“Zainab Tala Dzuhaira, dimana makanan untuk ibu? Jangan bilang kamu lupa bilang sama papa kamu lagi yah! Mama kamu dimana hah? Udah kesekian kalinya kamu nga pernah bawa makanan buat perbaiki nilai kamu. Alasannya lupa melulu. Mau jadi apa kamu?” Geram seorang guru wanita yang bernama ibu Lia kepada siswi yang di panggil Zainab yang selalu mengabaikan perintahnya.
“Ibu, berapa kali harus nana bilang, jangan ungkit soal mama didepan nana. Apalagi papa!. Ibu hukum nana lari keliling lapangan bersihin toilet guru, siswa cuci piring apapun, tapi plis jangan ungkit mama atau lapor ke papa nana kalo nana nga bawa makanan daerah buat dapet nilai dari Prakarya! Kasih nana ujian tertulis aja bu, jangan yang kayak gini! Nana nga mau ungkit perihal sesosok wanita itu didepan papa! Plis bu. Untuk kesekian kalinya nana minta maaf nga bias bawa makanan daerah buat ibu. Tapi bu kasih nana hukuman apa aja, yang penting nilai nana jangan anjlok yah bu. Plis bu nana mohon.”
“Huh yasudah kalau begitu kamu lari 10 keliling lapangan basket, setelah itu bersihin toilet siswa. Nanti ibu kasih nilai prakarya kamu tuntas sesuai kkm”
“Makasih bu, makasih banyak”
Gadis manis itu pun segera menjalankan hukuman yang diberikan oleh ibu lia, sekaligus walikelas nya di Madrasah Aliyah ini.
***
Matahari pagi menyeruak melalui sela-sela jendela kaca mobil, seorang pemuda tampan turun dari mobil dan merapikan pakaian sekolahnya yang baru. Perlahan melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolah yang bertuliskan ‘Madrasah Aliyah Al-Hilal Dobo’ menuju kantor guru. Ia dibimbing oleh salah satu asisten kepercayaan ayahnya.
“Aldhy Zaky Ar-Rasyid?” panggil seorang guru wanita dengan tersenyum tipis.
“ Iya Bu?”
“Ayok Ikut Ibu biar ibu tunjukan dimana kelas baru kamu”lanjut wanita itu kepada siswa yang sebut.
Ia pun mengikuti setiap langkah kaki wanita paruh baya didepannya sesekali ia melirik seorang gadis yang berseragam sama dengannya tengah berlari sambil tersenyum dilapangan basket. Aneh, dihukum kok senyam-senyum. Batin aldhy
“Ada apa nak” Tanya guru tersebut yang sengaja melirik aldhy.
" itu siapa bu?” sambil menunjuk kearah lapangan basket.
“ohh Itu Nana. Dia dihukum karna tidak membawa makanan daerah buat tugas prakarya. Anak itu emang gitu. Dihukum malah bahagia”
“loh kenapa bahagia bu?”
“ Hmm karna nilainya nga anjlok. Nanti pasti kamu ngerti. Dia juga teman sekelas kamu”
Aldhy pun hanya menganggukan kepalanya pertanda bahwa ia mengerti. Sampailah mereka dikelas 11 IPA A.
'’assalamualaikum anak-anak” Salam Ibu Lia walikelas 11 IPA A.
‘’waalaikumsallam bu” Jawab Sontak para murid dikelas itu.
“ada murid baru, mari sini nak Aldhy perkenalkan diri kamu secara singkat”
“Bismillahhirroohmanirrahim, Assalamuallaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
“waalaikumsallam warahmatulllahi Wabarakatuh” jawab seisi kelas kompak.
“perkenalkan nama saya Aldhy Zaky Ar-Rasyid, terserah kalian mau dipanggil apa. Saya murid pindahan dari Sma Trisula Bogor. Itu aja terima kasih” Singkat Murid Baru yang bernama Aldhy tersebut.
“nah nak aldhy duduk dikursi kosong dismping jendela”
“mm bu. Itu tempatnya nana. Dia kan Anti Cowok bu’’ cegah seorang murid yang memakai kacamata.
“nanti ibu jelasin kedia tenang aja. Kamu duduk gih” Aldhy pun duduk dijejeran kursi ketiga samping jendela. So, gue duduk bareng si pelari? Gumam Aldhy.
Pelajaran selanjutnya, pun dimulai.
Triing triiing triiing. Bel istirahat pertama berbunyi.
Sudah banyak yang sekarang duduk disekeliling Aldhy, ada wanita pria dan waria (Encong). Banyak yang ajak ia berbicara namun hanya dibalas:
Iya
Nga
Hmm
Sampe dunia kiamat.
Seseorang belum nongol-nogol lagi batang hidungnya, sedari tadi Aldhy menunggu si pelari, namun ia belum muncul-muncul juga. Beberapa orang menyadari bahwa dari tadi teman baru mereka menunggu sosok Zainab Tala Dzuhairah.
“Tala lagi dikantin pasti bantuin mang galih cuci mangkok”kata Safira salah seorang teman dekat Zainab yang tadi mencegahnya untuk duduk.
“Hmm?” Aldhy menaikan alisnya tidak mengerti
“ kamu cari tala kan?’’
“tala?”
“eh itu teman sebangku kamu, nana. Zainab Tala Dzuhairah"
"Oh namanya Zainab Tala Dzuhairah? Pantesan tulisan dimejanya ‘Milik ZTD, Kaum adam dilarang duduk’ emang dia beneran anti cowok?’’
‘’ha? Lo percaya? Gue juga kurang tau mengenai hal itu”
“eh fira kamu tuh jangan panggil Zainab Tala, si murid baru aja nga tau. Nanti bingung mau panggil Tala Nana apa Zainab atau Dzuhairah panggilnya nana aja supaya semua orang tau.” Oceh seorang cowo berpapan nama andika.
“eh iya iya mas andi”
Akhirnya karna mereka semua sudah keroncongan mereka pun memutuskan untuk mengeisi perut. Saat tengah berjalan menuju kantin kelihatan sekali bahwa kantin lantai satu sudah penuh dan sepertinya lantai duapun sudah penuh.
“ kita ke lantai dua yuk, Tala udah nyiapin meja khusus buat kita”
“nana”
“iya, iya”
Memasuki kantin lantai dua suara bising tak lepas dari indra pendengar murid-murid yang baru memasuki lantai itu. Lantai dua seperti sudah dipesan khsusus atau dibilang lantai dua adalah tempat bagi anak-anak berada disekolah itu. Terlihat seorang gadis berseragam yang berlari kesana kemari dengan nampan berisi bakso dan beberapa minuman dingin dan tengah melayani bebrapa siswa. Dengan senyum yang selalu terpampang diwajah manisnya itu seketika membuat Aldhy merasakan rasa yang aneh didada bagian sebelah kirnya, serasa ada yang mengelitik. Zainab menyadari teman-temannya sudah ada didepan kantin dengan seorang laki-laki yang baru dilihatnya.
Ohh jadi ini si Zaky, teman sebangku gue. Ganteng sih. Tapi astafirullah nana ingat batasan kamu. Batin Zainab.
Zainab pun mempersilahkan mereka untuk duduk setelah itu mereka berbincang tanpa terasa bel istirahat pertama telah selesai. Mereka pun kembali kekelas diikuti oleh Aldhy dari belakang.
Jam ke empat adalah bahasa inggris mata pelajaran kesukaan Zainab. Zainab bahkan adalah salah satu murid berprestasi disekolah itu. Setiap ada lomba Zainab Tala Dzuhairah selalu diikut sertakan dan pulang selalu membawa kemenangan. Bisa dibilang ia sangat menguasai bahasa, entah itu Bahasa Inggris, Arab maupun Korea.
Zainab yang sadar bahwa sedari tadi ia diperhatikan oleh Aldhy pun merasa risih. Ia menulis sesuatu dibukunya. Kemudian diserahkan kepada Aldhy untuk membacanya. Ia mengerutkan keningnya.
‘’Katakanlah kepada seorang laki-laki beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka……..”(Q.S An-Nur:30-31)
“Mmm yaudah kenalin aku Aldhy Zaky, panggil aja Aldhy” sambil mengulurkan tangannya.
Zainab pun menangkupkan tangannya. Seraya berucap “ Zainab Tala Dzuhairah, Terserah mau panggil apa” setelah berucap ia pun lanjut memperhatikan guru yang didepan. Menurut Zainab lebih penting pendidikannya dari pada apapun. Teman-teman dekatnya pun mengerti hal itu. Bahwa ketika Zainab sedang belajar ia tak ingin diganggu jika tidak ia tak akan bersuara dihadapanmu. Hanya muka datar tanpa ekspresi yang ditunjukannya. Yah irit bicara sekaligus ekspresi.
***
Masa SMA Zainab biasa-biasa saja, selain selalu diganggu Aldhy tak ada lagi yang bagus. ini adalah bulan terakhir Zainab di kota ini, ia akan melanjutkan kuliah disalah satu Universitas ternama di Kota Ambon, haruskah ia pergi Meninggalkan ayahnya? Begitu banyak kenangan bersama ayahnya. Dan teruntuk ibunya, Zainab hanya memiliki sedikit kenangan dengan beliau bahkan bisa dihitung dengan jari.
Ia merasa ragu untuk pergi melanjutkn study nya di Ambon. Apakah harus? Bagaimana jika ia bertemu dengan sosok wanita itu? Apa yang akan terjadi? Haruskah Zainab cuek? Atau harus emosional? Zainab tak pandai untuk mengutarakan apa yang ada dihatinya. Dengan Aldhy saja ia tak pandai mengutarakan maksudnya. Apalagi dengan sosok wanita yang mulai hilang dari ingatannya.
Ia pun memutuskan untuk shalat istikharah meminta pentunjuknya. Disujud terakhirnya ia menyebut nama wanita paruh baya itu.
Disela-sela doanya Di akhir sholat
Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah hamba jalan, berikanlah hamba petunjuk, apakah hamba harus melanjutkan study di Ambon ataukah hamba lanjutkan dikota lain sja.
Ya Allah Ya Rabb, hamba belum siap jika harus bertemu dengan sosok wanita itu. Hamba tak mampu menahan rasa sakit ditinggalkan Ya Allah. Ya allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, yang maha besar lagi maha mengetahui Hamba memohon petunjukmu ya Rab. Aamiin
Hari keberangkatan pun tiba, wajah wanita paruh baya itu selalu muncul dimimpi Zainab beberapa malam terakhir. Yang selalu diakhiri dengan tangisan dama diam. Saat ditanya kenapa matanya bengkak selalu saja dijawab kelilipan, digigit semut dan alasan lain yang lebih masuk akal.
Hubungan Zainab dan Aldhy pun baik-baik saja, Adlhy dan Zainab berjanji akan bertemu empat tahun setelahnya di pantai batu kora untuk menikmati sunset bersama. Hanya itu janjinya tak ada yang lain. Zaina pun bingung dengan hubungannya dan Aldhy teman bukan berasa teman, pacar juga bukan berasa pacar.
Setelah puas bercanda ria dengan kakak serta ayah dan adiknya Zainab pun sudah siap untuk berangkat ke perantauan. Tempat dimana ia akan menemukan sosok dirinya yang sebenarnya.
saat langkahnya terhenti disebuah gerbang dengan rumah berdinding hijau tua, tempatnya menghabiskan masa kecilnya dulu. Sendirian senyap. Tanpa kasih seorang ibu. Namun bukannnya semua harus berproses sebagaimana mestinya. Ayah selalu bilang, merantau akan membuat kita meresapi artinya berjuang dalam hidup. Merantau akan menempa diri kita menjadi lebih peka , lebih hebat daripada sebelumnya.
Kata-kata Ayah memantul di sekitaran halaman bisu itu, seperti terus berdengung ditelinganya. Ayah adalah senjata terkuat yang membuat pijakan kakinya tidak mudah goyah, tidak mudah lelah, tidak lantas menyerah.
Kata-kata Ayah kerap menjadi amunisi, kala tabah meminta diri untuk sejenak merebah. Jika hari ini tidak ingin lebih baik, maka jangan harap akan dapat esok yang cerah. Jika hari ini tidak memulai, maka jangan harap esok akan merasa lebih baik. Jika terus menunda untuk beranjak maka sama halnya dengan menunda untuk menyelesaikannya lebih lama.
Perlahan namun pasti Zainab melangkahkan kaki keluar dari gerbbang rumah masa kecilnya, perlahan menutup, mengedarkan pandangan kehalaman sekitar yang berisikan beberapa bunga warna warni, pohon serta tanaman merambat,kembali teringat masa dulu saat ia pertama masuk pagar rumah, saat pertama diajari cara menanak nasi oleh ayah, semua yang sekarang ia tahu semuanya diajarkan oleh ayah bukan ibu. Ayah adalah pahlawan bagi Zainab. saat ibunya tak menginginkannya ayahnya menginginkannya. Semalam Zainab bertanya pada ayahnya “ pah, bagaimana jika aku bertemu dengan wanita itu? Apa papa akan marah? Aku merasa minder. Aku tak tahu bagaimana mengutarakan perasaanku”
‘’Dia adalah ibumu apa yang kau takutkan? Percaya saja bahwa ia juga merindukanmu”
Sebenarnya bukan itu yang ingin ku dengar, namun ya sudahlah ayahku tetaplah ayahku. Gumam Zainab selama perjalanan ke pelabuhan. Ia memang berpesan kepada keluarganya untuk tak perlu mengantranya jika tidak ia tak mau pergi.
Bunyi kapal yang bertanda kapal akan segera berangkat, Zainab mengirim pesan pada grup Wa keluarganya bahwa ia akan berangkat.
Perjalanan laut dari kepulauan Aru ke Kota Ambon, Maluku memakan waktu 8 jam .
saat ini ia tengah berdiri di Pelabuhan Ambon. Ia tak terlalu memperhatikan ini pelabuha kecil atau besar. Ia mengedarkan pandangan nya dan mendapati kakak laki-lakinya. Ayah berpesan kepada kakak laki-laki Zainab yang bernama Ichal agar menjemputnya di pelabuhan. Namun tertangkap satu sosok wanita. Oh itu adalah calon mama baruku, gumam Zainab.
Ia pun menghampiri mereka. Akhirnya mereka pulang.
Seminggu sudah Zainab berada dikota besar ini. Besok adalah hari minggu yang artinya Besoknya lagi ia akan memulai aktivitas sebagai Maba di Universitas Pattimura Ambon.
Abang ical selalu sibuk dengan organisasinya, selalu saja meninggalkanku sendiri disini. Dasar. Hem lebih baik streaming film terbaru cha eun wo, ahhhh. Gerutu Zainab yang akhirnya ia pun mengambil leptop dan mulai menonton film artis Korea idolanya. Di kosan ini bias dibilang fasilitasnya lengkap ada kulkas mini, mesin cuci mini, rice cooker dan benda-benda electronic lain yang menunjang kehidupan sehari-hari. Ayah Zainab memang sengaja melengkapi fasilitas dikosan anak-anaknya karna menurutnya pintar adalah segalanya.
Ha Ha Ha... Zainab ngos-ngosan karna ia bermimpi menangisi ibunya meninggal keringat bercucuran. Astafirullah. Ucap zainab seraya mengambil air untuk diminum. Ia melihat tas seseorang yang tak dikenalinya. Serta hijab yang ada diatas tas tersebut. Milik siapa? Gumam zainab.
Saat berjalan keluar ia mendapati sosok wanita yang selama ini dirindukan sedang bercengkrama denga anak kosan lain. Hati serasa bahagia. Airmata jatuh dengan sendirinya. Hati serasa disayat ribuan belati ketika melihat dirinya bertambah kurus.
Saat wanita paruh baya itu membalikan badan ia terkejut mendapati sosok gadis manis yng berdiri dihadapannya yang sudah setengah terisak. Wanita paruh baya itu pun langsung memeluk gadis tersebut tangis pun pecah antar keduanya.
“Assalamu’alaikum Mama” Ucap zainab disela-sela sesenggukannya.