Menceritakan seorang pemuda bernama Alvin, yang harus rela berbagi tubuh dengan sosok lain dalam tubuhnya.
Ryan begitu sosok itu menyebut dirinya sendiri. Ryan muncul ketika Alvin berusia 14 tahun atau lebih tepatnya ketika Alvin mengalami trauma mendalam karena mendapat kekerasan dari ayahnya.
Dari sanalah perjalanan sosok Ryan di mulai. Ryan tumbuh bersama Alvin saling mendominasi tubuh yang mereka tinggali.
"Mulai sekarang kita adalah partner." Ryan.
"Ryan, aku nggak mau bunuh orang lagi."
"Semuanya ada di tanganku Alvin. Karena akulah pemeran utamanya."
Warning!! ⚠️
Cerita ini mengandung kekerasan, adegan penyiksaan dan lain sebagainya!!! Harap bijak memilih bacaan.⚠️
Plakkk!!!
satu tamparan melayang, membuat wajahku langsung menoleh ke samping. Perih. Panas menjalar dari wajah ke telinga. Bahkan telinga dan hidung ku berdarah.
"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA,"
Plakk.
Ayah yang masih belum puas. Kembali menampar disisi lain wajahku.
"MATI KAU, MATI...."
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Ampun ayah, ampun!!." Aku hanya bisa merintih, ketika menerima semua pukulan itu.
Ayah seolah tuli, tidak menggubris perkataan ku. Tendangan bertubi-tubi darinya terus melayang ke arah perut. Ruang gelap kamarku dan rumah ini adalah saksi dari kekejaman ayah terhadap ku dan Ibu.
"Ibu dan anak sama saja. Tidak berguna. cuih," Setelah mengatakan itu. Ayah kemudian berbalik dan berjalan tertatih ke kamar. Ayah mabuk lagi.
Ayah sebelumnya tidak seperti ini. Pria itu berubah setelah bangkrut, dan kak Naira meninggal. Putri kesayangan ayah. Semenjak kejadian bertubi-tubi tersebut pria paruh baya itu jadi sering pulang larut malam dalam keadaan mabuk. Setiap pulang hanya untuk meminta uang dan jika tidak di berikan akan menyiksa seperti barusan.
Dengan tertatih aku berdiri, merapikan semua barang yang ayah lempar tadi. Aku tidak akan tega, membiarkan ibu yang baru pulang bekerja harus membersihkan segala kekacauan ini.
Klek,
Aku mendongak, lalu mendapati sosok cantik dengan wajah khawatir berjalan tergesa ke arahku. Kemudian duduk dihadapan ku yang masih sibuk merapikan sisa-sisa kekacauan tadi. Itu Ibu dia baru pulang kerja, wanita paling cantik bagiku.
Wanita itu menangkup wajah memarku kemudian menangis pilu. Aku tidak suka jika ibu sudah begini. "Ibu, aku tidak apa-apa. Ini tidak sakit sama sekali." kataku sambil menggeleng untuk meyakinkan ibu.
Ibu mengangguk. kemudian mengusap memar-memar di wajahku dengan lembut. "Ayo nak, ibu akan mengobati ini."
Aku mengangguk sambil tersenyum.
Sementara wanita itu dengan hati-hati, memapah badanku untuk di dudukkan di ranjang. Kemudian ibu pergi dan kembali lagi sambil membawa kotak P3K.
Ssshhht
Aku meringis menahan sakit ketika ibu mulai menempelkan kain kasa yang sudah di beri alkohol ke bagian wajahku yang memar. Dapat kulihat mata ibu yang berkaca-kaca menahan tangis. Bahkan tangannya juga ikut bergetar ketika mengobatiku.
"Ibu, aku baik-baik saja." kataku sambil menahan tangan ibu yang bergerak mengobati lukaku.
Ibu tersenyum, kemudian mengangguk sambil menahan tangis.
•
•
•
Author pov.
"Berhenti jangan sakiti Alvin. Aku mohon berhenti." ucap Ana. Ibu Alvin yang berusaha menahan Gio suaminya untuk tidak memukul bocah berusia 14 tahun itu.
Brukk.
Gio mendorong Ana cukup kuat sampai kepalanya membentur dinding cukup kuat. "Dasar wanita jal*ng, tidak berguna." teriak Gio sampai urat-urat di lehernya terlihat.
Kemudian Ana merangkak ke arah Gio sambil menangis. "Ya cukup pukul aku saja. Jangan Alvin putraku." kata Ana sambil menunjuk dirinya sendiri. Kemudian menoleh ke arah Alvin yang sedang tertunduk, menahan sakit di bagian perut.
"Baiklah kalau itu yang kau mau." ucap Gio.
Bukh.
Bukh.
Bukh.
Pria itu kemudian beralih menyiksa sang istri habis-habisan tidak memperdulikan Alvin di belakangnya yang sedang terdiam tidak menunjukkan ekspresi.
Sudah cukup. Apa kau tidak ingin melawan manusia bajingan itu.
Sosok lain dalam diri Alvin mulai bersuara.
Jika kau tidak bisa. biarkan aku yang akan melawannya menggantikan dirimu.Ucap sosok itu lagi. Membuat Alvin mengerenyit tidak mengerti dengan hal barusan. "Siapa kau?"
Aku Ryan panggil saja begitu. Mulai sekarang kita adalah partner.
"Aku tidak mengerti."
Ah sudahlah percuma jika aku menjelaskannya. Sekarang biarkan aku bangkit, kau beristirahatlah. Kau tidak inginkan melihat ibumu matikan.
Setelahnya kesadaran Alvin sedikit demi sedikit mulai menghilang.
"Hahahaha... Dasar pria tua bangka." ucap Ryan sarkas. Yang kini sudah menguasai tubuh Alvin. "Kau terus menyiksa dan merendahkan kami setiap hari." Bangkit dari posisi duduknya.
Tendangan demi tendangan yang sedari tadi di hujankan pada sang istri yang sudah tak sadarkan diri terhenti. Kemudian Gio berbalik mendapati Alvin yang kini sudah berdiri. "Kau-
-Sudah mulai berani ya." seru Gio berjalan ke arah Alvin kemudian hendak menamparnya. Namun di tepis seketika.
Mata anak itu menatap tajam ke arah Gio. Seringai mengerikan terbit di bibirnya. "Kau, kau yang tidak berguna. Setiap hari hanya berjudi, mabuk, dan menyiksa kami."
Gio yang terkejut kemudian diam seketika. Menunggu kalimat yang akan keluar lagi dari mulut anak itu.
"Berhutang, meminta uang dan ketika keinginan mu tidak di penuhi kau akan menyiksa kami." lanjut Ryan.
Plakk,,,,
"Beraninya kau!"
Gio menampar Ryan sampai wajahnya berpaling. Namun tidak ada reaksi dari anak itu sampai beberapa saat kemudian_
"Sudah cukup aku membiarkan kau berbuat se'enaknya." Ucap Ryan kemudian menatap Gio sambil menyeringai.
Langkah nya semakin lebar berjalan ke arah Gio, yang kini sedang berjalan mundur.
"S-siapa kau. K-kau bukan Alvin." kata Gio terbata. Panik. "Akkkhh,,"
Ryan mencekik Gio. Tenaganya sangat kuat untuk mendorong Gio menuju teras apartemen yang ada di belakangnya.
Anak itu tersenyum menyudutkan Gio ke pagar besi pembatas. "Aku Ryan, kau yang telah membuatku bangkit." Ryan tertawa. Tawa yang mengerikan. "Sebagai ucapan terimakasih. Aku yang akan mengantarkan mu ke akhirat."
"M-maafkan aku, akh." kata Gio suaranya mulai hilang.
Ryan tersenyum.
Brukkk
Badan Gio terjatuh dari lantai 13 karena dorongan Ryan. Terkapar tidak berdaya di tanah, membuat si pelaku tersenyum atas kemenangannya.
"Permintaan maaf mu, sudah tidak berguna~
~Ayah." kata Ryan yang kini sedang berdiri di belakang pagar besi sambil menumpu dagu melihat suasana di bawah sana. "Masih sepi rupanya." kemudian masuk mengangkat ibunya ke tempat tidur.
Ini tuh cuma ep 1 dari novelnya aja. Kalo penasaran kalian bisa mampir ke profil ku dan tambahkan ini ke daftar bacaan. Aku usahain update setiap hari, jangan lupa tinggalkan jejak😉