Layaknya bait - bait sebuah puisi merindukan indahnya kata - kata yang di pilih dan di susun berirama atau pun musim kering menanti tetesan hujan.
Seperti itulah rindu yang telah melekat di hati Prasetya. Walau awan berlalu namun rindunya tak berubah arah.
Saat dia terbaring dan pejamkan mata getaran rindu semakin menghujan ke dadanya.
Rindu yang teramat ini dia rasakan setelah beberapa hari tak ada suara nan lembut menyapa.
Dengan sabar dia menunggu detik demi detik, program demi program, namun suara yang dia gila tentangnya tak kunjung mengudara. Hatinya begitu gundah serasa ingin ia dekap erat tak kan di lepaskan kelak saat perjumpaan pertamanya.
Sofia sang pemilik suara lembut nan merdu yang biasa mengudara di sebuah stasiun radio pendidikan.
Beberapa hari ini tak ada tanda - tanda dia mengudara. Gadis yang akrap di panggil Sofi ini biasanya mengudara saat hampir senja, sekitar pukul 16.00 - 17.30 wib di program lembayung senja.
" Assalammualaikum selamat sore pendengar setia 107.7 melati fm. Senang sekali saya Arman dapat menemani anda dalam program lembayung senja selama satu jam setengah ke depan ... ... ".
" Kenapa bukan Sofi, biar kumatikan saja", begitulah cara suara bass yang tengah menyapa pendengarnya itu menghilang dari peredaran.
Pras duduk di kursi depan kantornya, wajahnya nampak kacau, kusut dan kalut.
" Tunggu apa ini ada hubunganya dengan penolakan ku kemaren". Pras mengerutkan keningnya.
Gadis yang sedang kuliah semester 3 fakultas managemen bisnis itu memang telah berbincang denganya di telfon tiga hari yang lalu.
Sofi meminta untuk dapat bertemu dengan pras namun, ia menolaknya dengan berkelit sedang banyak urusan.
tuuuttt....tuuut....
" Ass, iya kak ada apa?", tanya Sofi.
" Waalaikum salam, sudah sampai di rumah?", tanya Pras.
" Baru saja sampai, o ya kak, apa kita bisa bertemu?", pinta Sofi.
" Sementara ini belum, kakak masih banyak urusan".
" Apakah ada yang bisa ku bantu?", kata Sofi menawarkan.
" Sementara ini belum, kakak masih bisa menyelesaikanya sendiri".
" Kak, kita sudah begitu dekat selama setengah tahun ini, kakak menemaniku dengan segala keadaanku, tapi sekalipun belum pernah berjumpa dengan kakak, apa kakak takut aku jelek atau takut aku lari darimu?".
" Bukan begitu, hanya saja kakak sedang banyak yg dikerjakan", jawab pras.
" O... begitu, ya sudahlah kak, bye...", Sofi memutus perbincangan tanpa mendengar kata-kata pras berikutnya.
Pada dasarnya sungguh sangat tidak menyenangkan memandang wajah gadis pujaan Pras ini dari kejauhan. Seperti yang ia lakukan selama ini, membuntuti Sofi tanpa sepengetahuan gadis itu.
Dia juga sadar bahwa adda benih - benih kasih yang tumbuh diantara mereka namun ia tak ingin melihat wajah kekasihnya itu sedih.
Kini malam terasa lebih panjang, Pras memutar otaknya, menimbang segala sesuatunya. Segera dia kirimkan sebuah pesan singkat pada gadis itu.
" Kopi? Besok sore di cafe depan taman kota". Melihat dua centang biru pada chatnya, Pras sedikit lega.
Mentari pagi menyapa begitu hangatnya, merayu membelai setiap jiwa merasakan indahnya dunia dengan cahayanya. Namun tidak pada Pras yang tengah sibuk dengan persiapan kepindahanya.
Padatnya rutinitas dan aktifitas yang menuntut daya fokus tinggi membuat Pras hampir lupa sesuatu. Saat melihat mesin waktu yang melekat di dinding bak sepasang kekasih, dia ingat akan janjinya.
Segera dia lajukan kendaraanya menuju cafe tempat dia janji bertemu dengan Sofi malam tadi. Belum lama dia duduk, seorang gadis muda dengan gaun merah muda dan riasan sederhana namun sukses mencuri perhatian setiap yang di sana, muncul dari balik pintu.
" Nona, mawar ini untuk anda", kata seorang pramusaji.
" Dari siapa?".
" Seseorang di sana", jawab pramusaji itu menunjuk kearah meja Pras yang duduk membelakangi mereka.
Sofia melangkahkan kaki jenjang dengan sepatu tingginya kearah Pria itu. Matanya yang begitu jernih menelisik sosok dengan pundak yang nampak kokoh itu.
" Silahkan duduk Nona", Kata seorang pria berkulit sawo matang nan tampan pada Sofi.
" Apakah anda Prasetya?", tanya gadis berwajah ayu nan mempesona itu.
Pras tertegun melihat wajah sang kekasih yang begitu anggun namun kharismatik, namun dia menutupi kegugupanya dengan segera.
" Mau pesan apa?".
" Anda belum menjawab pertanyaan ku".
" Perkenalkan, aku Prasetya, Pria yang tergila-gila padamu", katanya sambil menjabat tangan hangat nan lembut itu.
Sofia hanya terdiam sambil menatap kearah Pras. Ada butiran-butiran kemilau siap meluncur dari ujung matanya seolah meneriakan betapa kerinduan begitu menyiksanya.
" Jangan,,, jangan menangis sayang", katanya sambil menyeka ujung mata indah Sofi.
Pras membayar bill tagihanya dan mengandeng tangan Sofi keluar dari kafe.
" Tunggu kak tolong lepaskan aku", kata gadis itu merengek.
Seketika itu langkah Pras terhenti, matanya begitu tajam menatap gadis itu mencari tahu tentang apa yg di dengarnya.
" Sakit kak, itu....", kata Sofi melirik tangan nya yang di gengam begitu erat.
" Oh... maaf sayang", balas Pras sambil terus mengandeng tangan Sofi dan tibalah di sebuah bangku panjang yang terletak di tengah taman yg bersebrangan dengan cafe.
" Seandainya bisa lebih lama memandangimu kekasihku", gumam Pria yang ahli taktik perang itu.
" Kau ingin sesuatu?", tanya Pria yang berbeda umur lebih sepuluh tahun dari Sofi.
" Aku ingin kau menjawab pertanyaan ku?".
Pras hanya diam dan menganguk kan kepalanya pertanda mengiyakan permintaan Sofia.
" Baiklah, kalau boleh jujur kau begitu cantik, sedang aku terlalu dewasa untuk mu, dan aku..... aku tak mau perjumpaan kita ini menjadi yg terakhir".
" Apa maksut mu....?", tanya gadis itu begitu penasaran.
Pras menceritakan perihal tugas memimpin batalyon kusus ke Papua. Dia tak tahu kapan akan kembali, masih bernafas atau pun tak bernyawa lagi.
" Jangan berkata seperti itu kak, aku akan menunggumu".
" Jangan kau tutup hatimu untuk jiwa yang lain bila tak ada kabar dariku, aku tak ingin menjadi sebab perihnya penantianmu sayang".
Sofia terisak, air matanya tak terbendung lagi, ada kepedihan di hatinya.
" Aku tak mau kau menjadi tua dalam penantian mu, dalam ketiadaanku di sisimu, aku selalu memohon perlindungan bagimu dari yang kuasa", Kata pria itu mendekap erat Sofi dalam pelukanya.
" Dengar kak... biarlah cinta memilih jalan nya sendiri, aku akan menjaga diri untuk mu", jawab Sofia masih terisak dalam dekapan Pria itu.
Sungguh pedih rasa dalam dada Pras saat ini, di umur penantianya akan kekasih pendamping hidup harus seperti ini.
" Besok pagi aku berangkat, ayo ku antar pulang tak baik anak gadis malam-malam berada di luar", kata Pras menyeka air di wajah kekasihnya itu.
Segera Pras mengantar Sofi pulang, dia tak ingin orang memandang buruk pada gadisnya itu. Tak ada kata terucap dari bibir seksi Sofi dalam perjalanan hingga tiba di depan rumahnya.
Sesaat Sofi melangkahkan kakinya keluar, dia membalik kan badan dan ciuman lembut mendarat di bibir Prasetya. Hal yang mengejutkan sekaligus menyakitkan baginya.
" Jaga dirimu kak seperti aku menjaga diriku untukmu, takdir cinta yang akan mempertemukan kita kembali, terimakasih sudah mau menemuiku. cukup bagiku dapat melihat wajah kekasihku, ini pertama kalinya aku mencium seseorang. Untuk pria yang melindungiku, keluargaku, sahabat-sahabatku bahkan negaraku, ini cukup pantas, berhati-hatilah kak".
Setelah melihat Sofia masuk ke rumahnya, Pras dengan kepedihan dan kebekuan air matanya segera berlalu pergi.
Meski tak terbayangkan rasa yang ada di hati mereka karena terpaksa membunuh benih-benih kasih di antara mereka, tapi waktu tak akan berhenti karna itu.
Bisa jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita, boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu tak baik bagi kita, Tuhan maha mengetahui sedang kita tidak.