Apa itu sahabat?
Sahabat adalah seseorang yang lebih dari teman, dan nyaris seperti keluarga. Bukan!
Sahabat adalah seseorang yang selalu ada dalam suka dan duka. Bukan juga!
Aaah entahlah! Yang jelas, sahabat ku tidak ada dalam dua kategori itu.
Kenapa?
Karena..
Aku adalah seorang gadis SMP biasa, bangun pagi berangkat sekolah, pulang sore, mandi, makan dan tidur. Lalu terbangun dengan rutinitas yang sama.
Pokoknya hidupku sangat membosankan, tetapi aku tidak pernah merasa kesepian, karena 'mereka' selalu hadir di sekelilingku.
Sejak kecil inilah kelebihanku, bisa melihat hantu.
Aku tidak punya teman, apa lagi sahabat. Karena kelebihan ku ini, mereka menganggap sebuah ketidak normalan yang tidak bisa mereka terima.
Aku lebih memilih untuk menutup diri, dan menyendiri.
Sampai suatu hari, kelas ku sedang direnovasi. Kami terpaksa pindah ke ruang kelas yang sudah lama tak terpakai.
Di sana aku melihat sesosok hantu yang berbeda dari yang lain. Dia tidak menyeramkan, ataupun berbau aneh.
Sepertinya, dia menyadari kehadiranku. Dia menoleh dengan tatapan penuh tanya.
"Kau bisa melihat ku?" Tanyanya pada ku sambil mendekat.
Aku hanya bisa menjawab dengan anggukan.
Astaga! Aku pasti sudah gila.
Hantu ini sangat tampan, dia memakai seragam sekolah, dengan jaket hitam. Matanya yang sayu seolah menjadi daya tarik tersendiri. Kalau dia manusia, mungkin akan sangat populer di kalangan para gadis di sekolah.
Setelah selesai kelas, aku sengaja memperlambat diri agar keluar paling akhir.
"Namaku Andrew! Siapa nama mu?" Tanyanya menghampiri bangku yang ku duduki.
"Aku Natasya!" Akhirnya aku bisa menjawab, setelah orang-orang pergi.
"Boleh aku memanggilmu Tasya?"
Andrew sangat senang bisa bertemu denganku, selama ini dia terus menempati kelas kosong itu dan tidak pernah bicara dengan siapapun.
Sering dia mencoba berkomunikasi dengan beberapa siswa, namun hasilnya selalu sama. Sebelum dia menyapa, mereka sudah lari ketakutan.
Hari demi hari, setiap jam pulang sekolah kami selalu mengobrol di dalam kelas, bertukar cerita dan saling tertawa saat mendengar hal yang lucu.
Andrew menceritakan masa hidupnya, dulu dia adalah seorang siswa di kelas itu. Seperti dugaan ku, dia sangat populer di sekolah. Andrew mengikuti berbagai macam eskul dan club belajar.
Saat mendekati ujian, Andrew ditekan oleh orang tuanya untuk mendapat nilai paling tinggi, dia selalu pulang terlambat dan belajar hingga larut malam.
Pada suatu hari dia sangat kelelahan, dan meninggal di dalam kelas disaat ujian tengah berlangsung.
'Bocah malang'. Begitu para hantu di sekolah menjulukinya.
Kami terus bertukar cerita, hingga satu bulan pun tidak terasa. Kelas ku selesai direnovasi, dan aku pun kembali belajar di sana.
Tapi pertemuan ku dan Andrew tak berakhir di situ, setiap jam istirahat dan pulang sekolah aku selalu menyempatkan diri menemuinya di kelas kosong.
Tapi kebiasaan baru ku itu, membuat banyak siswa lain penasaran. Mereka menganggap ku aneh dan gila, saat memergoki ku berbicara sendiri di kelas kosong.
Mereka mulai membully ku dan bahkan mengucilkan ku. Tapi aku tetap datang dan menemui Andrew.
Kabar ini pun sampai terdengar ke telinga guru, lalu mereka menutup kelas kosong agar aku tak kembali ke sana dan meresahkan banyak siswa.
Setelah kejadian itu, aku hanya bisa melihat Andrew dari kejauhan, menyapanya dari balik jendela di luar gedung sekolah.
Andrew terlihat sangat sedih dan kesepian. Andai saja dia tidak terjebak di kelas itu, mungkin kami bisa lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Entah bagaimana, terlintas begitu saja di pikiranku. Bagaimana caranya, membebaskan Andrew dari kelas itu. Aku pasti sudah gila betulan.
Hari itu, setelah sekolah aku bergegas pulang dan pergi menemui dewi/cenayang.
Belum sempat aku bicara, beliau sudah tau tujuanku datang ke sana.
"Tidak bisa!" Sahutnya singkat.
"Tolonglah dewi! Dia adalah teman ku satu-satunya." Pintaku memelas dengan menutup kedua tangan.
"Dia mati di kelas itu, dan menjadi arwah penasaran!" Kata sang dewi. "Satu-satunya cara membebaskan dia, adalah penuhi rasa penasarannya!"
Rasa penasaran?
Andrew meninggal saat dalam keadaan sedang mengikuti ujian, mungkin dia penasaran dengan soal ujian dan ingin menyelesaikannya.
Keesokkan harinya, mau tidak mau aku mulai berkomunikasi dengan hantu-hantu lain di sekolah, hantu yang buruk rupa dan berbau amis.
Aku meminta bantuan mereka, untuk menanyakan apakah rasa penasaran Andrew sama dengan yang aku pikirkan. Dan ternyata memang benar.
Kebetulan, bulan ini ada ujian akhir. Tapi bagaimana cara Andrew bisa mengikuti ujian itu, sedangkan dia terjebak di kelas kosong dan tidak bisa keluar.
Satu-satunya cara, adalah dengan menggiring siswa menggunakan kelas itu, sebagai tempat ujian. Tapi itu bukan hal yang mudah, bahkan memikirkan caranya saja sudah membuatku pusing.
Hal apa yang akan membuat siswa pindah ke kelas itu?
Tunggu! Aku sudah menemukan caranya. Ah aku benar-benar sudah gila.
Malam itu aku kembali ke sekolah dengan pakaian seperti maling, serba hitam dengan penutup wajah, tidak lupa dengan sebuah balok kayu di tanganku.
Menyelinap diam-diam ke dalam sekolah, mengelabui si penjaga dengan mengirimnya pesan random dari ponsel lama ku, sehingga dia pergi dari pos penjagaan.
Aku masuk ke kelas ku, dan menghancurkan atap kelas yang baru saja diperbaiki. Iya aku memang sudah gila, melakukan ini semua demi Andrew yang bahkan bukan manusia.
Selesai dengan misi yang kulakukan, aku pergi ke kelas kosong menemui Andrew, dia sangat terharu dengan usaha ku.
"Kenapa kau melakukan semua ini?" Tanyanya.
"Karena kau adalah temanku, sahabatku satu-satunya!" Jawabku sambil menangis di depan Andrew.
Waktu ujian pun tiba, kami benar-benar kembali ke kelas itu dengan satu bangku tambahan yang dikosongkan. Aku membeli bangku itu dengan uang tabungan ku sendiri, agar Andrew bisa mendudukinya selama ujian berlangsung.
Selain itu, aku juga membeli kertas soal tambahan yang aku sediakan untuk Andrew. Semua orang menganggapku aneh dan gila. Aku hanya bisa meminta mereka agar tidak pernah menghiraukan ku seperti biasanya.
Beberapa hari ujian berlangsung, Andrew benar-benar mengikutinya dengan soal-soal yang ku beli. Mengumpulkan hasil jawabannya, walaupun hanya sebuah kertas kosong.
Saat ujian berakhir, perlahan Andrew bisa melangkah ke luar dari kelas itu, melewati batasan yang selama ini mengurunya di dalam.
"Ini berhasi! Kau berhasil Tasya!" Serunya kegirangan. "Terimakasih!" Andrew memelukku, walaupun hanya dingin yang aku rasakan.
Pengumuman kelulusan akhirnya di tempel di mading, kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan, namun ada satu siswa yang mendapat nilai paling tinggi.
Dengan nama yang tertera, George Andrew Parsson.
"Wah nilainya paling tinggi, dia juara umum!"
"Memangnya di sekolah kita, ada siswa bernama George Andrew Parsson?"
Begitu para siswa yang lulus bergunjing di depan papan pengumuman.
Sekolah berakhir, aku dan Andrew akhirnya bisa terus bersama tanpa ada sesuatu yang membatasi kami.
Walau kami berbeda, tapi tidak ada salahnya jika saling melengkapi seperti ini. Aku memang sudah gila, bersahabat dengan hantu.
Tapi, jika makhluk seperti 'mereka' saja bisa lebih baik dan menerima kekurangan ku, kenapa aku harus berteman dengan manusia yang sifatnya tak lebih baik dari 'mereka'.
~selesai~
Epilog...
Saat panitia ujian memeriksa lembaran jawaban siswa, kertas yang tadinya kosong ternyata terisi dengan rapi dan sempurna, seolah benar-benar ada yang mengisinya.
Lembar jawaban dengan siswa bernama, George Andrew Parsson.
Panitia ujian itu, dulunya adalah wali kelas Andrew. Dia menangis penuh haru, saat melihat nama itu di lembar jawaban yang dia periksa.
"Akhirnya kau mengikuti ujian, sampai selesai!"