“Aku melihat postinganmu.”
Jungkook mendongak ke arahku dengan sendok es krim masih menempel di bibirnya.
“Video kau berenang yang kau upload di twitter. Aku membaca semua komen, fans mu terlihat seperti kehabisan nafas”
“Apa noona juga kehabisan nafas?”
Aku pura-pura melemparkan tatapan mengejek, lalu menggeleng keras. “Aku tidak akan kehabisan nafas hanya karena melihat punggungmu”
“Tentu saja. Noona kan melihat lebih dari sekedar punggung.”
Mataku membulat menatap lelaki yang usianya tiga tahun lebih muda dariku. Ia tergelak karena berhasil membuat wajahku bersemu kemerahan.
“Noona suka kan?”
“Apa?”
“Tubuhku.”
Aku menggeleng lalu mencubit pelan pergelangan tangan Jungkook. Bibirnya tersenyum lebar terlihat puas melihat reaksiku.
“Makanlah” kataku menyodorkan es krim milikku.
“Noona tidak suka?”
“Suka. Tapi aku ingin kau yang memakannya. Entah mataku yang mulai rusak atau memang benar, tapi kau terlihat sedikit kurus. Apa kau kehilangan berat badan?”
Jungkook mengangguk. “Aku harus diet untuk comeback berikutnya”
“Ah menyebalkan sekali. Aku ingin memarahi orang-orang yang menyuruh pacarku ini untuk diet.”
Jungkook tertawa, menyodorkan kembali es krim milikku. “Noona makanlah”
“Tumben. Biasanya kau akan langsung mengambil milikku, bahkan ketika tidak kutawarkan” ujarku menyuap sesendok es krim ke dalam mulut.
Wajahku berpaling menatap seisi ruangan yang terasa terlalu besar untuk kami berdua. Hanya menghabiskan dua cup es krim, tapi membutuhkan ruang khusus. Aku menarik nafas pelan, kuharap aku bisa menikmati es krim di sebelah dinding kaca kafe sama seperti yang selalu dilakukan teman-temanku ketika berkencan.
“Aku sebenarnya berencana untuk merasakan es krim noona” kata Jungkook membuatku kembali berpaling padanya.
“Kalau begitu coba ini” kataku mengambil sedikit es krim vanilla milikku dan menyodorkan ke arah Jungkook. Ia menggeleng, tangannya terangkat kembali mengarahkan sendok es krim ke dalam mulutku dan menarik sendok itu lalu menaruh kembali ke cup.
Kali ini tanpa banyak bicara Jungkook bangkit dari duduknya, ia mencondongkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya pada bibirku.
Tanpa permisi dan tanpa suara.
Aku diam mematung, masih belum terbiasa dengan ciuman seperti ini.
Bibir Jungkook bergerak membuat aku tanpa sadar mengikuti lelaki itu. Secara sengaja Jungkook menggigit bagian bawah bibirku, membuat bibirku terbuka dan lidahnya bergerak cepat menyentuh lidahku. Ia sedang membagi sensasi manis es krimnya sekaligus merasakan es krim milikku.
Mataku terpejam sementara kedua tanganku meremas erat kaos hitam Jungkook. Cukup lama sampai kemudian ia menjauhkan wajahnya. Aku mendongak, dapat kurasakan pipiku memanas melihat Jungkook menjilat bibir bawahnya sembari tersenyum menatapku. Tanpa sadar aku menggigit pelan bibirku, membuat senyum Jungkook semakin melebar.
“Noona, kalau kau menggigit bibirmu seperti itu, aku benar-benar akan kehilangan akal” ujar Jungkook spontan mendapat pelototan tajam dariku.
“Mesummu astaga!” seruku kembali mencubit pergelangan tangan Jungkook sementara ia hanya tertawa geli menatapku.
*****
Pukul setengah dua belas malam, aku melangkah menyusuri jalanan sepi di taman kota bersama Jungkook. Ia menggenggam tanganku erat dan memperbaiki posisi topi serta maskernya.
Kutatap sekitaran taman kota. Sepi. Karena sekarang bukan waktu yang wajar untuk berkencan.
Aku mengenal Jungkook sejak kami berada di bangku sekolah dasar. Ia adalah junior tiga tahun di bawahku, kami berteman karena rumahnya berada persis tepat di samping rumahku.
Kami menghabiskan banyak waktu bersama, saat SMP ketika Jungkook mulai menjadi trainee kami masih sering kali menggunakan waktu luangnya untuk pergi bermain di dream world. Bahkan aku pernah menyusul Jungkook ke Jepang ketika ia syuting MV dan kami menghabiskan waktu di disneyland bersama Jimin.
Sekarang, sudah hampir setahun kami berpacaran. Jungkook yang menyatakan perasaannya lebih dulu, ia bilang tidak ingin menganggapku sebagai noona lagi, karena di matanya aku adalah seorang wanita.
Pengakuan manis dari anak kecil yang tanpa kusadari telah tumbuh menjadi seorang lelaki tampan.
“Kenapa diam?” tanya Jungkook.
Aku menggeleng. “Tidak apa, hanya saja ini, taman ini sunyi sekali”
“Apa noona khawatir ada hantu yang mengganggu?”
“Aku lebih khawatir pada hantu dibanding kau” ketusku.
Jungkook tertawa lalu merangkul pundakku erat. Suara notifikasi ponsel membuat wajahnya berpaling. Senyum Jungkook lantas menghilang ketika melihat layar ponselnya, membuatku langsung tahu bahwa sekarang adalah waktu untuknya kembali ke asrama.
“Noona aku akan mengantarmu pulang.”
Aku mengangguk tapi tidak menjawab. Kami melangkah menyebrangi jalan dan masuk ke dalam gang menuju tempat dimana mobil dan manager Jungkook berada.
Ketika hampir berada di ujung gang, aku menghentikan langkahku, membuat Jungkook berpaling.
“Ada apa?”
“Jungkook-aah” panggilku pelan. “Bagaimana kalau kita putus saja?”
Perkataanku sukses membuat mata Jungkook membulat terkejut, ia menatapku tidak percaya sementara aku sendiri berusaha keras mengendalikan nafasku agar perkataanku dapat terdengar dengan jelas.
“Aku mencintaimu. Tapi ini terlalu berat untukku. Aku tidak bisa berkencan di tempat yang kusuka, selalu berhati-hati setiap saat, dalam sebulan kita hanya bertemu sekali dua kali, bahkan terkadang susah sekali untuk menelponmu” kataku pelan tapi terdengar jelas seperti sebuah keluhan yang selama ini kutahan dalam hatiku.
“Noona, kau bercanda kan? Hubungan kita bukan baru berjalan satu atau dua bulan”
“Aku tau…. tapi kupikir aku menginginkan sebuah hubungan yang normal” balasku menahan tangis. Entah mengapa, tapi mengutarkan perasaanku terasa sangat berat sekali.
“Aku ingin bertemu pacarku kapanpun aku mau, menelponnya kapanpun aku ingin, dan aku bahkan ingin melakukan hal sepele seperti memamerkan foto pacarku kepada temanku”
“Maafkan aku...tapi ini terlalu melelahkan” lanjutku menundukan kepala sambil meremas ujung mantelku erat-erat.
'Jangan menangis, kumohon jangan menangis,' gumamku dalam hati.
Jungkook diam, matanya menatapku tapi tidak mengatakan apapun. Sekitar lima menit kami terdiam, sampai kemudian Jungkook menarik nafas.
“Baiklah” kata Jungkook. Ia maju selangkah dan tangannya menyentuh pelan daguku, membuat wajahku dapat dengan jelas menatapnya.
Aku bisa melihat perasaan terluka terpancar dari mata Jungkook, membuatku tidak bisa lagi menahan air mataku.
Aku menangis.
Menangis, karena baru saja melukai perasaan orang yang paling kucintai.
Jungkook menundukan wajah, ia mencium bibirku. Tapi kali ini bukan ciuman manis seperti di kafe tadi. Ciuman ini adalah sebuah ciuman perpisahan yang dibalut air mataku.
Bibir Jungkook menciumku lembut, menunjukan seberapa besar perasaan yang ia simpan untukku.
Setelah beberapa saat kemudian Jungkook menjauhkan wajahnya, ia mundur selangkah dan menatapku.
“Pergilah noona. Pergi…..sebelum aku menarikmu dan tidak membiarkanmu pergi”
“Maafkan aku” kataku terisak.
Aku balik badan dan kemudian melangkah menjauh dari Jungkook.
Semakin jauh kakiku melangkah semakin banyak air mata yang mengalir di pipiku. Dan ketika langkahku bergabung di antara keramaian pusat pertokoan, aku berjongkok bersandar di salah satu sudut toko. Wajahku tertunduk dan aku menangis, tidak memperdulikan tatapan aneh orang-orang yang ditujukan padaku.
Aneh.
Aku selalu menginginkan hubungan yang normal.
Aku selalu merasa lelah dengan hubungan yang kujalani dengan Jungkook.
Aku yang memutuskan hubungan kami.
Seharusnya aku merasa senang.
Tapi yang sekarang terjadi aku malah menangis. Hatiku bahkan terasa sakit sekali.
Sebenarnya apa yang aku inginkan?
Aku yang melepaskannya tapi kemudian aku menangis dengan perasaan sedih.
Apa aku baru saja melakukan suatu kesalahan?
Dan aku tahu, setelah malam ini semuanya akan berjalan sedikit sulit untuku.
Termasuk untuk hatiku.
-end.
Notes: Jangan lupa baca Still part 2 💜