Bunyi klakson, asap kendaraan yang tebal, dan jalan yang penuh akibat kemacetan menjadi santapan sehari-hari kota Jakarta. Situasi yang harus dihadapi oleh setiap manusia yang ingin bertahan hidup di kota metropolitan ini. Setiap hari orang-orang berbaur menjadi satu di jalan raya, entah dari kalangan atas maupun bawah mereka tidak peduli, menggunakan motor ataupun mobil mereka sama-sama akan berebut jalan untuk bisa sampai di tempat tujuan lebih cepat.
Begitu pula keadaan yang harus dihadapi oleh seorang laki-laki muda kolongmerat ini. Meskipun hidupnya tidak pernah kekurangan apapun dan selalu terpenuhi segala keinginannya akan tetapi. akan selalu berusaha bersabar jika harus berhadapan dengan jalanan kota Jakarta. Pagi ini dia duduk tenang di dalam mobil BMW mewahnya menuju kantor tempatnya bekerja. Siapa laki-laki ini?
Dia adalah Raynold Wijaya. Pewaris tunggal Wijaya Corp. Laki-laki tampan yang berusia 28 tahun dan sangat gila hormat. Tanpa bisa dipungkiri pesona gila yang laki-laki itu tebarkan kepada setiap manusia akan selalu membuat siapapun tergila-gila. Wajah yang menunjukkan tingkat kemaskulinan seorang pria matang. rahang yang kokoh, mata yang jernih, hidung yang mancung dan kokoh memberikan kesan sempurna pada wajah seorang Raynold.
Pagi ini Ray menuju kantor Wijaya Corp untuk membahas proyek penting mengenai pembangunan sebuah vila di daerah pinggiran Provinsi Jawa Tengah bagian selatan. Proyek yang akan menambah gelar sukses seorang Raynold. Tiba di lobi kantor, seorang penjaga segera bergegas membukakan pintu mobil bagian belakang ketika mobil yang dikendarai Raynold berhenti tepat di depan pintu lobi. Benar-benar situasi yang menegangkan setiap melihat atasan mereka sampai di kantor. Semua karyawan yang sedang berlalu-lalang terpaksa menghentikan langkah mereka hanya untuk menyambut kedatangan bos besar mereka. Para karyawan akan membubarkan diri setelah sang bos besar memasuki luft khusus Direktur.
Memasuki ruang kerja, Raynold segera memanggil sekertaris Tak untuk mengetahui jadwal pekerjaannya hari ini. Ngomong-ngomong mengenai sekertaris Tak, nama panjangnya adalah Yuji Takasima, dia adalah sekertaris yang sudah bekerja dengan keluarga Raynold selama 10 tahun. Pengabdiannya kepada keluarga Wijaya sungguh tidak diragukan kembali, oleh karena kesetiaannya tersebut dia bisa menjadi sekertaris Raynold yang notabenenya sangat perfeksionis. Bahkan banyak sekertaris sebelum sekertaris Tak pamit undur diri karena tidak tahan dengan kepribadian sang bos besar yang mereka anggap arogan, sombong, dan sangat playboy. Sekertaris Tak adalah keturunan Jepang. Ayahnya orang Jepang dan Ibunya orang Indonesia. Akan tetapi, kedua orang tuanya memutuskan berpisah sehingga sekertaris Tak yang masih berusia 2 tahun di kala itu harus ikut dengan ibunya yang memiliki hak asuh atas anak secara penuh. Jadi sekertaris Tak sejak kecil tinggal dan tumbuh besar di Indonesia sehingga bahasa Indonesianya sangat lancar dan juga fasih.
"Apa jadwalku hari ini?"
"Jadwal Tuan hari ini, tidak terlalu padat. Hanya rapat mengenai perkembangan pembangunan vila di desa jam 9 pagi nanti, dan selebihnya kosong. Jika ada tambahan janji yang ingin Tuan tambahkan saya bisa atur."
"Kira-kira sudah berapa persen pembangunan vila itu?"
"Kurang lebih sudah 75% Tuan."
"Buatkan jadwal untukku minggu depan selama seminggu penuh. Akhir pekan ini aku akan melakukan kunjungan langsung ke sana."
"Baik Tuan. Apakah masih ada yang lain?"
"Tidak, kamu boleh keluar."
"Terima kasih Tuan." ucap sekertaris Tak sambil membungkuk dalam.
Rapat yang dimulai hari ini terasa horor. Ekspresi semua orang yang hadir menegang dan tampak pucat. Di hadapan mereka sang bos besar sedang mengevaluasi pekerjaan mereka dengan nada yang meninggi karena menilai pekerjaan karyawannya kurang memuaskan. Banyak laporan yang dilempar sembarang arah, tidak ada satu orangpun yang berani mengangkat wajah mereka kecuali sekertaris Tak.
"Saya akan memberi kalian kesempatan untuk memperbaiki masalah ini, bagian finishing dalam proyek ini sangat penting. Saya tidak menginginkan adanya kemunduran jadwal peresmian. Jika kalian tidak mampu mencari pemasok lain untuk mengantikan pemasok yang seenaknya itu, kalian dipecat." ucap Raynold tegas.
Rapat telah berakhir dengan menyisakan ketegangan yang luar biasa bagi semua orang yang hadir. Akan tetapi, tidak dengan sekertaris Tak.
"Tuan akhir pekan ini, Tuan ingin melakukan kunjungan dengan siapa?" ucapnya dengan nada yang stabil.
"Emmmm" Raynold mengelus pelan dagunya yang tidak gatal sambil berfikir "Mungkin aku akan mengajak Brian dan kamu. Segera kabari Brian untuk berkemas dan siapkan juga dirimu."
"Baik Tuan."
Brian Luke adalah sepupu Raynold dari pihak ibunya, Livya Wijaya. Sebulan yang lalu Brian mengajak Raynold liburan akan tetapi karena kesibukan sepupunya itu liburan ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan dan Raynold memutuskan saat ini adalah waktu yang tepat untuk berlibur sekaligus bekerja. Toh Brian tidak menentukan tempat liburannya.
-----------------------------------------------------------------
Akhir pekan yang sudah di tentukan akhirnya tiba.
"Kau mau mengajakku liburan kemana Ray?" tanya Brian. Pagi ini Brian datang dengan koper besarnya dan pakaian pantai ala hawai dan celana pendek sehingga memamerkan bentuk tubuhnya bak seorang model papan atas.
"Kau mau kemana Bi?" Bi adalah panggilan masa kecil Brian. Tatapan mata Raynold penuh selidik dengan melihat penampilan Brian.
"Bukankah kita akan berlibur? Tentu saja akan bersenang-senang, bukankah pakaian ini sangat cocok untukku?" posenya sambil berkaca di depan cermin tinggi. Kepercayaan diri yang tinggi.
"Ya kita akan berlibur, tapi juga bekerja."
"Apa????"
Sekertaris Tak hanya tertawa melihat ekspreai konyol seorang Brian.
Raynold kemudian menyambung lagi,
"Ayo kita berangkat."
"Ayo kita mencari cinta."