar Angela kembali bercerita.
"Selain itu, Claude juga jadi jarang menelfonku dan jarang meluangkan waktu untukku," tambah Angela sambil menunduk.
Harley menatap iba Angela. Perlahan tapi pasti, tangannya menyentuh dagu Angela agar kepala gadis itu kembali menghadap ke arahnya.
"Ada satu hal, yang benar-benar membuatku shock."
"Apa?" tanya Harley penasaran.
"Lylia sepertinya mencoba untuk mencelakaiku."
"Maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu, Lylia datang ke rumahku. Kebetulan, saat itu Claude juga sedang berkunjung. Lylia pun menawarkan jus mangga yang ia bawa dari rumah. Yang benar-benar mengejutkan, saat aku mau minum jus mangga itu, aku melihat ada serpihan silet terpotong kecil-kecil yang menyatu dengan jus. Tentu saja saat itu aku langsung berteriak kaget dan menumpahkan jus tersebut."
Harley menatap Angela kaget sekaligus khawatir, "Lalu? Setelah itu? Bagaimana tanggapan Lylia soal jus buatannya yang aneh itu?"
"Lylia juga kaget. Bahkan, dia terlihat lebih kaget dariku. Karena saat itu situasi benar-benar membingungkan, Claude pun berusaha menenangkanku. Kata Claude, mungkin saja serpihan silet itu berasal dari pisau blender yang sudah rapuh. Akhirnya, Lylia pun minta maaf padaku lalu pulang dengan eskpresi wajah yang aneh," jawab Angela panjang lebar.
Harley terdiam beberapa saat. Lalu detik selanjutnya, sorot mata Harley terlihat lebih serius dari sebelumnya. Ia menatap Angela lekat-lekat hingga membuat Angela bingung sendiri.
"A-ada apa, Harley?"
"Angela, sampai saat ini, kau yakin Lylia itu sahabatmu? Sahabat terbaikmu?"
Angela diam. Tak bisa menjawab pertanyaan Harley.
"Bagaimana jika orang yang selama ini kau anggap sahabat, ternyata adalah orang yang mengincar nyawamu?" tanya Harley membuat mata Angela terbelalak.
"Mengincar... nyawaku?"
🙌🙌🙌
Malam ini, Lylia sedang berada di rumah Angela. Kebetulan besok mereka jadwal libur di Kampus. Daripada bosan seharian di rumah, Lylia jadi memutuskan untuk menginap di rumah sahabatnya itu.
Tak enak untuk menolak, Angela pun mempersilahkan dan mengizinkan Lylia untuk menginap di rumahnya. Lagipula, orangtuanya sedang keluar kota karena urusan bisnis. Jadi ia merasa, tak ada salahnya Lylia menemaninya disini walau hanya semalam.
"Angela! Kau bilang, Claude akan kesini pukul 9 malam nanti, kan?" tanya Lylia sambil duduk di sofa empuk ruang tamu rumah Angela.
Angela mengangguk sambil mengunyah keripik kentang yang ada di meja tamu.
Hening. Angela dan Lylia diam dan hanya saling berpandangan. Angela sendiri bingung harus bicara apa karena situasi canggung ini.
"Ehm, Lylia," Angela mencoba membuka suara.
"Ya? Kenapa, Ngel?"
"Disini tidak dingin, kok. Aku sudah atur AC-ku agar tidak terlalu dingin. Jadi, kau bisa membuka jaketmu," saran Angela yang entah kenapa salah fokus karena melihat Lylia tak melepas jaketnya sedari awal datang.
Baru saja Lylia akan mengelak, tiba-tiba Angela mendengar suara ketukan pintu diluar. Tanpa pikir panjang, Angela pun segera berjalan pergi lalu membuka pintu rumahnya.
"Claude!" seru Lylia sumringah di belakang Angela. Hal itu tentu saja membuat Angela menoleh ke belakang.
Claude tersenyum manis, "Selamat malam, Lylia."
Angela melirik Claude yang kini tengah bertatapan dengan Lylia. Ya, mereka berdua bertatapan sambil tersenyum-senyum一seakan-akan tak ada Angela yang berdiri diantara mereka berdua.
"Lylia, aku sudah tak tahan lagi dengan ini semua," batin Angela mengepalkan tangan sambil membuang muka. Enggan menatap salah satu di antara Claude ataupun Lylia.
🙌🙌🙌
"Silahkan diminum," kata Angela seraya menaruh satu-persatu tiga gelas berisi teh hangat.
Claude dan Lylia yang sedari tadi sedang mengobrol pun mengangguk. Namun, mereka tetap saja mengobrol berdua tanpa mempedulikan Angela yang duduk di tengah-tengah antara mereka.
"Teh-nya nanti dingin lho kalau tidak segera di minum," ujar Angela memotong pembicaraan Lylia dengan Claude.
Lylia pun terdiam. Gadis itu lalu mengambil dan meminum teh di waktu yang sama dengan Claude.
"Aku akan tunggu reaksi dari teh yang diminum Lylia," batin Angela sambil menatap Lylia sinis.
Benar saja. Tak lama kemudian, tiba-tiba Lylia tak sadarkan diri dan terjatuh ke lantai.
BRUKKK!!!
"Eh? Lylia! A-angela, Lylia kenapa pingsan?" tanya Claude kaget setengah mati.
"Tenang saja, Claude. Aku hanya memberinya obat tidur kok, supaya dia tak mengganggu waktu berduaanku denganm一"
BRUKKK!!!
Ucapan Angela terhenti karena Claude malah ikut ambruk sama seperti Lylia. Melihat hal itu, tentu saja Angela langsung panik dan kaget.
"Claude! Sayang! Bangun! Apa jangan-jangan aku tak sengaja memasukkan obat tidur ke dalam gelas Claude juga, ya?"
"Sayang, bangun! Jangan becanda seperti ini, dong!" panik Angela sambil mengguncang-guncangkan tubuh Claude.
Seketika, Angela berhenti mengguncangkan tubuh Claude tatkala melihat sesuatu yang aneh. Sebuah titik kecil berwarna merah darah ada di lengan kanan Claude.
"Dilihat dari bekasnya, ini terlihat seperti bekas suntikan yang baru," batin Angela heran, masih dengan perasaan paniknya.
"A-apa jangan-jangan..."
Angela segera beralih pada Lylia yang juga masih tergeletak tak berdaya. Tangannya mencoba mencari sesuatu di jaket Lylia. Dan...
Benar saja, sesuai dugaan Angela. Bahwa di saku jaket Lylia terdapat sebuah jarum suntikan yang cairannya sudah tak ada.
"Apa maksudmu menyuntik Claude dengan obat, Ly?"
Angela terdiam dengan tatapan kosong. Di dalam otaknya, berbagai pertanyaan menghantam bertubi-tubi. Hingga pada akhirnya, ia kembali tersadar tatkala mendengar suara sirine polisi ada di depan rumahnya.
Tak lama, polisi pun mendobrak pintu rumah Angela. Membuat rasa panik Angela semakin menggebu-gebu.
Angela pun bangkit dari duduknya. Menatap kaget dua polisi yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri. Kemudian, rasa kagetnya kian bertambah tatkala melihat Harley ternyata ada di belakang dua polisi tersebut.
"H-harley?"
🙌🙌🙌
Beberapa bulan kemudian...
Siang ini, matahari sungguh panas menyengat bumi. Seorang laki-laki dengan kemeja casual dan celana panjang hitamnya一sedang menunggu seseorang di ruang jenguk tahanan. Jari-jemarinya tak berhenti mengetuk meja tanda tak sabar menunggu.
"Harley..." kata seorang narapidana masuk ke ruang jenguk tahanan.
"Angela, apa kabar? Maaf aku baru bisa menjengukmu. Kau kan tahu sendiri aturan disini bagaimana. Orang lain baru bisa menjengukmu kalau kau sudah berada di dalam sel selama 3 bulan," jelas Harley saat Angela baru saja duduk dihadapannya.
Angela tersenyum getir, "Tidak apa-apa kok. Aku mengerti. Ehm, mengenai kabarku, aku masih merasa frustasi, Harley."
"Kau masih belum bisa menerima kenyataan, ya? Kenyataan seperti apa yang belum kau terima? Apa kau masih tak terima ternyata orang yang kau pacari一Claude一adalah seorang psikopat dan buronan polisi? Ah, salah. Maksudku, Roger. Dia bernama asli Roger, kan? Sudahlah, tak usah dipikirkan. Yang penting bagimu, Roger sudah mati akibat suntikan obat dari Lylia."
Angela menggeleng, "Lebih dari itu."
"Apa? Apa kau masih shock karena ternyata adik Lylia yang dirawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu一adalah korban dari Roger juga?"
Lagi-lagi Angela menggeleng, "Lebih dari itu."
"Kau masih belum bisa memaafkan dirimu soal kematian Lylia yang tak sengaja terbunuh olehmu?"
Angela diam. Menunduk.
"Dengar ya, kau ini salah paham pada Lylia yang mendekati Roger terus-terusan. Ternyata, alasan Lylia mendekati Roger itu adalah untuk membalaskan dendam karena adik Lylia adalah korban dari Roger, kan?" tanya Harley. Tapi, Angela masih saja diam tak bersuara.
"Dengan emosi yang menggebu-gebu, kau berniat membuat Lylia tertidur pulas dengan obat tidur agar Lylia tak mengganggu waktumu dengan Roger, kan? Namun, karena dosis yang terlalu banyak, kau tak sengaja membunuh Lylia. Aku paham. Aku paham bagaimana perasaanmu," ujar Harley yang membuat tetes demi tetes air mata Angela turun.
"Terimakasih, Harley. Kau memang sahabatku yang terbaik. Kau bisa mengerti bagaimana perasaanku, aku sungguh berterimakasih. Namun, tetap saja aku merasa menyesal. Aku sungguh manusia bo一"
"Tidak apa, semua sudah berlalu. Sekarang semuanya sudah berakhir," kata Harley seraya berdiri lalu...
JLEB!
Angela membulatkan mata dengan sempurna. Sesuatu yang tajam menusuk jantungnya hingga ke tulang punggung belakangnya. Ia menatap Harley dengan tatapan tak percaya一dengan apa yang Harley lakukan padanya. Rasa sakit pun menjalar ke seluruh tubuhnya. Benar-benar menyakitkan, hingga ia terjatuh ke lantai.
Hal terakhir yang bisa Angela lihat adalah bagaimana Harley menertawakan dirinya dengan puas. Dan para polisi yang melihat kejadian itu di CCTV langsung datang ke ruangan jenguk tahanan tersebut.
"Hahaha... Akhirnya! Setelah berbulan-bulan menunggu, akhirnya aku bisa menjengkmu dan melakukan ini padamu! Aku tak peduli akan masuk penjara karena telah membunuhmu! Yang penting, aku bisa membalaskan dendam Kakakku一Roger一padamu! Hahaha..."
Angela merasakan kaku diseluruh tubuhnya. Ia hanya bisa menatap Harley yang ditarik-tarik oleh polisi untuk di amankan. Namun, karena tenaga Harley yang kuat, para polisi tersebut kewalahan untuk menarik lelaki gila tersebut.
"Bagaimana jika orang yang selama ini kau anggap sahabat, ternyata adalah orang yang mengincar nyawamu? Ingat perkataanku yang itu, Angela? Hahaha..." Harley masih saja menertawakan Angela yang diam terkapar tak berdaya.
Hingga pada akhirnya, Angela merasa tubuhnya di gotong oleh beberapa polisi yang datang. Rasa sakit dan kaku diseluruh tubuhnya juga semakin tak tertahankan.
Lalu...
Gelap.
Ia tak bisa melihat apa-apa lagi kecuali gelap.
🙌🙌🙌
THE END
▼△▼△▼△▼△▼△▼△▼△▼△▼△▼△▼
Eits! Jangan kemana-mana dulu! Like komennya kan belooom🥺 Mwhehehehe, coba komen apa kalian merasa kena plot twist, atau kalian udah tau duluan bahwa Harley itu jahat? 🤣
Okedeh sekian terima gaji! Wkwkwkwk...
❤Big Love,
Meow🐱