"Sekalipun itu ditempatkan di telapak tangan kita, bukan berarti kita dapat menggenggamnya."
_Conan_
***
Tahun 2021 ....
Nobita. Panggil aku Nobi. Aku menatap diriku pada pantulan cermin. Aku mengenakan dress vintage untuk pertemuan reuni sekolah. Di usiaku 50 tahun. Aku seorang wanita paruh baya yang tinggal dalam rumah. Aku tidak pernah menikah. Hanya memiliki satu kekasih, dan dia adalah si brensek. Pria yang singgah untuk pertama kali dalam sepanjang hidupku. Aku hanya menikmati hidupku dengan uang asuransi orangtuaku. Bagiku bekerja, itu melelahkan. Lagipula, aku sudah tua. Aku hanya suka bersembunyi di rumah. Makan dan kembali tidur.
Sebut saja aku adalah wanita yang pesimis. Aku tidak memiliki target apapun. Aku tidak memiliki impian. Bukankah segala sesuatu itu, tidak akan pernah kita bawa. Aku hanya berpikir sederhana. Cukup pulang membawa harga diri. Aku hanya ingin berjalan rata tanpa bertemu hambatan. Namun, sebenarnya aku juga tidak menuntut apapun dalam hidup. Segala sesuatu sudah ku miliki, peninggalan orangtuaku dan uang yang cukup untuk menjalani sisa seumur hidupku bahkan hingga aku menutup mata.
"Pasti semua orang mengejekku sebagai sosok yang hanya berada di titik nol!"
Aku menatap diriku di cermin.
"Tidak semua orang tercipta memiliki ambisi. Namun, kekayaan, keluarga, dan pendidikan adalah parameter setiap teman. Aku hanya membiarkan diriku bodoh atau membuatkan waktu berjalan tanpa gravitasi yang mampu mengubah hidupku."
Aku menghela napas. Mengurungkan niat pergi ke pesta reuni. Aku segera mengganti pakaianku menjadi piyama. Aku pun merebahkan diriku, dan mengulang kembali apa yang di ucapkan ayahku dulu padaku.
"Lebih baik menjadi orang bodoh dan tidak mengerti apa-apa, daripada menjadi orang terpelajar yang tidak tahu jalan."
Aku memiringkan tubuhku. Memeluk guling sarung Doraemon.
"Aku hanya ingin jadi orang baik. Jika mereka menuntutku, harus seperti orang yang menaikki tangga. Aku hanya berharap memiliki suami seperti Doraemon. Dia-lah yang menggendongku naik ke atas. Biarkan dia yang lelah, dan aku yang menghapus keringatnya."
Aku pun mencium gulingku dan terlelap. Tanpa sadar aku telah memasuki ruang mimpiku yang terlihat nyata. Aku kembali ke masa 32 tahun yang lalu. Di usiaku yang ke-18 tahun.
Aku tidak pernah menyangkal akan waktu yang kembali padaku.
***
Tahun 1989...
Aku terbangun dari tidurku. Mengerjapkan mata dan menekuk daun telinga karena suara berisik gorden. Perlahan, Sinar matahari menembus masuk jendela kamarku. Silau sekali. Aku menarik selimut. Menenggelamkan wajahku. Lalu, ada tangan yang menyibakkan kembali selimutku.
"Bangun! Kau jangan pemalas!"
Aku membuka mataku lebar. Sontak aku terkejut. Aku duduk setegak mungkin. Kerinduanku datang menemui sosok yang terlihat melipat tangan di depan dadanya. Matanya terlihat menyipit tidak senang.
Aku merindukan sosok ini. Dia adalah ibuku. Tetapi bukankah dia telah pergi ke surga?
"Ibu?"
"Apakah aku terlihat seperti seorang bibi untukmu?"
Aku menggelengkan kepala. Dia adalah ibuku. Sepasang mataku mendadak berkaca. Aku melompat berdiri dan memeluknya. Aku bisa merasakan sentuhan dan aku bisa mencubit daging itu nyata. Dia bukan wujud ruh.
"Kau turun dari sorga?"
Ibuku mendorongku, dan 'Puk!' dia memukul kepalaku.
"Jika aku sudah di sorga. Aku tidak akan berniat turun lagi. Walaupun kau menangis darah memintaku turun!"
Aku termanggu. Mengedarkan mataku kemudian. Menatap setiap yang ada di dalam kamar. Tetap sama. Hanya saja. Sepasang bola mataku berhenti pada kalender. Tahun 1989.
'Wow! Mengejutkan sekali. Aku kembali pada tahun 1989. Aku masih anak SMA!'
Seakan mengerti satu hal. Aku segera mandi. Mengenakan seragamku. Mengepang rambutku. Berhias sebentar. Namun, tanganku terhenti menatap diriku kembali pada cermin.
Sepasang mataku berkaca. Mengingat segala sesuatu yang hilang itu kembali lagi padaku.
Selain ayah ibu. Ada teman yang kurindukan, Shizuka, Giant, Suneo.
"Bahwa disini, di dunia yang selalu dikelilingi oleh teman dan keluarga, merupakan tempat yang gak kalah menyenangkan dibandingkan kayangan."
Aku menghela napas kemudian. Aku telah kembali, dan aku tahu seseorang yang harus ku hindari. Dia adalah Daisuke, kekasihku yang akan meninggalkanku di masa depan.
"Lupakan! Aku bisa memperbaiki semuanya mulai hari ini. Aku hanya perlu menghindari pria itu."
Menyelesaikan sarapanku. Aku segera pergi keluar dari garis rumah. Aku tersenyum mengingat segala kenangan kembali padaku. Walau segala sesuatu terlihat sama. Namun, aku tau kehadiranku kembali pada masa lalu membuat segala sesuatu akan berdampak berbeda kelak di masa depan. Kini, aku tahu segalanya.
Drttttt! Decitan sepeda mengejutkanku. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku pikir aku akan celaka oleh sebuah sepeda yang melaju.
"Nobi?"
Aku terkesiap dari ketakutanku. Namun, lega kemudian. Sepeda itu tidak menabrakku. Aku mengangkat pandanganku pada sosok pemuda yang berseragam sama dengan diriku. Aku pernah menyukai pria ini. Dia adalah idolaku masa sekolah. Hanya saja aku menyingkirkan perasaanku. Karena, bagiku dia hanyalah si miskin. Tetapi, di masa depan, dia bukanlah si miskin lagi. Dia adalah pria Doraemon yang di inginkan setiap wanita.
Pria itu mengulurkan tangannya di depan wajahku. Aku mendongak pada pria itu. Dia tetap sama. Senyumnya yang ramah dengan sepasang mata yang dingin.
Aku menerima uluran tangan itu dan berdiri. Sekejap ingatan lamaku teringat akan sosok pemuda yang tidak pernah akrab denganku di masa lampau. Namun, aku cukup familiar mengenalinya. Dia adalah Shinici. Kelak dia adalah kekasih sahabatku sendiri. Kekasih Shizuka di masa depan. Setiap orang menyebut Shinici sebagai Doraemon. Pria sukses yang mampu membeli segalanya, dan Shizuka adalah wanita yang paling beruntung menikahi sang Doraemon itu.
"Ingin pergi sekolah?"
Aku ingat. Aku terpaku. Aku linglung sebentar. Seharusnya, ada Shizuka yang ikut berada di persimpangan ini. Mengapa hanya kami berdua yang bertemu?
'Apakah Tuhan menjodohkanku dengan sengaja? Doraemon ini untukku. Kami bertemu kembali. Ijinkan aku egois, Tuhan!' pekikku pada diriku sendiri.
Aku menggelengkan kepala.
'Jika demikian. Bukankah aku merebut jodoh sahabatku sendiri. Ijinkan aku egois!'
Aku terkekeh pada diriku sendiri. Aku bahkan menyadari Shinici menatapku heran.
"Kau ingin berangkat bersama?" tanya Shinici kembali menyadarkanku.
Aku menatapnya. Melihat boncengan kosong di belakang Shinichi. Dulu, pria ini hanyalah pria biasa yang hanya rajin belajar. Namun, masa depannya sungguh bagus. Dia adalah Doraemon masa depan.
Dulu, aku membiarkan Shizuka naik ke boncengan kosong itu. Lalu, aku berjalan menuju sekolah, dan menerima boncengan kosong sepeda Daisuke. Namun, di masa depan pria itu hanya akan menjadi pecundang dalam hidupku. Aku menyesal mencintainya.
'Haruskah aku mengambil tempat kosong itu?' tanyaku pada diriku sendiri.
Shinichi masih menatapku. Dia terlihat bersiap mengayuh sepedanya.
"Jika kau tidak ingin. Aku akan pergi lebih dulu,"ujar Shinichi.
"Tunggu!" cegatku seraya menatap boncengan kosong milik Shizuka.
'Ya Tuhan. Ijinkan aku egois sekali saja. Akupun ingin memiliki masa depan seperti yang aku harapkan. Ijinkan aku menjadi egois saja.'
Aku pun meletakkan bokongku duduk pada boncengan kosong itu, dan meletakkan tanganku merangkul pinggang ramping pria itu. Sepeda itu berjalan pelan.
'Shizuka. Maaf jika aku harus merebut di kehidupan ini. Hanya untuk sekali kita bertukar tempat.'
Dalam dua puluh menit. Sepeda Shinici telah tiba di gerbang sekolah. Shinici menghentikan sepedanya, menurunkan kakinya sebagai standar.
Akupun turun dari belakang boncengan pria itu dan tanpa sengaja aku menatap Shizuka telah berjalan bersama dengan Daisuke.
Deg! Jantungku berdetak menatap pria yang pernah aku kenal berjalan mengisi seperempat hidupku.
"Kau menatap Daisuke?" tanya Shinichi padaku tiba-tiba mengikuti arah pandanganku.
Aku terhenyak dan menjawab, "Tidak. Aku hanya menatap Shizuka, temanku."
Semenjak itu. Seakan jodoh dan posisi yang bertukar. Aku dan Shinici menjalani hubungan menjadi sepasang kekasih. Sedangkan, Shizuka menjadi sepasang kekasih dengan Daisuke.
Aku memegang tangan Shinichi seakan membeli kekayaan di depan mataku, dan aku mengejek kehidupan Shizuka yang memegang tangan Daisuke. Daisuke hanyalah pria pecundang di masa depan.
Aku memupuk perasaanku. Menyiram perasaanku sebanyak mungkin. Aku seakan menebak aku telah mendapatkan pohon uang. Aku tinggal memetik daun emas di masa depan. Hingga waktu terus berjalan dan terus berjalan. Akupun mendapat kabar jika Shizuka menikah dan bercerai kemudian dengan Daisuke.
"Sudah aku duga. Pasangan itu tidak akan bertahan lama. Daisuke adalah pecundang!" ujarku.
Aku hanya menatap pada punggung Shinichi, yang terlihat bekerja keras. Aku-pun banyak menaruh impianku pada pria itu.
Waktu terus berjalan dan terus berjalan, dan aku mendapatkan diriku pada titik aku bersitegang dengan Shinici, di usiaku 28 tahun.
"Kau hanya gelandangan!" teriakku padanya. Aku telah kehilangan uang investasiku. Aku ingin gila. Mendadak miskin dalam satu malam."
Aku meremas rambutku. Ingin rasanya aku mencabuti setiap anak rambutku, dan aku berharap kepalaku pusing akan berkurang seketika.
"Kau membuatku miskin bersamamu!" tekanku lagi. Aku marah padanya. Kala, aku memberikan segala uang asuransi kematian ayah ibuku pada Shinichi. Berharap kesusksesannya melejit segera. Namun, hanya kerugian yang aku dapat. Dia terlihat tidak memiliki masa depan. Investasi selalu gagal. Namun, dia terus mencoba. Hingga aku lelah mendukungnya. Aku menyerah. Menganggap masa depan dirinya berbeda dengan yang dulu pernah aku lihat.
"Aku ingin putus! Pergilah pecundang!"
Shinichi mengangkat matanya, "Aku bukan pecundang. Aku hanya sedang gagal. Aku tidak pernah menyakitimu. Aku ingin membuatmu bahagia bukan hanya ... dengan kesetian. Namun, dengan segala rencanaku, melibatkanmu!"
"Rencana?" Aku mengangkat alisku.
"Rencana seperti apa. Kau hanya memberikanku kerugian. Jauh dari kebahagiaan!"
Shinichi hanya diam mematung. Lalu, dia merogoh setiap uang tersisa dalam saku celananya.
Hanya tersisa 300 ribu.
"Kau hanya mengembalikan ini?"
"Uangku 700 juta!"
Untuk pertama kalinya. Aku melihat tangan Shinichi bergetar takut, seakan dia telah mencuri banyak uang dariku. Dia menunduk begitu lama. Dia mengangkat sepasang matanya. Sepasang matanya terlihat basah. Lalu, dia berkata mengejutkanku.
"Aku memang sedang miskin saat ini. Aku hanya bisa mengembalikan yang tersisa. Namun, aku berjanji aku akan mengembalikan uangmu 3x lipat dalam dua tahun terakhir."
Aku terbahak keras saat itu. Mengembalikan modal pun tidak masalah. Menurutku, dia tidak akan mampu. Dia telah jatuh miskin. Bahkan nasib Daisuke lebih bagus darinya.
"Kau tidak akan mampu. Kau terlihat pemalas. Kau tidak memiliki apapun. Kau gagal menjadi kaya di usiamu sekarang, di saat setiap pria telah berhasil di usia yang sama."
Shinichi hanya menundukkan kepalanya. Aku melihat punggung tangannya menyeka air matanya, dan dia berdiri.
Aku pun mencecar lagi, "Aku lelah bertahan atas kegagalan yang kau miliki. Bertahun-tahun tidak memiliki apapun. Malah, aku harus ikut kehilangan."
Shinichi menunduk lagi, dia hanya membungkuk seraya menyerahkan sebuah kertas padaku.
Aku menerima kertas itu dan membacanya. Kertas perjanjian yang telah dia bubuhi tanda tangannya. Dia menulis dengan tangannya sendiri. Jika dia berjanji akan mengembalikan tiga kali lipat dalam satu tahun.
"Apa yang kau tulis? Penjara jika tidak mampu mengembalikannya?"
Shinichi menganggukkan kepala. Lalu, meninggalkan apartemen milikku.
Aku membiarkan waktu terus berjalan. Kala, Shinichi datang padaku. Aku terus mengusirnya. Hingga, dia tidak pernah datang menginjak apartemenku sepanjang waktu sebelum jatuh tempo perjanjian.
Dan, hari ini adalah hari batas terakhir jatuh tempo.
'Beep!'
Sebuah pesan masuk. Pemberitahuan sejumlah saldo uang di tambahkan. Aku mengeja tidak menyangka.
"2.5 M?"
Akupun mulai memeriksa m-banking milikku dan menemukan nama sang pengirim.
"Shinichi Kudo," ejaku tidak menyangka.
Aku tergagap dalam kenyataan yang menamparku.
"Pria itu telah menjadi kaya! Tidak mungkin!"
Aku menyalakan telivisi. Aku sibuk bekerja, hingga tidak pernah mendengar berita apapun lagi. Namun, hari ini hatiku terketuk untuk mencari tahu seseorang. Lalu, pemberitaan muncul. Terlihat Shinici berjalan di atas karpet merah. Dia menggenggam tangan seorang wanita. Wanita itu mengikutinya dengan kepercayaan diri yang banyak. Wanita itu adalah Shizuka.
Aku menghela napas. Aku mendengar Shinici di kandidatkan sebagai pengusaha yang sukses dengan cepat. Pria itu mengangkat microfone dan berkata dia akan melamar Shizuka, dengan alasa yang di tuturkan, "Dia adalah wanita yang tidak pernah memandang rendah kala aku miskin. Kala aku terpuruk, dia terus memelukku. Daripada memakiku. Dia lebih memilih berdoa untukku. Hingga aku mendapatkan segalanya. Cintanya mengajarkan, walaupun aku miskin, aku tetaplah pria miliknya. Baginya kesetian lebih beharga daripada banyak emas yang di beri. Shizuka, bukan wanita pertama yang singgah. Namun, dia adalah wanita yang kudambakan dan aku pastikan terakhir."
'Bep!' Aku mematikan telivisi. Aku tidak ingin mendengar jika diriku kehilangan pohon emasku.
'Beep!'
Aku merogoh ponselku dan membaca sebuah pesan masuk. Sepasang mataku terbelalak membaca pesan pria yang pernah aku tinggalkan.
'Kau hanya kurang percaya padaku. Andai kau bersabar. Kau akan menjadi wanita yang aku angkat tinggi. Bukankah kesetiaanlah dan kemiskinanlah yang aku punya. Namun, hanya Shizuka yang tidak melihat hal itu. Dia hanya berkata, seorang pria hanya perlu bertanggungjawab. kekayaan itu hanyalah undian yang mengikuti. Terkadang kita beruntung, dan juga tidak beruntung. Terimakasih sudah meninggalkanku. Oleh itu, aku menemukan wanita impian terbaikku.'
'Pletak!'
Tanganku bergetar menjatuhkan ponselku.
Aku duduk dengan ragaku yang bergetar. Kini, pria Doraemon yang aku harapkan akan tetap kembali pada jodohnya. Walau, wanita itu telah ku singkirkan,dan ku jodohkan dengan pria pecundang. Tetap saja jika wanita itu adalah jodohnya. Dia akan menjadi orang yang berperan penting dalam hidup Shinichi.
Aku membiarkan waktu terus berlalu, hingga usiaku kembali menginjak kesendirianku di usia 50 tahun. Aku tetap sama seperti dulu. Sedangkan Shizuka telah mendapatkan pria Doraemon walaupun aku telah berusaha menyingkirkan berkali-kali dari kehidupan Shinichi. Aku menghela napas panjang.
"Sekalipun itu ditempatkan di telapak tangan kita, bukan berarti kita dapat menggenggamnya."
***
Note:
Sebenarnya author bingung sama ni tema 🤫
Tetapi, coba aku buatkan aja yah. sebagian dialog aku kutip dr Nobita Doraemon dan Conan 😊
Semoga aja nyambung 😊 Aku kan kudet dengan artis KPop 😏😏 aku kan kuno 🤪
Intinya gimana pasangan idola: cukup setia yang lain bonus..nggak usah muluk2 hidup. biar bergelimang harta. tp nangis trus. baik mutar cari jalan lain.