Aku tidak bisa tidur, gelisah tak menentu tapi tidak tau penyebab pastinya. Kubuka kembali aplikasi noveltoon, membaca beberapa novel favorit yang baru saja di update oleh para author kesayangan. Aku pecinta novel dengan genre horor dan misteri, sebut saja namaku Tryssa umur 28 tahun.
Kesal sekali rasanya, padahal biasanya baca novel sebelum tidur seperti mendengar lullaby yang dengan cepat membawaku ke alam mimpi. Dengan penasaran aku melihat salah satu novel favoritku tidak update malam ini, jujur saja ada rasa kecewa. Aku menunggu yang satu ini, dan akhirnya aku tau kenapa aku gelisah begini parah.
Aku sangat menyukai tokoh dalam cerita horor ini, seorang paranormal muda dengan kekuatan supranaturalnya digambarkan sebagai pemuda tampan tapi mata perempuan. Cita-citanya yang ingin punya harem pribadi menggelitik perasaanku, dukun milenial yang suka minum kopi susu ini mulai menyiksaku. Dan aku tidak bisa membendung rasa ingin tauku terhadap authornya. Aku seperti terkena mantra pengasihan yang disematkan dalam cerita paranormalnya.
Beberapa waktu lalu aku follow si author dan dia respon dengan folback, jadi aku bisa chat dengannya. Daripada mati penasaran, dengan hati dag dig dug aku membuka menu chat room dan dengan nyali menciut aku coba menyapanya. El-Cloud nama penanya.
"Hai El, selamat malam!, Hari ini nggak update ya novelnya?" Aku dengan sok akrabnya menyapa.
"Besok." Jawabnya singkat, duh sombong begini orangnya. Satu kata yang membuatku mati gaya.
"Ya udah aku tunggu updatenya, maaf mengganggu waktunya!"
"Ok." Hanya itu kata terakhir yang diucapkannya, meskipun terkesan arogan tapi entah mengapa aku begitu lega mendapatkan jawabannya. Seperti sebuah janji bahwa tokoh novelnya si paranormal muda itu akan datang secara khusus untukku esok hari. Tiba-tiba saja aku merasa fokus kembali dan bisa tidur dengan nyenyaknya.
***
"Thanks ya El updatenya, aku sangat suka dengan karyamu. Aku juga udah baca novelmu yang pertama," Aku dengan percaya diri menyapa si author idola. Memberi informasi kalau aku sangat menyukai tulisannya.
"Iya, thanks supportnya."
Walaupun dia hanya menjawab singkat tapi aku tidak menyerah untuk terus melanjutkan chat dengannya. Aku sungguh penasaran dengan penulis satu ini. Melebihi rasa penasaranku terhadap apapun saat ini.
"El, kamu itu perempuan apa laki-laki?" Tanyaku blak-blakan tanpa sungkan lagi.
"Kenapa memangnya?"
"Cuma ingin tau kalau nggak keberatan, maaf!"
"Sedang sensus?"
"Bukan begitu, nggak usah dijawab. Lupain kalau aku pernah tanya."
"Nggak sekalian minta fotocopy KTP sama KK?"
Aku mengumpat dalam hati membaca jawabannya, setengahnya sangat bahagia dengan candaannya yang membuatku salah tingkah karena salah bertanya.
Keyakinan bahwa dia laki-laki muncul begitu saja. Entah mengapa bayangan bahwa dia adalah tokoh dalam novelnya itu sangat nyata. Jurus terakhir, dengan tanpa malu aku kembali mengetik layar ponsel untuk pertanyaan pribadi dan tak sopan berikutnya.
"El, apa kamu sudah menikah?"
"Belum." Lagi-lagi hanya menjawab dengan satu kata. Kata yang membuatku melambung tinggi ke angkasa, bahkan aku deg-degan seperti sedang mengungkapkan cinta dan dibalas dengan rasa yang sama. Aku mulai kehilangan kewarasan karena kisah si paranormal muda, karena Authornya.
***
Aku membaca pengumuman pada update novelnya malam ini, bahwa dia akan libur sampai kesehatannya kembali membuatku patah hati. Aku seperti ditinggal pergi oleh orang yang aku cintai. Meskipun aku jarang menghubungi lewat chat lagi, tapi membaca karyanya seperti sedang ditemani secara pribadi oleh penulisnya. Like nya pada komentarku seperti ungkapan cintaku yang selalu dibalasnya.
"El sakit apa?" Tanyaku pada akhirnya. Aku tidak bisa menahan untuk satu hari saja tidak melihat update novelnya. Meskipun aku sadar mengganggu istirahatnya tapi nyatanya aku lebih mementingkan perasaan rinduku padanya.
Dia menjawab singkat seperti biasanya. Menjelaskan tentang sakitnya, kebetulan sekali kakakku juga beberapa waktu lalu terkena sakit yang sama, jadi baik obat, vitamin dan apapun mengenai sakitnya aku sedikit memahami.
Ternyata hal itu membuat El-Cloud si penulis yang kukira sombong itu jadi lebih terbuka tentang pribadinya. Kami tidak hanya bercerita tentang novel, tapi juga hal-hal lain yang dikerjakannya di dunia nyata.
Hampir dua minggu aku berhubungan intens lewat chat dengan El, author idolaku yang masih belum sembuh juga. Tapi lewat sakitnya aku jadi mengenalnya secara pribadi, bahwa dia pemuda umur 23 tahun dengan karakter yang tidak jauh dengan tokoh pada novelnya. Kata-kata yang keluar darinya selalu manis menggoda, merayu dan memuja membuatku terbang entah ke langit yang ke berapa. Aku lupa segalanya, lupa bahwa aku punya kehidupan nyata dan punya gebetan juga.
"Aku suka sama kamu, El…."
Itu adalah ungkapan tergilaku padanya. Aku bahkan tidak tau wajahnya, profilnya hanya berupa anime yang mungkin diambilnya dari google. Nama aslinya saja aku masih belum tau, tapi aku sudah memutuskan kalau aku jatuh cinta padanya.
Selisih umur 6 tahun tentu saja membuatku malu, tapi justru dia bilang menemukan gadis dewasa untuk diajak bicara segalanya itu menyenangkannya. Aku berbunga-bunga dengan kalimat indahnya, hidup bersamanya walaupun hanya di dunia fantasi pun aku rela.
"Aku juga suka sama kamu, heart!" Jawabnya suatu waktu membalas pernyataan cintaku yang sudah terlontar ratusan kali padanya.
"Heart?" Aku bertanya skeptis tentang panggilannya padaku.
"Bukankah Tryssa artinya baik hati? Apa kamu keberatan dengan panggilan ini, myheart?"
Aku ingin melonjak saking gembiranya, tidak ada seorangpun yang pernah memanggilku dengan begitu romantis. Aku menyukai panggilan spesialnya itu.
"Bisakah kita berkenalan lagi dan memulai dari awal, myheart?"
"Maksudnya?"
"Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin kita berkenalan di dunia nyata, aku ingin menjadikan fantasi kita menjadi benar adanya."
Duh Gusti sekarang aku yang kalang kabut menyambut keinginannya. Aku jadi tidak siap bertemu langsung dengannya.
"Bisakah kita bertukar foto dulu?" Tanyaku dengan ragu.
"Kalau aku tidak sesuai ekspektasi apa kamu akan menarik semua kata-kata cinta yang sudah kamu ucapkan itu?"
Well, sekarang aku yang jadi gagu dan bodoh. Sikap menggebuku lenyap dan keringat dingin menetes di punggungku ketika mengirimkan 3 fotoku padanya. Sejujurnya aku yang ketakutan bahwa aku tidak sesuai dengan bayangannya, dan aku takut dia akan menghilang setelah melihat wajah asliku yang juga tidak pernah kupasang pada profilku.
Detik yang terlewat begitu menyiksa, aku juga sudah menerima 3 fotonya. Dan rasa takjub itu tidak bisa aku simpan, aku memujinya. Sorot mata dan bibirnya adalah candu wanita. Posturnya agak kurus, tinggi 178 cm dengan warna kulit eksotis itu adalah seleraku. Aku menelan ludah mengusap layar ponselku, membesarkan fotonya dan menciumnya dengan penuh cinta. Dengan berbisik mesra pada gambarnya aku kembali mengungkapkan rasa, "i love you, El Cloud".
***
Setelah sembuh El mengunjungiku, aku tidak menyangka dia rela menempuh jarak yang begitu jauh hanya untuk menemui readernya. Meskipun aku tidak bisa menebak dengan benar perasaannya, tapi aku yakin dia datang dengan maksud baik yang membuatku berbunga-bunga.
Aku hadir lebih awal agar bisa menguasai hatiku yang berdebar-debar tak karuan. Aku benar-benar seperti ABG labil yang sedang jatuh cinta, duduk tak jenak berdiri tak enak di sebuah tempat makan romantis yang aku pilih sendiri untuk menemuinya.
Mataku terpaku ketika sosoknya tiba dan menatapku seraya melangkah mendekat. Jantungku serasa meledak karena tajam matanya, karena senyum mautnya, karena lembut sapanya. Bukankah dia si paranormal muda? Tidakkah dia terlalu sempurna di alam nyata?
"My heart?"
"My cloud?"
Dan kami tertawa terbahak bersama dengan kekonyolan kami yang sangat ekspresif ketika pertama berjumpa. Tidak ada kata suka yang terucap, tapi kami masing-masing mengerti bahwa kami saling jatuh cinta. El membuat semua fantasiku menjadi nyata ketika dengan mesra dia mengecup bibirku dan berbisik, "my heart, mi vida."
"Yes, my king. My lovely Cloud, author idolaku, kekasihku!"
End
***