Catatan.
Mengidolakan tidak harus orang terkenal bukan? Sama seperti diriku, mengidolakan seorang yang jauh dari kata tenar yang biasanya identik dengan artis atau seleb atau youtuber dan apapun itu.
Mengamatinya dan harapan ingin selalu bertemu dengannya adalah hal yang terjadi padaku kini. Aku mengidolakan seseorang! Bukan artis, bukan seleb, bukan youtuber, atau miliyarder. Bukan mereka! Salah kalian menebak jika aku mengidolakan salah satu dari mereka. Kalian ingin tahu tidak siapa idolaku? Aku kasih tahu yah... tapi, nggak langsung. Kalian baca cerpen ini saja, nanti tahu pasti siapa idolaku.
***
Lona dan Azam.
Kalau kalian? Siapa idolanya? Komentar di bawah yuk!.
***
Lona.
"Ona! Kamu di panggil mamakmu!".
Teriakan nyaring Wawa membuatku segera mematikan hp-ku dan menyelipkannya di belakang tubuhku yang bersender pada tembok bercat pink. Tentunya di kamarku sendiri.
Mungkin karena merasa aku tak menjawab panggilan Wawa, ia membuka pintu kamarku, tanpa mengetuk! Dia lalu nyelonong masuk dan mengulang ucapannya.
"Ona, di panggil mamakmu!".
Aku berdehem lalu mengambil hp-ku dan menyakuninya di saku baju, berdiri dan pergi menuju dapur.
"Mamakmu nggak di dapur, Ona. Dia di teras" aku tersenyum kecut dan bergegas pergi ke teras. Wawa tahu saja sih kalau mau ke dapur. Mungkin karena jika aku dipanggil mak, mak selalu ada di dapur. Jadi dia tahu. Dasar!!.
Sesampainya di teras, aku melihat mak sedang memarut kelapa. Ia lalu menoleh.
"Lanjutin, mak mau belanja" aku mengangguk lalu duduk di tempatnya setelah ia berdiri.
"Ona! Kamu pasti belum cuci tangan!".
Wawa lagi! Hih....!!.
Tepat saat aku hendak mengambil kelapa untuk di parut, Wawa datang seraya berteriak.
"Cuci tangan dulu!".
Aku menurut seraya ngedumel. Dia bener sih, aku belum cuci tangan, masa mau sentuh makanan gitu aja. Tapi, itu lhoh.. bawaannya kesel mulu kalau Wawa ngingetin, apalagi pakai teriak. Seolah, semua kelupaanku yang menjadi salah satu kesalahanku itu hanya terlihat di mata Wawa. Entahlah! Aku kesal! Kalau nggak jelas ngomongnya ya wajar! Ihhhh.... kesel!.
Setelah cuci tangan, aku balik ke teras untuk memarut kelapa. Dan apa? Kelapanya sudah selesai di parut sebagian oleh Wawa?! Selama itu aku jalan dari teras ke cucian piring, cuci tangan, lalu balik lagi ke teras, atau Wawa nya aja yang marutnya kecepetan.
"Udah aku parutin sebagian ya, Na. Lanjutin sisanya, aku pulang dulu, mau makan, nanti sore insyaallah aku mau main lagi" ia beranjak dari duduknya.
"Makan sini aja nanti kalau masakannya udah jadi, belum lapar banget kan?" tanyaku lembut. Walaupun kesel, tapi aku masih bisa-bisanya lembut sama dia. Kalau dia lembut, hatiku jadi luluh oyyy....
"Makasih, tapi nggak usah. Makan di rumah aja. Aku pulang dulu, bye. Assalamu'alaikum" aku menjawab salamnya, melepas kepergiannya yang pulang lewat kebun yang menjadi jalur pintas kami berdua jika ingin saling berkunjung. Rumahku dan rumah Wawa hanya berbatasan kebun saja, aku berteriak, jika Wawa tidak mem-budek, pasti akan dia dengar. Tapi, rumah Wawa agak menjorok ke dalam.
***
Adzan zduhur berkumandang, aku kebetulan sedang duduk di teras seraya memainkan hp.
Aku tak sengaja memandang idolaku saat memandang jalan. Jalan yang tak indah sama sekali sebelumnya dan nampak membosankan, menjadi sangat indah dan nampak mengasyikan. Idolaku juga menoleh ke arahku, sesaat. Ia lalu memalingkan wajahnya dan fokus pada hp-nya, tapi tidak bagiku. Aku tetap fokus mengamati jalannya hingga ia hilang dari pandanganku karena bangunan.
***
Sore harinya, aku terbangun dari tidur siangku karena dibangunkan oleh... bukan mamak! Tapi Wawa. Ia mengajakku main, tapi bukan main seperti ngegame, sepak bola, atau jalan-jalan. Tapi, main ke rumah orang di dekat jalan sambil ngomong nggak jelas atau dengerin ibu-ibu berbincang seraya memakan jajan atau memandangi kendaraan yang lewat. Tapi, aku menolak. Ia pun duduk di atas kursi plastik berwarna hijau yang ada di depan meja belajarku, lalu mengambil hp-ku dan menyalakannya. Untunglah! Galerinya aku kunci. Kalau tidak! Aku harus ngomong apa kalau dia tanya macam-macam? Galeriku banyak menyimpan foto-foto idolaku, yang tak lain adalah kakaknya, dan mereka adalah saudaraku. Aku mengidolakan saudaraku? Dan berharap aku bisa memilikinya? Halu! Iya sih, awalnya mikir gitu, tapi setelah lias postingan orang yang kayak gini.
"Sekarang mungkin kamu mencintainya dalam diam, layaknya cinta seorang Fatimah kepada Ali. Mungkin sekarang bagimu memilikinya adalah suatu ketidakmungkinan.
Tapi bukan kah Allah maha membolak-balikan hati manusia?"
Dan.. saat aku searching di google.
Hukum menikah dengan saudara menurut islam?.
Jawabannya, ialah : Melansir dari laman Konsultasi Syariah, saudara sepupu bukanlah mahram karena Allah menghalalkan kita untuk menikahi saudara sepupu, baik sepupu dekat maupun jauh. ... Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 50.
Karena aku sangat mempercayai Allah, atas segala kuasanya mengatur kehidupan dan hati manusia. Aku tidak ingin mundur untuk memperjuangkan kakaknya Wawa menjadi milikku. Niat, sudah. Berusaha, sudah. Berdo'a, sudah. Tinggal hasil, Allah yang menentukan.
Kembali ke Wawa dan aku.
"Ayok, Na lah...".
"Tidak".
"Ayok lah...".
"Tidak".
"Ayok, Na lah..."
"Tidak".
"Ya sudahlah, aku main sendiri saja, nih hp-mu, makasih, mungkin kuota-nya tinggal lima ratus mb" ia pergi meninggalkanku, menutup pintu kamarku lumayan keras. Ia tidak seperti biasanya, karena apa? Karena ini untuk lebih dari sepuluh kalinya aku menolak ajakannya main. Awalannya di tolak pasti biasa aja kan? Lah ini, udah sepuluh kali. Pantas aja sih dia kayak gitu, aku maklum, tapi tidak mengubah niatku untuk tidak main. Aku tidak peduli tentang tinggal seberapa kuotaku, kemarin aku cek, masih enam gb, dan yah... Wawa tidak akan menggunakan kuota hp-ku banyak-banyak, dia sadar.
***
Hari ini adalah hari yang sangaaaatttt..... membahagiakan. Kenapa? Ada apa? Aku... lulus!! Dan hari kelulusanku ini bertepatan dengan hari ulang tahunku, serta ibu. Sepulang dari sekolah, ibu berinisiatif untuk menggelar syukuran. Aku setuju, ayah pun, kakek dan nenek? Apalagi. Mereka senang bukan main!.
***
Bruk...
"Ehhh... bukunya..." aku mengeluh saat tumpukan buku-buku yang sudah di susun susah-susah oleh Stiva--sahabatku, jatuh karena menabrak orang. Padahal aku sudah sampai berteriak untuk memberi tahu pada orang bahwa aku sedang membawa banyak buku.
"Minggir...!! Ona lagi bawa banyak buku!! Kasih jalan!!" begitulah teriakanku tadi.
Tapi, orang di depanku?! Dia memakai headset! Pantas saja tidak dengar! Dasar menuli! Kalau telinganya digunakan untuk mendengarkan isi headset-nya! Ya gunakanlah matanya untuk melihat kondisiku berjalan. Tapi, dia juga menatap ke bawah, ke hp-nya, bukan lantai. Jadi, posisi dia itu, headset-an terus nunduk mainan hp, jalan dengan santainya terus nabrak aku sampai buku pada jatuh. Tidak peduli lah aku sama dadaku yang lumayan sakit, tadi! Waktu ditabrak sama dia, sakitnya karena tertekan buku. Tapi, aku peduli sama bukunya, mereka pasti kesakitan karena jatuh dari ketinggian.
Orang tersebut menoleh, pandanganku terpaku seketika. Terpaku pada wajahnya. Dia Azam! Lelaki yang aku idolakan! Saudaraku! Kakaknya Wawa! Dia kuliah di kampus yang sama denganku?! Waw...!! Aku terkejut bukan main!! Apa dia mengenaliku? Apa dia tahu bahwa ini aku? Apa aku cantik? Oh!, bagaimana penampilanku sekarang? Apa ada yang aneh? Rambutku-rambutku? Aduh.... kok deg-deg an gini sih? Mana perut mules lagi.
"Lona?" pandanganku gelap seketika, bunyi brak aku dengar sebelum pandanganku gelap total.
***
"Ona!! Huaaa.... kamu kenapa pingsan, Ona!? Onaku sayang, Onaku cinta, Onaku mcuah.. mcuah.... kenapa kamu pingsan? Huhuhuhu...".
Aku terbangun di... puskesmas? Bau obat, ruang putih, banyak orang? Ada dokter sama suster? Ada nakas peralatan medis? Benar kan aku di puskesmas? Kalau bukan di puskesmas? Aku di rumah sakit?.
"Va... sadar Va..." ujarku lemah. Stiva menoleh lalu memastikan aku benar sadar atau tidak, setelah aku mengangguk ia memelukku, dan orang-orang berhambur keluar, dokter mengecek kondisiku. Baik semua, katanya aku shok. Ya jelas shok lah dok! Idolaku setelah sekian lama tidak berjumpa dan berjumpa di kampus ia mengenaliku lalu memanggilku. Bagaimana tidak shok? Atau aku saja yang berlebihan?.
***
Azam.
Memperhatikannya adalah keseharianku kini. Dia berbeda. Dia memikat hatiku. Aku jatuh cinta? Aku juga tidak tahu? Dia begitu indah, bukan dengan bulu matanya yang lentik, postur tubuh nya yang proporsional, atau pakaiannya yang ketat. Ia berbalik dari semua itu, bulu mata turun, badan agak gemuk, dan pakaiannya longgar, ia juga berhijab. Akhh...!! Dia benar-benar membuatku frustasi.
Aku selalu mengamatinya diam-diam, hingga saat kelulusan, dan aku dengar ia melanjutkan menempuh pendidikan dan kuliah di kampus B. Aku mengikutinya.
Pada suatu hari, tak sengaja aku menabraknya. Ia terpaku saat menatapku, jujur saja, aku menjadi deg-deg an karena ini. Aku memanggilnya, dan tiba-tiba saja ia jatuh pingsan, sebagian buku yang masih dipegangnya jatuh menimpa tubuhnya. Aku lalu membawanya menuju puskesmas, teman-teman kepoku mengikutiku. Stiva, yang kutahu adalah sahabatnya menangis sesegukan. Lona lalu tersadar.
***
Beberapa hari kemudian. Aku mengajak Lona pergi ke suatu tempat. Bersama dengan kedua orang tuanya dan orang tuaku. Singkatnya, keluarga besar kami. Malam harinya, keluarga kami datang ke rumah Lona untuk ta'aruf. Setelah Lona menerima. Satu minggu kemudian kami menikah. Sesuai islam. Setelah itu, baru kami pacaran.
-------------
Azam.
Aku mengidolakanmu dan memperhatikanmu sejak lama, mungkin tidak ada orang yang sadar akan itu, dan pada saat itu rasa ingin memilikimu muncul.
***
Lona.
Kamu idola manusiaku, yang membuatku selalu ingin menatapmu, dan memilikimu. Tidak aku sangka, bahwa kamu juga mengidolakanku, Azam. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Engkau mempersatukan kami, dan memudahkan rintangan yang kami hadapi.
End.
Jadi, idola kalian siapa? Komentar yuk!.