oleh : Knox
[Prolog]
Semua hal tentang hidup ini apakah bisa benar-benar diubah? Kenapa hidupku seperti ini? Bisakah aku memilih? Sangat lelah. Aku ingin pulang....
Cerita ini hanya karangan belaka. Tidak ada unsur menyinggung terhadap kelompok manapun.
-----------------------------
Di dunia ini kita sebagai manusia percaya bahwa ada yang namanya takdir. Lalu bagaimana dengan nasib? Apakah itu juga bagian dari takdir? Lantas diriku kini bisakah merubah nasib?
Seseorang yang dianggap tak berguna. Sayangnya terlahir dari keluarga yang lumayan terpandang. Saudara-saudaranya terlahir pandai dan memiliki masa depan yang cemerlang. Sepertinya hanya aku seorang yang gagal. Apakah ini adil? Usaha yang selama ini aku perjuangkan, berakhir dengan kegagalan yang tragis.
Pendidikan yang seakan menggrogoti tubuhku untuk memperjuangkan tingginya nilai akademik tak layak diadu di depan pujian orang tua. "Nilai segini mau jadi apa? Temanmu yang lain nilainya lebih tinggi dari kamu!" Hal yang sudah biasa. Mana pantas dibandingkan? Mereka hanya tau perihal hasil tetapi tak tahu bagaimana proses mendapat nilai itu. Percaya atau tidak, aku tak pernah mencontek.
Dari kecil, anak-anak seumuranku bahkan sudah punya ambisi dan cita-cita. Makin beranjak dewasa mereka sudah tahu arah mana yang mereka tuju. Berbeda dengan diriku. Aku bagaikan ruang hampa yang tak tau ke mana kakiku akan melangkah. Tak punya ambisi, tak punya cita-cita. Bahkan, aku sendiri tak tau apa yang aku inginkan.
Keluargaku memang masih lengkap. Harta juga cukup. Tetapi, kenapa aku merasa masih kekurangan? Orang tuaku memang bekerja semua. Saudara-saudaraku hanya berkumpul saat menonton TV dan makan. Mereka lebih sering menghabiskan waktu di kamarnya. Mereka jenius dan berbakat. Dari luar mungkin aku terlihat orang yang paling beruntung sedunia.
Banyak orang yang mengatakan "Kalau kamu kesusahan minta bantu kakakmu saja, mereka kan pinter, pasti dia bisa karena dibantu kakaknya". Kalau boleh jujur kalimat itu awalnya menyakitkan. Tetapi, semakin lama mendengar telingaku terasa tebal. Hatiku entah menjadi sekuat baja atau malah mati. Mereka tak mengerti aku juga pernah meminta tolong mereka.
Siapa yang akan menyangka kalimat-kalimat yang menyakitkan kadang keluar dari mulut mereka. Saat aku masih kesulitan walaupun sudah 3 kali diajari. Kalimat seperti "Kamu Idiot! kamu itu bodoh! Gitu aja gak bisa! Padahal itu gampang! Dasar Noob! bla.. bla.. bla..
Aku juga merasa iri ketika ada para saudara yang welas asih, sabar, dan saling menyemangati. Beberapa dari kalian pasti ada yang berpikir "Kenapa gak cerita aja ke orang tua atau balas aja omongan mereka". Sudah beberapa kali aku mencoba. Tetapi bagi mereka itu hanya sebuah candaan. Bahkan, tidak memberi dampak secara signifikan.
Pelajaran-pelajaran di masa itu membentuk keyakinan di dalam diriku. Hanya aku yang bisa membantu diriku sendiri. Tumbuh menjadi orang yang mengandalkan diriku sendiri terlebih dahulu. Perkara hasil siapa yang peduli yang terpenting itu hasil upayaku. Aku bahkan tak pernah bercerita sedikitpun tentang kesedihan, penderitaan, dan kesulitan yang aku alami. Aku tak percaya manusia.
Aku ingat di masa menentukan SMA, memberanikan diri menyuarakan pendapat untuk bersekolah di luar kota. Sendirian. Tapi siapa yang menyangka keputusanku dianggap terlalu tinggi dan gak memandang nilaiku sendiri. Memang sekolah yang aku pilih lumayan tinggi pada waktu itu. Rencanaku gagal. Tetapi, aku juga telah memutuskan untuk menggantinya dengan sekolah lain yang sebanding.
Hingga masa dewasa pun tiba. Mencari sekolah untuk berkuliah. Tidak. Itu pikiran orang tuaku. Tidak dengan diriku. Saudara-saudaraku yang lain sudah berkuliah di PTN bergengsi lainnya melalui jalur tanpa tes. Sangat beruntung sekali bukan? Lalu bagaimana nasibku? Undangan apanya? Tak ada satu pun. Karena rencanaku adalah kerja baru 1 tahun kemudian kerja sambil kuliah.
Lagi dan lagi, pupus rencana yang menurutku telah aku susun dengan epic-nya. Karena melihat salah satu saudaraku keterima di sekolah kedinasan. Yah, sepertinya dewi fortuna selalu mengikuti saudara-saudaraku. Diplanningkan masuk perguruan yang tidak mahal. Jika ada yang bersuara apa tidak mencoba yang lain? Sudah dan lolos tetapi biaya yang menurut mereka terlalu tinggi dengan jurusan yang sulit mendapat pekerjaan, "katanya".
Saat itu, aku tak cukup berwawasan luas dan terbuka. Walaupun orang tua dan saudara-saudaraku berpengatahuan luas tak satupun yang memberitahuku betapa luasnya jurusan-jurusan itu. Orang-orang di sekitar lingkunganku hanya tau jurusan kesehatan dan menjadi pegawai negeri. Selain hal-hak di luar tersebut dianggap remeh dan sebelah mata. "Jurusan itu mau kerja jadi apa? Apa bisa dapat kerja? Nanti kerjanya di mana? dan bla... bla... bla..
Singkatnya, Aku mencoba beberapa kali tes seperti saudara-saudaraku. Siapa yang menyangka dewi fortuna tetap tak pernah berbaik hati padaku. Meski aku tahu aku juga kurang berusaha maksimal. Kelamahanku adalah diperhitungan. Aku sempat berpikir. Akankah aku tetap hiduo walaupun tak bisa matematika?
Kelulusan di depan mata, hal yang paling menakutkan seorang mahasiswa adalah mencari kerja. Peluang kerja terhampar di daratan ini dari ujung timur hingga barat. Hanya yang layak yang mampu mendapatkannya. Lalu bagaimana menilai diri layak atau tidak? Apakah dari nilai? Paras? Daya tarik?
Jika kalian yang membaca masih di masa sekolah dan kuliah baca dengan seksama. Bila sudah menikah atau berkeluarga maka ambil sebagai pelajaran untuk anak-anakmu kelak. Dari kesekian kegagalan yang dialami pencari kerja adalah tidak adanya daya tarik pelamar kerja. Salah satunya tak memiliki pengalaman organisasi dan prestasi yang mendukung. Lalu siapa yang akan tertarik? nilai akademi hanya menyumbang sekian persen saja.
Dan terakhir dan bukanlah akhir adalah jaringan atau kenalan. Orang yang pandai bersosialisasi pasti memiliki koneksi yang luas. Mendapat informasi pertama sebelum orang lain adalah keuntungan yang besar. sebagian besar peluang kerja pasti akan memandang hal ini. Penyesalan memang selalu di akhir. Tak pernah nampak di awal.
Bayangan penyesalan bagi orang-orang yang tak punya nilai akademik tinggi, tak memiliki pengalaman organisasi dan koneksi. Siapa yang akan mempedulikannya? Di keluarga dan di lingkungan menjadi bahan gunjingan dan gosip pedas. Tekanan yang bertubi-tubi bila tidak kuat bukankah akan menjadi gila?
Banyak yang menyelesaikannya dengan menikah. Ya bagi yang punya tambatan hati. Kalau tidak punya ya silakan mencari. Padahal itu bukanlah penyelesaian namun menciptakan masalah baru jika tidak siap. Bermimpi itu sangat mengasikan sampai lupa bahwa ada waktu untuk bangun. Aku merasa lelah. Hidup sekian lama beruntung pun tidak.
Akankah hidupku berbeda jika dilahirkan di keluarga lain? Apakah aku juga layak seperti mereka? Lantas aku harus seperti apa? Bagaimana aku menjalaninya? Andai aku bukan siapa-siapa, apakah mereka taj akan menghina?
Pilihan yang ada saat ini mencoba segalanya selagi ada kesempatan. Meski lelah dan ingin pulang. Walau pun gagal lagi pasti ada hari yang dinamakan keberhasilan di masa depan.