Malam semakin pekat, udara di pedesaan yang jauh dari suasana kota ini tambah dingin. Mungkin esok hari embun akan menetes di dedaunan layaknya usai hujan rintik semalam. Aku mengamati beberapa gerak di telisik dedaunan yang cukup berisik, mungkin hewan-hewan kecil yang hanya ada di malam hari tengah keluar dari sarang tidur siangnya.
Aku masih berdiri di teras rumah dinas dengan berselimut jaket tebal sambil memandang suasana perkampungan ini. Sepi dan gelap. Wajar saja, ini sudah pukul 10 malam dan bisa saja beberapa orang sibuk menidurkan diri mereka. Mengistirahatkan jiwa dan raga agar mampu menghadapi hari esok.
"Ana, kau tak mau tidur?" tanya salah seorang temanku yang juga berada di rumah dinas ini, Cindy. Kami ditugaskan sebagai tenaga medis di puskesmas desa Rawa. Pertama datang kami tak biasa dengan hawa dingin yang menggigil kulit, hewan berisik dan suasana yang jauh dari kata internet yang lancar serta hiruk pikuk perkotaan. Lalu setelah hampir 3 tahun lamanya kami terbiasa dengan suasananya. Menumpang internet jika hari libur ke kantor kecamatan terdekat saja. Disana sinyal internet kami baik.
"Ini mau masuk."
Aku melirik sekilas ke sekitar, memandang jauh ke salah satu ujung perkampungan ini yang ramai orang, sudah biasa ujung sana tempat paling ramai. Rasanya sungguh melelahkan.
Sebelum jauh melangkah masuk ke dalam rumah, suara orang berlari mendekat terdengar. Semakin cepat dan dekat dengan halaman rumah kami. Memannggilku cukup keras di malam hari.
"Bu dokter!" teriak, Susilo. Salah seorang pemuda di kampung ini. Ia tampak berkeringat dengan nafas berburu. Menunduk seperti biasa jika bertemu denganku, tak berani menatap mataku.
"Ada apa, Susilo?" tanyaku melihatnya seksama. Ia beraut khawatir seolah sedang terjadi sesuatu yang menegangkan. Keringat membasahi wajahnya. Nafasnya berburu dengan tangan menyentuh lutut, ia kelelahan.
"Bu Ratna, dia jatuh pingsan di halaman." jelasnya padaku.
"Cindy, ambilkan peralatanku." titahku pada gadis di sebelahku. Segera aku berlari diikuti Susilo belakangku menuju ujung perkampungan ini. Di rumah seorang perempuan tua yang cukup dikenal di kampung maupun desa ini.
Pelopor sebuah perpustakaan mini yang ada di salah satu ruang bilik rumahnya serta pelopor ekonomi kampung ini yang akhirnya banyak ditiru kampung sebelah dan sebelahnya lagi. Aku cukup akrab mengenalnya. Sebab sering berada disana bila sedang luang atau tengah berdinas memeriksa kesehatan warga.
Tibanya aku disana suasana di halaman rumah kayu dengan halaman luas tersebut cukup ramai, beberapa warga perkampungan sudah berkumpul di halaman dengan raut wajah dan tegang mereka terlihat khawatir sesekali juga ku dengar bisikan warga.
"Apa dia sakit? Bukannya tadi siang sehat?"
"Bukannya tadi ku dengar ia bercakap lewat telepon di halaman?"
"Sudah, ayo masuk bu dokter." Segera aku masuk ke dalam rumah di bimbing Susilo menuju ruang kamarnya. Disana Pak RT tengah berdiri di dekat perempuan yang tertidur diatas dipan tertutup kelambu. Ruangan ini agak temaram, lampu 5 watt warna kuning yang menjadi penerangan. Di balik kelambu itu, ku tengok seorang perempuan yang masih cantik parasnya namun sudah termakan usia. Ia menghela nafas sesekali nan panjang, seolah sakit dadanya. Namun matanya tertutup. Bibirnya hanya terdengar menghela.
"Bu Ratna?" panggilku padanya. Memegang tangannya lembut berharap perempuan ini menjawab.
"Bu Ratna?" panggilku lagi. Hingga pada panggilan ke sepuluhku ia tetap tak menyahut.
Ku tengok Pak RT yang penuh raut cemas di wajahnya. Berharap mendapat penjelasan mengapa dan ada apa. Tadi siang ku periksa keadaan beliau, ia masih sehat dan tensi darahnya tak tinggi. Namun lelaki itu tetap diam dengan raut cemas di temani Susilo di sampingnya.
Cindy datang dengan terburu, memberi peralatanku serta stetoskop milikku. Segera ku periksa detak jantung perempuan tua itu.
Lemah.
Hanya itu yang mampu ku rasakan. Membuka matanya berharap ada sinar kesadaran. Belum sempat ku periksa bagian kesadarannya, tangannya menggapaiku. Matanya terbuka meski tak menampilkan sebuah sibar harapan seperti kemarin-kemarin.
"Nak Ana?" panggilnya lirih. "Kemarilah." ujarnya menyuruhku mendekat. Tangannya memberiku sesuatu berwarna putih dari balik kantong jaketnya.
"Nak, kau minta puisi kan. Aku sudah menulisnya untukmu. Katakan pada Pak RT untuk mengurus tempat ini." pesannya lirih.
Nafasnya semakin tersenggal.
Air mataku mengalir tanpa diminta. Kulihat ia menutup mata damai dengan senyum, nafasnya tersenggal pelan diujung. Dan kudengar suaranya memanggil nama seseorang.
"Sarbini."
Dan tangisku pecah, seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu. Aku merengek, seolah tak terima sosok ibu pengganti ibuku seolah direnggut. Perempuan tua dihadapanku yang membuatku kagum dengan kecerdasannya yang mungkin orang lain anggap aneh telah tiada meninggalkanku dengan warisannya yang tak seberapa, sebuah puisi yang pernah ku pinta padanya. Suasana malam ini terasa menyayat hati Pak RT, Cindy dan Susilo menangis juga. Mungkin beberapa warga di luar sana juga merasa kehilangan sosok di hadapan kami. Seorang perempuan yang mengajarkan betapa pentingnya mengelola kampung ini, dari pertanian hingga peternakan.
Sosok dihadapan kami yang telah dipanggil Yang Kuasa adalah sosok yang akan terus dikenang meski dia bukan seorang penulis terkenal ataupun artis bahkan beliau juga bukan sosok pejabat. Namun, ku yakin dalam hatiku di kampung ini bahkan kampung sebelah dan sebelahnya lagi akan mengenangnya sebagai seorang pelopor yang tak akan pernah padam semangatnya.
****
Ini adalah hari pertamaku berada di kampung Batu ini. Dinas pertama yang menurutku cukup sulit, mengingat tak ada internet dan jauh dari pusat perkotaan. Di usia yang cukup muda setelah lulus kedokteran, orang tuaku menyarankan untuk mengambil tes pegawai negeri. Dan hal mengejutkan ini terjadi padaku. Sebagai orang kota yang terbiasa dengan internet dan hiruk pikuk kota, mungkin akan sangat sulit bagiku beradaptasi. Bahkan beberapa hari sebelum berangkat kemari aku mengeluh pada ibuku. Betapa menyusahkannya hal ini. Namun yang ku peroleh nasihatnya.
"Kau jangan mengeluh, mengabdilah untuk negeri ini sebaik mungkin. Anggap saja ini perantauan pertamamu. Cari kepuasan hatimu di usia muda. Cari sinar harapan dan buat dirimu bahagia."
Akan ku ingat selalu kalimat itu, ibuku yang selalu berkata padaku bahwa penting untuk membuat diri bahagia dulu. Tapi carilah dengan cara benar bukan membenarkan suatu cara.
Belum genap sehari aku memantapkan kalimat itu, diriku dinuat kesal sendiri dengan keterlambatan teman yang akan jadi partner ku di desa ini belum datang dengan alasan masih sibuk mengurus banyak hal, Cindy. Perempuan itu bisa-bisanya.
Matahari masih berada ditengah pusat atasku dengan sedikit condong ke barat, diriku masih duduk sembari menikmati teh siang ini. Sebelum hari pertama dinasku dimulai besok hari. Ku harap, pekerjaan ku hingga 3 tahun ke depan lancar dengan baik. Meski tak yakin jika diriku tak merindukan perkampungan. Mataku menelusuri perkampungan ini, nyaman itu saja dalam pemikiranku dibanding kota yang ramai dengan pokusi bertebaran. Mataku masih terus melihat sekitar, ya ini memang betul kampung yang nyaman nan indah. Halaman beberapa rumah mungkin saja semua masih tanah hitam kecokelatan -belum dipaving- dan ditumbuhi pohon rindang sehingga penyerapan air ketika hujan sangatlah baik. Pagar kayu di muka halaman rumah menandakan betapa masih sederhana dan percaya para penduduk disini. Bahkan sesekali ku dengar suara sapi dan kambing bersahutan tak tertutup suara deru mesin motor. Kemarin sore ketika sampai ke sini pula ku dengar burung berkicau di musim perpindahan seperti sekarang. Tak jarang ku lihat anak lelaki bermain sepak bola dan para gadis muda bersiap di depan rumah sembari membawa tampah di tangannya.
"Bu dokter baru ya?" tanya seorang pemuda padaku yang ku jawab dengan anggukan karena kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba ketika melamun. Kurasa ia tak melihatku mengangguk samar, terlihat ia gugup dengan tangan saling disatukan dan memainkan jari. Bahkan tak berani menatap langsung padaku. Seperti gadis yang bertemu kekasihnya.
"Saya Susilo, pemuda kampung ini. Pak RT ingin ketemu dengan Bu Dokter." katanya dengan bahasa Indonesia meski aksen dari kota ini masih kental di telingaku alias terdengar medok.
"Ah, iya. Aku lupa melapor langsung ke Pak RT. Ayo antarkan aku dimana tempatnya." ujarku padanya namun ia masih tetap tak mau melihatku, tak mau ambil pusing dengan sikap pemuda di hadapanku segera ku tutup pintu dan ikut di belakang pemuda ini. Ia mengajakku berjalan menyusri jalan kampung yang cukup lebar. Mengamati sekitar lebih jelas lagi. Lalu mataku menangkap ke pemuda di hadapanku pakaian lusuh dengan celana pendek yang kotor, seperti habis dari tempat bercocok tanam karena tanah ada dimana-mana.
"Kenapa kau banyak tanah, Susilo?" tanyaku agar mencairkan suasana.
"Saya tadi habis bertanam di kebun atas, milik kampung ini." katanya tetap tak mau melihatku.
"Milik kampung? Bukan milikmu?"
"Bukan, diatas sana dekat lereng bukit. Ada kebun strawberry milik warga. Panen untuk khas kampung." jelasnya padaku.
"Hebat sekali kampungmu."
"Iya, ini berkat Bu Ratna dan Pak RT. Kami bisa mengolah pertanian dan peternakan lebih baik lagi. Bahkan sapi-sapi di kandang kampung kami dijual juga untuk kampung."
"Hebat sekali Pak RT-mu."
"Iya, juga Bu Ratna tak kalah hebat."
"Istrinya?" tanyaku langsung padanya.
"Bukan, tapi bagi kampung kami. Ia adalah ibu di kampung." ujarnya menjelaskan. Aku hanya mengangguk-angguk, tak ada lagi yang perlu ku tanyakan. Lebih tepatnya, tak ada informasi lain yang ku butuhkan sebab disini aku hanya ingin bekerja dinas dengan baik. Lalu pulang dengan selamat.
Ia mengajakku berjalan terus sampai di ujung perkampungan agak atas hingga kami tiba di rumah kayu yang cukup besar halamannya berbentuk panggung. Mungkin karena milik RT makanya tempat ini bagus, pikirku.
"Mari masuk, Bu." ajaknya masuk dalam rumah lebih dahulu. Ku lihat 2 orang tengah asyik berbincang, seorang lelaki peruh baya yang terlihat cukup muda dan perempuan tua di sebelahnya. Aku yakin itu pak RT yang tadi kami bicarakan.
Susilo menyampaikan kedatanganku pada lelaki berkopiah. Lelaki itu tersenyum di balik kumisnya yang tebal. Dengan mata sayu dan kantung mata yang sudah semakin turun, mungkin karena kerja kerasnya dengan perkampungan ini.
"Bu dokter, mari duduk." ajak lelaki berkumis itu. Mempersilahkan duduk di kursi karet.
Aku duduk diantara dua orang itu. Lelaki berkumis itu menuangkan teh dari teko tanah liat ke cangkirku yang terbuat pula dari tanah liat. Sangat kuno namun menyenangkan mata.
"Bu, saya Jamal RT di kampung ini." Lelaki itu membuka suara mengenalkan dirinya padaku. Lalu, "Dan ini Bu Ratna, tokoh di kampung kami."
Ku lihat sosok perempuan tua yang mungkin sudah seusia nenekku, namun mampu ku lihat ia cantik dengan sinar wajah dan matanya yang masih berbinar.
"Bagi kami, ia adalah ibu di kampung ini." lanjut pak RT menjelaskan sosok perempuan tua ini Jadi, ia orang yang dibicarakan Susilo tadi. Perempuan yang dianggap ibu oleh kampung ini.
"Kau ini Jamal, selalu mengada-ada." jawab suara wanita tua itu. Tegas namun lembut. Enak saja didengar.
"Nama bu dokter siapa?" tanya Pak RT padaku.
"Anatya, bisa dipanggil Ana." Jawabku sambil meminum teh. Rasanya manis, baunya wangi dengan tambahan bau tanah liat dari cawanku. Aku benar-benar di kampung.
"Ini sebuah perpustakaan mini." ujar Pak RT lebih dulu, memperlihatkanku pada rak buku yang berjajar rapi dan terawat. Ku amati seksama semenjak diriku masuk ke dalam rumah ini.
"Ini milik bu Ratna. Dan kami mengelolanya sebagai perpustakaan desa Rawa."
"Ah, pantas saja banyak buku. Saya kira memang koleksi."
"Awalnya ini memang koleksi, Nak. Tapi yang kulihat makin hari, anak-anak sekolah yang mungkin ingin cari ilmu dari buku agak kesusahan jika harus ke kota. Maka dari itu saya buat perpustakaan di rumah sendiri."
Bu Ratna menjelaskannya padaku. Memang benar ia sosok seorang ibu di kampung ini. Dengan kelembutan yang seolah mengayomi. Itulah kesanku padanya di pertemuan pertama kami.
Hari demi hari berlalu, aku sudah mampu menyesuaikan diri di desa dan kampung. Banyak warga yang ikut membantuku beradaptasi. Ada Susilo, yang tak lelah mengenalkanku tentang kampung ini tiap hari liburku. Pak RT yang siap mengantar aku dan Cindy ke kantor kecamatan menggunakan mobil pick up tuanya yang kadang suara besi terdengar lebih bergemuruh di banding suara mesin.
Dan tentu saja, Bu Ratna. Sosok ibu di kampung ini begitu kental untuknya, memang mengayomi dan pembut. Setiap ada waktu luang diriku akan datang ke rumahnya untuk membaca disana. Menelaah ilmu dan ide untuk sebuah mini seri di blog ku. Bahkan aku semakin dekat dengannya. Ia juga yang selalu bercerita padaku tentang banyak hal terutama ketika aku bertanya tekadnya untuk kampung ini. Beliau menjawab, "Ingin ku buat perkampuan yang hijau dan membangkitkan ekonomi masyarakat semampuku." Ucapannya begitu masuk ke dalam pikiran dan hatiku. Hingga bagiku beliau sosok ibu pengganti di tanah orang.
Pernah sekali ia berkata, "Aku ini mantan guru bahasa Indonesia dan almarhum suamiku adalah insinyur pertanian." Pantas saja bagiku, jika ia sangat pandai dalam Ejaan. Ia juga pandai bercocok tanam.
"Lalu sejak kapan anda disini?"
"Mungkin setelah aku pensiun dari pekerjaanku dan suamiku tiada. Suamiku dulu adalah pelopor pengembangan pertanian disini. Aku hanya melanjutkan." ceritanya padaku.
Semakin hari hingga berganti bulan dan tahun hubungan kami semakin dekat bukan hanya tentang aku yang mengaguminya tapi ia sosok guru di balik karya-karya blogku yang semakin di gemari. Beliau yang memberi masukkan mana yang harus ku masukkan dalam cerita mana juga yang harus ku buang. Tak jarang, karyanya yang ia tulis dalam sebuah buku tebal ku muat dalam mini seri blog. Ia cerdas, cerita-cerita di tulisannya membuatku berkhayal jauh menjadi karakter kuat di dalamnya. Aku menyukainya sebagai sosok perempuan tua yang cerdas.
Jika, ditengok beberapa buku yang terdapat pada rak mini perpustakaannya lebih banyak buku cerita anak hingga remaja dan ensiklopedia. Hanya sedikit tentang ilmu selain pertanian dan peternakan. Maklum saja menurutky, memang itu ilmu yang lebih dibutuhkan di kampung ini. Aku juga pernah bertanya darimana ia mendapatkan semua buku-buku ini. Seingatku tak ada cap investasi, ini murni koleksi bagiku.
"Aku dapat dari putraku di kota, ia belikan buku-buku setiap bulannya. Koleksi saat aku menjadi guru dan bantuan dari kecamatan. Terkadang ketika Pak RT ke kota ia membelikan buku di pasar loak atau bazar murah. Pak Jamal itu baik."
"Aku dulu hobi baca gratis di toko buku." ujarku agak bercanda, meski itu memang kenyataan.
Dan semenjak hari itu, setiap bulan akulah orang pertama yang diberi kesempatan untuk membaca buku dikirim putranya, apapun itu. Aku merasakan kasih sayangnya mungkin juga orang kampung disini.
Anak-anak dan orang yang datang kesini selalu di beri perhatian, jika ada orang buta aksara. Ia tak sungkan memberi pelajaran hingga bisa membaca.
Beberapa minggu lalu sebelum beliau jatuh dari tangga usai menerima telepon putranya, seperti yang ku dengar dari tetangga. Aku memintanya menuliskan sebuah puisi yang menceritakan tentangku.
"Bu Ratna tugas saya tinggal 2 bulan lagi bisa minta hadiah perpisahannya?" kataku bercanda padanya. Sungguh berat melepas tugas disini. Aku sudah nyaman di perantauan pertamaku.
"Apa yang kau pinta?" tanyanya langsung. Tak perlu dijelaskan betapa senangnya hatiku. Meski tadi sebuah candaan namun ketika ia bisa menuruti pintaku. Aku seperti anak yang meminta permen pada ibunya.
"Puisi yang menggambarkan tentangku."
Aku hanya ingin tahu seperti apa aku bagi sosok yang ku sukai ini. Apakah aku sosok yang berharga atau tidak? Apakah aku sosok yang cerdas atau tidak? Terdengar seperti ingin dipuji olehnya. Namun jika ia memang memujiku, aku yakin pastinya diriku lupa untuk menginjak tanah.
Sifat seriusnya tentunya akan memberikan jawaban meng-iyakan permintaan agak konyolku.
"Tunggulah beberapa minggu lagi, nak." lalu ku peluk beliau karena senang. Mungkin setelah pulang dari perantauan pertamaku ini. Ia akan selalu jadi sosok yang ku rindukan.
Dan mungkin, sejak saat itu hari-hari selalu ku tunggu sekedar membaca puisinya. Puisi yang ku minta sebagai hadiah perpisahan. Puisi tentangku yang ditulis sosok yang ku sukai itu.
****
Sudah lewat sebulan semenjak hari dimana Bu Ratna beristirahat untuk selamanya. Telah ku sampaikan pula pesan terakhirnya pada pak RT yang langsung diiyakan. Aku juga melihat raut sedihnya ketika tubuh perempuan tua itu ditimbun tanah. Bahkan ku dengar pula Pak RT menangis di rumahnya hingga perlu ditenangkan sang istri berhari-hari. Bagaimana tidak? Jika sosok yang sering diajak bertukar pikiran olehnya tentang perkampungan dan cara mengolah kampung ini telah tiada. Meninggalkannya dengan warisan yang cukup berat mungkin baginya.
Lalu disini diriku, berada diantara tumpukan buku di rak milik beliau. Tempatku sering bertukar canda dan pikiran tentang tulisanku. Tak seperti biasanya tempat ini sepi. Hanya aku seorang tanpa suara anak kecil atau orang kampung yang gaduh ketika membaca dan belajar membaca. Ku amati rak terjajar rapi dengan debu tipis padahal biasanya tak akan dibiarkan oleh Bu Ratna debu menempel sedikitpun. Ku amati setiap judul buku hampir semuanya telah ku baca habis mungkin hanya ensiklopedia yang belum tuntas ku baca. Belum ada buku terbaru yang dapat ku baca untuk menenangkan pikiranku setiap bulannya. Ku harap putranya tetap mengirim buku untuk dibaca agar perpustakaan ini memiliki tambahan koleksinya.
"Hah." satu helaan nafasku keluar.
Aku teringat kertas darinya yang masih kusimpan di tas kerjaku ketika beliau menyampaikan pesan terakhir, terselip di kantong kecil. Segera ku ambil dari dalam tas hitam penuh peralatan kerja dokter sepertiku. Kertas putih itu kini sudah agak lusuh. Tak beraturan karena terhimpit dan sempat ku remas setelah ku lihat beliau tiada. Setelah ku buka lipatan demi lipatan. Ku amati aksara cantik yang ditulisnya
Ya disana, itu adalah puisi yang indah bagiku. Tertulis dengan aksara yang khas miliknya. Warisan terakhir pemberiannya.
Perempuan Perantau Di Tanah Orang
Kawan, pernahkah ku ceritakan betapa hebatnya perempuan negeri ini?
Ya, mereka hebat
Dimanapun itu mereka berada
Mereka hebat
Seolah tak lelah bekerja
Meski deru mesin tak ada habisnya terdengar
Meski langkah dipaksa terus berjalan
Meski peluh terus meluncur bebas
Kawan, inginkah ku ceritakan betapa hebatnya perempuan negeri ini?
Ya, mereka hebat
Bahkan merantau pun tak jadi masalah.
Entah di kampung orang
Entah di kota orang
Entah di negeri orang
Mereka berjalan jauh mencari apa yang di sebut kepuasan diri di usia muda
Kawan, perlukah ku ceritakan betapa hebatnya perempuan negeri ini?
Jauh dari kota di desa di balik bukit.
Sinyal yang sering kau sebut internet kadang baik kadang tidak
Jalanan yang mulus dan berlumur tanah jika hujan
Seorang perempuan berparas cantik menapaki tugasnya, membantu kami
Kawan, mengapa ia begitu berani?
Sebab jauh dari itu alasannya
Aku ingin mengabdi
Aku ingin mencari pengalaman
Dan aku ingin sebuah ilmu
Kawan, bagaimana diriku tak mengaguminya?
Ia tegas
Ia cantik
Ia berani
Dan ia hebat bagiku
Kawan, sudah tak ada lagi yang perlu ku ceritakan tentang perempuan negeri ini.
Bagiku, mereka hebat
Mereka cantik
Mereka berani
Mereka bukan sosok lemah, namun sangat kuat
Meski rindu pulang menjalar di hati, baginya ia harus tetap ditanah rantau untuk saat itu.
Aku menangis, puisi terakhir dan ciptaannya untukku. Menurutku, ini adalah gambaranku bagi beliau. Tak lupa ia juga membubuhi sebuah tanda tangan kecil di pojok kanan bawah.
Ku simpulkan baginya, aku ini perempuan hebat dan berani. Padahal menurutku beliau yang ku sukai itu, jauh lebih hebat dan berani. Membagi ilmu dan siap memberi ilmu bagi kami yang membutuhkan. Aku justru lebih merindukannya sekarang daripada kemarin.
Air mataku belum susut ketika Susilo menerobos masuk dengan peluhnya di dahi. Ia nampak bingung sekaligus was-was. Tubuhnya bergetar sebelum memberitahukan padaku. Itu kebiasaannya. Namun matanya kali ini menatapku berani.
"Bu dokter, putra bu Ratna kesini katanya tempat ini mau dijual."
Dan seketika itu aku terkejut akan informasi tersebut. Mengapa harus dijual? Lalu dikemanakan semua ini. Koleksi bu Ratna yang amat berharga bagi kami. Belum selesai rasa terkejutku, seseorang mendobrak masuk pintu cukup kencang.
Dan tiba lelaki itu mengenakan pakaian kantor dinas lengkap dengan name tag "Sarbini" serta plakat ditangannya yang bertulis "Rumah Dijual".