“Nem, usia kamu sudah 23. Kamu sudah seharusnya menikah. Bapak dan ibu mau menjodohkan kamu dengan suprapto. Karena bapak degar ia sedang mencari calon istri” kata bapak saat aku sedang memasak nasi di dapur. Tanganku yang sedang mengatur kayu bakar terhenti sejenak.
“Aku tidak mau menikah dengan suprapto” apakah orangtuaku seputus asa itu karena aku belum menikah? Aku tidak mungkin menikahi suprapto dia sering berjudi dan mabuk. Aku tidak akan mau menikahi laki-laki seperti dia.
“Lalu, kamu mau menikah dengan siapa? Kamu sudah cukup tua untutuk menikah. Bahkan teman-temanmu sudah memiliki anak” kata ibu yang duduk di sebelah bapak.
Aku berpikir sejenak “Aku hanya ingin menikah dengan ashari” pikirku.
“Apa? ashari dari desa sebrang yang seorang tentara?” ibu bertanya memastikan karena dengan bodohnya ternyata aku mengutarakan pikiranku dengan nyaring. Aku hanya meringis lalu menoleh kearah ibu dan bapak sambil tersenyum mengiyakan.
Aku kembali mengatur kayu bakar sambil menahan malu menyesali ucapanku. Bagaimana mungkin aku dengan percaya dirinya berkata seperti itu, belum tentu ashari mengenalku dan ingin menikah denganku. Bagaimana jika ia menolak secara mentah-mentah?
Ashari adalah orang yang kuyakini sebagai cinta pertamaku. Aku hanya mengaguminya dari jauh dan bahkan aku tidak pernah berbicara dengannya sekalipun. Memikirkannya saja membuatku tersenyum. Pikiranku pun sekarang sudah melayang ke kejadian 6 tahun lalu saat kami pertama kali bertemu.
**
Percaya atau tidak aku yang hanya tamat sekolah dasar pada saat itu sudah bisa mengajar beberapa masyarakat yang buta huruf. Sepulangnya dari mengajar aku berjalan melintasi daerah persawahan dimana orang jepang itu memukuli beberapa petani yang di anggap tidak benar dalam bekerja. Ironis sekali, di tanah milik kami sendiri kami bekerja setiap harinya tanpa upah. Pun, hasilnya di nikmati oleh orang-orang asing yang sekarang menguasai tanah kami ini.
BRAKKK…
“Aduh” aku yang tadinya masih tenggelam dalam pikiranku tersadar dari lamunanku akibat menabrak seseorang dan buku yang ku pegang jatuh ketanah. Aku yang terkejut refleks mundur beberapa langkah. Aku mendongakkan kepala untuk melihat dan meminta maaf kepada laki-laki yang kutabrak itu. Tetapi wajahnya tidak terlalu jelas terlihat karena ia berdiri membelakangi matahari terbena dan sinar matahari menyorot tepat dimataku. Laki-laki itu membungkukkan badannya dan mengambil bukuku yang tadi terjatuh. Di saat itu, aku melihat wajahnya. Aku tau dia, namanya Ashari seorang tentara dari desa sebrang sungai. Ashari menyerahkan buku yang ia pungut dari tanah sambil tersenyum sekilas lalu ia pergi setelah aku menerima buku itu. Anehnya, aku terpaku sejanak dan jantungku tidak bisa berhenti berdetak. Sejak saat itu aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
****
“Keluarga mereka menerima perjodohan ini” kata ibu.
Aku sedang duduk di ranjang tempat tidurku sambil membereskan beberapa baju saat ibu masuk ke kamarku untuk memberikan kabar itu. Ternyata orang tuaku menanggapi secara serius penyataanku saat itu dan dan benar-benar membicarakannya dengan orang tua ashari.
“Benarkah?” perasaanku campur aduk, antara senang, heran karena semudah itu permintaanku terwujud, resah karena apakah aku akan benar-benar menikahi laki-laki yang sudah ku kakagumi sejak dan perasaan lainnya yang tidak dapat kuungkapkan lewat sebuah tulisan.
“Iya, ibu dan bapak serta orang tuanya akan segera mencari hari baik untuk pernikahan kalian” kata ibu sambil memegang telapak tanganku sambil menunduk. Sebulir air mata jatuh mengenai punggung tangan ku yang digenggam ibu. Perasaanku yang masih campur aduk semakin tidak karuan melihat ibu meneteskan air mata.
“Ibu, kenapa?”
“Tidak, ibu hanya senang anak perempuanku akhirnya menikah dan juga sedih karena harus melepaskannya. Kamu akan mengerti suatu saat nanti ketika kamu sudah memiliki anak dan akan melepaskannya untuk menikah” lalu ibu memelukku.
****
Sudah sebulan semenjak perjodohan ini diputuskan, dan ini adalah hari pernikahanku. Rumahku sudah ramai dengan para tetangga yang membantu memasak untuk para tamu dan menyiapkan acara pernikahan sejak dua hari yang lalu. Akan tetapi, hal yang membuatku resah adalah calon suamiku belum muncul hingga sekarang di hari pernikahan kami. Di bahkan tidak pernah berkunjung kerumahku dari awal perjodohan kami di setujui. Orang tuanya berkata ia sedang dalam bertugas di luar kota sehingga tidak bisa berkunjung. Aku mengerti dia tidak bisa berkunjung sebelum pernikahan tapi di hari pernikahan bagaimana mungkin dia belum muncul. Aku menuju ke WCuntuk buang air kecil karena resah. Dan mendengar bisik-bisik para ibu-ibu yang sedang memasak di dapur. Mereka bahkan meragukan bahwa aku benar-benar menikah hari ini. lebih parahnya ada yang berpendapat sebenarnya aku tidak memiliki calon.
Aku keluar WC dan para ibu-ibu yang sejak tadi sibuk menerka-nerka apa yang terjadi dengan anak gadis yang ingin menikah tetapi hingga hari pernikahannya belum tampak calon suaminyapun langsung terdiam. Aku berusaha terenyum dan sedikit menunduk melewati para ibu-ibu yang sedang memasak sambil melanjutkan cerita mereka dengan topik yang berbeda.
“Nem, sebenarnya siapa calon suamimu. Kok jam segini belum datang juga?” langkahku terhenti aku menolehkan kepalaku kepada ibu-ibu yang berkomentar sambil menyusun beberapa jajanan. Aku hanya tersenyumsambi menunduk lalu pergi.
Aku berjalan menuju ruang depan yang di gunakan sebagai tempat akad nikah dan resepsi. Terlihat beberapa tamu sudah datang. Aku semakin resah karena calon suamiku belum datang juga. Aku berjalan menuju kamar karena resah, malu bingung dan berbagai perasaan menyedihkan lainnya. Aku tida sanggup menunjukkan wajahku kepada para tetangga jika laki-laki yang akhirnya jadi calon suamiku ternyata tidak akan datang. Apakah sebenarnya dia tidak menyetujui perjodohan ini?. Aku sudah merasa tidak enak karena sumuanya terasa mudah ketika perjodohan ini terjadi. Aku duduk di pinggir tempat tidur menggigit bibir bawahku menahan tangis. Sampai akhirnya ibu masuk ke kamarku dan tangisku pecah.
“Kenapa nak?” tanya ibu heran sambil mengusap pungungku dan memelukkku yang terisak kecil.
“ke-napa, dia belum juga datang bu. Apakah dia sebenarnya menentang perjodohan ini? atau dia hanya tidak mau menikah denganku?” ibu melepaskan pelukanku dan menatapku yang menunduk karena tidak sanggup menatap wajahnya.
“Siapa yang kamu maksud tidak mau menikah denganmu? Nak ashari, baru saja datang. Ia masih menggunakan seragamnya sepertinya ia sangat buru-buru sehingga belum sempat mengangganti pakaian sebelum pulang dari kota tempat ia di tugaskan. Sekarang ia sedang berganti pakaian, ibu kesini tadi untuk menyuruhmu bersiap-siap karena acara akan segera dimulai”
“Benarkah?” aku kembali memeluk ibu dan menangis tetapi dengan alasan yang berbeda.
“Sudah, tidak usah menangis lagi. Ayo siap-siap” ibu melepaskan pelukanku dan menghapus air mata di wajahku.
Aku berjalan ke ruangan yang sudah di penuhi dengan para tamu. Aku melihatnya duduk di depan bapakku dan tersenyum kearahku. Aku menatap matanya dan balas ternyum, karena dar tatapan matanya saat itulah aku mengetahui bahwa dia juga jatuh cinta kepadaku.
Nb: Cerita ini terinspirasi dari cerita nenekku yang tentu saja sudah kuubah dan kutambah bumbu di banyak bagian. Aku iseng menjadikannya sebuah cerpen. Terimakasih buat yang sudah membuang waktu membaca cerita ini, semoga kalian suka ^^