Malam ini angin begitu kencang, suara ranting dan daun saling bergesekan ditambah suara lolongan anjing. Suaranya semakin kencang bersahut-sahutan menyakitkan telinga.
Aku cari sumber suara lolongan itu, karena aku sangat terganggu, ternyata tak jauh dari rumahku, ada beberapa anjing, aku ambil batu dan melempar anjing itu.
"Mati lah, kau anjing!" teriakku melempari anjing itu dengan batu.
Anjing itu berlari ketakutan, seperti melihat vampir yang ingin menghisap daranya.
Entah, aku tak mengerti. Malam ini aku seakan memiliki keberanian.
Aku berhenti mengejar anjing itu untuk melemparnya dengan batu, seketika pikiranku saat itu terngiang-ngiang suara wanita pujaanku. Seulas senyumnya membayangi isi kepalaku menjerat hatiku secara terus-menerus. Tetapi, sepertinya wanitaku tak ingin aku, wanita yang aku ingin minta waktunya seumur hidup untukku.
Aku tertampar keras dengan kenyataan. Aku merenung, seperti kehilangan akal sehat duduk sendiri di jembatan sepi ini, aku nyalakan rokok, kuhembuskan asapnya ke atas.
"Anjing," kataku yang kecewa.
Saat ini duniaku sangat hancur, semua warna memudar, tak ada harapan. Kegelisahan yang hanya menyelimutiku saat ini. Itulah yang mendorong keberanianku sampai ada sekelebat bayangan aku biasa saja.
Hihihi...
Suara ngikik itu terdengar.
Tak aku hiraukan, aku serot lagi rokokku, kehembuskan cepat.
Tak lama itu aku mendengar suara ngikik itu menjadi tangisan.
"Kalau sedih gak usah ajak-ajak, aku juga lagi sedih!" teriakku entah dengan siapa.
Suara tangis itu berubah menjadi ngikik lagi, sangat melengking, semakin mendekat.
"Ini, mbak kunti, ya?" tanyaku sambil menutup telinga dengan kedua tanganku.
"Hihihiiii,"
Aku kesal dengan ngikiknya, aku menutup telinga masih terdengar melengking menyakitkan hatiku yang sudah sakit kronis.
Wkwkwk...
Tawa itu tidak ngikik lagi.
Aku menoleh, ke kanan dan ke kiri tiada satu orang pun.
Tiba-tiba ada sosok yang mendekat turun dari pohon kayu manis yang ada di sebelahku, pakaiannya putih, wajah menyeramkan, rambut terurai ke depan dan acak-acakan dan suka ngikik dan menanggis.
"Eh, kok ketawanya wkwkwk sih?" tanyaku.
"Mencoba menghiburmu, Aku ngikik, aku nangis kamu juga gak takut! Jadi, aku mau mencoba hal baru, menghibur orang saja, daripada menakut nakuti. siapa tau kalau wkwkwk kamu jadi terhibur," jawabnya lirih melihatku.
"Hmmm... Terserahlah," jawabku yang hampir keselek asap rokok saat itu.
"Aku mau beli susu SGM dulu!" katanya pergi berlalu.
"Hmmm... Terserah," jawabku lagi.
Setalah sosok itu pergi ada sosok lain lagi melompat-lompat di sebelahku, membuatku darah tinggi, aku jegal kakinya, sampai sosok itu tersungkur.
Aku dengan cepat menarik bajunya, memeluk erat dirinya yang hilang keseimbangan, tapi, aku pun ikut kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Punggungku jatuh ketanah, dan sosok itu menimpaku.
"Aduh..., sakit!" Teriakku.
Lalu aku meninggalkan sosok itu merangkak beberapa langkah lalu berdiri.
Sosok itu menyalahkanku, aku tanpa pikir panjang, kuhajar dia. Aku juga tidak merasa bersalah, melainkan aku yang merasa terganggu.
"Ini kan salah kamu, sliwar sliwer di depanku, jangan main-main sama jomblo!" tegurku keras.
"Ya udah, maaf!" katanya.
Kupandang dia, wajahnya menyimbolkan rasa bersalah.
"Astafirulloh," ucapku pelan.
Aku saat itu tak bisa menahan emosiku, setalah menghajarnya, nafasku terngengah-engah. Hidungku menghirup udara yang dipenuhi bau kemenyan, dan bau kembang yang menyesakkan dada.
Kutenangkan diri sejenak.
"Maaf ya," aku mengulurkan tangan yang tak disambutnya, mungkin sosok itu belum mau memaafkanku, karena aku yang terlalu keterlaluan.
Penuh tanya dalam pikiranku saat melihat sekujur tubuhnya, jangan-jangan sosok ini juga lagi sedih, karena bau kembang dan kemenyan mungkin karena bajunya tidak pernah dicuci membuatnya pesimis untuk ke rumah calon mertuanya.
Muncul rasa ibaku terhadapnya, kuambil parfum di dalam jok motorku, dan aku semprotkan ke sosok itu. Tapi, masih aku cium bau kembang dan kemyan itu.
Aku berniat untuk membawa baju sosok itu ke laundry. Namun, sayang sosok itu hilang, padahal aku berniat menebus salahku telah menjadikan sosok itu pelampiasan, dan menebus kesalahanku dengan membantunya terlihat tidak kumel, lusuh dan wangi.
Ini lah ceritaku dimalam juma'at waktu itu, yang penuh kegundahan.
Hangga_rezka