"Kamu pengen kemana y/n?"
"Terserah, aku nggak punya tujuan."
"Tujuan kamu aku? Haha."
"Eh udah lampu ijo!" kata gue.
"Pegangan y/n!"
Winwin lalu menarik gas motornya.
Gue melingkarkan kedua tangan gue ke badan Winwin dan bersandar di punggungnya layaknya Dilan-Milea.
Tapi boong!
Ada tas 'rohis' Winwin nyempil diantara kami berdua dan gue cuma pegangan tas itu tanpa sedikitpun menyender ke punggungnya.
Berasa naik ojol.
Kami satu kampus dan sudah berpacaran selama lima bulan. Hari ini kami akan pergi nge-date naik motor.
Kami dari kampus langsung cus motoran tanpa pulang dulu. Jadi kami masih bawa tas kuliah.
"Ke taman edelweiss mau nggak y/n?"
"Jangan. Katanya kalo pacaran nggak boleh kesitu, nanti putus."
Padahal bunga edelweiss lambang keabadian, tapi mitosnya kalo pasangan ke taman edelweiss hubungannya nggak akan langgeng.
"Oh, waktu itu Mark sama Mina kesitu, pantesan putus. Kalo ke taman hiburan mau nggak? Ada ferris wheel nya."
"Boleeh."
Kami langsung tancap gas ke taman hiburan yang letaknya di pinggiran kota.
"Tiketnya 2 mba."
Setelah membeli tiket kami berjalan menuju pintu masuk taman hiburan.
"Dicap dulu ya mba." kata petugas pintu masuk.
Petugas lalu mencap tangan gue.
"Dicap dulu ya mas." kata petugas ke Winwin yang ada di belakang gue.
"Di leher ya pak." kata Winwin.
Suasana taman hiburan tidak terlalu ramai karena hari senin.
"Fotoin dong, aku mau bergaya boyfriend."
Gue ambil foto dia.
Cekrek!
"Coba liat."
Gue tunjukkin hasil jepretan gue.
"Angle nya kurang pas. Ulangi lagi."
Gue turutin.
Gue ambil foto dia lagi.
Cekrek!
"Coba liat."
"Hmm masih kurang. Ulangi lagi."
Gitu terus sampai 10 kali foto.
"Udah ayo masuk..." ajak gue biar dia nggak ribet masalah foto lagi.
Kami masuk ke taman hiburan dan langsung disambut dengan toko-toko souvenir yang berjejeran di kiri dan kanan kami.
"Beli bando hewan yang lucu-lucu itu yuk!" ajak gue.
Setelah dibeli, bando hewannya langsung kami pakai.
Seperti biasa dia pilih ayam, sedangkan gue kelelawar.
Kami lalu menuju area permainan.
Setiap blok di taman hiburan ini memiliki tema yang beda-beda. Ada tema madagascar, enchanted, jurrassic park, sesame street, dll.
"Naik carousel yuk win!" ajak gue.
"Cemen amat."
Kami lalu naik carousel seperti anak kecil.
Selesai naik carousel, kami naik beberapa wahana yang tidak terlalu ekstrim.
"Laper nggak?"
"Iya, beli makan dulu yuk."
Kami ke foodcourt yang ada didalam taman hiburan.
"Loh Yangyang Chicken buka disini? Beli yuk y/n!"
Yangyang Chicken?
Kami kemudian memesan paket nasi ayam es teh di Yangyang Chicken.
Setelah membayar, Winwin membawa nampan yang berisi makanan pesanan kami kemudian memilih tempat duduk.
"Yummy! Yangyang Chicken kenapa enak banget sih!" kata Winwin. Dia bertingkah seperti anak kecil yang baru pertama kali makan ayam goreng.
Gue cuma ketawa ngeliat tingkahnya.
Gue masih heran, kok bisa sih Yeji mutusin orang seimut ini?
Setelah makan, kami berhenti sebentar menunggu makanan turun ke perut lalu lanjut jalan lagi.
"Mau beli es krim yoghurt nggak?"
"Mauu.."
Kami lalu beli es krim yoghurt dan menyantapnya di kursi yang menghadap ke air mancur.
"Y/n naik roller coaster yuk!"
"Nggak mau ah takut."
"Yaudah aku naik sendiri. Bawain tasnya."
Dia memberikan tasnya ke gue lalu pergi ke roller coaster.
Beberapa menit kemudian dia kembali dengan wajah pucat.
"Kamu nggak papa?"
"Aku mau muntah."
Setelah Winwin muntah, kami cuma duduk-duduk di kursi yang tadi. Dia masih terlihat lemas.
"Gimana? Udah enakan?" tanya gue.
"Masih agak pusing."
"Gue beliin teh anget ya.."
"Hayo janjinya apa? Ngomongnya pake aku-kamu."
"Iyaa, lupa.."
Sempet-sempetnya..
"Nih diminum.." kata gue setelah kembali dari membeli teh hangat.
Glek.. glek.. glek..
Winwin langsung menghabiskan teh hangatnya.
"Kapok nggak?"
Dia mengangguk.
"Padahal belom jadi naik ferris wheel." kata gue.
Kami masih duduk-duduk di kursi sambil menunggu Winwin pulih. Hari mulai gelap. Lampu-lampu di taman hiburan mulai menyala.
"Aku udah mendingan, ayo kalo mau naik ferris wheel." kata Winwin.
"Bener udah mendingan?"
Winwin mengangguk.
"Yuk!"
Kami masuk kedalam ferris wheel. Setelah kami masuk, pintunya lalu ditutup.
Kami duduk berhadapan. Winwin tiba-tiba mengambil hoodie dari tasnya kemudian ia pakai. Penutup kepala hoodie nya ia pakai sampai menutupi wajahnya. Tangannya kemudian memegang pegangan yang ada disamping ia duduk.
"Kamu kenap---"
"Jangan bilang kamu takut ketinggian?!"
Dia tidak menjawab.
Ferris wheel berputar sangat pelan. Kami hampir sampai di posisi seperempatnya. Gue fokus menikmati pemandangan sekitar ferris wheel.
"Lo beneran nangis kan waktu itu? Nggak mungkin Kak Doy bohong." kata Winwin tiba-tiba.
Eh?
"Nggak.. Emm by the way, Kak Doy ngundang kita kerumahnya. Ngajakin farewell. Kita patungan beli kado yuk Win buat kak Doy!"
"Jangan ngalihin pembicaraan. Kenapa nangis waktu itu?"
"Nggak papa."
"Bilang kenapa!"
"Aku ngerasa bersalah. Gara-gara aku nggak bisa jawab pertanyaan responsi, nilai kita jadi nggak sempurna. Aku nggak enak sama kamu, padahal kamu udah susah payah ngajarin aku." kata gue.
"Gara-gara itu?"
"Iya."
"Y/n, aku itu nggak peduli sama nilai."
"Kamu bilang gitu tapi nilai nilai kamu bagus."
"Aku kuliah cari ilmu, bukan cari nilai. Kalo nilaiku bagus itu bonus. Kamu udah ngelakuin yang terbaik kok buat tim kita, jadi jangan merasa bersalah y/n.."
Gue lalu peluk dia dengan erat. Dia membalas pelukan gue.
"Iya, hiks."
Pelukan Winwin semakin erat, terasa hangat dan nyaman. Membuat gue berharap waktu berhenti di detik ini juga.
"Sayang, kita barengan terus yaaa.."
"Iyaaaaa..."
Winwin melonggarkan pelukannya, tanpa sengaja mata kami bertemu. Sorot matanya begitu lembut. Dia lalu mendekatkan wajahnya. Semakin dekat, sampai tak tersisa lagi jarak diantara kami. Seketika mata gue terpejam. Sebuah kecupan manis dari bibirnya kemudian mendarat di bibir gue untuk yang pertama kalinya. Tepat di titik tertinggi ferris wheel.