Kata orang, terbang bebas itu menyenangkan...
Lantas mengapa Tuhan tak mengizinkan?
____________________________
Namaku Raisa Angelina. Semua temanku memanggilku Risa. Aku adalah murid berprestasi kedua di sekolahku. Tetapi aku masih punya pendirian.
Dengan segudang prestasi yang aku miliki, lantas mereka membenciku. Aku tau mereka sebenarnya iri, tapi bukan seperti ini caranya. Mungkin mereka membenciku karena aku adalah koordinator kebersihan kelas yang harus disiplin.
Aku paling membenci orang yang mencotek. Setiap kesalahan yang mereka perbuat selalu ku laporkan pada guru. Anggap saja sebagai mata-mata guru. Namun semua itu tak luput dari pikiran logisku, aku tak ingin namaku juga terseret.
Hingga suatu hari aku ketahuan.
“Ooouuuhhh, jadi selama ini dalang yang udah laporin kita semua ini lo Ris? Iya!!?” tanya salah satu dari temanku dengan nada membentak.
Aku hanya diam dan terus diam. Hingga salah satu diantara mereka menamparku. Pipiku memerah, menahan gejolak amarah. Namun semua itu masih ku tahan.
Mereka melempari sampah ke arahku. Badanku disiram air, hingga sekujur tubuhku baasah kuyup dan yang terakhir adalah di lempar batu. Awalnya aku diam, namun emosi sudah menguasaiku.
'Blamm...!!!'
Suara gebrakan meja yang ku pukul.
“Memangnya dengan kalian semua seperti ini akan menyelesaikan masalah? Iya, hahhhhh!!??” tanyaku dengan lantang namun seketika itu juga hening.
“Pengecut!!! beraninya keroyokan. Bukan berarti aku diam itu aku nggak berani lapor ke BK ya!! Bukti? Ada kok. Tapi aku cuman pengen kalian itu sadar!! Tapi semua itu percuma— dan aku sangat kecewa,” lanjutku.
1 bulan usai ujian kelulusan.
Mereka masih sama, mengasingkan diriku sekaligus menghina fisikku. Yah, aku sadar. Aku memang jelek, hitam, berkacamata dan bodoh dalam hal penampilan. Apalagi perihal soal percintaan.
“Langsung saja kita panggil murid berprestasi kedua di sekolah kita— Raisa Angelina. Ayo maju nak!!” ucap guru di atas podium.
Mulai dari menaiki podium hari ini, aku berjanji kepada diriku. Aku akan merubah keadaan dengan menaikan prestasiku. Membuat mereka tak bisa lagi menghinaku.
“Halo semuanya!! Apa kabar kalian hari ini?? Semoga kalian sehat selalu ya,” ucapku tersenyum mengarah mereka.
“Halahhh, munafik. Turun lo!! Nggak usah sok akrab deh lo,” cibir salah satu murid perempuan bernama Lisa diikuti yang lainnya.
Sabar, sabar dan sabar. Hanya itu yang ku ucapkan. Belum saatnya aku mengeluarkan taring tajamku.
“Iya, aku bakalan turun setelah aku bicara.”
“Di sini aku cuma mau bilang bahwa kalian memperlakukan aku seperti ini selama 1 bulan itu udah cukup bagi aku. Selain itu juga cukup keras dan keterlaluan. Aku nggak akan bales kalian, tapi lihat nanti setelah kita reunian beberapa tahun kemudian. Aku akan menunjukkan kalau aku bukan Raisa yang dulu lagi. Aku janji,” lanjutku.
“Lihat aja nanti. Paling juga bullshit,” ucap salah satu anak lelaki remeh, bernama Ando.
“Kita lihat nanti. We are rivals. Siapa yang menang, dia punya satu permintaan yang bisa dikabulkan. Apa saja!!”
#5 tahun kemudia...
#Reuni
“Itu siapa tuh? Keren banget motornya,” ucap salah satu temenku.
Alangkah terkejutnya mereka saat melihatku.
Wajah kikuk yang mereka tampilkan, sangat terlihat jelas.
“Hai!! Lama nggak ketemu. Gimana kabarnya Ndo?” ucapku menghampiri Ando.
“Ha...hai!! Lama juga nggak ketemu. Kabarku baik, kamu sendiri bagaimana?” tanyanya dengan kikuk.
Mungkin dia kaget melihat perubahan yang sangat drastis dariku. Benar saja, aku perawatan dan bisa dibilang glow up.
Untuk sukses?? Aku sukses di dunia entertainment bukan sebagai artis, tapi sebagai YouTubers. Tapi juga pelajar yang beasiswa full di luar negeri.
“Kamu nggak usah kikuk gitu doang. Biasa aja, rileks.”
“Wah...wah..wah, ada yang udah sukses nih. Berarti ada yang kalah dong,” ucap salah satu temen perempuanku bernama Lisa, menyindir Ando. Padahal dulu dia juga menghinaku. Tapi sudahlah.
“Udah lah Lis, nggak usah dibahas tentang yang dulu. Menang kalah itu sama aja kok,” belaku.
“Lo kalau mau ngasih hukuman ke gue juga nggak papa Ris. Lagian emang gue dah kalah kok,” ucap Ando pasrah namun terkesan arogan.
“Kamu dah' dapat pekerjaan?”
“Belum. Kenapa? Mau ngehina gue?” jawabnya judes.
“Permintaan aku itu, aku mau kamu jadi...,” gantungku.
“Jadi..?? Jadi pembantu lo? Iya!?” tebak Ando.
“Iya sih. Tapi tepatnya sebagai menejer cafe aku. Tenang aja, tetep digaji kok.”
“Bener Ris? Lo nggak lagi bohong kan?” tanyanya.
“Beneran Ndo. Aku nggak bohong,” ucapku meyakinkan.
“Makasih ya Ris. Gue emang lagi butuh banget uang. Tapi... gue malu Ris, sama diri gue yang selalu ngehina lo.”
“Kenapa baru nyadar sekarang sih Ando? Kenapa nggak dari dulu? Tapi inget ya, walau kita berteman tetap pada perinsip. Jangan berhianat dan kita hanya sebatas bos dan karyawan saat jam kantor. Nggak lebih!!” jelasku.
Dan dari sinilah semua masalah itu berakhir. Mereka semua meminta maaf kepada aku mengaku salah dan aku memaafkan.
mungkin dari sinilah pelajaran hidup yang berarti bagiku dan gak akan pernah aku lupain. Bahwa Tuhan itu sedang menegurku agar aku bisa selalu bersabar and God's plan is so beautiful in it's time.
(and God's plan is so beautiful in it's time >> dan rencana Tuhan begitu indah pada waktunya.)
_________________
Silakan saran dan kritiknya, aku tunggu ya...!! 😆
Dari sini aku sadar banget, bahwa kehidupan itu nggak semuanya indah. Tapi juga sama layaknya rollercoaster dan melodi...
Sama-sama naik turun.....
Saling memaafkan dan jangan balas membalas dengan perbuatan yang sama. Karena Ngak akan pernah berujung baik.
Tapi ketika kamu mau berusaha untuk membalas dendam kepada mereka. Aku cuman mau bilang, bahwa raihlah prestasi sebanyak mungkin. Terus produktif dan tunjukan kepada mereka kalau kamu itu bisa. Dan jangan lupa sebarkan hawa/ ilmu positif dari kalian.
Yuhuuuu,,,, semangat.. like...like..like.., nanti aku mampir kok ke cerpen kalian... 😆🤣
Buatin “onomatope" kali ya? Kek suara suara buat yahhh kalian tahu lah... 🤣 buat belajar sekalian. Tapi nanti kalau salah protes aja...