"Kau baru saja di tembak seorang lelaki dari kelas 10-C?"
"I-iya"
Ini Mikey, teman masa kecilku yang memiliki tingkah layaknya pembunuh gila. Aku, Ava, sebagai teman masa kecilnya tentu saja tahu apa saja hal yang ia lewati selama belasan tahun ini.
Keluarganya, dan lain-lain. Ia sangat menderita.
Mikey membuang mukanya dengan wajah merajuk. "Kau menerimanya?"
Memiringkan kepala, "Ha?"
"Kau menerima tembakan cinta dari lelaki itu?"
Aku berdehem cukup lama lalu menggangguk sebentar, "Iya"
Mikey melotot, di cekalnya tanganku dengan lekas-lekas. "Kau gila, ya?!" Pekiknya.
Melihat wajah kagetnya yang lucu membuatku gagal menahan gelak tawa. "Hahaha, kocakk!! Mana mungkin, aku tak akan menerima tembakan cinta dari siapa pun"
Dia mulai tenang, "Apa alasan hingga kau tak menerima cinta mereka? Bisa-bisa kau menjadi perawan tua"
Dasar lelaki ini.. Ngeselin juga. "Kau mau ku pukul ya?" Tanyaku dengan senyuman penuh arti.
Mikey tersenyum, di usapnya kepalaku dengan gemas. "Bercanda. Ava, aku tanya sekali lagi, apa alasanmu?"
"Karena.. Aku memiliki seorang yang aku cintai sekarang"
Yaitu kamu, Mikey.
Lelaki itu menoleh cepat untuk sekian kali. "Siapa?!"
"Kalau aku beri tahu, kau akan membenciku"
Dia menggeleng, "Tidak akan"
"Kepo banget dih"
"Cepetan, siapa?!"
"Rahasimen!"
Aku berlari meninggalkan nya menuju kelas dengan pipi memerah, lucu melihatnya marah-marah seperti orang yang cemburu buta.
Eh, aku mikir apa sih.. Jangan berharap gini dong.
***
KRIINGGG
Bel pulang sekolah berbunyi, aku menggerakkan leherku yang berbunyi gemeretak karena lelah menunduk. "MTK bikin blank, ye" Keluhku pada Fathia, teman sebangku.
Fathia mengangguk, "Gurunya kejam pula"
"Merindingg" Gumam kami bersamaan.
"woi woi! Ada info pentingg!"
"Itu di kelas 10-C, penting banget! Ayo ke sana!"
Riuh pikuk yang di ciptakan para siswa lelaki membuatku dan Fathia menoleh tertarik. "Kenapa?" Tanyaku pada salah satu.
"Itu, Mikey si preman sekolah.. Hajar habis-habis an anak cowok di kelas 10-C!"
Aku melotot, "Hah? Gila! Jangan-jangan.. "
Segera melangkah laju mengejar para lelaki, aku melirik sekilas Fathia yang ikut terkejut dengan ucapan seorang yang menjawabku tadi.
Menatap depan kelas 10-C yang ramai dengan siswa mengintip, aku berusaha berdempetan melewati mereka.
"Ukh.. Minggir.."
Tatapanku di sambut oleh Mikey yang menatap dingin Arga, ia menembakku tadi pagi.
"Mikey!!"
Sahabat kecilku menoleh, tatapannya berubah hangat tatkala melihatku diantara sempitnya banyak siswa.
"Ava? Ngapain ke-" Ucapannya berhenti, ia menatap tangannya yang penuh darah karena sudah memukuli Arga.
"Uh, ini.." Dia menyembunyikan tangannya ke belakang badan.
"Kau ngapain?!" Bentakku.
Kesal, emosi, melihatnya seperti anjing liar membuatku campur aduk. Aku ingin dia menjadi lelaki yang baik-baik, bukan seperti ini.
"Itu.."
"Apa?!" Langkahku maju mendekatinya.
Mikey menatapku dalam. "Kau membela cowo ini?"
"Dia ga bersalah" Balasku.
"Dan kau tak membelaku? Teman masa kecilmu?"
Tanganku mengepal, "Kau tiba-tiba memukulnya!"
"Karena aku menyukaimu!"
Apa?
Apa katanya? Menyukaiku?
Tubuhku kaku saat itu, seolah waktu berhenti dan otakku tak lagi bekerja. Mikey.. Menyukaiku? Yang benar?
"Aku menyukaimu? Lebih-lebih menyukaimu dari pada kau mencintaiku, aku kesal karena dia menembakmu.. Kau juga menyukai lelaki lain-"
Mendongak, "Lelaki itu dirimu!" Ujarku cepat.
dia terdiam lalu menunduk, "Aku?"
Apa yang baru saja aku katakan? SIALAANNN?!?!?
"A-AH.. LUPAKAN!" Teriakku menutup mulut.
Dia sedikit membungkuk lalu mencekal paksa tanganku. "Lelaki itu.. Aku?"
"Em.."
Pipiku semerah tomat sekarang, aku benar-benar malu!
Mikey mencengkeram lebih erat tanganku. "Ava, jawab aku. Apakah lelaki itu adalah.. "
"Ukh.. Iya, kamu"
Mikey tiba-tiba tersenyum lebar. "AKU?!"
"i-iyaa!"
Cup!
Tiba-tiba Mikey mencium pipi kananku dan membuat tubuhku bergetar tak karuan. Aku... Malu!!!!
Mikey memelukku erat, "Aku mencintaimu, mencintaimu, mencintaimu"
"Jangan mengatakan kalimat itu terus menerus!" Bisikku dengan nada gagap, wajahku sangat panas.
"Ava, jadilah pacarku."
"Ap-"
Bibir Mikey merenggut bibirku dengan lekas, kelembutan bibirnya yang aku bayangkan tiap malam kini ku rasakan.
Tubuhku kaku, menatapnya dengan pipi sedikit memerah malu.
Dengan cekatan tangan Mikey memegang daguku turun ke bawah agar mulutku terbuka, lidahnya masuk.
"Umh?!"
Aku mendorongnya cepat. "G-gilaa!!!"
Mikey menunduk mengusap dahinya, "Maaf.. Aku.. Terlalu bahagia, bagaimana dengan jawaban mu?"
Ini memalukan, kami dilihat oleh beberapa siswa kelas lain di luar sana.
"Aku mau"
Lelaki itu mendongak dan tersenyum lebar, "Benarkah?"
"Ya" Ucapku singkat memalingkan muka, aku benar-benar tak kuasa menatap wajahnya.
"HEI, AKU BERPACARAN DENGAN AVA!!!"
"CIEEE!"
"PJ DONGG"
"CIEEE AVAAA"
M-mikey sialan, ini memalukan!
***
Arga bilek : saya masih di sini, kack
HAHAHAHA