Bolehkah aku bermimpi.. bermimpi saja, untuk bersamamu, untuk mengatakan sejujurnya..
Ah tidak, bermimpi pun seharusnya aku tidak boleh, lebih baik membunuhnya dari pada memanjakan rasa yang tidak seharusnya .
Namaku Alya, aku kuliah semester 6 disalah satu perguruan tinggi di Jakarta. Entah kenapa akhir-akhir ini aku semakin sering memikirkanya, apa karena aku baru saja putus dari mantan pacarku 3 bulan yang lalu dan aku butuh pelarian, ah tidak, harusnya kan kemarin kalau memang butuh pelarian, tapi dia memang sering tiba-tiba muncul dipikiranku walapun aku sudah punya pacar sekalipun. seharusnya ini tidak boleh tapi dia selalu saja tiba-tiba muncul dipikiranku tanpa diundang.
Dia temanku waktu aku duduk dibangku SMA panggil saja dia Victor , Dia teman baikku sekaligus sahabat mantan pacarku. Lucu sekali, bisa sedekat itu dengan sahabat mantan pacarku, karena dia yang selalu menghiburku ketika mantan pacarku memutuskan hubungan denganku.
Besok adalah hari pernikahan mantan pacarku, entah kenapa mantan juga mengundangku, dan pasti Victor akan datang, sudah 3 tahun kami tidak bertemu dan tidak saling berhubungan. aku pikir harus benar-benar datang ke pernikahannya setidaknya aq membuktikan aku memang sudah move on darinya karena memang aku sudah move on lama darinya, Dan aku juga ingin tau kabar Victor sekarang, mungkin dia juga akan segera menikah, beruntung sekali wanita yang dinikahi Victor, Victor sangat menghargai wanita dan dia tau nilai-nilai dari seorang wanita. sangat-sangat jarang menemukan laki-laki seperti itu jaman sekarang.
Tiba dihari pernikahan sang mantan, panggil saja dia kunyuk. aku datang bersama sahabatku Karla , aku melihat Victor bersama teman-teman SMA, dia tertawa begitu mempesona dan begitu hangat. aku sangat merindukanya, tapi apalah dayaku, aku hanya duduk dipojokan sambil melihatnya dari jauh. Tiba-tiba dia melayangkan pandangannya padaku, alahkah kagetnya aku, aku langsung saja pura-pura berbicara pada temanku, konyol sekali aku, tapi dia malah berjalan kearahku, aku merasa begitu grogi, ah tidak boleh begini, kita hanya teman.
Victor : "Alya ?"
Aku. : "Eh Victor ?"
Victor : "kamu kok makin cakep aja al haha gimana kabarmu sekarang? kapan nyusul Adit(kunyuk) ?"
Aku. : "Ah bisa aja kamu Vic, aku baik banget vic, kamu gimana kabarnya ? haha kamu duluan aja, aku masih belum ada calon haha."
Victor : "Aku juga baik Al, ah masak belum ada calon Al ngga percaya aku haha."
Aku. : "Emang belum kok Vic, kamu sendiri ?"
Victor : "haha kalo gitu sama aku aja gimana, aku juga belum, siapa tau beneran jodoh haha."
Alamak, rasanya ingin melompat kegirangan, walapun sekedar candaan. huhuhu Victor, Andai aja.
Karla : "Ciye..ciye.. betul tu Al.. siapa tau jodoh trus nikah kayak Adit."
Aku. : "Haha apaan si kalian, emang hubungan harus coba-coba ya."
Victor : "Jadi mau serius ni ? "
Alamak rasanya ingin berteriak betapa senangnya aku.. Lebay kali aku ini.. hatiku bergumam sendiri sambil menahan rasa senangku.
Aku : "ngga mungkinlah Vic."
Victor: "kenapa ? kamu ngga suka sama aku, padahal aku ngga kalah ganteng kan sama Adit haha."
Aku. : "Udah ah Vic, ngga usah bercanda kayak gitu terus."
ingin kujawab sukaa, suka sekali, sangat malah, tapi sudahlah, itu tidak akan baik.
Victor : "Baiklah baik Alya, aku cuma bercanda doang."
Aku : "Victor, kamu ga ada perasaan sama aku ?"
aduhh.. aku kok malah ngomong gitu, keceplosan gitu, mana ada si karla lagi, Astaga, rasanya langsung ingin kabur.
Aku : "Eh engga, maksud aku, aku mau pulang, besok aku ada kuis kelas, aku pulang dulu ya."
Victor : "salah tingkah ya kamu.. aku anterin pulang deh, kamu tadi berangkat sama karla kan, karla aja masih pw disini kok kamu main pulang aja.. mending kita ngobrol-ngobrol dulu gimana diluar lagian kita udah lama ngga ketemu."
Aku : "oke deh boleh hehe."
Akhirnya Aku dan Victor pamit pulang, kami mampir di cafe sebelum pulang. kami mengobrol tentang banyak hal, bercanda dan seperti dulu tertawa bersama, rasanya ingin waktu behenti supaya aku bisa bersamanya untuk waktu yang lama.
Victor : "Senyum lagi dong Al, lama ngga lihat senyum kamu, manis banget."
Aku : "kamu beneran sampai sekarang belum punya calon?"
Victor : "Ada kok Al."
Deg.....
Tuh kan, ngga mungkin Victor sampai sekarang ngga punya calon, mana mungkin, Dia sekarang pengusaha yang cukup mapan, pasti banyak yang mau sama dia.
Aku : "Eh gitu ya, pasti beruntung banget wanita itu."
Victor : " kamu ngga mau dia siapa Al ?"
Aku : " nggak Vic, aku percaya pilihan kamu yang terbaik, asal kamu bahagia."
Victor : " Ya kalo dia mau aku pilih Al, Dia ngga tau kalo selama ini aku suka dia, aku fokus sama kerjaan aku dan nungguin dia karena setauku dia ganti-ganti pacar, aku belum bisa milikin dia, kalo kamu sendiri gimana Al belum punya calon beneran?"
Aku : "Ya gitulah Vic, belum punya vic, 3 bulan lalu aku abis putus sama pacarku, dan sekarang sendiri, sebenrnya si akhir-akhir ini aku mikirin seseorang udah lama ada dihidupku karna aku lihat laki-laki yang bener-bener tulus ke aku cuma dia, tapi bagiku dia adalah ketidakmungkinan."
Victor : "Ketidakmungkinan? "
Aku : "hmm begitulah, aku dan dia berbeda, kita beda agama."
Victor : "tapi kan Al, masih banyak cara supaya bisa bersama."
Aku : "iya vic, caranya ya harus ada yang berkorban, tapi ngga lah, aku ngga mau ada pengorbanan apalagi itu erat dengan dia dan aku sejak kecil, dan orang tua aku dan kamu tidak akan ijinkan, apalagi orang tuanya tokoh besar diagamanya."
Victor : "Kamu ? maksudnya aku al?"
Aku : " Eh bukan, aku dan dia maksudnya, hehe."
Victor : " Kalau gity, Mungkin Dia juga ketidakmungkinan bagiku Al, aku harap kamu menemukan orang yang lebih dari dia al, aku harap kamu selalu bahagia."
Aku : " Aku ingin seseorang seperti dia semuanya seperti dia Vic tapi ngga mungkin haha. Aku juga berharap kamu selalu bahagia dan bisa menemukan seseorang yang tepat buatmu."
Victor : "Amin al aku berharap yang terbaik untuk kita semua, seseorang yang jadi pasangan kamu pasti beruntung banget Al."
kami pun pulang, Victor mengantarku pulang, aku sangat bahagia bercampur sedih bisa bertemu dengannya lagi walaupun sebentar, aku merasa cukup lega, aku telah mengatakan semuanya walapaun secara tidak langsung.
Sebab bagiku, Lebih baik tidak bersama walaupun memang pedih daripada harus bersama tapi ada yang harus terluka karena pengorbanan, entah diri sendiri atau orang sekitar.
Tuhan Sang Maha Baik, akan memberikan ganti kebahagiaan apabila kita iklash melepaskan apa yang tidak seharusnya jadi milik kita, karena Tuhan pasti akan memudahkan jalanya kalau memang itu milik kita.