Yu Las adalah abdi di rumah kami, sudah ikut Eyang Putriku sejak kecil. Ibu Yu Las adalah asisten rumah tangga di rumah Eyang. Kehadiran Yu Las yang saat itu berumur tujuh tahun, tentu membahagiakan ibu yang tidak punya adik. Usia ibu dan pak dhe-pak dheku terpaut lumayan jauh. Mereka tidak bisa bermain dakon, bermain boneka, bermain bekel dan permainan lainnya bersama-sama. Setiap pulang sekolah, Ibu mengajak Yu Las main guru-guruan. Apa yang diajarkan di sekolah, akan diajarkan kepada Yu Las. Membuat Eyang Kakung berinsiatif menyekolahkan di sekolah yang sama dengan Ibu. Yaitu sekolah yang diasuh para biarawati karena hanya sekolah tersebut yang ada di zaman dulu dan masih berdiri hingga kini.
Ibu dipinang Bapak setelah lulus dari Sekolah Guru Kepandaian Putri atau SMK Jurusan Tata Boga pada masa kini. Yu Las yang saat itu belajar di Sekolah Kepandaian Putri atau setingkat SMP, memilih nderek Ibu yang ikut Bapak dinas berpindah ke berbagai kota. Yu Las pun akhirnya menikah dengan Pak Atmo, supir Bapak. Jadilah suami istri tersebut mengabdi di keluarga kami.
Hubungan kekeluargaan di antara kami sangat dekat. Pak Atmo yang pintar mengutak-atik barang elektronik, membuat kakakku, Mas Bima masuk STM listrik dan kuliah di jurusan Tehnik Elektro dan kini bekerja di Jepang. STM di zaman dulu identik dengan tawuran, itu membuat Bapak semula tidak setuju.
Cara Pak Atmo yang telaten pada tanaman, membuat kakakku yang kedua, Mas Dewa tertarik masuk Fakultas Pertanian dan kini menjadi Tim Peneliti IPB.
Yu Las sangat menyayangiku karena putri terkecil. Ketika Yu Las pulang kampung, aku akan menangisi kepergiannya dan menyambut suka cita kedatangannya. Setelah pulang sekolah, Yu Las tidak memperkenankanku untuk membantu melakukan pekerjaan rumah atau membantu memasak. Aku hanya dipersilakan belajar dan bermain bersama Yu Las dan kedua putrinya. Hal ini membuatku tidak pandai di dapur hingga kini dan menjadikanku wanita rumahan. Setelah menjadi dokter gigipun aku lebih suka membuka praktik di rumah.
Setelah Bapak meninggal, Kakak-kakakku meminta Ibu untuk ikut mereka dengan alasan anak-anak suka masakan eyangnya. Jadilah Ibu tinggal di Osaka bersama Mas Bima bila musim semi dan musim panas tiba. Selainnya, beliau berada di Bogor bersama Mas Dewa dan mengunjungiku di Bandung.
Yu Las dan Pak Atmo ikut denganku.
Karena sudah berumur, tugas Yu Las hanya memasak. Aku membangun bagian samping rumahku dengan paviliun kecil untuk keluarga Yu Las dan membuka warung kecil untuk Yu Las berjualan. Di depan warung tersebut, aku bangun gazebo. Mempersilakan para tamu untuk menikmati makanan di situ. Tujuanku membuatkan warung karena ingin terus menikmati masakan Yu Las.
Pak Atmo menanam sayuran di kebun depan gazebo. Ada wortel, tomat, cabe, singkong, labu siam dan sayuran lainnya. Bahkan dua tahun ini, Pak Atmo mengembangkan sayuran hidroponik. Pak Atmo juga memelihara ikan lele di empang sebelah kebun sayur dan mengembangkan ayam organik yaitu beternak ayam tanpa bau dan pakan alami.
Seluruh hasil kebun dan peternakan mini Pak Atmo, diolah Yu Las menjadi menu warung.
Kepiawaian Yu Las dalam mengolah makanan membuat kedua putraku Kevin dan Kenzo, suka memasak. Bahkan mereka masuk finalis Junior Master Chef. Foto mereka termuat di tabloid dengan judul “Kakak beradik calon koki masa depan”. Antara bangga karena mereka menyebut Yu Las sebagai nenek angkat yang mengajari memasak dan malu ketika anak-anakku mengisahkan bahwa aku tak bisa masak sama sekali. “Mama walau sepuluh kali masak sop, pasti sepuluh kali buka resep dengan hasil sepuluh rasa yang berbeda”. Ya, itulah aku yang terbiasa diladeni Yu Las.
Warung Yu Las begitu terkenal di perumahan elit kami. Mobil-mobil mewah terparkir di sekeliling rumahku. Jauh sebelum himbauan mengurangi sampah plastik dicanangkan, Yu Las sudah meminta pembeli untuk membawa wadah sendiri bila makanan yang dibeli akan dinikmati di rumah.
Arisan RT yang semula malas diikuti oleh ibu-ibu pemilik rumah mewah, menjadi daya tarik kehadiran mereka karena sang penerima arisan akan pesan masakan kepada Yu Las. Jika di arisan sosialita yang lain, mereka akan berlomba besaran jumlah arisan atau memamerkan barang terbaru, di arisan tiap RT, mereka akan berlomba menu suguhan.
Bila bulan lalu Nyonya A telah menyajikan nasi liwet, sambel goreng labu siam, opor ayam, bulan ini Nyonya B menyajikan selat solo, nasi goreng uleg dan es manado. Bulan depannya Nyonya C berencana menyuguhkan coto makasar dan es pisang ijonya.
Menurutku, hal ini sungguh lucu. Para nyonya yang orang berada, pasti bisa pesan pada katering atau membeli di restoran terkenal. Tetapi mereka memilih masakan nusantara olahan Yu Las yang sarat dengan bumbu zaman dulu. Bahkan Yu Las menjadi bintang tamu mengajari ibu – ibu memasak dan meminta Pak Atmo mengajari menamam sayuran hidroponik agar bisa dikembangkan di rumah masing – masing.
Tidak hanya arisan ibu-ibu, sejak setahun ini, bapak-bapak yang rata-rata pengusaha, juga mengadakan arisan sendiri demi mencicipi menu masakan Yu Las setiap berkumpul dan menjadikan pak Atmo tutor untuk beternak lele dan ayam organik di rumah mereka.
Bayangkan, di hampir tiap rumah mewah di perumahan kami, mempunyai kolam lele dan kandang ayam sendiri. Pagar tinggi yang dulunya angkuh menjulang, kini dipermanis dengan tanaman hidroponik membuat Ibu Walikota tertarik untuk menjadi percontohan di perumahan lain.
---
Veronika Lasiyem dan Philipus Atmono, begitu nama yang tercantum di papan duka pagar rumahku. Kemarin sore, selesai simposium terakhirku, Mas Bagas, suamiku, memberi kabar bahwa Yu Las pingsan. Aku yang menyusul di UGD sudah mendapati Yu Las tiada karena angin duduk. Pak Atmo terdiam tak percaya. Wajahnya pucat dan tegang membuat tensinya melonjak naik hingga tak sadarkan diri dan menyusul Yu Las tujuh jam kemudian.
Duka mendalam menyelimuti keluarga kami karena kehilangan dua orang terdekat di hari yang bersamaan. Ibu yang sedang di Jepang bergegas datang bersama keluarga Mas Bima walau waktunya mepet. Tak ketinggalan keluarga Mas Dewa sebagai keluarga yang tinggalnya satu provinsi denganku walau memerlukan waktu beberapa jam untuk sampai ke rumahku. Puluhan mobil mewah milik tetangga-tetangga kami yang langganan Yu Las, mengiringi hingga ke pemakaman. Semua turut kehilangan Yu Las dan Pak Atmo.
Di malam ketiga hari kepergian mereka, putri-putri Yu Las, Elisa dan Yohana beserta keluarganya menghadapku. Mereka meminta izin untuk meneruskan warung Yu Las. Kami sangat menyetujuinya dan merasa lega, warung yang dikelola Yu Las dan pak Atmo ada yang meneruskan. Aku kembali bisa menikmati masakan Yu Las.
Kuberikan sertifikat tanah sebelah yang ditempati warung Yu Las kepada dua anak Yu Las. “Sertifikat ini sudah kuganti nama Ibumu sebagai penghormatanku buat pengabdian keluargamu terhadap keluarga kami.”
Seringkali pramuwisma yang begitu berjasa dan setia pengabdiannya terabaikan. Tidak ada tunjangan khusus bagi profesi mereka. Tunjangan kesehatan tergantung belas kasih dan pengertian sang majikan. Tak jarang ketika mereka sakit, justru dipulangkan ke kampungnya. Tidak ada tunjangan pensiun buat mereka yang telah bertahun-tahun mengabdi. Hingga di masa tuanya, mereka bergantung kembali pada belas kasih saudara-saudaranya di kampung yang umumnya ditolak karena merepotkan.
Aku hanya bisa memberikan sebidang tanah di pojokan rumahku kepada anak – cucu Yu Las dan Pak Atmo sebagai penghormatan kami terhadap kesetiaan mereka hingga akhir hayat tanpa Yu Las dan Pak Atmo tahu karena kepergian mereka yang mendadak. Semoga mereka mendapat tempat terindah di sisi Allah Bapa dalam peristirahatan kekalnya.