Takdir percintaan membuat hubungan kakak beradik ini menjadi rumit. Rahasia takdir membuat mereka masuk dalam lingkaran kluarga yang tak biasa.
Samuel Decara biasa dipanggil Ara adalah gadis berusia 24 tahun. Yang bekerja sebagai seorang Caddie di salah satu padang golf di kotanya. Perawakan yang tak begitu tinggi hanya 155cm dengan berat badan 48kg tampak proporsional untuknya.
* Caddie adalah patner seorang golfer saat bermain golf ( dalam olah raga golf tentunya)*
Sekilas mengenai Caddie dan pekerjaannnya. Seragam kerja sporty namun rapi berupa celana panjang dan baju lengan panjang serta aksesoris berupa sabuk dan topi yang lebar untuk melindungi wajah mereka dari paparan sinar matahari langsung karena tempat kerja mereka out door, alias hujan kehujanan kalau panas ya kepanasan . Mereka bekerja sebagai assistan golfer dan teman sharing mengenai golf agar mendapatkan score yang bagus dalam permainan. Atau bisa juga disebut guidenya lapangan golf. Bukan seperti yang kebanyakan orang awam pikir kalau pekerjaan mereka berpakaian mini dan menemani om - om genit.
Clarisa Octora adalah adik dari Samuel Decara, akrab dipanggil Clary adalah seorang model yang exotis dengan kulit coklat sawo matang khas dan tinggi 168cm. Kadang dia juga bekerja sambilan sebagai SPG agar tidak terlalu memberatkan orang tuanya untuk biaya kuliah. Dia adalah gadis yang ulet dan mandiri. Dia sekarang masih berumur 20 tahun. Sangat muda dan berbakat.
Mereka berdua adalah anak dari pasangan Samuel Octora dan Clarisa Decara. Pasangan orang tua yang kocak tapi tegas dalam mendidik anak - anaknya.
Cerita dimulai dari pertemuan Ara dengan seorang golfer/ pemin golf bernama Andrian. Mereka bertemu saat Andrian sedang berlatih golf di padang golf tempat Ara bekerja. Dan kebetulan saat itu Ara lah yang bertugas sebagai caddie untuk Andrian.
" mbak tolong ambilin bola di saku depan baggolfku dong" suara maskulin terdengar dari belakan Ara yang sedang fokus mengecek stik didalam bag golf Andrian.
* bag golf adalah tempat meletakkan stik golf*
GLEEKKK.
Ara menelan silvanya saat membalikan badan melihat ke arah suara tadi.
" njiiiiirrr... mimpi apa gue semalem bisa ketemunoppa bening " batin jomblo Ara meronta - ronta
" mbak.. halo " Andrian melambaikan telapak tangannya didepan wajah Ara.
" astaga.. maaf pak ini bolanya" akhirnya Ara tersadar dari lamunannya.
" mikirin pacarnya mbak?" tanya Andrian dengan tersenyum
" hehe tidak pak." jawab Ara canggung
" jangan - jangan kamu lagi ngagumi ketampanan saya ya mbak?" Andrian tersenyum penuh makna. Sedangkan Ara hanya membuka mulutnya mendengar ucapan Andrian.
" njirrr... narsis banget sih om. Tapi emang cakep si" batin Ara.
" Maaf bapak nunggu teman atau mau langsung berangkat?" tanya Ara sesipan mungkin padahal ingin sekali dia memaki - maki Adrian karena kenarsisannya.
" langsung aja mbak cuman maunlatihan niat turnamen minggu depan kok"
Akhirnya merekapun memulai olahraga dibawah teriknya matahari yang menyengat.
Sekitar 3 jam berlalu dan mereka menyelesaikan 18 hole permainan golf mereka. Dengan sedikit candaan diselah - selah latihan serius Andrian.
" mbak makasih ya udah dibantuin. Nanti turnamen sepertinya kamu aja yang handle aku ya. Nanti aku bilang ke Master Caddie kamu." Ucap Andrian setelah mengecek semua stiknya memastikannya lengkap seperti saat baru datang.
" Siap pak bos." Jawab Ara kegirangan karena dia merasa aman saat turnamen nati tak perlu khawatir lagi akan handle golfer seperti apa. Karena sebagian golfer ada yang cerewet.
Disisi lain Clary bersama keempat temannya sedang melaksanakan KKN dikota M tapi masih dalam provinsi. Dan hari ini waktunya pewakilan dari mereka bertemu dengan salah satu pegawai kecamatan untuk menyelesaikan tugas mereka.
" Hari ini Clary sama Dona yang ke kantor kecamatan ya. Gue bertiga yang survey lokasi " kata Dimas, salah satu teman Clary.
Mereka berduapun segera pergi mengendarai motor matic yang sengaja mereka bawa dari kota asal mereka untuk mempermudah transportasi. Dan tak sampai 10 menit mereka telah berada di parkiran kecamatan.
" Selamat siang bu, kami mahasiswa yang KKN disini mau bertemu dengan pak Radit" ucap Clary
Salah satu pegawai kecamatan itupun mempersilahkan mereka duduk dan memanggilkan pria yang bernama Radit.
" Siang adek- adek.. gimana nih misi KKN kalian disini?" tanya Radit saat bertemu dengan mereka.
" keren kak. Warga juga sangat wellcome. Makasih ya da ngerekomin desa ini." ucap Dona.
" Iya sama - sama. Senang bisa bantu kalian. Oh iya Clary gimana prospeknya? Nanti kalau mau balik mampir kwrumah sebentar ambil beberapa makalah mungkin berguna buat kamu." tambah Radit dengan senyuman yang manis penuh arti.
" Siap ndan. Btw makasi banget da dibantuin ya kak" Clary tak sengaja meraih tangan Radit dan dibalas senyuman sok cool darinya.
DEG DEG DEG...
" astaga jantung gue. Haduh nih anak selalu aja bikin gue deg degkan. Dia nyadar gak si
kalau gue suka sama dia" gumam Radit dalam hati.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Sekarang adalah hari terakhir mereka KKN disana. Setelah berpamitan pada warga dan aparatur desa disana. Kelima mahasiswa itupun segera meninggalkan desa tersebut.
Hanya butuh waktu sekitar 80 menit mereka pun sampai dikota asal mereka dan pulang menuju rumah masing- masing untuk segera beristirahat dari lelahnya perjalanan mereka.
Sekarang Clary sedang berada dikamarnya mengacak - acak koper yg dibawanya. Dia mencari makalah yang dari Radit.
" ahhh busyet dah. Malalahnya kan belom gue ambil dirumah kak Radit. Amsyong." Clary menepok jidatnya.
"Kenapa dek?" tanya Ara yang tidak sengaja mendengar adiknya menggerutu saat melewati depan kamar adiknya.
"kakakkk.... tolongin...😢" Clary langsung merangkul lengan kakaknya
" paan?"
" anter balik ke kota M sekarang" rengeknya.
" lu kan baru sampe dek. Gak capek lu?"
" makannya minta anter kakak." jawabnya manja. " ya kak.. yah yah.. besok makalahnya dipake. Tadi ketinggalan😢"
" yodah cuzzz. Pamit sono ma ibu"
Setelah berpamitan pada ibu, akhirnya merekapun mengendarai motor matic milik Ara menuju kota M. Untung hari masih siang sekitar pukul 13.00 jadi merekapun tidak akan kemalaman sampai dirumah nanti.
Kurang lebih sekitar 70 menit mereka berkendara akhirnya mereka sampai didepan sebuah rumah mewah dengan pagar yang tinggi. Perjalanan 10 menit lebih cepat karena Ara melajukan motornya seperti orang kerasukan.
Setelah membunyikan bel disisi pintu gerbang seorang satpampun membukakan pintu untuk mereka. Beruntung Pak satpam itu sudah mengenal Clary karena sering berkunjung kerumah itu untuk menemui Radit.
Mereka berduapun dipersilahkan duduk di ruang tamu oleh salah satu pembantu yang ada disitu lalu pembatu itupun berlalu untuk memanggilkan majikannya yaitu papa Radit karena menurut penuturannya Radit belum pulang.
Seorang pria berjalan menuruni anak tangga. Langkah kakinya menimbulkan bunyi akibat benturan dari sandal yang ia pakai dengan lantai membuat kedua gadis itu menoleh kearahnya.
" siang Om" sapa Clary yang bersamaan dengan teriakan Ara
" loh pak Andrian??" Ara kaget karena rumah yang ia kunjungi adalah rumah golfer yang sempat ia handle di lapangan beberapa hari yang lalau.
" Ara?! Kamu? eh wajah kalian kok mirip? kalian saudara ya?" tanya Andrian yangbtak kalah terkejut.
" iya om, perkenalkan ini kak Ara kakak saya."
nada bicara Clary seakan terdengar akrab dengang Andrian karena memang mereka sering bertemu saat Clary bertamu kerumah Radit.
Merekapun berbincang - bincang santai sejenak sebelum berpamitan pulang saat sudah mendapatkan makalah yang Clary inginkan.
Beberapa bulan setelah pertemuan itu, hubungan Clary dan Radit berubah dari teman menjadi tunangan. Radit benar - benar serius ingin mempersunting Clary setelah kelulusan Clary nanti. Sedangkan Ara sekarang dipercaya sebagai Caddie Andrian setiap dia bermain golf ketempat Ara bekerja. Arapun tak sungkan - sungkan memanggil pak Radit dengan sebutan ' Om ' saat diluar area kerja karena Pak Andrian sebentar lagi akan menjadi mertua adiknya. Begitupun Pak Andrian yang tak keberatan dengan sebutan tersebut.
Sampai pada suatu siang yang terik Andrian dan Radit datang kerumah orang tua kedua gadis itu menjemput Clary untuk diajak menginap di kediaman mereka karena akan mengadakan makan malam dengan keluarga mereka yang baru datang dari negara J. Ya.. hanya mereka berdua yang datang karena faktanya mama Radit yaitu istri Pak Andrian meninggal 23 tahun lalu saat melahirkan Radit, putra semata wayangnya.
Kali ini pak Adrian juga mengajak Ara agar ikut bersama mereka. Dengan nada bercanda ia bilang siapa tau ada saudaranya yang jomblo bisa dijodohkan dengan Ara. Agar kedua gadis itu bisa masuk kedalam kluarga mereka. Andrian merasa baik Ara maupun Clary adalah gadis yang sangat baik dan manis.
Sebelum sampai ditempat tujuan Ara dan Clary diajak kesebuah butik untuk membeli gaun yang akan mereka gunakan nanti. Tak lupa juga kedua gadis itu dibawa ke salon untuk menata riasan mereka.
Waktupun berlalu, acara makan malam di restoran bintang 5 telah usai. Kedua gadis pun menginap dirumah pak Andrian karena tidak memungkinkan untuk mengantar mereka pulang .
Keesokan harinya masih dirumah Pak Andrian. Setelah sarapan, Radit meminta ijin pada papanya untuk mengajak Clary jalan - jalan sekaligus mencari buku untuk Clary. Sedangkan Ara si ratu meger memilih tetap dirumah pak Andrian karena dia pikir mereka akan cepat pulang. Namun ternyata....
" haduuuhhh... kemana si mereka lama bener gak balik- balik" Ara ngomel - gomel kesal.
" kenapa Ara?" tanya pak Andrian.
" mereka kok belum balik si om? udah jam 2 siang loh nati pulang kerumahnya kemaleman lagi." dengus Ara sebal.
" barusan om vc mareka sepertinya lagi di bioskop deh" jawab pak Andrian sambil meletakkan sepotong cake didepan Ara.
" widih.. om kalo pake baju casual gini kek masi umur 30an aja. Btw sebenernya om umur berapa si?" tanya Ara yang kagum saat melihat calon mertua adiknya itu masih tampak muda dan gagah. Dengan tubuhnya yang tinggi serta ototnya yang masih kekar karena rajin olah raga.
" tebak dong, kalo bener nih sejuta buat kamu" Pak andrian mengeluarka uang dari dompetnya.
" serius om?" pertanyaan Ara dijawab anggukan oleh Andrian.
" 46 deh kalo ngitung dari umur Radit dan cerita om yang dulu ngaku nikah muda. Tapi om gk keliatan umur segitu. Malah lebih seperti kakaknya Radit." Ara memasang tampang sok mikir.
" anak pinter, bener jawaban kamu. Ni ambil uang.." kalimat pam Andrian terhenti saat melihat uang yang ia letakkan dimeja sudah hilang tak berbekas.
" makasih om.." senyum Ara mengembang sambil memasukan uang pada saku celananya lalu ia dengan lahap memakan cake yang di bawakan pak Andrian tadi.
" Dasar bocah disogok uang sama kue aja da ilang marahnya. Mana makannya belepotan..hemmm" batin pak Andrian merasa lucu dengan gadis didepannya. Diapun segera mengambil tisu lalu tanpa permisi membersihkan sisa krim yang menempel dimulut Ara.
GLEKK..
Andrian menelan silvanya saat tanpa sengaja jarinya bersentuhan dengan bibir Ara. Seakan tubuhnya tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Ditatapnya bibir itu lekat - lekat gadis didepannya. Lalu ia mengalihkan pandangan ke kedua mata Ara.
Ara sendiri hanya terdiam membatu saat pandangan mereka saling bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Ada rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Otaknya seakan berhenti bekerja, jantungnya berdegup kencang dan matanya seolah tak bisa dialihkan dari tatapan laki - laki dihadapannya.
Perlahan tapi pasti, jari telunjuk Andrian mulai mengusap lembut bibir Ara. Entah setan apa yang mulai merasuki pikiran Andrian sehingga dia tiba - tiba mencium bibir gadis itu dengan buasnya.
" emmmpp.. om..emmm le.. pas...om" Ara merusah mendorong tubuh Andrian yang menghimpitnya di sofa. Ara memukul - mukul tubuh Andrian dengan sekuat tenaga hingga akhirnya tamparan keras mendarat di pipi Andrian sesaat setelah melepaskan bibir Ara.
Andrian memegangi pipinya yang terasa panas. Dia tersadar akan perbuatan tak senonohnya pada gadis yang tak lain adalah kakak kandung dari calon menantunya.
Ara mendorong tubuh Andrian yang mematung. Dia segera berlari keluar dari rumah itu. Andrian yang tersadar segera mengejar gadis itu sebelum berhasil keluar dari gerbang rumahnya.
Ditariknya lengan Ara dengan kasar. Lalu didekapnya erat tubuh gadis itu agar tidak meronta lagi.
" Ara.. Ara.. plisss dengerin Om dulu."
" gak!!!!" bentak Ara kasar sambil tetap meronta ingin melolosakan diri dari dekapan Andrian.
Satpam dan pembantu yang melihat keributan itu segera berlari ingin membantu majikannya tapi hanya dengan mendapatka kode saja dari Andrian, mereka semua mengurungkan niatnya tadi.
Andrian membawa paksa Ara untuk masuk kerumahya lagi dengan tetap mendekap ara dan sesekali mengangkat tubuh ara yang terasa ringan bagi Andrian.
Andrianpun melepaskan Ara sesampainya dikamar tamu yang berada dilantai bawah. Dia segera mengunci pintu kamar tersebut dan memasukan kunci itu kedalam saku celananya.
" Om lepasin Ara. Ara mau pulang Om" Ara ketakutan setengah mati saat disadarinya bahwa hanya ada mereka dikamar tersebut.
" Ara dengerin Om dulu. Om gak mau ngapa - ngapain kamu. Om cuma mau minta maaf atas kejadian tadi." Andrian berusaha menyentuh tangan Ara tapi ditepis oleh gadis itu.
PLAKKK
Untuk kali kedua Andrian merasakan panas dipipinya karena tamparan dari Ara. Andrian hanya menunduk dan mengutuki kebodohannya.
" Ara tolong setidaknya tunggu Clary. Kalian gak mungkin pulang sendiri - sendiri. Ara boleh marah sama Om. Ara boleh benci sama om, tapi setidaknya jangan pulang sendiri dengan kondisi seperti ini. Om taku terjadi apa- apa sama kamu dijalan" Om Andrian trus membujuk Ara.
...
Setelah kejadian itu Ara tak lagi mau menemani Clary saat berkunjung kerumah Radit. Begitupun saat Radit dan Om Andrian berkunjung kerumah mereka, Ara selalu memilih menghindar dan keluar dari rumah dengan berbagai alasan. Pun ditempat kerja, Ara juga selalu menolak saat diminta untuk menghandle Pak Andrian. Sampai akhirnya dia di scorsing 1 bulan karena selalu menolak tamu yang sama.
Ara memilih diam tak menceritakan kejadian itu pada siapapun karena dia tidak ingin hal itu mempengaruhi hubungan Clary dan Radit yang sebentar lagi akan menikah.
Ditempat lain sikap andrian menjadi sangat pendiam dibandingkan biasanya yang hangat dan suka humor. Dia terus saja mengutuki kebodohan yang dia lakukan. Dilema selalu menghantuinya setiap saat. Kejadian itu terus terbayang diotaknya. Wajah Ara terus saja berputar - putar di pikirannya.
" SHITTTT!!!!" teriaknya dengan melempar gelas yang berisi wine hingga pecah berkeping - keping.
" aarrrhhhgggg!!!" teriaknya lagi lalu menenggak wine langsung dari botolnya.
Radit yang sebenarnya menyadari perubahan sikap papanya dan Ara sudah cukup diam dan bersabar sementara waktu, berharap salah satu dari mereka dengan suka rela menceritakan kejadian sebenarnya. Sebenarnya Radit sudah sedikit tahu apa yang terjadi melalui rekaman cctv yang ada di halaman rumahnya serta keterangan pegawai dirumahnya yang melihat keributan antara Ara dan papanya. Hanya saja dia belum jelas apa penyebab pertengkaran mereka.
" pa " Radit meletakkan tangannya dibahu Andrian seolah memberi kekuatan pada papanya yang sedang galau. " papa gak keberatan cerita sama Radit?" Radit tersenyum lebut pada papanya.
Andrian menghela nafas panjang lalu menghembuskannya kasar " Dit apa mungkin orang yang setua papa bisa jatuh cinta?"
Pertanyaan itu cukup mengejutkan Radit tapi dia berusaha setenang mungkin agar papanya mau jujur padanya. " mungkin aja si pa. Lagian wajar, kan papa da 23 tahun juga menduda sejak kepergian mama" kalimat Radit terhenti sejenak. " papa yakin itu cinta?" tanyanya lagi.
" entahlah, yang jelas setiap hari bayangannya muncul diotak papa."
" kejarlah cinta papa selagi dia single seperti yang pernah papa bilang ke Radit waktu ngejar Clary dulu." Radit tersenyum
" Tapi ini beda nak. ah..."
" beda apanya pa? Emang siapa yang bisa bikin papa jatuh cinta sampai seperti ini?"
" Calon kakak iparmu nak." Andrian mengusap wajahnya kasar.
Ternyata benar dugaan Radit selama ini. Perhatian yang papanya berikan kepada Ara sekilas memang terlihat wajar seperti seorang Om pada ponakannya. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa Radit dapat menangkap keinginan lain dari sorot mata papanya saat menatap Ara.
" Radit gak keberatan kok pa. Kalau kak Ara jadi ibu tiri Radit"
" gak bisa nak. Gimana hubungan kamu dengan Clary kalau papa nikah sama Ara?"
" ya tetep lah pa. Radit tetep nikah sama Clary. Emangnya ada hukum yang ngelarang seorang ayah menikahi kakak dari menantunya?" Radit menatap tajam pada papanya.
" kalaupun papa maju terus gimana dengan Ara?. Dia sudah benci setengah mati sama papa karena kejadian itu" Andrian tak sengaja kelepasan bicara.
" kejadian apa maksud papa?" Radit mulai menampakkan ekspresi tak bersahabat.
" papa gak sengaja nyium bibirnya. Papa bener - bener khilaf" Andrian menenggak lagi wine didepannya.
" astaga papa!!!" teriak Radit sembari menepok jidatnya. " DASAR OM - OM JABLAY" umpatnya pelan tapi masih dapat terdengar oleh papanya.
" trus papa harus gimana buat ngedapetin Ara? bla bla bla bla bla" Andrian yang sudah mulai mabuk karena telah meminum hampir 5 botol wine mulai meracau.
" bodo amat, pikir aja sendiri. Dasar pedofil" tanpa sungkan Radit mengejek papanya.
....
Sebulan telah berlalu, Arapun sudah kembali bekerja. Tak sengaja dia melihat Adrian sedang bermain golf dengan teman - temannya. Ara segera mengaluhkan pandangannya saat tak sengaja beradu dengan Andrian.
Tiba saat pulang kerja, Ara segera memacu motornya pulang kerumah. Dia ingin segera beriatirahat dikasur empuknya. Dia melihat mobil Radit dihalaman depan rumahnya. Dengan segera dia mengucapkan salam lalu masuk kedalam rumahnya.
Betapa terkejutnya dia saat melihat Andrian duduk diruang tamu bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Radit dan Clary. Ara melihat ada aura berbeda dalam ruangan itu.
" Ara buruan beberes trus makan abis itu kesini ya" kata ayah Ara.
" Ara udah makan kok yah sama temen - temen tadi. Ara cuman mau naro tas aja dikamar." jawab Ara sambil tersenyum menyembunyikan ketidak sukaanya atas kehadiran Andrian.
Tak lama setelah itu Ara pun ikut bergabung diruang tamu dengan yang lain. Sangat tampak jelas raut muka dan senyum yang dipaksakan di wajah Ara.
" Ehem.." ayah Ara berdehem memecah suasana yang tiba - tiba canggung karena kedatangan Ara.
" Seperti yang tadi kita sepakati bahwa pernikahan Radit dan Clarisa dilaksanakan sebulan setelah wisuda Clarisa. Mengenai segala hal yang diperlukan kita serahkan semua ke pihak WO" Andrian memulai lagi percakapan yang segera disetujui oleh Samuel calon besannya.
" ehmmm dan satu hal lagi yang tadi sempat kita bahas mengenai Ara, putri pertama saya" kata Samuel yaitu ayah Ara dan Clary.
" Ara.. tadi Pak Andrian atau lebih tepatnya calon mertua adikmu datang kesini selain membahas pelaksanaan pernikahan adikmu bliau juga berniat untuk mempersuntingmu menjadi istrinya." Ibu kedua gadis itu menjelaskan dengan nada yang sangat halus sambil menggenggam tangan Ara.
CETARRRR...
Ara sangat kaget mendengar penjelasan ibunya. Dia hanya terdiam masih bingung harus berkata apa.
" Ara.." panggil ayahnya lembut.
" iya ayah. Maaf Ara galfok. Tadi ibu ngomong apa ya?" Ara nyengir menyembunyikan keterkejutannya.
" Papanya Radit inggin menikahimu. Apa kamu setuju?" tanya ayah Ara.
" eh? loh? maksutnya om Andrian ngelamar Ara gitu?" tanya ara lagi masih ingin berkelit dari pertanyaan itu.
" saya datang kesini berniat melamarmu Ara" suara Andrian yang maskulin dan penuh keyakinan sukses menggetarkan hati Ara yang dari awal bertemu memang sudah terpesona pada om - om tampan ini.
" maaf boleh saya meminta waktu untuk memikirkannya?" tanya Ara pada siapa saja yang mau menjawabnya.
" Silahkan. Saya juga tidak ingin terlalu memaksakan perasaan saya pada Ara" ucap Andrian dengan senyuman lembutnya.
" FU** K.. DASAR OM -OM GAK WARAS." gerutu Ara dalam hati.
" Maaf apa boleh saya berbicara 4 mata dengan Ara" tanya Andrian yang dijawab dengan anggukan oleh ayah Ara.
Ara sebenarnya sangat enggan bertemu dengan Om Andrian apa lagi harus berada berdua dengannya. Tapu apa boleh buat jika ayahnya yang menyuruh pasti dia tidah bisa menolaknya. Dan akhirnya mereka berdua pun pergi ke teras bagian belakan rumah.
" Ra.. Ara.. maafin Om"
" apalagi sih Om? belum puas Om bikin aku di scorsing dari kerjaan? Trus sekarang dateng main ngelamar aja. MAKSUD OM APA SIH???!!!" Ara tidak bisa lagi menyembunyikan kemarahannya.
" Aku serius sama kamu Ra. Aku cinta sama kamu" Andrian berusaha meraih bahu Ara.
" GAK USAH PEGANG - PEGANG!!!" teriak Ara lagi dan kali ini sampai terdengar oleh ayahnya.
" Ara..." satu kata dari ayah itu cukup membungkam Ara dan mengingatkannya akan kesopanan.
" iya ayah. Ara salah" jawab Ara.
" puas lu?! puas kan udah bikin idup gue runyam" Arapun memelankan suaranya tapi penuh penekanan. Dia sudah sangat jengkel hingga menggunakan kata ' lu gue' yang sangat tidak pantas diucapkan kepada orang yang lebih tua.
Ara beranjak pergi meninggalkan Andrian sendiri.
Setelah kejadian itu hidup Ara berubah seperti seorang buronan. Kemanapun ia pergi pasti ada orang suruhan Andrian yang mengintainya. Bahkan kluarganya pun seakan mendukung rencana pernikahan Andrian dan Ara.
Ara seakan tak bisa lepas dari bayang - bayang Andrian. Setiap waktu ada saja sesuatu yang dikirim andrian untuknya. Tak jarang juga Andrian selalu datang dan memberi kejutan - kejutan kecil yang manis untuknya. Walaupun Ara selalu mengabaikannya dan sebisa mungkin menghindarinya. Tapi itu tidak menyurutkan semangat Andrian mengejar gadis kecil tercintanya itu. Mengingat banyaknya dukungan yang ia dapat setelah berhasil meyakinkan kluarga Ara seusai resepsi pernikahan Radit dan Clarisa.
Semakin hari kelakuan Andrian semakin menjengkelkan di mata Ara. Bukan hanya ditempat kerja hingga menimbulkan gosip yang tidak enak didengar, bahkan dirumahnya sendiri saja dia selalu merasa tidak nyaman dengan semua barang pemberian Andrian.
Ara dengan segera mengemasi semua barang - barang pemberian Andrian dan mengirimkannya melalui jasa kurir. Sedangkan dia sendiri karena saat ini libur kerja maka dia berinisiatif untuk pergi kerumah Andrian untuk memberi peringatan pada laki - laki tua itu agar berhenti merecoki hidupnya.
Dipacunya motor matic hitam kesayangannya dengan emosi yang meluap - luap. Kali ini hanya memerlukan waktu 1 jam dia sudah sampai didepan rumah Andrian. Ditekannya bel didepan pagar rumah berkali- kali berharap segera bisa memaki Andrian.
Arapun segera nyelonong masuk kerumah Andrian saat satpan yang berjaga membukakan pintu gerbang. Tak lupa Ara meminta bantuan untuk memarkirkan motornya dengan kunci yang masih melekat pada motornya.
" Om.. Om Andrian keluar lu!!" teriakannya sukses membuat pegawai dan sang empunya rumah mendatanginya. Ara berani bersikap seperti itu karena dia tahu saat ini Andrian tinggal sendiri dirumahnya karena Radit dan Clary memilih untuk membeli rumah baru setelah mereka menikah.
" kalian lanjutkan pekerjaan kalian" titah Andrian pada pegawainya. " dan satu lagi, tutup mata dan telinga kalian rapat - rapat dan jangan ada tamu yang datang hari ini" semua pegawai Andrian mengerti apa yang dimaksud oleh majikannya tersebut.
Ara sediki gentar mendengar perintah yang diucapkan Andrian. Dia yakin pasti akan terjadi hal yang tidak menguntungkan untuknya. " Sial gue lupa kalo masuk ke kandang singa" bantinnya ingin segera berlari meninggalkan rumah itu.
" ada apa?" tanya Andrian dingin
" om tolong berhenti ganggu hidup Ara" Ara mengumpulkan lagi segenap keberaniannya.
" baik. tapi kamu harus menikah denganku." jawabnya datar.
" om gak bisa maksa kayak gitu"
" bisa" jawab Andrian singkat dan melangkah semakin mendekat pada Ara.
" Om itu bukan cinta tapi obsesi." Ara berusaha menyadarkan laki - laki didepannya.
" yes. aku memang terobsesi sama kamu" * smirk terpanpang diwajah Andrian
Kini wajah Andrian terlihat seperti singa yang ingin segera menerkam mangsanya. Dia semakin mengikis jarak antara mereka dengan aura yang sangat mengintimidasi.
" stop jangan maju lagi Om !!!" teriak Ara sambil mengulurkan tangannya agar Andrian tidak semakin dekat.
Bukannya berhenti ditempatnya, Andrian malah menarik tangan Ara. Hingga Ara masuk dalam dekapannya. Sejenak mereka saling memandang. Lagi - lagi Ara tak dapat berkutik dengan tatapan maut Andrian.
" om.." suara ara gemetar
" biarkan sebentar seperti ini " Andrian semakin erat mendekap tubuh Ara dan membenamkan kepala Ara didadanya lalu memejamkan matanya sejenak.
Ara hanya terdiam menuruti perkataan om Andrian. Ada rasa nyaman yang belum pernah dia rasakan. Emosinya yang sedari tadi ingin dia lampiaskan mendadak mereda. Entah mantra apa yang diucapka Andrian sehingga gadis dalam dekapannya sekarang tak berontak lagi.
Ara semakin membenamkan kepalanya didada bidang Andrian. Speachless..dia terdiam bingung dengan semua yang terjadi. Perlaha dia mula mengangkat kepalanya berusaha menatap Andrian.
Andrian yang menyadari hal itu sedikit mengendorka dekapannya dan membalas tatapan Ara. Dengan lembut Andrian mengangkat dagu Ara dan menatap wajahnya lebih intens. Tatapan mereka bertemu seolah menyiratkan perasaan masing - masing.
" Boleh?" tanya Andrian kepada Ara lembut seraya mengusap bibir gadia itu.
Ara tetap terdiam tak mampu berkata apa - apa. Pesona Andrian berhasil membuat otaknya tak berfungsi secara normal. Perlahan Andrian semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Ara. Dici***nya lembutbibir gadis itu. Ara hanya terdiam tak membalas perlakuan Andrian. Dia masih shock dengan apa yang terjadi.
Andrian mulai melepaskan bibirnya dan menatap Ara lagi. " kenapa diem aja?" tanyanya lembut. " Bukannya tadi mau marah?" Andrian masih mendekap tubuh Ara dengan salah satu tangannya dan tangan yang lain masih setia berada di pipi dan dagu Ara.
Ara masih tetap terdiam. Ingin sekali dia menundukan wajahnya karena malu bercampur jengkel dihatinya. " sialan..gue gak tahan kalo gini terus bisa - bisa gue mati berdiri. Aduh kenapa si om ganteng gini si? Jantungbgue mau copot. Gue musti gimana sekarang?" tanpa sadar Ara meremas baju Andrian.
" Kamu kenapa sayang?" suara maskulin yang lembut dar Andrian lagi - lagi membuat ati Ara bergetar.
" eng..enggak om. Ara gapapa. Ara cuman.." kata - katanya terpotong oleh Andrian.
" gugup?" tanya Andrian. " Masih mau marah?" senyum kemenangan terlukis jelas diwajah pria 46 tahun itu. Ara hanya menggelengkan kepalanya.
" Aku anter kamu pulang sekalian nentuin tanggal pernikahan kita" Andrian menarik lembut tangan Ara.
" Om !!!" teriak Ara seraya menghempaskan tangan Andrian. " kapan Ara bilang mau nikah sama om?" Ara mulai mendapatkan sedikit kesadarannya.
" Bukannya barusan kamu gak marahwaktu aku cium. Itu tandanya kamu juga ada perasaan sama aku" Andrian membalikan badannya menghadap Ara. Ara membuka mulutnya lebar tak habis pikir dengan manusia dihadapannya.
" kita sudah sama - sama dewasa, gak perlu ungkapan cinta apa lagi pacaran. Lebih baik segera dihalalkan" Andrian berbisik ditelinga Ara.
" hah?? apa??? lu tua om bukan dewasa. Kita gak sama.
" emang keluatan ya kalo tua?" goda Andrian.
" ya gak si. Tapi tetep aja lu Tua" Ara memanyunkan bibirnya.
" apa kamu mau tau setua apa aku?" kata - kata Andrian penuh makna yang sulit dicerna akal Ara. " Saat kita nikah kamu akan tau setua apa aku dan aku pastikan kamu gak akan bisa lagi mengatakan kalau aku tua" *smirk...senyum devilnya membuat Ara bergidik ngeri.
" heh om..siapa juga yang mau nikah sama om? Gila aja gue nikah sama om"
" dan akan aku buat kamu benar - benar gila" smirk
" om kalo ngomongnpake bahasa manusia ngapa si. Dari tadi ngomong gak jelas banget"
" yasudah kita kerumah kamu sekarang dan segera memperjelas semua di KUA" Andrian kembali menarik tangan Ara.
"om stop!!" lagi - lagi Ara menghempaskan tangan Andrian.
Andrian berbalik dan menatap tajam pada Ara. Tampak rahangnya mengeras menahana rasa jengkel. Giginya menggertak. Tampak aura yang sangat mendominasi keluar dari tubuh pria ini.
" bilang sama aku kalau kamu gk cinta sama aku."
" aku gak cinta sama om" jawab Ara cepat
" bilang sama aku kalau sedikitpun kamu gak ada rasa tertarik sama aku" Andrian semakin menajamkan matanya.
" aku gak tertarik sama Om" Ara mengalih pandangannya.
" liat aku kalau bicara"
" gak!" jawab Ara cepat
" Samuel Decara liat aku saat bicara" Andrian menarik dagu Ara agar menatapnya.
" om..emmm emmm.." Ara tak bis amenyelesaikan kata - katanya saat Andian kembali menyatukan bibir mereka. " kitq berangkat sayang" Andrian melepaskan ciumannya dan menarik lembut tangan Ara.
Mereka pun akhirnya berkendara menuju kediaman kluarga Ara. Hening menyelimuti mereka berdua. Ara hanya menatap keluar jendela mobil. Sedangkan Andrian selalu tersenyun seperti orang gila dan sesekali mencuri pandang pada gadis disampingnya. Dia tak habis pikir kenapa setelah bertahun - tahun menduda akhirnya hatinya malah berlabuh pada gadis yang usianya jauh lebih muda darinya, hanya 2 tahun lebih tua dari anak semata wayangnya. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi adalah fakta bahwa gadis itu adalah kakak dari menantunya sendiri.
" motor gue gimana om" Ara teringat bahwa dia meninggalkan motornya dirumah Andrian.
" biarin aja disana" jawab Andrian datar.
" trus gue kerjanya gimana?" tanya Ara kesal.
" gak usah kerja. Lagian hartaku gak akan bikin kamu kekurangan materi. Dan satu hal lagi, berhenti pake kata ' lu gue'" Andrian sekilas menatap Ara tajam.
" ishhh.. dasar suka seenaknya. Emang dipikir gue mau apa nikah ama dia" suara Ara pelan tapi masih terdengar oleh Andrian yang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Sesampainya dirumah, Ara langsung masuk kekamarnya tanpa memperdulikan Andrian. Ibu Ara pun segera mempersilahkan mempersilahkan Andrian dan memanggilkan ayah Ara.
" Silahkan diminum kopinya mas" Ayah ara mempersilahkan Andrian. Ayah Ara dan andrian sama - sama memanggil dengan sebutan 'mas' walaupun notabenya Adrian 6 tahun lebih muda dari pada ayah Ara.
" gimana perjuangannya mas? Sukses gak dapetin hati anak saya?" tanya ayah Ara seakan mengejek.
" Sulit mas. Sampai saya kehabisan akal sama dia." Andrian menyandarkan punggungnya ke sofa.
" hahahahaha.. emang dia lebih sulit dari pada adiknya. Setahu saya juga walaupun temannya laki - laki semua tapi dia hanya pernah pacaran 2 kali."
" Sampai saya takut kalau Ara mengalami kelainan" Ibu tiba - tiba datang dan menyahuti perkataan suaminya.
Mereka berbincang hangat tanpa Ara. Mencoba mencari solusi agar Andrian bisa memenangkan hati Ara.
Ara terlihat berjalan keluar kamar dengan baju basket andalannya. Dan menenteng sepatu basketnya.
" mau main dimana nak?" tanya ayah.
" lapangan komplek yah sama anak blok sebelah" jawab Ara sambil memasang sepatunya
" cewek?" tanya Adrian kepo
" ya cowok lah. mana ada cewek mau berkeringat" jawab Ara ketus.
" aku ikut." kata Andrian
" dih...orang tua dirumah aja Om. Ntar kalo cidra punggung ato patah tulang gak ada yang tanggung jawab." bantah Ara.
" udah biar calon suamimu ikut. Biar kenal sama teman- teman kamu nak" pinta ayah lembut.
" ayah... dia bukan calon suami Ara" Ara merengek kesal.
Andrian pun mengikuti Ara berjalan ke lapangan basket di area sport komplek perumahan. Dia hanya duduk dan melihat gadis itu dengan lihai dan tanpa sungkan bermain basket dengan teman- teman lelakinya. Saat istirahat pun Adrian dengan sigap melemparkan botol minuman kepada Ara.
Beberapa teman Ara sempat bertanya tentang siapa pria yang dengan setia menunggunya itu. Ara hanya menjawab kalau dia teman ayahnya.
" Om mau gabung gak?" tanya seorang teman Ara saat mereka akan memulai lagi permainannya.
" boleh" jawabnya sambil tersenyum lalu memasang sepatu yang sengaja dipinjamkan oleh teman Ara.
Permainan berlangsung 4 kuarter berlangsung dengan jedah istirahat 2 menit untuk minum. Adrian tak menampakkan rasa kelelahan seperti yang seharusnya dirasakan orang dengan usia lebih dari 40 tahun.
" Ra.. om lu nih jago banget mainnya. Kita aja kalah stamina ma dia" puji teman Ara. Hanya dibalas senyum singkat olehnya.
" gila sumpah..pantesan gue gak berkutik pas dia meluk gue paksa...tenaganya njiirrrr" pikir Ara dalam hati.
Setelah hari itu Andrian semakin berusaha memahami kondisi dan situasi hati Ara. Perlahan tapi pasti mereka berdua mulai dekat dan tentunya dengan berbagai drama penolakan dan pertengkaran yang selalu membuat Andrian ingin menyerah. Hanya 1 hal yang selalu membuat Andrian kembali bersemangat mengejar Ara, yaitu kata - kata Radit, anaksemata wayangnya " kok bisa dulu mama nikah sama lelaki cemen kayak papa. Naklukin bocah aja gak bisa. Malu sama otot yang kek popey".
Namun benar kata pepatah bahwa hasil takkan menghianati usaha. Begitupun yang terjadi pada Adrian. Hari yang dia perjuangkan selama ini akhirnya tiba. Ya.. hari ini adalah hari pernikahannya dengan Ara. Gadis keras kepala yang usianya 21 tahun lebih muda darinya.
" sah" terdengar suara para saksi sebagai tanda bahwa Andrian sekarang sudah benar - benar memiliki gadis tercintanya. Senyum terus mengembang diwajah Andrian. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya sama sekali.
Kedua mempelai menyalami para tamu yang hadir. Sesekali mereka tertawa mendengar celotahan tamu undangan yang sebagian adalah kolega Andrian. " bisa aja nih aki - aki dapet daun muda" kata salah seorang teman Adrian.
" selamat ya papa udah berhasil naklukin kak Ara" ucap Radit dan Clary yang saat ini tengah mengandung.
" jelas lah. Kan papa bukan pria cemen yang gampang nyerah. Apa lagi sama bocah" jawab Adrian sambil terkekeh dan tanpa rasa malu langsung mencium pipi Ara didepan umum.
" cih dasar pedofil" dengus Ara yang disambut gelak tawa oleh tamu undangan yang mendengarnya.
" trus sekarang kita manggilnya apa nih? Ibu mertua dan ayah mertua atau kakak dan kakak ipar?" tanya Clary menggoda Ara.
" serah lah, bomat gue" jawab Clary ketus.
" aduh gila ibu tiri aku kok judes banget ya. Gimana nasib aku nanti sebagai anak" Radit memasang wajah pera - pura khawatir.
Dan begitulah bahagianya kedua kluarga yang dipersatukan untuk kedua kalinya dalam hubungan pernikahan yang rumit antara ayah, anak, kakak dan adiknya.