Hari ini tepat satu Minggu sudah aku bekerja di sebuah perusahaan di luar kota, karena belum menyewa kost an jadi numpang sementara di rumah saudaraku.
Jarak dari rumah ke tempat kerja lumayan jauh, butuh waktu setengah jam kalau tidak macet. Kalau macet bisa sampai satu jam bahkan lebih.
"Nurul, hari ini di antar sama Gojek saja ya. Paman harus berangkat pagi sekali,soalnya ada pertemuan dengan pimpinan perusahaan," ucap Paman ku.
"Iya, tidak apa-apa Paman. Aku bisa berangkat sendiri."
"Ya sudah, hati-hati! Nanti kalau pulang ke malam an hubungi saja Mang Udin, biar dia yang jemput."
"Siap Paman."
Setelah Paman ku berangkat bekerja, aku pun bersiap-siap untuk berangkat pula.
Gojek online yang aku pesan pun sudah sampai di depan rumah, dan aku bergegas untuk berangkat.
Karena masuk pagi, aku jadi ada waktu untuk mencari kost an di sekitar tempat kerja ku.
"Gimana sudah dapat kostan yang kau cari?" tanya Anwar teman kerja ku.
"Belum nih, kamu sendiri bagaimana?"
"Aku masih mencari, capek sekali aku perjalanan hampir satu jam dari rumah saudara ku," keluhnya.
Anwar pun sama saja seperti ku, anak rantau dan sementara ini dia tinggal di rumah saudaranya.
Aku coba cari kost an lewat sebuah aplikasi, harganya memang lumayan menguras dompet. Namun sepertinya keberuntungan memihak padaku, aku mendapatkan kostan dengan harga yang pas di dompet.
"War, aku dapat nih kostan harganya juga lumayan. Tapi ini khusus perempuan," ucap ku.
"Baguslah kalau kau sudah dapat, aku biarlah nanti cari sekitar sini siapa tau dapat."
Waktu berlalu dengan cepat, sudah saatnya aku pulang.
Aku langsung menuju kostan yang aku cari tadi.
Karena sudah janjian jadi bisa langsung bertemu hari itu juga, dan kebetulan masih tersisa dua kamar lagi.
Aku pesan dan bayar hari itu juga, setelah itu aku langsung pulang.
Perjalanan yang melelahkan, di tambah naik angkutan umum yang kadang berhenti lama karena menunggu penumpang.
Akhirnya sampai juga di rumah, Paman baru saja datang dan bibi juga baru pulang dari rumah saudaranya.
"Paman, bibi. Aku udah dapat kostan, jadi kemungkinan besok aku sudah mulai kost. Biar gak kesiangan juga kalau berangkat," ucapku.
"Kamu kost di mana?" tanya Bibi.
"Dekat kok dari tempat kerja, dan itu kost an perempuan. Jadi paman dan bibi tidak usah khawatir."
"Ya sudah jika itu keputusan kamu, kamu harus jaga diri baik-baik. Dan kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, kami terbuka untuk kamu," ucap Bibi.
"Terimakasih Paman, Bibi. Aku pasti bakal sering main ke sini kalau libur."
****
Keesokan harinya, aku mulai pindahan. Karena masuk shift siang jadi ada waktu.
Hari berganti hari, sudah dua hari aku kost di sana.
Ting
Sebuah notifikasi masuk di handphoneku.
"Nurul, besok aku mau ke tempat kerja kamu ya. Aku mau refreshing dulu sebelum pulang ke rumah, besok aku kabari lagi saat mau berangkat."
Iya, itu pesan dari sahabatku Siti. Dia bekerja di sebuah perusahaan di Bogor, dia sebelum pulang berniat untuk main dulu ke kota tempat aku bekerja.
Keesokan harinya Siti sudah berangkat menuju kota tempat aku bekerja.
"Kamu masih di mana?" tanya ku.
"Beberapa jam lagi aku sampai, aku ke tempat kerja kamu saja ya?"
"Boleh, nanti kalau sudah sampai kabari aku."
"Siap."
Aku pun kembali melanjutkan pekerjaan.
"Gimana kost an kamu nyaman gak?" tanya Anwar.
"Lumayan nyaman, ada pasilitas lengkap pula," kataku.
"Hmm jarang banget ya, kostan harga segitu tapi fasilitas lengkap banget."
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Ya gak apa-apa, cuman kan rata-rata yang harga di atas itu juga fasilitas nya masih cuman kamar saja."
"Ya berarti aku termasuk beruntung dong hahaha."
"Iya lah, aku masih belum dapat nih. Pusing aku," gerutunya.
"Sudah, nanti juga nemu."
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Aku mendapatkan notifikasi dari Siti, bahwa dia sudah sampai di tempat aku bekerja.
"Kamu masuk saja ya, gak apa-apa kok kalau mau main di sini gak bakalan di tegur. Aku satu jam lagi selesai," aku mengirim pesan padanya.
Satu jam sudah, saatnya aku pulang dan tentunya menemui temanku yang sudah menunggu.
"Hai. Maaf ya lama," ucapku sambil cipika cipiki ala ciwi-ciwi.
"Iya gak apa-apa, aku yang sudah merepotkan kamu datang ke sini."
"Kayak gak pernah merepotkan saja haha," candaku.
"Ish kau ini."
"Bercanda, sudah ayo mau jalan-jalan atau langsung ke tempat kost aku?"
"Ke kostan kamu aja deh, aku udah pegel nih kaki."
Aku pun memesan Grab menuju tempat kost aku.
Tidak berapa lama pun sampai.
"Nah ini kostan aku, gak besar sih tapi lumayan lah."
"Enak juga, di sini cewek semua?" tanyanya.
"Iya, tapi pada kerja semua jadi kalau masih sore agak sepi belum pada pulang."
Akhirnya setelah beres mandi, makan dan segala macam. Kami pun bercerita kesana kemari, bercerita banyak hal tentang kehidupan pribadi.
Hingga tidak ingat waktu, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam. Kami pun memutuskan untuk tidur.
***
Keesokan harinya, aku masuk shift pagi jadi jam enam sudah bangun dan bersiap.
"Sit, aku berangkat dulu ya. Kalau mau sarapan, ada warung nasi di depan. Tinggal lurus aja gak jauh kok," ucapku.
"Oke siap."
Aku pun berangkat, karena belum sarapan aku putuskan untuk beli nasi kuning.
Daripada kesiangan, aku memilih makan di tempat kerja.
Saat waktu menunjukkan pukul dua siang, aku merasa badanku lemas, kepala ku pusing. Aku bab dan muntah, bolak-balik ke toilet.
"Kamu kenapa?" tanya rekan kerjaku.
"Aku gak tahu, pusing banget sama muntah terus. Kayaknya aku muntaber, aku ke toilet dulu ya."
Ini yang ketiga kalinya aku ke toilet hanya untuk memuntahkan isi perutku.
"Nurul,aku main ke tempat kerja kamu ya. Bosan nih di kostan mulu."
Pesan dari Siti.
"Iya boleh, aku tinggal beberapa jam lagi kok. Kamu nunggu di tempat kemarin aja ya."
Setelah merasa mendingan aku balik lagi ke ruangan ku.
Belum juga beberapa menit, aku sudah tidak kuat ingin muntah.
Teman kerjaku khawatir melihat aku pun menyusul.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi bolak-balik ke toilet, kamu izin aja ya. Bos juga pasti ngerti kalau lagi sakit."
"Aku juga gak tau, perasaan tadi aku gak makan yang aneh-aneh."
"Tadi makan apa?"
"Hanya nasi kuning," ucapku.
"Mungkin saja kamu keracunan makanan kali, sudahlah aku izinkan kamu buat pulang duluan."
Aku pun hanya menurut, karena jujur ini sudah tidak kuat lagi kalau harus lama-lama di tempat kerja.
"Bos sudah kasih izin kamu pulang, aku antar ya!"
"Sampai depan aja ya, ada temanku yang nunggu soalnya."
"Ya udah, yuk!"
Aku pun menghampiri Siti temanku yang sedang menunggu ku.
"Kamu kenapa?" tanyanya.
"Nurul, aku balik ke ruangan ya. Moga cepat sembuh," ucap rekan kerjaku.
"Iya, terimakasih."
Temanku Siti langsung memesan Grab, tak lama Grab pun datang.
Di sepanjang perjalanan aku hanya diam menahan rasa mual.
Siti bertanya pun tidak aku hiraukan.
Setelah sampai di depan kostan, aku langsung berlari masuk ke dalam dan menuju toilet memuntahkan kembali isi perutku yang sudah kosong.
Siti menyusul ku dengan perasaan khawatir.
Setelah mulai reda aku kembali ke kamar.
"Kamu kenapa sih?" tanya Siti.
"Gak tau, dari tadi siang kepalaku pusing banget terus muntah sama bab mulu."
"Emang kamu makan apa tadi? Makan yang pedas kali."
"Nggak, aku cuman makan nasi kuning yang aku beli di jalan tadi."
"Hmm mungkin kamu keracunan makanan, aku juga pernah dulu gitu kayak kamu."
"Iya mungkin, besok aku izin saja. Nggak kuat banget rasanya."
Saat di kostan pun aku masih muntah-muntah, reda pas malam hari.
Keesokan harinya aku izin tidak masuk sehari.
Untuk sarapan aku pesan makanan dari Gofood.
Siang harinya Siti izin untuk bertemu temannya.
"Kamu gak apa-apa aku tinggal bentar?" tanyanya.
"Iya gak apa-apa, aku juga mau istirahat."
Siti berangkat, aku pun melanjutkan tidur karena masih sangat lemas seluruh badan. Tidak lupa, pintu di tutup dan lampu di matikan.
***
Saat sore hari, pukul empat sore Siti sudah pulang namun aku masih tidur.
Dia menyalakan lampu kamar, dan dia menemukan sesuatu.
"Nur, bangun!"
Aku pun terbangun.
"Sudah pulang, ada apa?" tanyaku.
"Ini air apa? Ada yang tumpah ya?" katanya.
Aku pun melihat ke lantai, benar saja ada genangan air warna coklat seperti teh. Namun hanya sedikit tidak melebar kemana-mana.
Tanpa banyak mikir, aku pun ambil pel lantai.
"Air apa sih?" tanyaku.
"Gak tau,aku aja baru pulang. Aku pikir kamu gak sengaja numpahin air," katanya.
"Numpahin dari mana, aku aja baru bangun pas kamu datang."
Kami pun merasa heran dan bertanya-tanya, tidak mungkin air datang sendiri.
"Lalu air apa itu?"
Mendengar pertanyaannya, kami pun sejenak terdiam dan saling pandang. Sibuk dengan pikiran masing-masing yang mulai tidak sehat.
Lalu Siti menanyakan hal itu pada pacarnya, dan juga temannya yang katanya bisa melihat hal di luar nalar manusia.
Aku pun langsung kepikiran, langsung memotret bekas genangan air tadi dan di kirim ke Paman aku yang bisa akan hal itu.
Saat malam tiba, sekitar pukul delapan malam.
"Aku dapat jawaban dari doi dan juga temanku," kata Siti.
"Apa katanya?"
Dia terdiam sejenak.
"Katanya, ada yang begituan."
"Maksud mu apa?" tanyaku sambil mulai merinding.
"Iya, jadi di sini katanya ada penunggunya. Dan air itu mungkin tanda kalau penunggu itu ada di sekitar sini."
Aku seketika merasa membeku, terdiam mencoba mencerna.
"Maksud kamu apa?" tanyaku.
"Di sini ada meja gak?" Siti malah nanya balik.
"Ada di depan, memangnya kenapa?"
"Katanya di sebuah meja, ada seorang wanita berbaju putih. Kemungkinan dia..."
"Oke, aku paham. Tapi buat apa dia di sini?" aku memotong pembicaraan Siti.
"Katanya, mungkin dia merasa ke ganggu."
"Apa karena kita yang waktu curhat ampe tengah malam itu?" tebak ku.
"Bisa jadi, mungkin dia merasa ke ganggu. Soalnya yang lain kan udah pada tidur."
Ting
Satu notifikasi dari Paman ku.
"Iya memang ada sesuatu di sana, kamu harus hati-hati. Ada sosok hitam besar di sekitar kamarmu, sering-seringlah baca Al Qur'an."
Aku memperlihatkan pesan itu pada Siti.
Seketika kami saling mendekat dan membaca doa sebisa kami.
Malam itu kami tidak membahas apapun, dan hanya memainkan handphone saja.
Sejak malam itu, perasaanku benar-benar tidak nyaman. Siang dan malam serasa di hantui.
Di tambah kostan kalau siang hari lampu selalu di matikan, apalagi toilet mau siang atau malam selalu lampu nya di matikan.
Di nyalakan hanya ketika sedang di gunakan, entahlah memang begitu peraturannya.
Aku sering dapat teguran dari ibu kost, karena lampu masih saja nyala meski di siang hari kalau aku ada di kost an.
Jujur saja aku sangat takut gelap, di tambah ini dapat info seperti ini malah nambah parno.
Tiga hari sudah, Siti minta izin untuk pulang karena orang tuanya menyuruh pulang.
"Ya, kok cepat banget sih. Terus siapa yang nemenin aku di sini."
"Mau gimana lagi, ibu aku dari kemarin nyuruh pulang mulu. Sudah, nanti juga aku bakalan sering main ke sini."
"Janji ya?"
"Iya janji, kamu jangan takut. Anggap aja gak ada apa-apa," ucapnya.
"Iya sih, meski susah aku akan coba. Aku bulan depan mungkin pindah kost gak di sini lagi."
"Ya sudah aku berangkat dulu ya."
"Hati-hati."
Sedih memang saat sudah nyaman ada teman, eh dia pergi lagi.
Sejak saat itu aku menjalani hari seperti biasa, mencoba membiasakan diri.
Meskipun semakin ke sini, tiap malam hari aku sering merasa panas di sebagian tubuh aku.
Panas yang aku rasakan seperti berada di dekat api.
Aku tahu ini bukan demam, aku pernah merasakan ini waktu masih SMA dulu.
Waktu ada makhluk tak kasat mata mendekatiku, rasanya memang seperti ini.
Dulu ada bibi ku di kampung yang mengobati ku agar tidak di dekati yang begituan.
Aku hanya bisa pasrah, meski sangat merasa terganggu.
Setiap pulang kerja, selesai sembahyang aku baca ayat suci.
Memang mungkin karena yang punya kost bukan muslim, tidak pernah di bacakan ayat suci seperti di agamaku.
Di tambah lagi, sepanjang jalan dari tempat kerja aku ke kostan itu berjejer tukang jualan bunga untuk orang meninggal.
Bagaimana tidak seram, setiap aku berangkat dan pulang semerbak wangi kembang beraneka macam yang sangat menyengat.
Apalagi tidak jauh dari kostan aku, terdapat TPU atau kata orang itu kuburan Cina terbesar di kota itu.
Aku terus berkomunikasi dengan Paman ku dan tak lupa memberi tahu ibuku mengenai hal ini.
***
Dua Minggu berlalu, aku masih merasakan hal yang sama.
Paman ku menyuruh untuk pindah kost saat itu juga, namun aku mempertimbangkan karena belum ada waktu senggang. Dan pastinya tanggung, tinggal dua Minggu lagi habis bulan ini.
Hari berganti hari, kejadian menggemparkan dunia Virus COVID19 mulai masuk ke kota tempat aku bekerja.
Keadaan kota sudah mulai sepi, sebagian pusat perbelanjaan sudah ada yang mulai membatasi pengunjung.
Hari itu, hari di mana kami karyawan perusahaan di rumahkan untuk sementara.
Keadaan semakin genting, perkantoran sudah mulai memberhentikan sejenak aktivitas nya.
Dengan terpaksa aku pun berdiam di kostan berharap semua akan berakhir untuk sementara.
***
Setelah beberapa hari kepulangan Siti ke rumahnya, aku mendapat kabar dari dia.
Dia mengalami seperti ada yang tidak beres dengan badannya, dia bercerita setelah merasakan hal itu dia bertanya pada orang yang mengerti hal gaib.
Ternyata ada yang ikut dari kost an aku, entahlah yang mana.
Aku semakin takut berada di kostan, semakin hari aku semakin merasakan hal aneh. Dan rasa panas di sekujur tubuhku tidak kunjung hilang.
***
Seminggu berlalu, seminggu pula aku di kostan tanpa melakukan apa-apa. Aku berharap semua cepat berlalu, nyatanya tidak.
Korban akibat COVID19 makin banyak berjatuhan, aku makin takut untuk keluar rumah. Mana persediaan masker habis, di seluruh apotek dan juga mall tidak tersedia satu pun.
Ibu ku menyarankan untuk pulang saja, khawatir jika terlalu lama di kota ini. Apalagi baru saja seminggu sudah berubah status menjadi zona merah.
Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja ke rumah ibu.
Naas, gangguan itu masih saja aku rasakan.
Aku konsultasi kembali pada pamanku.
Dia membantu mengobati ku dari kejauhan, aku pun selama di rumah setiap hari banyak membaca ayat suci.
Hingga dua Minggu kemudian, aku baru bisa merasakan badanku mulai membaik.
Entahlah apa memang itu benar adanya, namun aku meyakini hal di luar nalar itu memang ada. Namun aku hanya cukup mempercayainya.