Kau dan aku berbeda.
Aku menyukai cerita sad ending. Cerita yang biasanya berakhir dengan kesedihan, perpisahan, bahkan kematian. Cerita apapun yang menyedihkan. Karena cerita seperti itu bisa membuatku menangis. Dan aku suka sekali menangis.
Berbeda denganku, kau membenci cerita sejenis ini. Kau benci melihatku menangis karena hal ini. Kau selalu bilang padaku, kalau seseorang menyukai sad ending, pasti kisahnya akan berakhir sedih juga. Aku tak percaya. Itu tak benar, kan?
*****
Air mataku menetes. Segera setelah aku menyelesaikan satu lagi novel yang kubaca, aku menangis. Kak Leo yang duduk di sampingku segera mengulurkan selembar tissue ke arahku. “Menangis lagi. Dasar cengeng!” Aku hanya terisak pelan. “Sudah tau kau itu cengeng, mengapa kau suka sekali membaca cerita yang sedih-sedih?”
“Aku lebih suka sad ending, Kak. Rasanya itu lebih kena di hati,” jawabku sambil masih terisak. Dia melengos.
“Kalau begitu, kau ingin kisahmu berakhir dengan sad ending juga, dong? Kau ‘kan selalu bilang kalau kau ingin yang ada di novel terjadi pada kenyataanmu.”
Aku terhenyak. Aku memang pernah bilang pada Kak Leo kalau aku menginginkan kisah dalam cerita terjadi sungguhan padaku, tapi bukan seperti ini.
“Bukan begitu juga! Aku memang suka cerita sad ending. Tapi bukan berarti kenyataanku harus berakhir sedih juga, kan!” balasku tak terima.
“Sama saja! Menyukai sad ending pasti kisahnya sad ending juga!”
“Kakak!!”
“Berhentilah menangis saat membaca cerita. Kau itu cengeng sekali…”
“Tapi… Aku menyukai cerita seperti itu, Kak. Aku bisa menangis sepuasnya.”
“Cobalah kau baca sesuatu yang lebih bermanfaat. Jangan cuma menghabiskan waktumu untuk menangisi cerita saja.”
*****
Kau dan aku berbeda.
Aku menyukainya, cerita dimana biasanya seseorang baru menyadari berapa berharganya kehidupan setelah ia menderita suatu penyakit menyakitkan. Karenanya, aku bisa lebih menghargai hidup.
Tapi kau membenci cerita seperti ini. Kau selalu memprotesku karena pernyataanku itu. Kau selalu berkata, apa menghargai hidup hanya bisa dilakukan setelah menderita penyakit mematikan? Tidak, kan?
Memang. Tidak harus. Tapi setidaknya, dengan cara seperti itu, seseorang akan lebih menghargai kehidupannya, kan?
*****
Ku tarik lagi selembar tissue dari kotak tissue di hadapanku. Entah lembar yang keberapa ini aku tak tahu. Sudah tak terhitung lagi. Aku menangis. Kali ini karena sebuah film. A Long Visit. Film tentang seorang anak yang divonis menderita penyakit mematikan, seorang anak yang berusaha menebus kesalahannya di masa lalu dan membuat ibunya bahagia sebelum ia meninggal.
“Apalagi kali ini?” tanya Kak Leo seraya ikut duduk di sampingku. Ia mengambil tempat DVD yang sedang kuputar saat ini. “A Long Visit?” tanyanya lagi. Aku hanya mengangguk sambil masih menangis.
“Nina, sudah kubilang berapa kali, jangan menangis jika menonton cerita sedih seperti ini! Kau jelek tau kalau menangis!”
“Ini sedih, Kak.”
“Aku sudah melihatnya dan aku tak menangis,” ucap Kak Leo yakin. Aku melengos. Kakakku memang jarang menangis saat melihat film ataupun membaca cerita sedih. Berbeda denganku.
“Biarin! Yang penting banyak pesannya, kan?”
“Oh ya? Apa?”
“Jisuk jadi lebih patuh ‘kan pada ibunya? Ia dulu anak nakal, suka membentak, dan mudah marah pada ibunya. Tapi setelah tahu kalau ia menderita penyakit mematikan, ia berubah menjadi putri yang baik. Bukankah itu baik? Ia jadi bisa membahagiakan ibunya di sisa-sisa waktu hidupnya.”
“Apa itu bisa disebut moral?”
Aku menoleh ke arahnya. Menatapnya tajam. Apa maksudnya?
“Jisuk berubah baik setelah tahu kalau ia akan meninggal. Kenapa ia tak berbuat baik sejak ia kecil saja? Bagaimana jika ia tak pernah tahu kalau ia menderita penyakit mematikan, apakah dia juga tak akan berubah menjadi baik selamanya?” Ia terdiam sejenak kemudian melanjutkan perkataannya. “Apa menghargai hidup hanya bisa dilakukan setelah menderita penyakit mematikan? Tidak, kan?”
Aku terdiam.
*****
Kau pernah bertanya padaku, apa yang menyebabkan suatu cerita yang kubaca ataupun film yang kulihat bisa membuatku menangis. Masalah apa yang paling bisa membuatku menangis.
Jawabanku: Penyakit. Segala hal yang berhubungan dengan penyakit, apalagi yang mematikan, aku membencinya. Kau pun demikian.
Satu-satunya persamaan kita, aku dan kau, membenci penyakit.
*****
“Karena penyakit lagi?” suara Kak Leo mengagetkanku yang sedang menangis setelah melihat sebuah film. Lagi-lagi aku menangis. Entah keberapa kali aku menangis gara-gara sebuah film.
Aku hanya mengangguk. Ya, rata-rata cerita yang kutonton membuatku menangis karena ada penyakit di dalam ceritanya.
“Apalagi kali ini? Kanker? Tumor?” tanya Kak Leo yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Kanker darah,” jawabku pelan. Kak Leo terdiam sesaat, namun kemudian ia tersenyum. Ia menghapus sisa-sisa air mataku yang jatuh dengan ibu jarinya.
“Nina, kau membenci penyakit, kan?” tanyanya. Aku hanya mengangguk.
“Aku juga. Kenapa tak kau babat saja semua penyakit sehingga tak ada air mata yang jatuh lagi gara-gara satu kata menyebalkan itu?” lanjutnya sambil tersenyum senang. Aku melengos. Pasti ujung-unjungnya begini.
“Kau ingin aku menjadi dokter, begitu?” tanyaku malas. Ia mengangguk senang. “Urungkan saja niatmu. Kau tau, kan, aku takkan tertarik,” lanjutku.
“Kenapa? Bukankah baik? Kau bisa membantu menyelamatkan nyawa seseorang, sehingga keluarga dan orang terdekatnya tak akan menangis. Kalau kau berhasil, takkan ada air mata yang jatuh sepertimu.”
“Percuma. Menjadi dokter pun tak berguna,” ucapku ketus. Kak Leo menatapku heran.
“Kenapa kau bilang begitu?”
“Percuma, Kak. Sehebat apapun dokter, kalau Tuhan sudah berkehendak, kita tak bisa berbuat apa-apa, kan?” ucapku pelan. Kak Leo terdiam lagi.
“Apa dokter yang merawat ibu dulu bisa membuat ibu kehilangan penyakitnya? Membuatnya sehat kembali, sehingga sekarang ibu masih berada bersama kita? Tidak, kan? Kalau memang sudah waktunya, ya sudah. Percuma menentang,” lanjutku.
Kak Leo menghela nafas dan tersenyum. “Kau benar. Semuanya memang sudah ditakdirkan Tuhan. Tapi… Kita masih bisa berusaha sedikit, kan? Walaupun hanya sedikit, tapi itu sangat berarti, kan?”
*****
Kau dan aku berbeda.
Aku cengeng. Aku suka sekali menangis. Hampir setiap saat kau melihatku menangis. Dan tiap kali melihatku menangis, kau selalu memelukku, menenangkanku.
*****
Aku berlari ke arah kakakku berdiri dan langsung berhambur memeluknya. Aku menangis. Kak Leo tersentak kaget. Namun begitu, ia langsung memelukku, menenangkanku.
“Jangan menangis,” ucapnya sambil mengusap rambutku. Aku selalu suka saat seperti ini. Saat dimana ia memelukku erat, dan menenangkanku.
“Ada apa?” tanyanya setelah aku tenang.
Aku menceritakan semuanya. Tentang cerpenku yang gagal menjadi pemenang di kontes yang terakhir ku ikuti. Tentang harapanku yang kandas gara-gara kekalahan itu. Tentang hilangnya kesempatanku untuk mendapat training dari penulis best seller. Tentang semuanya.
Kak Leo hanya menyimak semuanya dengan tenang. Setelah semua kuceritakan, Kak Leo tersenyum.
“Nina, apa dengan menangis, segala sesuatu yang kau ingin menjadi terwujud? Tidak, kan? Menangis itu tak berguna, Nina. Takkan merubah segalanya.”
Aku berhenti terisak. Kak Leo tersenyum lagi.
“Karena itu, kau hanya perlu mengatasi semuanya. Menghadapi semua masalah dengan senyuman, dan berusaha lebih baik lagi.” Aku terdiam.
*****
Berbeda denganmu yang selalu melihatku menangis, aku bahkan tak pernah melihat kau menangis. Hanya sekali aku melihatmu menangis. Itu pun hanya sehari. Setelah itu, senyumanmu kembali.
Kenapa seperti itu? Apa lelaki memang ditakdirkan untuk pandai menyembunyikan air matanya?
*****
Hari itu, aku pertama kali melihat Kak Leo menangis. Selama aku bersamanya, aku tak pernah melihatnya menangis sekalipun. Baru kali ini.
Keadaan Kak Leo begitu hancur sore itu. Dia pulang dengan rambut berantakan, wajahnya penuh dengan air mata. Dia menghempaskan segala sesuatu yang ada di atas meja di hadapannya, meluapkan kekesalan.
Aku tak berani menenangkannya. Aku hanya memandangnya dari ujung pintu kamarku. Melihatnya seperti ini, membuatku ingin menangis juga. Apa yang bisa membuat seorang seperti Kak Leo menangis seperti ini?
Tak lama setelah Kak Leo pulang sambil menangis, ayah datang. Ia segera mendekati Kak Leo dan memeluknya. Tangisan Kak Leo semakin keras saat berada dalam pelukan ayah. Ayah berusaha menenangkannya dan sesekali air matanya pun ikut jatuh.
Ada apa ini? Kenapa dua orang lelaki yang ku tahu jarang menangis malah menangis seperti ini?
*****
Hal seperti apa yang berhasil membuat seorang lelaki menjatuhkan air matanya?
*****
Malam harinya, aku masuk ke kamar Kak Leo, memeluknya. Dia tersenyum. Matanya masih sembab karena menangis tadi.
“Kakak kenapa menangis?”
“Hanya masalah sepele. Aku malu jika mengatakannya padamu.”
“Kakak…”
“Kuberitahu, tapi kau jangan tertawa.” Aku hanya mengangguk.
“Aku gagal masuk kedokteran,” ucapnya pelan.
“EH?” Aku terlonjak kaget. Ini tidak mungkin. Kak Leo termasuk murid yang pintar, ia tidak mungkin gagal.
“Kau tahu, kan? Aku ingin jadi dokter, tapi aku gagal. Aku tak lulus,” ucapnya sambil tersenyum.
Ah, jadi karena ini. Pantas saja Kak Leo sampai menangis. Sejak dulu, Kak Leo ingin sekali menjadi dokter. Ia juga terus memaksaku agar mengikuti keinginannya. Tapi aku tak mau. Aku lebih tertarik menjadi penulis. Dan sekarang, semua impian dokternya harus kandas. Benar saja ia menangis sekeras itu. Aku saja yang kalah karena cerpenku tidak jadi juara lomba menangis seperti kemarin, apalagi Kak Leo.
“Tak apa. Kau masih bisa kuliah yang lain, kan?” ucapku sambil tersenyum, berusaha menenangkannya. Kak Leo hanya berdehem pelan. Tiba-tiba aku teringat perkataan yang selalu diucapkan Kak Leo padaku, kenapa sampai lupa?!
“Kak, bukankah kau yang selalu bilang padaku? Menangis itu tak berguna. Tak merubah kenyataan. Kenapa sekarang kau yang menangis?” sindirku. Dia yang selalu mengatakannya padaku, tapi sekarang? Dia malah melupakannya.
Kak Leo terdiam, kemudian tersenyum simpul. Aku ikut tersenyum.
Tapi sebenarnya… Masih ada yang mengganjal pikiranku. Apa benar hanya karena masalah ini saja Kak Leo dan ayah sampai menangis? Seperti bukan Kak Leo, menangis hanya karena hal seperti ini.
“Apa kau menangis hanya karena masalah ini saja? Pasti ada alasan lain, kan? Kau menyembunyikan sesuatu?” tanyaku akhirnya. Aku tak mau penasaran nantinya. Ku lihat Kak Leo tersentak kaget. Kemudian ia terkekeh.
“Kau tahu saja aku menyembunyikan sesuatu!” ucapnya sambil mencubit pipiku gemas. Namun kemudian wajahnya berubah muram lagi. Ia menghela napas lelah. “Aku putus dengan Nayla,” ucapnya pelan.
Ah. Ternyata ini yang membuat dia menangis. Gagal masuk kedokteran dan diputuskan kekasihnya. Apa hal seperti ini yang bisa membuat seorang lelaki sampai menangis?
*****
Kau dan aku berbeda.
Kau ingin menjadi dokter, aku tidak. Aku bahkan membencinya. Bagiku, menjadi dokter itu tak berguna.
*****
“Aku tak mau, Ayah!!”
“Ku mohon, Nina. Tak ada ruginya kau menjadi dokter…”
“Sudah kubilang, aku tak mau! Kak Leo saja!”
“Dia tak bisa. Dia tak lolos. Hanya kau harapan ayah,” ucap ayahku memelas.
“Aku tak mau! Aku sudah bilang berkali-kali, ‘kan?! Aku ingin menjadi penulis, bukan seorang dokter!” bentakku sambil mulai terisak. Lagi-lagi ayah memaksaku untuk menjadi dokter. Padahal sudah berulangkali aku bilang, aku tidak suka jadi dokter.
“Kau ‘kan bisa menjadi dokter sambil menulis.”
“Ayah! Kenapa kau ingin sekali aku menjadi dokter?! Aku sudah bilang, kan? Aku tak suka! Kenapa tidak ayah saja yang jadi dokter?!” bentakku tak terima.
Tiba-tiba ayah terdiam. “Kalau memang ayah bisa, ayah ingin,” ucapnya pelan. Tersirat sekali ada nada putus asa di setiap suaranya. Mendengar ayah seperti ini, tiba-tiba emosiku menghilang. Kenapa seperti ini?
“Baiklah kalau kau tak mau. Aku harap kau tak menyesal,” ucapnya pelan.
“Menyesal? Kenapa aku harus menyesal?” tanyaku kesal sambil berlari ke kamar.
“NINA!!” kudengar ayah memanggilku. Namun aku tak peduli. Aku tetap berlari sambil menangis.
“Ayah, sudah. Biarkan saja,” ucap Kak Leo sambil menuntun ayah menuju ke kursi.
“Maafkan aku, Leo. Aku tak bisa membantu,” ucap ayah sambil menunduk. Kak Leo hanya tersenyum.
*****
Sepeninggal ayah, Kak Leo menenangkanku. “Ayah sudah pulang. Ia berjanji takkan memaksamu lagi,” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya terdiam.
“Kenapa kau tidak ingin menjadi dokter?” tanyanya.
“Aku sudah bilang, ‘kan, aku ingin jadi penulis,” jawabku ketus. Kenapa membahas ini lagi?! Aku tak suka.
“Bukan itu. Alasan lain,” ucap Kak Leo tajam, membuatku mengalihkan pandanganku ke wajahnya. Menatapnya heran.
“Aku tahu, ada alasan lain, kan?” tanyanya lagi. Kali ini nada bicaranya lebih melunak. Sial. 16 tahun hidup bersama membuatnya tahu segala tentang diriku. Aku memang mempunyai alasan lain kenapa aku menolak tawaran masuk ke Fakultas Kedokteran, tapi aku tak pernah mengatakan ke siapapun, termasuk Kak Leo pun tidak.
Kak Leo menatapku lekat, seakan sedang menunggu jawaban. Oke. Aku kalah. Tatapannya selalu membuatku takluk.
“Aku takut gagal, Kak,” ucapku pelan pada akhirnya.
“Gagal?”
“Aku takut aku akan gagal menangani seorang pasien. Dan justru membuatnya tambah parah. Apalagi kalau sampai terjadi kemungkinan terburuk. Aku takut, Kak,” ujarku. Kak Leo tersenyum.
“Kau belum mencoba, kenapa takut?”
“Aku takut kasus ibu terulang lagi. Aku tak mau!”
“Kau bilang semua sudah ada waktunya, sudah takdir. Kenapa harus takut?”
Aku terdiam.
“Kau tahu, jika kau berhasil, bukan hanya nyawa yang kau selamatkan, tapi juga air mata orang terdekat pasienmu. Mereka tak jadi menangis karena kau berhasil membuat orang yang mereka sayang bertahan hidup. Kau tahu rasanya, kan? Pasti senang sekali. Mungkin seperti itu yang ayah harapkan darimu,” Kak Leo berhenti sejenak. Kemudian merangkulku erat dan tersenyum. “Sebenarnya kau bisa. Lalu, kenapa tidak jika untuk kebaikan?”
“Entahlah. Mungkin nanti ada sesuatu yang membuatku berubah pikiran,” ucapku tak peduli.
“Nanti kapan?”
“Entah. 1 tahun? 2 tahun? Atau mungkin 5 tahun lagi? Aku tak tahu.”
“Tak akan cukup, Nina,” ucap Kak Leo pelan.
“Apanya?” tanyaku.
Dia hanya tersenyum. “Keputusan ada di tanganmu, ya. Aku tak mau memaksa.”
*****
Kau dan aku berbeda.
Aku, dengan segala kelemahan dan kecengenganku,
sementara kau, dengan semua semangat dan senyumanmu.
*****
Hari itu Kak Leo aneh. Senyuman yang biasanya muncul di wajahnya tak hadir. Diganti dengan tampang kusut tanpa ekspresi. Ah iya, akhir-akhir ini dia juga terlihat pucat.
“Kau kenapa, Kak? Kenapa tak semangat?”
“Tidak. Aku hanya memikirkanmu.”
“Eh? Aku?”
Kak Leo mengangguk. Kemudian ia menatapku lekat. “Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?” tanyanya.
Aku hanya menangguk. Kenapa tidak? Setiap hari ia sudah memberiku hal yang ku mau. Kali ini mungkin giliranku mewujudkan keinginannya.
“Tapi kau harus berjanji untuk menepatinya,” ucapnya lagi. Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk lagi.
“Apa?”
“Berbaikanlah pada ayah. Aku tak mau melihatmu membentak ayah seperti waktu itu,” ucapnya sambil menatapku. Aku tersentak.
“Tapi, Kak…”
“Kau sudah berjanji,” ucap Kak Leo tajam. Aku menggigit bibir bawahku takut.
“Seburuk apapun ayah di matamu, dia tetap ayahmu. Dia selalu berusaha yang terbaik untukmu. Jadi, berbuat baiklah padanya. Hormati dia.”
Aku sudah berjanji. Tak mungkin mengelak, kan?
“Baiklah,” ucapku pelan akhirnya. Kak Leo tersenyum.
“Satu lagi!” ucapnya tiba-tiba, membuatku menatapnya tajam.
“Apa lagi?”
“Kau jangan menangis lagi. Kau jelek kalau menangis. Karena itu, tersenyumlah!”
“Kenapa tak boleh? Lagipula kalau aku menangis, ada kau yang menenangkanku.”
“Aku tak selamanya ada di sisimu, kan? Apa kau mau menangis terus seperti itu sampai kau tua?”
Aku terdiam. Perkataan Kak Leo barusan membuatku merasa sedikit… takut? Entah kenapa, air mataku turun begitu saja. Aku menangis.
“Hei, sudah kubilang jangan menangis malah menangis. Kau kenapa?” tanyanya sambil berusaha menenangkanku.
“Aku tak apa. Hanya ingin menangis di hadapanmu untuk terakhir kalinya. Setelah ini aku janji, aku takkan menangis lagi,” ucapku di sela-sela tangis. Kulihat Kak Leo tersenyum.
“Janji, ya?” Ia mengulurkan jari kelingkingnya ke arahku, dan aku pun menyambutnya.
“Janji,” ucapku sambil tersenyum.
“Nah, gitu dong! Ini baru adikku…! Adikku takkan mengingkari janjinya, kan?” Kak Leo tersenyum senang sambil membawaku ke pelukannya.
*****
Kau dan aku berbeda.
Terlalu banyak perbedaan antara kita. Dan aku membenci kenyataan ini. Kenapa harus seperti ini?
*****
Semua ini terjadi mendadak. Terlalu mendadak. Aku tak percaya Kak Leo melakukan semua ini padaku. Tidak, ini tidak mungkin.
Sore itu Kak Nayla datang ke rumah. Aku pikir dia mencari Kak Leo, tapi ternyata tidak. Dia mencariku. Dia datang sambil menangis.
“Kak Nayla kenapa?” tanyaku sambil masih memeluknya. Dia masih menangis.
“Ada apa kak?” tanyaku lagi.
“Leo… dia…” ucapnya di sela isak tangisnya.
*****
Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit ini tanpa sadar. Aku hanya mengikuti arah kemana Kak Nayla menarik tanganku. Dia masih menangis sejak berhasil membawaku pergi dari rumah dan menyusulmu kemari.
Kanker darah?! Kau bercanda, kan, Kak?! Pasti Kak Nayla membohongiku! Kau tak mungkin menderita kanker darah, kan?! Kau tak mungkin pergi karena pernyakit sial itu, kan, Kak?!!
*****
Aku hanya terdiam memandangi tubuh yang terbujur kaku itu. Menatapnya tak percaya. Kak Nayla tak berhenti menangis sejak tadi. Ayah pun masih setia memeluk Kak Nayla, berusaha menenangkannya. Sesekali air mata ayah ikut mengalir di wajah letihnya. Aku melangkah mendekat ke ranjang di depanku, memandang wajahnya lekat.
Ini tidak mungkin!
Ini bukan kau, kan, Kak?!
Kau tak mungkin meninggalkanku, kan?!
Kau pasti sedang mengerjaiku!!
Ini bukan kau, kan?!
JAWAB AKU KAKAK!! Ini bukan kau, kan?!
Aku mengguncang-guncang tubuh di depanku ini sambil berteriak. Ayah melepaskan pelukannya dari Kak Nayla dan menarikku menjauh dari tubuh kaku itu, tubuh Kak Leo.
Aku menangis keras. Aku menangis lagi. Kali ini bukan dipelukan Kak Leo, tapi dipelukan ayah.
Maafkan aku, Kak. Aku tak menepati janjimu untuk tidak menangis lagi. Aku minta maaf. Maafkan aku sekali ini saja.
Hari ini saja. Aku ingin mengingkari janjiku. Biarkan aku menangis,… Hari ini saja.
*****
Kau dan aku berbeda.
Pandanganmu, dan pemikiranku. Semuanya berbeda.
Kau yang membenci cerita sedih. Kau yang tak suka melihatku menangis. Dan kau yang ingin sekali menjadi dokter. Akhirnya aku tahu kenapa semuanya berbeda. Semuanya ku ketahui, hari itu.
*****
Seusai pemakaman tadi, Kak Nayla menghampiriku. Dia tersenyum. Setetes pun air matanya tak terlihat hari ini. Sepertinya tangisan di rumah sakit kemarin itu yang terakhir. Hebat, ya, kak? Pasti kau yang mengajarinya untuk tak menangis. Aku saja sempat menangis tadi.
Kak Nayla memberiku sebuah kotak. Katanya sebelum Kak Leo memutuskannya hari itu, dia menitipkan kotak ini padanya. Meminta tolong padanya agar memberikan kotak ini padaku setelah Kak Leo pergi.
Aku membukanya. Sebuah novel dan surat. 5cm. Itu yang tertera dalam cover novel berwarna hitam polos itu. Aku mengambil surat beramplop biru langit itu dan membacanya.
Nina, adikku yang manis, tapi suka nangis…
Maafkan aku jika memberikan novel ini dengan cara seperti ini. Karena aku takut, aku takkan bertahan sampai ulangtahunmu tiba. Maaf.
Sebenarnya novel ini mau kuberikan sebagai hadiah ulang tahunmu. Tapi, tak penting lah kapan aku berikan. Yang penting kau mau membacanya. Ini novel bagus, Nin. Sama seperti novel-novel sedih yang suka kau baca itu. Tapi ini tanpa ada penyakit dan segalanya. Hanya ada perjuangan hidup, impian dan usaha mewujudkannya. Aku rasa kau cocok untuk membaca seperti ini, jadi kau tak perlu menangis lagi.
Aku mau membuat pengakuan padamu. Tapi jangan marah padaku. Dan juga jangan nangis. Ingat, kau sudah janji padaku untuk tak menangis!
Aku yakin kau sudah tahu. Aku menderita kanker darah seperti ibu. Maaf karena aku tidak memberitahumu sebelumnya. Karena aku yakin kau akan menangis jika mengetahuinya. Dan aku tak mau itu terjadi.
Alasan ini juga yang membuatku melarangmu untuk membaca ataupun menonton cerita bertema sedih. Aku takut, kau tak bisa menahan tangismu kalau kau tahu semua cerita yang kau banggakan itu akan terjadi benar di hidupmu. Seperti harapanmu dulu itu, haha. Karena itu juga aku menyembunyikan penyakit ini darimu. Aku tak bisa membayangkan bagaimana dirimu saat mengetahuinya. Cerita dalam novel dan film saja kau menangis, apalagi jika benar kau yang mengalaminya di hidupmu?! Aku yakin 100% kau pasti akan menangis lebih parah.
Kau tahu, kenapa aku dan ayah ingin sekali kau menjadi dokter? Itu karena kami tak ingin kau kehilangan seseorang yang kau cinta hanya karena penyakit. Ayahmu sudah merasakan. Ia seorang dokter dulu. Kau tak tau, kan? Dialah dokter yang menangani ibu saat itu. Semua usaha yang ia lakukan untuk menyelamatkan ibu gagal. Sejak ibu meninggal, ayah menjadi tak bersemangat dan memutuskan berhenti menjadi dokter. Ia tak ingin gara-gara kegagalannya, ada nyawa yang melayang lagi. Sama seperti ketakutanmu dulu.
Setelah itu, dia menyuruhku menjadi dokter. Aku pun bersedia. Karena aku tak ingin orang lain merasakan apa yang kurasakan dan tentu saja dengan tujuan utama untuk melindungimu. Aku belajar keras dan ayah bekerja keras untuk mencari uang. Namun segala impianku dan ayah hancur saat aku mengetahui semuanya.
Aku divonis kanker darah. Sejak aku umur 13 tahun. Mungkin aku terlalu disayang ibu sampai aku diwarisi penyakit yang sama olehnya.
Saat itu, kondisiku drop. Aku pernah berniat untuk menyusul ibu, namun melihat ketulusan ayah, dan kepolosanmu, aku tak berani pergi. Aku memutuskan untuk menjagamu sampai akhir waktuku. Namun karena penyakitku itu, aku tak mungkin bisa menjagamu, sebagai seorang dokter. Jadilah aku menjagamu sebagai kakak dan memintamu untuk menjadi dokter. Agar kau bisa merawat dirimu sendiri. Tapi kau malah lebih tertarik dengan cerita-cerita cengeng yang membuatmu menangis itu.
Tapi tenang saja, walaupun aku tak menjagamu sebagai seorang dokter, maupun seorang kakak, aku akan selalu menjagamu dari atas sana jika aku pergi nanti.
Ah, ya. Sebenarnya dulu itu waktu kau melihat aku menangis, alasannya bukan karena Nayla putus denganku maupun karena aku tak lolos kedokteran. Tapi karena dokter memvonisku kalau aku hanya bisa hidup paling lama 2 minggu. Hebat, kan?
Karena itu, setelah memberitahu Nayla semuanya dan menitipkan kotak ini, aku meminta putus darinya. Aku juga tak mau melihat dia sedih karena kehilanganku. Tapi dia tak mau. Dia tetap bersikeras untuk menemaniku sampai akhir waktu. Tapi aku menolak. Aku tak ingin melihat orang yang kusayang menangis karena aku.
Dan masalah kedokteran itu. Aku dan ayah berbohong padamu. Sebenarnya aku tak pernah ikut ujian. Kenapa? Karena aku yakin, waktuku tak akan cukup, untuk kuliah sekalipun.
Nina ku yang cantik,
Kau masih ingat janjimu padaku, kan? Kau harus menepatinya! Walaupun aku tak di sisimu lagi, aku masih bisa mengawasimu dari sini. Jadi, jangan sekali-kali kau berani mengingkari janjimu! Akan ku kutuk kalau itu terjadi 😀
Ah, iya. Sampaikan maafku pada Nayla ya! Ku harap kau mau menjaganya. Aku sedikit khawatir dengannya. Dia itu tipe sepertimu, tau! Suka menangis. Tapi aku yakin, kalian berdua, takkan menangis demi aku lagi, kan?
Emm, sebenarnya aku masih ada satu permintaan lagi. Tapi mungkin yang terkahir ini aku tak yakin kau mau menepatinya. Kau tahu, aku masih berharap kau mau menjadi dokter. Tak hanya orang lain, kau bisa merawat ayah juga nantinya.
Ingat pesanku ya! Jangan pernah menangis lagi! Aku akan menjagamu dari atas sana.
Kakakmu tersayang, Leo 🙂
Aku menutup lembar kertas itu dan memandang langit. Aku tersenyum. Kau lihat, kan, kak? Aku tak menangis. Aku justru tersenyum membaca surat darimu. Kau salah. Aku pasti bisa menepati janjiku padamu. Aku takkan menangis lagi, Kak. Aku janji. Aku juga sudah berbaikan dengan ayah. Aku menuruti segala perkataanmu waktu itu. Karena aku Nina, adik Kak Leo yang paliiing manis.
Ah, iya! Sebagai gantinya, kau juga harus menepati janjimu. Untuk selalu tersenyum dan menjaga ibu dengan baik! Janji, ya, Kak?!
*****
Kau dan aku memang berbeda.
Takdirmu dan takdirku berbeda. Duniamu dan duniaku berbeda. Aku disini, dan kau di surga. Aku dengan ayah, kau dengan ibu. Aku di sini merindukanmu, kau di sana mendoakanku.
Tapi semua perbedaan itu, takkan bisa membuatmu menjauh dariku,kan?
Apa kabar, Kak? Apa kau dan ibu baik? Apa kalian bahagia disana? Ku harap begitu. Karena aku dan ayah juga demikian. Kami merindukan kalian…
Kau lihat, kan? Aku dan ayah hidup bahagia sekarang. Aku juga jarang menangis sekarang. Hanya jika teringat denganmu aku masih menangis. Tak apa, kan? Kau takkan mengutukku karena ini, kan?
Tapi tenang saja. Aku hanya meneteskan sedikit airmata. Tak separah dulu, saat kau masih ada di sisiku. Sekarang ini, aku lebih banyak tersenyum. Seperti yang selalu kau inginkan. Ah iya, dan kau tau? Aku diterima di Fakultas Kedokteran kebanggaanmu itu! Aku hebat, kan?
Mengingat cerita tentang ibu dan kau membuatku berpikir ulang. Mungkin tak ada salahnya mencoba. Menjadi dokter ternyata bukan tujuan yang buruk juga. Aku jadi bisa tahu, bagaimana penyakit menyebalkan itu membawamu dan ibu pergi dari kami. Aku akan belajar yang baik agar berhasil menemukan sebuah obat yang bisa menghilangkan penyakit itu. Aku tidak ingin ada orang lain lagi yang merasakan kepedihan seperti yang aku rasakan. Doa’kan aku ya, Kak? Semoga aku berhasil.
Aku yakin, saat ini kau pasti sedang tersenyum di atas sana. Melihat adikmu yang manis ini berhasil mencontohmu menjadi seorang yang lebih baik.
Kau benar. Menghargai hidup tak perlu menunggu kematian mendekat, kan? Karena itu, mulai sekarang aku akan selalu menjalani hidup ini dengan senyuman, seperti nasihat yang selalu kau banggakan itu.
Doakan kami ya. Aku percaya kalian menjaga kami di balik kerlipan bintang di atas sana. Dan percayalah, kalau saatnya tiba, aku dan ayah pasti akan menyusul kalian, dan kita akan berkumpul lagi menjadi keluarga bahagia. Jadi kalian takkan kesepian. Karena itu, sampai saat itu tiba, sambutlah kami dengan senyum kalian.
~END