POV Maya
Namaku Maya putri. Usiaku 28 tahun. Aku seorang ibu rumah tangga yang memiliki seorang putri yang kini berusia enam tahun.
Biasanya aku bekerja, karena walau sudah menikah pun aku tetap selalu ingin bekerja. Dengan bekerja aku merasa waktu yang kupunya tidaklah sia-sia. Aku merasa diriku berguna saat bisa mendapatkan penghasilan dan uang dari hasil keringatku sendiri, meskipun aku telah mempunyai seorang suami.
Hanya saat hamil besar dan sampai selesai masa pemberian ASI pada anakku, aku diam dan tidak berambisi mencari uang. Namun setelah itu, aku minta pada suamiku agar mengijinkan aku untuk bekerja dan mencari uang kembali.
Aku bukan tanpa alasan ingin selalu mencoba menyibukan diriku sendiri. Aku hanya tidak ingin kembali merasa sedih dengan memikirkan hal-hal yang tidak penting dan membuat aku kembali merasa terpuruk seperti sebelumnya.
Pikiranku yang selalu tertuju pada sebuah rasa kehilangan, sebuah rasa yang membuatku merasa trauma dan kembali down saat teringatkan.
Aku selalu takut kehilangan orang-orang yang aku cintai dan menyayangiku. Saat aku ditinggalkan seseorang, rasa trauma itu akan kembali memenuhi rongga jiwa dan pikiranku. Aku akan kembali histeris tanpa memperdulikan lagi diri sendiri.
Aku tak membiarkan celah untukku melamun dan teringatkan kembali pada masa-masa sedihku dimasa dulu.
Aku tetap merasa bersyukur, Allah memberiku seorang pria yang baik yang kini jadi suamiku. Allah menganugerahkan anak yang manis dan lucu untuk menemani hari-hariku hingga aku merasa tak kesepian lagi. Tapi entah kenapa, rasa trauma itu selalu tiba-tiba kembali hadir. Membuatku merasa menjadi orang yang tidak berguna dan tidak berharga.
Aku mencoba membuka sebuah aplikasi Novel Online, dengan membaca aku bisa membuat pikiranku tetap bekerja hingga tak sempat memikirkan hal-hal sedih lagi dalam hidupku.
Betapa asyiknya pertemanan dunia maya, yang membuatku malah lupa dengan waktu dan pekerjaanku. Aku merasa hari-hariku menjadi berwarna dan semangat menjalani aktivitas di setiap hari-harinya. Mimpi-mimpi baru mulai aku susun seindah mungkin. Berharap semua itu akan terwujud.
Aku senang bertemu teman-teman mayaku. Saling berbagi dan memberi semangat. Aku senang bisa berkeluh kesah dan menceritakan semua permasalahan hidupku yang menggunung menjadi beban selama ini. Namun tak aku sangka semua itu menjadi awal kekecewaanku dan malah memperparah rasa sedih dan traumaku.
Mereka menjauh dan meninggalkanku ... orang-orang yang aku harapkan bisa jadi teman dan sahabatku, menjadi teman suka-dukaku, mereka pergi meninggalkanku 😭 ...
Aku yang bodoh ..
.
Aku yang salah dalam hal ini ..
Tapi apa aku tidak pantas untuk dimaafkan 😭
Apa aku tidak pantas untuk mempunyai teman?
Terlalu burukkah aku?
Aku kembali merasa down, masalah datang dari sana-sini seakan menguji kekuatan imanku yang lemah ini.
Tapi Allah pasti punya rencana dengan semua kejadian yang aku lewati. Walaupun luka ini malah tambah melebar dan semakin menganga, tapi aku mencoba ikhlas dengan semua yang terjadi.
Sesakit inikah kehilangan sahabat dunia maya yang baru pertama kali aku rasakan?
Sesakit inikah rasanya tidak dipedulikan orang lain?
Apakah aku terlalu berlebihan menyikapinya?
Tapi semua sudah menjadi skenario yang di Atas, semoga Allah mengampuni dosa-dosaku dan memberi perlindungan serta keselamatan juga kepada teman-teman yang pernah ada dan membantuku.
Suatu saat semoga mereka tahu akan sebuah ketulusan dari arti persahabatan yang aku tawarkan. Bukan karena sebuah ketenaran, bukan karena kekayaan, tapi semua itu dibangun atas dasar hati dan kepercayaan sebagai teman.
Biarlah waktu yang menjadi obat dari sebuah rasa kehilangan ini. Semua akan membuatmu tegar dan terbiasa melewati kerasnya kehidupan yang tak selalu sesuai harapan kita ...
🙄🙄 ini aku nulis apa yaa🙄🙄🧐🤔🤭
Cerpen yang aneh🙄🤭😂😂