Kita disini bagai langit dan bumi terlihat jauh namun saling melengkapi tanpa saling mengetahui. ~ Askasia
Hari ini awal taun ajaran baru yang di sambut semangat oleh para pelajar dan juga sebuah awal di mana permainan takdir di mulai.
"Sabuk udah, topi udah, name tag udah, sragam perfect,__" gumam Antasia melihat dirinya di depan cermin.
"SIA!! TURUN SARAPAN KEBURU TELAT!!" suara bunda menusuk telinganya saat itu.
"Iya ayok ra" ucap sia sambil menuruni tangga dengan pakaian ala MOS hari itu.
"Bwahahaha.. sia ini lo? Buset kembaran gue cupu banget" ejek Tara yang mulai mengibarkan bendera perang kepadanya.
"Ish.. bunda sih curang masukin lo belakangan kan jadi ngga ikut MOS" timpal sia secara tidak langsung protes terhadap keputusan bundanya itu.
"Sorry ya Antasia kembaran gue salah siapa ngga nerima job dari bunda orang cuma jadi model kok ngga ribet" ucap Tara sambil menikmati sarapannya.
"Udah ngga usah ribut masalah MOS jalanin aja ini bekalnya kalian berangkat sono tar telat lagi oh.. iya ara jangan lu__" kata bunda melerai belum selesai terpotong pamit kedua anak nya itu.
"Bun kita berangkat Assalamualaikum" kata sia dan ara kompak sedangkan sang bunda hanya geleng kepala.
Sampai di sekolah yang cukup megah berlantai tiga di daerah sana. SMA Merpati...
"Ara gue duluan ya tar jangan lupa jemput oke😉" pamit sia sambil menarik kedua pipi saudaranya itu dan lari begitu saja sebelum tara sepenuhnya sadar.
"SIA!! sialan lo kebiasaan" pekik tara dari dalam mobil nya. Disisi lain sia tertawa terbahak sayup-sayup mendengar suara tara.
Bel berkumpul pun berbunyi semua peserta MOS berkumpul dan mendapatkan senam jantung.
"Dek disini kalian mau ngapain?" Kata kakak kelas ketus bukan main dari belakang sana.
"Sekolah kak masa cari semut si.." gumam sia pelan namun masih terdengar oleh seorang siswa di sampingnya. Ia hanya terkekeh mendengar gumam polos dari sampingnya itu tetapi naas kakak yang di belakang melihatnya dan menatap ke arah sia dan siswa itu dengan tatapan elangnya.
"Kenapa ada yang lucu ha!?" Bentak kakak itu tepat di depan sia yang membuat nyalinya menciut seketika berbeda dengan siswa tadi malah tersenyum mengejek.
"Nggak ada" jawab siswa itu tak kalah dingin.
"Sini ayo ikut ke depan sekarang!?" Printah mutlak kakak itu. Siswa itu berdiri mengikuti intruksi tanpa merubah ekspresi mengejek yang terkesan datar itu.
"Perkenalan dek" ucap kakak cantik yang kebetulan sebagai protokol.
"Aska." Ucap siswa itu masih terdengar tidak bersahabat.
"Tau kesalahannya dek?" Tanya kakak tadi. Aska hanya mengerutkan keningnya lalu mengeleng.
"Trus tadi ketawain apa?" Sanggah kakak dari barisan belakang.
"Ngga ada." Ucap aska sekan nya. Memang tidak ada yang lucu saat itu.
"Kesini mau ngapain ha?!" Bentak kakak dari barisan belakang terdengar mengambil alih keheningan.
"Sekolah." Ucap aska masih dengan nada yang sama membuat kakak yang berada di sana menatapnya heran, tabjub dan juga tajam.
Setelah kejadian itu semua di bagi menjadi bebarapa kelompok.
"Sekarang kumpul dengan kelompok masing-masing!?" Intruksi ketua osis yang baru saja selesai membacakan pembagian kelompok.
"Himawari?" Tanya sia memastikan keberadaannya kepada dua siswi yang berkumpul dengan yang lain disana.
"Iya Himawari.. kenalin Tania" jawab seorang siswi berkuncir enam dengan senyum menawan.
"Gue sabilla tasyania" sambung siswi berkepang dua di samping Tania.
"Antasia Alka Diana panggil sia aja" sambut sia sangat ramah dan antusias. Setelah berbicara dengan kedua teman barunya tatapan sia menyusur semua anggota kelompoknya saat itu. Pandanganya terhenti tepat di seorang siswa yang tadi berdiri di depan dan menjadi sorotan perhatian saat ini Aska.
"Nia... billa... dia juga Himawari?" Tanya sia menatap aska yang saat itu sedang sendiri.
"Iya dia masuk Himawari buset cool banget sumpah" jawab Tania antusias.
"Ganteng pula ya kan?" Timpal sabilla yang spontan di angguki sia. Memang aska tampannya bukan main jika di bandingkan dengan siswa-siswa angkatannya secara sekilas.
"Semua kumpul sekarang!!" Suara kakak kelas yang cukup manis tapi tegas.
"Perkenalkan saya rakashi orada pangil saja raka" ucap kakak tadi.
"Dan ini kevan azra shimura panggil aja kevan" lanjut kak raka sambil menepuk kakak ketus yang tadi di barisan belakang.
"Oke sekarang kita pilih satu wakil kelompok Himawari sekaligus sebagai maskot ada usulan?" Kata kak raka yang membuat semua sepontan menatap aska.
"Aska aja kak dia kan cool, keren, ganteng pula" ucap siswi berbando ungu yang di setujui 99% yang ada di sana. Aska hanya menatap tajam gadis itu tak suka dengan ucapannya barusan.
"Boleh juga gimana ka? Rev?" Tanya kak raka.
"Up to you asal kelar always oke" ucap kak revan. Sekarang semua pandangan mengarah ke aska meminta persetujuannya.
"Ada pilihan lain ngga?" Akhirnya aska membuka suara dan bergerak mendekat ke kumpulan kelompok. Mereka sepontan mengeleng tegas tidak ada pilihan selain aska sebagai kandidat wakil kelompok saat ini. Aska mendengus kesal menatap datar kak kevan dan kak raka bergantian lalu mengembuskan nafas panjang ia hanya bisa pasrah saat ini.
"Nolak pun tetep jadi kan" ucap aska ketus dan dingin yang mampu membuat sia mengutuki dia dalam hati karna sifatnya yang kelewat dingin.
'Ganteng, cool, tapi kok nyebelin yak sikap dingin nya tuh kak raka sama kak revan aja berani di gituin buset dah' batin sia geleng-geleng kepala sambil mengamati kejadian itu dari posisinya.
"Tapi ngga 100% gue tangung jawab" lanjut aska dengan nada santainya yang entah kenapa membuat mereka spontan mengangguk menyetujui hal itu.
Kegiatan pun di mulai seluruh kegiatan berjalan lancar dan bel pulang pun berbunyi.
"Alhamdulillah selesai juga siksaan hari ini" cetus Tania saat mendengar bel berbunyi nyaring membuat sia dan sabilla terkekeh pelan.
"Sia pulang sama siapa?" Timpal sabilla.
"Sama ara saudara gue jemput kok nanti" ucap sia sambil menuju ke halte depan sekolah nya.
"Kita duluan ya!" Kata Tania dan sabilla serentak yang di angguki sia.
Namun sebelum tuntas keluar area sekolah ada yang menarik tasnya kebelakang.
"Eh? Paan sih?" Ucap sia menaikan nada bicaranya. Saat melihat pelaku yang menariknya hanya dapat melihat dia dengan tatapan penuh tanya. Aska iya pelakunya dia pelakunya tetapi ia pun tak membuka suara tetap diam membuat sia semakin berada dalam sebuah tanda tanya. Hening dan mendapat tatapan dingin aska membuat sia jadi semakin merasa aneh.
"Kenapa?" Ucap sia angkat bicara. Ia merasa sangat tidak nyaman dalam posisinya saat ini. Posisi penuh tanya sedang kan aska ia masih tetap nyaman dengan posisi diam.
"Oke gue pergi" lanjut sia mulai berbalik mulai menjauh tetapi lagi-lagi tasnya di tarik ke belakang dan terjebak dalam posisi yang sama.
"Ada perlu ngomong! Jangan gini gue capek mau balik!" Ucap sia menekan kalimatnya cukup sudah kesabarannya di uji hari ini.
"Ikut kumpul wakil kelompok" kata aska dengan nada printah dan pergi begitu saja.
"Ha? Lah? Kan dia wakil nya kok gue yang kumpul si?" Teriak sia yang mengema di sekitar sana. Disisi lain aska yang mendengarnya hanya tersenyum tipis ia tidak salah menyuruh orang.
Jam-jam berlalu akhirnya kumpul itupun selesai. Sekarang sia sedang menyiapkan sebuah alasan logis agar kembaranya itu tidak menyambutnya seketika.
"Lo dari mana aja si? Lama bener?" Tanya tara sambil menatap lekat mencari kejujuran kembaranya.
"Dari kumpul bentar ara, nunggunya lama baget ya ar?" Jawab sia dengan cengiran manisnya.
"Lama tau ngga pokok lo harus traktir gue setelah ini" putus tara lalu menjalankan mobilnya.
"Pulang dulu deh tar gue traktir" tawar sia dengan penuh harap agar kembaranya itu mau mengalah sekali lagi.
"Ngga sekarang kita ke cafe biasanya!" Kata tara final. Sia hanya bisa pasrah mengikuti keinginan tara saat ini.
Sampai di sebuah kafe yang biasa menjadi tempat santai favorit mereka. Pluk sebuah jaket berkupluk jatuh tepat di pangkuan sia.
"Pakek kan lo yang traktir!" Ucap tara santai.
"Buat gue ra?" Timpal sia.
"Iyalah kan kita di kafe biasa sia sodara gue tercinta" kata tara gemas.
"Dan iyah pakek terus ganti model rambut lo yang beda jauh dari standar seorang sia" lanjut tara bergegas keluar mobil. Setelah sedikit merubah penampilannya dia pun ikut keluar.
"Ara~ gimana penampilan gue?" Kata sia dengan memutar tubuhnya. Bukan cuma tara dia jadi pusat perhatian seketika.
"Ya.. nggak norak banget si okelah sama kaya gue" ucap Tara yang di angguki orang yang di sekitar sana.
"Yaudah katanya mau traktir gue!!" Terus tara dengan menarik ke dalam cafe.
"Oke pesen aja gue traktir." Kata sia membuat tara pun memesan apa yang ia mau dan juga untuk saudaranya itu.
"Eh!? Btw seru ngga MOS nya?" Tanya tara yang mulai penasaran. Sia mendengus kesal mengingat kejadian naas yang menimpanya tadi.
"Seru dari mana kesiksa iya" ucap sia dengan sedikit ketus.
"Serius? Ngga ada yang kesan beda gitu?" Tanya tara yang penyakit keponya mulai keluar.
"Kesan beda ya?" Jawab sia mengingat kejadian yang ia alami sampai saat ini.
"Ada!?" Lanjutnya. Tara pun memandang sia lekat agar mau bercerita lebih lanjut.
"Tapi ngga yakin lo bisa tenang hadapi tipe satu ini😁" kata sia yang di akhiri kekehan. Ia mau menceritakan semuanya tapi pesanan tara datang memotong pembicaraan keduanya.
"Terusin dong" pinta tara yang sudah selesai makan.
"Iya.. jadi ada siswa cool mirip model gitu oppa korea lo mah kalah tapi__" ucap sia lalu menyesap secangkir latte favoritnya.
"Apa?" Saut tara antusias. Bagaimana tidak selera saudaranya dalam menilai lawan jenis bisa dibilang cukup unik.
"JKD!" Pekik sia pelan sedangkan tara ia hanya terkenyit binggung.
"Ha? JKD?" Beo tara yang masih belum memahami maksud sia.
"Judes, ketus, dingin lengkap udah satu paket bikin gue gemes pingin tabok tu muka ama musik box" jelas sia dengan ekspresi yang tak terduga membuat tara meledakkan tawanya seketika.
"Gue jadi penasaran sama tu bocah" ucap Tara menghentikan tawanya.
"Udah kan yuk balik" ajak sia langsung mengarah ke kasir dan keluar begitu saja.
"Ck.. untung lo yang traktir ya kalo bukan, habis lo" grutu tara ikut beranjak dari tempatnya.
Tak berselang lama mereka tiba di rumah.
"Assalamualaikum bunda anak bunda paling cantik udah pulang" kata tara dan sia kompak saat membuka pintu lalu memasuki istana kecil mereka.
"Eh.. adek gue udah pulang, ada pesen dari bunda katanya suruh ganti trus otw ke butik bunda" crocos bang alfa begitu kedua adiknya muncul di depanya.
"Iya gue ganti dulu bang tar otw sama ara" jawab sia melangkah ke kamarnya.
"Btw.. lo mau kemana bang?" Timpal tara melihat abang nya hendak keluar rumah.
"Biasalah" ucap bang alfa lalu pergi menancap gas secepat kilat.
Tara menuju ke dapur mencari cemilan untuk ia bawa. Disisi lain sia sudah siap dengan pakaian casual mencari tara ke berbagai tempat dan menemukannya di dapur bersama beberapa cemilan.
"Ara!" Panggil sia sedikit melingkingkan suaranya membuat tara terpelejat mengabsen semua hewan yang ada.
"Anj_ ay sialan lo, kaget gue" kata tara lalu mengerutkan bibirnya.
"Udah sorry deh ayo otw tar ngamuk bunda ratu." Ucap sia terkekeh.
💕💕💕
~shelahardides27~