Ini adalah kisahku Seorang sarjana yang selalu di cemooh karena Aku memilih menjadi ibu rumah tangga dan hanya mengurus anak dirumah,Orang luar hanya tau aku hanya jadi IRT tanpa penghasilan, Aku akan menceritakan kisah hidupku dari awal menikah, Punya anak, Sampai di gosipin para tetangga. okee simak baik baik yaa . . .
Namaku Shinta, Saat usiaku 25 tahun, itu adalah tahun ke 4 kelilisanku, Aku sudah menduduki posisi Pegawai yang bisa dibilang cukup bagus dan gaji yang lumayan di sebuah perusahaan swasta.
Sudah cukup lama aku berpacaran dengan Marlyn ada sekitar 5 tahun sejak semester akhir di bangku kuliah, Hari ini dia mengajakku ketemu dan berniat melamarku
"Sayang, bisa hari ini kita ketemuan, kutunggu di cafe biasa kita ketemu" Marlyn mengirim pesan padaku,
"Nanti sepulang kerja tunggu saja aku disana" ku balas pesan Marlyn
Aku merapikan diri sebelum ketemu Marlyn merapikan rambut. dan menata make up ku di cermin toilet. Sudah pukul 17.30 aku langsung pesan ojek online menuju cafe langganan dimana aku sering menghabiskan waktu bersama Marlyn di akhir pekan.
"Aku sudah sampai di cafe biasa, di meja no 08, kutunggu ya" ku kirim pesan pada Marlyn
"Apakah kamu sudah menunggu lama, Shinta kekasihku?" kata Marlyn sambil menyodorkan seikat mawar merah dan sebuah kado padaku
"Ada acara apa ini beb, bawa bucket bunga segala?" tanya ku heran dan sedikit terharu
Ku terima bucket bunga mawar itu dan satu lagi ada lagi yang membuatku penasaran
"Ini apa Marlyn?"
tanpa menjawab Marlyn membuka kotak kado dengan pita warna pink itu, di ambilnya isi dalam kotak itu yang ternyata adalah sebuah cincin berlian dan di pakaikan di jari manis ku.
"Ini adalah bukti aku serius padamu beb, sudah hampir lima tahun kamu mengisi hati dan telah melewati hari bahagia bersama, tiga bulan lagi aku dan kedua orang tuaku datang ke rumah untuk melamar, kita akan segera menikah" kata itu terucap dari mulut Marlyn dan dia mengecup tanganku yang baru saja di pasang cincin oleh nya
"Oh tuhan, Aku terharu sekali Marlyn" kataku sambil memeluk Marlyn
*Tiga bulan usai Marlyn Memberiku cincin*
Tok . .tok. tok. terdengar suara ketokan pintu ibu ku langsung membuka pintu rumah yang ternyata adalah Marlyn dan keluarganya datang kerumah untuk melamarku. Harusnya sesuai perjanjian adalah hari Sabtu namun ada kendala jadinya hari Minggu baru datang
"Selamat sore calon besan" Sapa mami Marlyn
"Oh selamat sore calon besan juga mari masuk sudah di tunggu loh dari kemarin" sambil cipika cipiki
"Maaf ya jeng, kemarin ada sedikit kendala biasa kakek nya Marlyn masih sedikit kolot, katanya harinya tidak bagus jadi diganti hari ini padahal kan semua sama saja ya jeng" jawab mami Marlyn sambil tertawa kecil
Hampir dua jam pembahasan acara nikahan berlangsung dan akhirnya sudah menemukan titik temu. Kami akan menikah awal Agustus ini, Yang artinya 5 bulan yang akan datang.
"Demikian acara musyawarah hari ini, kita semua sudah sepakat bahwa pernikahan ananda Marlyn dan Ananda Shinta di adakan bulan Agustus yang akan datang, Terimakasih semua sudah berkumpul hari ini dirumah saya, mohon maaf jika jamuan kurang, dan mohon maaf juga jika ada kata saya yang kurang berkenan saya akhiri walaikumsalam wr. wb." kata penutup dari bapakku
Kami mengurus segala keperluan menikah sendiri tanpa jasa wedding organizer, ini sungguh melelahkan belum lagi debat dengan orang tua yang keinginannya bertentangan dengan calon nganten nya sendiri.
"Kak, ibu mau periasnya pakai rias nya Bu Rinto" pinta ibuku
"Engga bu, aku g suka make up dia"
"Tapi ibu maunya dia"
Akhirnya kami berdebat panjang, Sungguh pusing dan melelahkan mengurus acara ini namun semua indah pada waktunya. Pernikahan kami berjalan lancar walau ada perdebatan sebulum acara.
Aku tinggal nyewa rumah setelah nikah, hidup kami cukup menyenangkan karena kami rasa kami mandiri usai nikah tidak merepotkan orang tua maupun mertua.
Konflik terjadi saat aku dinyatakan hamil, Marlyn memintaku untuk berhenti kerja dan mengurus anak dirumah. Perdebatan sengit terjadi di antara kami.
"Pokoknya aku mau tetap kerja beb,"
"Nanti anak kita gimana kalau kamu kerja? Cukup aku yang nyari nafkah kamu membesarkan anak di rumah"
"Tidak, , Aku butuh perjuangan panjang untuk mendapat posisi seperti ini,"
"Anak lebih penting dari pada pekerjaan Shinta"
"Percuma aku sekolah tinggi walah akhirnya dirumah aja"
"Ya udah sekarang begini aja, setelah cuti melahirkan kamu coba kerja lagi, gimana perasaanmu setelah ninggalin anak bayi dirumah sementara kamu sibuk kerja seharian" Pinta Marlyn
Aku menyetujui permintaan Marlyn, walau pun sebenarnya aku masih kekeh untuk memilih mempertahankan pekerjaanku
alias jadi wanita karir walau sudah punya anak. Sembilan bulan berlalu lahirlah seorang putri cantik dengar persalinan normal panjang badan 49cm dan berat badan 3.2kg berkulit putih bersih seperti ibunya
"Alhamdulillah akhirnya lahir, Shinta ini anak kita, sudah selesai aku adzanin, kata suster nya tadi ibu nya diminta gendong dulu ibu nya"
"Canti sekali ya beb, kamu beri nama siapa anak cantik ini"
"Namanya Alifia yang artinya anak pertama"
Kurawat Alifia dua bulan ini sendirian kadang ibu dan mama mertua silih berganti menjenguk kami. seminggu lagi masa cuti melahirkan ku habis dan sampai H-1 aku harus masuk kerja belum juga kudapatkan pengasuh untuk bayi. Dengan berat hati ku titipkan Alifia ke ibu ku sementara aku pergi bekerja.
*Hari Pertama ditempat kerja usai cuti melahirkan*
"Perasaan Lama banget ya hari ini, Kangen Alifia" sambil kupandangi foto Alifia di ponselku
"Kenapa mba Shinta" Tanya Mira teman kerjaku
"Kangen Alifia padahal baru masuk kerja"
"Ya, begitulah mba, Namun apa daya ya mba kebutuhan ekonomi mendesak jadi harus kerja"
Marlyn bertanya bagaimana hari pertama ku kerja meninggalkan baby kecil cantikku dirumah, tentu saja aku jawab selalu merindukan ya, dua Minggu masuk kerja anakku mulai sakit sakitan aku tinggal kerja dalam satu bulan aku sudah beberapa kali cuti. Dengan keputusan yang sudah bulat aku mengajukan resign di perusahaan.
Marlyn gembira mendengarnya. Awalnya aku bimbang tapi mau bagaimana, ini semua demi anak ku, Kulepaskan sebuah pekerjaan dengan gaji besar dan posisi yang cukup tinggi, Karna bagaimanapun anak butuh seorang ibu, dan akupun rela melepaskan semua yang sudah ku capai dengan susah payah ini. Semoga anakku tidak sakit sakitan lagi ku jaga dan ku asuh sendiri.
"Alhamdulillah ya yah, Alifia sehat sehat saja ku asuh sendiri" kataku kepada suamiku Marlyn
"Makanya aku minta kamu asuh Alifia sendiri bu" ucap Marlyn tersenyum bahagia
"Tapi kondisi ekonomi kita sekarang yah, g sama seperti dulu waktu kita berdua kerja"
"Kamu Fokus ke tumbuh kembang Alifia dulu baru mikir yang lain ya, Insya Allah kedan nya Akan lebih baik" jawab Marlyn menguatkan Hatiku.
Aku mulai mencoba mengembangkan hobi memasakku, kucoba buat cake, donat, dan kue kue kering, kusediakan tester untuk tetangga, teman , dan kerabat dekat sebagai sarana promosi. Tak lama sekitar satu bulanan usaha kecilku membuat kue mulai di kenal satu RT dari mulut ke mulut walau belum banyak pesanan aku menikmati mengasuh anak sambil menerima pesanan kue.
Aku menyaksikan tumbuh kembang anakku, menghasilkan uang dari rumah, dan hidup dengan damai,
Yah, semua hidup harus ada pilihan, mau jadi pegawai atau pun ibu rumah tangga, mau lahiran cecar atau normal, mau mengASIhi ataupun pakai susu sufor kalian semua tetap ibu yang terbaik. pilihlah dengan hati yang lapang. jalani dengan sabar apa pun yang sudah kalian pilih.
Janganlah gengsi walaupun kamu adalah wanita lulusan terbaik dari perguruan tinggi negeri atau swasta terkemuka di dalam negeri atau luar negeri, Jika kalian hanya dirumah mengurus anak yang lahir dari rahim kalian sendiri, Karena sejatinya Sekolah terbaik anak adalah dari ibu nya sendiri,
Abaikan omongan orang tentang sekolah tinggi cuma jadi IRt, kalian yang menjalanig hidup, Apapun pilihan kalian itu pasti yang paling baik diantara yang paling baik.
So, buat ibu, bunda, mama, mami, ummi, umma, di seluruh dunia ini, Kalian adalah ibu hebat buat anak anakmu, jadilah ibu yang bahagia.
"Terimakasih untuk istriku, telah melahirkan dan mendidik anak kita sendiri, dia tumbuh sehat dan ceria" ucap Marlyn sambil mengecup keningku
Aku, Marlyn, dan anak ku Alifia berpelukan bersama. Aku menikmati pilihan hidupku
semoga kalian diluar sana yang mempunyai sebuah pilihan akan menemukan sebuah pilihan yang membahagiakan.
~Tamat~
follow ig ku yuk @rezzawahyuhan