Keluarga yang harmonis, Cinta yang manis, popularitas, harta yang seperti tak kan habis. Semua sudah ku miliki. 'S-E-M-P-U-R-N-A'.
Ketika dunia seakan berputar disekitarmu, pernahkah kamu berpikir bahwa ada kemungkinan kamu akan kehilangan semua yang kamu punya saat ini?
.
.
"Selamat ulang tahun sayang." ucap Rico sambil memberikan sebuket mawar besar.
"Wah, terima kasih sayang." jawab Clara dan berhambur ke pelukan Rico.
"Sebentar, aku punya satu hadiah lagi." kata Rico melepas pelukan Clara, ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kotak kecil berukuran panjang dan memberikannya pada Clara.
"Apa ini?" tanya Clara menerima kotak itu.
"Bukalah" ucap Rico lembut.
Clara pun membuka kotak itu dan ia melihat sebuah kalung yang indah dengan bandul berbentuk bintang kecil. Mata Clara berkaca-kaca melihat hadiah dari Rico.
"Aku harap ini akan selalu menjagamu. Aku ingin kamu selalu menjadi bintangku." ucap lembut Rico, ia mengambil kalung itu dan memakaikannya dileher Clara.
"Terima kasih. Aku sangat mencintaimu." ucap Clara senang.
~Rico adalah pacarku yang sangat ku cintai. Kami berpacaran sudah 3 tahun. Di umurku yang ke 20 ini aku berharap hubungan kami tak kan pernah terpisah~
"Masuklah sudah malam" ucap Rico lembut.
Namun seakan enggan untuk berpisah dengan Rico, Clara malah berhambur ke pelukan Rico. Rico pun tersenyum dibuatnya. Ia membalas pelukan Clara dan mengecup puncak kepalanya.
"Besok kita akan bertemu lagi. Sekarang masuklah." ucap Rico sambil mengelus lembut rambut Clara.
"Sebentar lagi. Entah kenapa, aku merasa kita akan sangat lama tak bertemu setelah ini." ucap Clara semakin mempererat pelukannya.
"Apa yang kamu bicarakan? Aku akan selalu ada disisimu. Udara diluar semakin dingin, masuk dan istirahatlah."
Akhirnya, Clara melepas pelukannya. Ia menatap Rico dalam. Kemudian, ia berjinjit dan mengecup bibir Rico pelan.
"Aku sangat mencintaimu" ucap Clara lembut.
Rico pun membalas ciuman Clara.
"Aku juga sangat mencintaimu. Aku akan selalu mecintaimu bagaimanapun keadaan kamu. Dan suatu hari nanti aku pasti akan menikahimu." ucap Rico lembut.
Clara hanya mengangguk dan tersenyum senang.
.
.
Malam hari, Clara dibangunkan oleh suara berisik dari luar kamarnya. Ia pun mengintip dari balik pintu kamarnya dan melihat mama dan papanya sedang bertengkar dan membanting barang-barang.
"Mama dan Papa bertengkar? Kenapa? Apa yang terjadi? Selama ini mama dan papa baik-baik saja." gumam Clara menatap pertengkaran itu.
"Kalau kamu tak memperbolehkanku menikah lagi, maka aku ingin berpisah darimu!" seru papa.
"Tapi kenapa? Selama ini kita baik-baik saja! Aku tak mau dimadu!" jawab mama.
"Kita baik-baik saja, karna aku berpura-pura baik-baik saja. Jika kamu gak mau aku nikah lagi, maka kita harus cerai." ucap papa, kemudian ia membawa kopernya meninggalkan rumah.
Clara terkejut melihat itu. Iapun keluar kamar dan mendekati mamanya yang terduduk sedih.
"Mama ada apa ini? Bukannya mama dan papa tak pernah bertengkar. Apa karna papa ingin menikah lagi? Tapi kenapa?" tanya Clara dengan derai air mata.
Mama tak menjawab dan terus menangis pilu. Akhirnya, Clara memilih untuk berlari dan mengikuti papanya. Ia menaiki taksi dan mengejar mobil sang papa.
"Pak, tolong ikuti mobil didepan itu ya."
"Sepertinya ini arah luar kota mbak." ucap sopir taksi.
"Gak masalah Pak, nanti saya bayar dobel." ucap Clara.
Setelah menempuh perjalanan selama 3 jam, akhirnya mobil sang papa berhenti disebuah rumah yang cukup besar. Ia segera turun dan mendekati sang papa.
"Papa!" panggil Clara.
Papa menoleh dan terkejut melihat Clara yang mengikutinya.
"Kenapa kamu bisa sampai disini?" tanya papa bingung.
"Bayarin duklu taksi Clara."
Setelah membayar taksi, Clara diajak masuk ke dalam rumah besar itu. Didalam sudah ada seorang wanita yang tengah hamil.
"Papa jelasin ini semua pada Clara. Apa yang sedang terjadi disini. Dan siapa dia?" seru Clara kembali menangis.
"Sayang, lebih baik kamu jujur saja pada Clara." ucap wanita itu lembut.
Mendengar panggilan wanita itu pada papanya, membuat Clara marah.
"Siapa kamu? Kamu selingkuhan papa kan? Kamu yang buat papa mau ninggalin mama!" teriak Clara marah.
"Clara hentikan!" seru papa.
"Papa sekarang lebih belain wanita itu dari Clara?" tanya Clara semakin terisak.
"Bukan begitu, dengarkan penjelasan papa baik-baik dulu. Wanita ini adalah istri papa juga dan dia sedang hamil anak papa. Sebenarnya .... kamu itu bukan anak kandung papa, papa menikahi mamamu dalam kondisi sudah hamil. Awalnya papa bisa menerima kamu dan berharap papa juga bisa punya anak bersama mamamu. Tapi, ternyata itu tak terjadi. Maafkan papa." jelas Papa.
Clara sangat terpukul mendengar kenyataan itu. Keluarga yang selalu ia banggakan karna kehangatannya. Dalam sekejap runtuh.
Kenapa tak ada yang memberitahunya!
Clara pun terduduk lemas, ia menangis dengan tatapan kosong.
"Malam ini kamu menginap saja disini ya, besok pagi baru pulang. Ayo, tante antarkan ke kamar." ucap istri papa lembut.
Clara hanya menurut, ia masih sangat terpukul hingga tak bisa mengatakan apa-apa.
Malam itu Clara tak dapat tidur. Kenangan bersama mama dan papanya, kehangatan dan kasih sayang yang ia rasakan selama ini seperti menguap. Ia masih belum bisa menerima kenyataan itu.
"Rico, aku membutuhkanmu" gumam Clara lirih.
.
.
Keesokan harinya Clara kembali pulang ke rumahnya. Setibanya ia di rumah ia cukup terkejut karna mamanya sudah tidak ada dan meninggalkannya sendiri. Mamanya hanya meninggalkan surat yang mengatakan bahwa ia kembali ke rumah orang tuanya di luar kota untuk menenangkan dirinya.
Clara semakin merasa sedih. Saat ini ia sendirian di dalam rumah yang penuh kenangan masa kecilnya. Dengan tekad yang bulat iapun bergegas menyusul mamanya untuk mencaritahu siapa ayah kandungnya.
"Mama kenapa tinggalin Clara sendiri?" gumam Clara, ia mencoba menghubungi mamanya namun tak juga diangkat. Ia menaiki bus untuk menyusul sang mama.
Namun naas bus yang ia kendarai mengalami kecelakaan dan Clarapun tak sadarkan diri.
~Hidup itu singkat. Sebelumnya aku merasa diatas namun siapa sangka semuanya akan berubah hanya dalam semalam~
Clara dengan perlahan membuka matanya. Ia mengedarkan pandangan melihat sekelilingnya.
"Aww!" pekik Clara merasa sekujur tubuhnya sakit.
"Akhirnya, anda sadar juga." ucap suster yang kebetulan saat itu sedang melakukan cek up.
"Saya dimana suster? Saya kenapa?" tanya Clara bingung.
"Sebelumnya anda mengalami kecelakaan bus. Untung anda selamat sebelum ledakan dari bus itu. Sekarang anda ada di rumah sakit dan sudah tak sadarkan diri selama seminggu." jelas suster.
"Seminggu?" seru Clara terkejut.
"Iya. Semua barang bawaan anda juga terbakar dalam ledakan bus itu. Sehingga, saya tak dapat mengkonfirmasi identitas anda." ucap suster menjelaskan.
"Oh, pantas saja suster terlalu formal pada saya. Saya baru umur 20 tahun, jadi suster tidak usah terlalu formal." jelas Clara.
"20 tahun? Mana mungkin, wajah dan tubuh anda sudah seperti wanita berusia 40 tahun sekarang."
"Hah? Suster jangan bercanda. Saya masih 20 tahun. Baru seminggu yang lalu saya baru ulang tahun." protes Clara tak terima.
Susterpun ikut bingung dibuatnya. Sampai akhirnya ia memberikan sebuah cermin pada Clara agar ia dapat melihat sendiri bayangannya.
Clara sangat terkejut saat melihat dirinya sendiri. Benar yang dikatakan sanga suster bahwa dirinya sudah terlihat seperti berusia 40 tahun dalam waktu seminggu.
"Ini gak mungkin suster. Saya masih umur 20 tahun, sungguh!" seru Clara mulai histeris dan akhirnya ia kembali jatuh pingsan karna terkejut.
.
.
"Ini gak mungkin dokter, putri saya masih berusia 20 tahun. Bagaimana mungkin dalam waktu seminggu putri saya sudah menjadi wanita usia 40 tahun?!" seru mama Clara.
Ia sudah berhasil dihubungi dan bergegas ke rumah sakit untuk menemui Clara. Ia juga sangat terkejut melihat kondisi putrinya. Ia yakin, bahwa itu putrinya. Tapi, melihat kondisinya saat ini juga membuatnya bingung juga syok.
"Saya dan tim medis juga tidam tahu apa sebenarnya yang sudah terjadi pada putri ibu. Ini adalah penyakit langka. Kami akan berusaha mencari tahu dan mengobati putri ibu." ucap dokter.
Sebulan berlalu, kondisi Clara tak kunjung membaik. Justru keadaanya semakin parah. Ia juga semakin tua. Kini, ia sudah terlihat seperti nenek-nenek usia 70 tahun. Bagi Clara ini penampilannya saat ini sangat mengerikan.
"Mama ... Clara mau pulang saja bersama mama ke rumah nenek. Clara sudah tidak mau di rumah sakit lagi. Tubuh Clara semakin sakit. Clara seperti dijadikan kelinci percobaan oleh dokter-dokter disini. Clara gak mau lagi ma. Clara, hanya ingin menghabiskan sisa umur Clara dengan tenang." pinta Clara.
Sang mama yang merasa sedih dengan kondisi putrinya pun menyetujuinya. Selama sebulan ini Clara sudah menderita. Clara juga tidak mau mamanya memberitahukan kondisinya pada siapapun termasuk pada teman-temannya dan juga Rico.
Akhirnya, Clara pun dibawa pulang ke rumah sang nenek. Nenek Clara cukup terkejut melihat keadaan Clara yang justru lebih tua darinya. Ia sangat sedih melihat cucunya itu.
.
.
"Clara, kamu dimana?! Sudah lebuh dari sebulan kamu menghilang tam ada jejak. Aku sangat merindukanmu, sayang." gumam Rico frustasi.
Ia sudah mencari Clara kemana-mana selama sebulan ini. Tapi, tak ada yang berhasil. Semua teman-teman Clarapun juga tak mengetahui keberadaan Clara. Orangtua Clara juga tak dapat dihubungi.
Sampai, ketika Rico tak sengaja berpapasan dengan papanya Clara. Dan dari situlah ia mengetahui masalah yang dihadapi Clara dan mengetahui keberadaan Clara sekarang. Walaupun, ia tak mengetahui kondisi Clara saat ini. Ia bergegas menyusul Clara.
"Tante, izinkan saya untuk bertemu Clara sekali saja. Saya yakin Clara membutuhkan saya saat ini. Saya mohon. Saya tak akan pergi dari sini sampai Clara mau bertemu saya." pinta Rico memohon.
"Tapi, keadaa Clara saat ini jauh dari bayangan kamu Rico. Kamu akan terkejut dan akan melukainya nanti." jelas mama Clara lirih.
"Saya mencintai Clara tante, saya akan menerima apapun keadaan Clara. Saya tak akan lari tante. Saya mohon." ucap Rico.
Ia terus memohon sampai mama Clara mengizinkan. Rico saat ini sedang berjalan ke taman belakang tempat Clara berada. Jantungnya berdetak sangat cepat, ia tak membayangkan apa yang sedang dialami Clara.
Sampai matanya menangkap sosok nenek tua disebuah bangku ditaman itu. Ia terlihat ringkih. Tapi, wajah yang sangat Rico kenali, sosok kekasih yang sangat ia cintai masih jelas dapat ia lihat. Walaupun, wajah cantik itu kini sudah dipenuhi oleh keriput. Dengan perlahan Rico mendekati Clara.
"Disini kamu bersembunyi rupanya. Kamu tahu betapa aku sangat merindukanmu dan mencarimu kemana-mana. Jangan pernah tinggalkan aku lagi" ucao Rico berlutut didepan Clara.
"Kenapa kamu disini? Jangan lihat aku! Aku sangat mengerikan!" seru Clara sambil menangis.
"Kamu tetap cantik seperti biasanya sayang. Aku tetap mencintaimu." ucap Rico lembut. Ia menarik tangan Clara dan menyematkan sebuah cincin disana.
Clara yang bingungpun menatap Rico penuh tanya.
"Clara, sebelumnya aku sudah mengatakan aku ingin menikahimu dan sekarang aku menepatinya. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Rico yakin.
"Rico ... Tapi, kamu lihat kondisi saat ini. Aku akan segera pergi ninggalin kamu ... Kamu ..."
"Aku sudah bilang bagaimanpun kondisi kamu, aku akan selalu mencintaimu. Jadi ku mohon jangan menolakku" pinta Rico.
Clara sangat terharu dengan ketulusan Rico. Akhirnya, ia mengangguk setuju. Mama dan nenek Clara yang melihat itupun juga ikut menangis dibuatnya.
.
.
Pesta pernikahan.
Semua teman-teman dan keluarga datang untuk merayakan hari bahagia Clara dan Rico. Clara tampak cantik walaupun kondisinya semakin lemas setiap hari. Teman dan keluarga yang melihat kedua sejoli itupun merasa haru dan juga sedih.
"Sah!!" Ijab kabul berjalan lancar dan kini Clara dan Rico resmi menjadi suami istri. Semua yang menyaksikan ikut menangis haru. Clara senang, walaupun papa bukan ayah kandungnya. Tapi, sang papa masih mau menjadi wali nikahnya.
Saat hendak menuju ke pelaminan, kaki Clara seakan tak dapat digerakkan. ia semakin lemas. Dengan cekatan Ricopun menggendong Clara.
"Aku sangat bahagia memilikimu Rico. Terima kasih karna sudah mencintaiku dan menjadikanku wanita paling bahagia hari ini. Maaf aku tak bisa menemanimu. Maafkan aku. Berbahagialah Rico, walau tanpa aku. Aku sangat mencintaimu." ucap Clara lirih dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Rico terdiam menatap tubuh mungil istrinya. Ia terduduk dilantai menatao lekat wajah sang istri. Para tamu undangan pun mendekat.
"Clara, bangun sayang. Ini hari bahagia kita. Ku mohon buka matamu. Clara! Clara!" teriak Rico. Air matanya mulai mengalir. Diikuti semua tamu undangan disana. Mama Clara juga terduduk lesu menatao sang putri yang sudah tak bernyawa.
Hari bahagia itupun berubah menjadi hari kelabu. Suara isak tangis kehilangan dari orang-orang yang menyayangi Clara.
~Hargai waktumu dengan orang yang kamu sayang. Karna, kita tak kan pernah tahu, kapan mereka akan pergi meninggalkan kita~
End.